
Semua menatap Liam tak percaya. Tetapi di dalam hati Stevan dia memang sedikit merasa kan sesuatu, tapi.
"ahh goblok lu malah ngegodain ke yang lain" Stevan menjitak pala Liam.
"yaelaa gue serius".
Allahuakbar Allah..huakbar
"Allahuakbar" ucap semua kompak.
Lia meminta ayahnya untuk membeli bahan bahan untuk membuat kue besok dengan uang dagangan kue kering. Tak butuh beberapa menit, sang ayah datang dengan keresek besarnya.
"papa dah pulangg!!" seru Ila yang di balas senyum bahagia.
Maunsyur menggendong Ila ketika Ila sudah menangkap tubuhnya yang kelelahan.
"Ila abis apa?" tanya Mansyur sambil mencolek hidung Ila.
"Ila sama kakak tadi lagi buat kue kering papa, papa gimana dagangan kakak? Habis?" tanya Ila yang di balas dengan anggukan juga senyuman.
"habiss sayang! Anak anak papa pada jago jago yaa!!" seru Mansyur.
"sini pa belanjaannya biar Lia bawa" ucap Lia sambil mengambil kantong kresek.
"ini Lia uang sisanya" Mansyur memberikan beberapa lembar uang.
Lia tersenyum. "papa ambil aja" tolak halus Lia.
"simpan ditabungan kamu nak. Buat kuliah nanti" tolak balik Mansyur. Lia mengangguk dan mengambil sisa uang kurang lebih dua puluh ribu.
"papa mau balik ke tempat kerja ya. Awas di rumah hati hati. Kunci pintu jangan keluar sendiri harus selalu bareng bareng ya" ucap sang ayah kepada kedua putrinya.
"pah kalau Lia sekolah Ila kemana?" tanya Lia.
"Ila ikut papa aja, Ila janji ngak ganggu papa. Malah Ila bakalan bantu papa" ucap Ila mencium pipi papa nya.
"iya boleh" jawab Mansyur, Lia pun tenang.
Malam telah tiba. Stevan menjemput Sella pukul sembilan malam. Stevan di suruh menunggu di depan gerbang tanpa masuk kedalam rumah membuat Stevan makin curiga.
Setelah keduanya berada di dalam mobil, Stevan melirik Sella dengan senyum.
"kita ke club"
Jebretttttt goblok apa apaan ini setannn!!
"apa maksud lo?!"
Sella melepas jubah yang menutupi tubuhnya dan menyisakan minidress yang sangat ngepas dan membentuk tubuh Sella.
"cepet berangkat" perintah Sella.
"astag—". "gak ada penolakan! Lo yang ngajak gue kan!" bentak Sella. Tanpa aba aba Stevan menyalakan mobilnya dan berjalan menuju club langganannya, dulu.
Setelah sampai di depan club Stevan sangat ragu. Pasalnya gue udah taubat woi malah di ajak lagi sianyeng.
"ayoooo!!" ajak Sella menarik narik lengan Stevan.
"ngakk lo aja"
"ihh masa lo ninggalin gue?! Ntar kalo kenapa napa gue gimana?!" sentak Sella.
Iya yaa, dai kenapa napa gua juga yang rugi.
Mereka pun masuk kedalam club sambil bergandengan.
"woii Selll!!" teriak para wanita yang menurut Stevan sangat asing.
Sella melambaikan tangannya. "gue ke sana ya!" Sella langsung menjauh dan tak bisa tertahan oleh Stevan.
"wehh Van lo kesini lagi?! Setelah beberapa lamanyaa" ucap salah satu teman club Stevan. Wildan.
"gue nemenin calon" jawab Stevan.
"calon?! Wihh lo mau kawin nihh!! Undang undang dongg!!" seru Wildan.
"yaa, insyaAllah"
"wihh, so alim banget lo ngomong insyaAllah, bwahahaha" semua orang menertawakannya.
Eh bege lu di club bukan masjid!
"jadi lo taubat? Trus kepancing lagi ama cewek loi?" tanya Wildan bertubi tubi dan Stevan hanya diam.
"nihh favorit lo" ucap Wildan memberikan segelas wine ketangan Stevan.
"ngak lo aja" tolak Stevan.
"apaan sii gitu amat. Seteguk doang kali ngak bakal dosa!" goda Wildan. Stevan pun tersenyum dan mengambil gelas yang di berikan oleh Wildan lalu meneguknya.
Maklum baru tobat solat doang, mengenai hukum hukum halal haram blom blajar, jadi serah dia dah.
Wildan mengisi kembali gelas Stevan. Stevan yang merasa belum puas dan ketagihan meneguknya kembali sampai akhirnya dia habis lima gelas!
Wildan terus menerus memberikan Stevan wine sampai dia sendiri tak sadar akan dirinya sekarang.
Kepalanya pening, pusing dan sudah tidak terkontrol. Melihat semua orang saja sudah sangat tidak jelas untuk nya.
Dia terus memukul mukul kepalanya yang sangat berat.
Wildan mengacungkan jempol ke arah Sella. Sella pun mendekat meraba kantong celana Stevan dan menemukan dompet tebal berisi banyak sekali uang ratusan ribu.
Dia mengambil nya dan memberika semunya kepada Wildan. Wildan mengambilnya dengan penuh kebahagiaan. Dia mengkitung semua yang berjumlah 50 lembar seratus ribu. (ayoo itungg)
Wildan memesakkan uangnya dan kembali meneguk minumannya sedikit demi sedikit.
"Stevan, kita kekamar ya" Stevan pun mengangguk.