
"dady dan momy akan mendengar penjelasanmu" ucap Charlie.
"*payah banget lo!". Ucap sang wanita.
"gue juga masih mikir bego!".
"kalo lo mikir, lo pasti menikmati hidup lo tolol! Hidup cuman sekali! Masa lo ngak mau memanfaatin hal itu?!".
Sang pria terdiam.
"cobaim dulu aja, bawa trus, kalo ngak mau simpen aja dia gak ada kadaluarsanya" wanita itu memberikan serbuk putih di plastik bening.
Lelaki itu diam.
Sang wanita pun segera memasukannya ke dalam tas dan menutupnya dengan aman.
"bye ma boy" wanita itu menciumnya dan pergi jauh dari hadapannya*.
Rahang Charlie mengeras tangan nya terkepal sangat kuat membuat urat urat dalam tubuhnya keluar.
"dad tenang aku ngak makan narkoba itu" ucap Stevan.
"KURANG AJAR SEKALI KUNSWAR MEMBERIKAN ANAK KU NARKOBA!" tegas Charlie. Dia langsung bangkit.
"darling tenang dulu!" ucap Rina.
"udah lah dad tinggal batalin aja gak guna kalo di hajar" ucap Stevan sambil memakan jeruk.
Charlie menatap Stevan. Stevan terlihat tenang dengan masalah ini, seperti angin melewat yang tak mengganggu namun menyejukkan.
"setiap manusia punya ujiannya masing masing~".
Kedua orang tua Stevan terlonjat kaget. Mana bisa anak nya bisa sebijak ini?!.
"Stevan kamu ngak papa?" tanya Rina.
"yahh! Stevan nakal salah Stevan baik salah, kalian mau Stevan gimana?!".
"kenapa tadi kamu mau bunur diri?" tegas Charlie.
Stevan langsung teringat Lia.
Lia memasak dengan gelisah. Pasalnya, akibat kejadian tadi dia mengumpulkan banyak sekali dosa.
Lebih parah lagi.. Dia harus berbohong soal perasaan nya.
"yaelah ngapain juga gue bilang kalo gue suka? Ntar kalo dia baper gimana coba?!" ucap Lia.
"kakak suka siapa?" ucap Ila yang sendari tadi mendengan percakapan Lia dengan dirinya sendiri.
"ehh Ilaa. Ka--kamu ngapain di sini!".
"ayoo, kakak suka kakboyy yaa!!" goda Ila.
"ngakkk Ila!".
"kakak bohong! Kalo kakak ngak suka, berarti kakboy yang suka?" ucap Ila mendekati Lia.
"Ila udah diem!" sentak Lia.
"Ila Lia? Kenapa kalian berantem?" ucap Mansyur yang baru saja pulang.
"kakak gak mau ngaku kalau kakak suka sama kakboy" ucap Ila.
"ngakk pahhh, Lia ngak suka siapa siapaa" bela Lia. Mansyur tersenyum dan mendekati kedua putrinya.
"anak papa udah gede" Mansyur mengelus rambut Lia.
"kayaknya udah cocok papah nikahin".
"ihh apa sih paah".
"haha, ayo cepet masaknya papah mau makan" ucap Mansyur menarik lengan Ila, Lia pun mengangguk dan mengambil masakannya.
"mom dong kali kalii yang masakkk, masa bibi mulu" keluh Stevan.
"kamu dong cari pacar, masa momy mulu yang masakin" bela Rina, Stevan cemberut.
"Stevan mau nikah yaa??" goda Charlie.
Stevan cepat cepat menggeleng.
"kenapa?".
"Stevan mau sukses dulu" anjey.
"tapi Stevan ngak mau nikah muda".
"ya ampun Van.. Kita juga mikir kapan kamu bakal dinikahinnn" ucap Charlie.
Rina pergi kedapur melihat pembantu di rumahnya itu menangis.
Rina langsung mendekatinya dengan cepat.
"ya ampun bii... Bibi kenapa?!?!".
"nyonya... Anak saya meninggal dunia...." ringisnya.
"innalillahiwainnailaihirojiun".
"nyonya.. Saya mohon izinkan saya pulang kekampung untuk satu minggu.." pintanya.
"ya ampunn bi... Bibi gak usah izin... Sekarang juga bibi berangkat sama pak supir yaa".
Pembantu itu menggeleng.
"ngak usah nyonyaa saya naik bus saja.."
"baik kalau gitu gaji bibi saya kasih sekarang ya" Rina langsung memberikan beberapa lembar uang.
"terima kasih banyak nyonya.." Rina menggangguk, pembantu itu pun pergi.
"ohiya Stevan. Sekolah akan bapa liburkan selama satu minggu karena akan ada rapat juga pembangunan sekolah" ucap Charlie.
Stevan menangguk.
Memang sudah biasa setahun sekali sekolahannya akan libur seminggu.
"darling bibi bakal cuti satu minggu" ucap Rina.
"owh yaudah".
"darrr, trus yang beres beres rumah, masak, nyuci, dll siapa? Aku kan ngak mungkin lakuin itu sendiri" keluh Rina.
"iyaa ntar darling carikan".
Stevan hanya diam.
"gimana kalau Stevan yang bantu momy" ucap Rina.
"ngak ah" jawab Stevan langsung pergi ke kamarnya.
"Lia, kamu ngak usah bersihin rumah setiap hari, udah kaya rumah kaca aja sampe berkilau kilau" ucap Mansyur.
"ngakpapa pah, sekalian olahraga" jawab Lia.
"olahraga apa kamu udah kurus" ledek Mansyur.
"ihhh papahhh".
"haha. Ohiya, papah mulai besok bakalan lembur selama satu minggu karena bos papah akan mengurus pekerjaan yang lain, kamu jaga diri ya" jelas Mansyur, Lia mengangguk.