
Ila membalikan badan begitupun Lia.
"kakboy!" Ila langsung memeluknya.
"Ila mau sekolah kan? Ila boleh sekolah di sekolah kakboy" ucap Stevan.
"bener kakboy?!" seru Ila. Stevan mengangguk.
"yeayyy kakk besok aku sekolahh!!" seru Ila mengguncangkan tangan Lia.
"ehh, i--iya.. Makasih Van" ucap Lia, Stevan mengangguk.
"ayo Lia pulang, blom makan kan?" ucap Lia.
"iya, kakboy Ila pulang dulu yaa, assalamualaikum, muach" salam Ila memberikan kissbye kepada Stevan dan di balas manis olehnya.
Lia dan Ila pun hilang dari penglihatan Stevan.
Drrt drrrt.
"hallo?"
"..."
"hm"
Stevan memasukan hpnya dan mulai pergi keluar untuk ke suatu tempat.
Dia menjalankan mobil nya ke sebuah perumahan besar di Jakarta.
Tak butuh waktu lama, dia pun sampai di rumah mewah dan memasukan mobilnya setelah sang satpam membuka gerbang.
Muncul lah wanita cantik menggukan hot pants dan kaos pedek mendekati mobil Stevan dan langsung masuk kedalam mobil.
"mau kemana?" tanya Stevan.
"mall" jawabnya.
Stevan memutar setir dan mulai ngengarahkannya ke mall dekat sana.
Sesampainya di mall, Stevan langsung di gandeng manis oleh Sella tanpa merasa malu sedikit pun.
Stevan merasa agak risih namun semua ini perlu dia lakukan agar lebih dekat dengan Sella.
Mereka memasuki toko pertama yang bernama 'Sephora' siapa sii cewek yang ngak tau.
Sella mulai memilih lipstik dan sesekali bertanya ke Stevan 'bagus atau ngak' yang di balas anggukan karena ngak ngerti mana yang bagus ato jelek!
Merasa puas dengan lipstiknya, dia memilih bedak, foundetion, liquid, blash on, eye shadow, maskara, eye liner, gliter, hight ligther, dll.
Sella memberikan ranjang berisi make up itu kepada Stevan untuk 'bayarin' yang langsung Stevan ambil.
Stevan membayarnya dan agak terkejut karena sekali belanja di sini 'cewek' bisa ngabisin duit seharga iPone x.
Stevan memberikan belanjaan Sella. Sella menerimanya dan kembali menggandeng Stevan.
Mereka berjalan jalan keliling mall, sesekali masuk toko yang NGAK MUNGKIN NGAK BELI.
sudah banyak paper bag yang Sella bawa dan langsung di berikan ke Stevan.
Stevan melirik pasangan lain yang seperti terlihat 'bahagia' dari pada dirinya.
"aku mau nonton" ucap Sella.
Stevan mengangguk.
"nonton horor aja ya" ucap Sella kembali.
Stevan mengangguk.
"lo jangan ngangguk aja dong!" sentak Sella.
"iya terserah lo".
Sella memilih film horor dan juga memesan popcorn.
Mereka awalnya menonton dengan tenang.
Sudah selesai peluk pelukannya, kini sudah jam 9 malam.
"ngeclub yuk" ajak Sella.
"ngak!" tolak Stevan mengingat kejadian tempo lalu.
"kenapa?!" seru Sella.
"dosa".
"banci! Takut sama begituan!" sentak Sella.
Stevan langsung berfikir.
Iya ya, bego amat gue takut sama itu.
"takut sama dosa?! Takut tuh sama tuhan!" sentak Sella sekali lagi.
Membuat Stevan makin berfikir.
Ya tuhann cupunya aquu.
"udah cepetan ayo!" Sella menarik tangan Stevan, mereka pun berangkattsss.
Di club suasana nya seperti biasa nya saja. Stevan melihat ada teman temannya sedang menari di dance floar, tak mau mengganggu Stevan diam di tepian.
Sella hendak bergabung namun di tahan oleh Stevan.
"mau kemana?!".
"ngak rame lah kalo ngak dance!" teriak Sella.
Stevan menggeleng menandakan 'gak boleh'.
"kamu juga ikut aja! Ayo sini" Sella menarik Stevan dengan sekuat tenaga.
Mereka pun asyik berdansa dansaa~
"nyettt!! Itu kan si Stevann!!" teriak Devan.
"hah?!" balas Liam.
"ITU SI LIAMM!!"
"HEH GUE LIAM".
"EHH MAKSUDNYA ITU ADA SI STEVAN LAGI DANSA SAMA BANYAK CEWEK!"
Liam langsung mencari batang hidung Stevan dan hap. Dia langsung menutup mulutnya.
"dah kelewatan nyet!" teriak Liam, Devan mengangguk.
Mereka pun menyusul Stevan dan menariknya ke tepian.
"nyett lo napa?!" tanya Liam.
Stevan hanya diam, bahkan berdiri pun tak bisa.
Stevan tetap joget joget gak jelas.
"anjing, monyet nya ngak waras!" teriak Devan.
"cepet bawa nyet!" teriak Liam yang langsung membopong tubuh Stevan di bantu Devan.
Mereka sekarang sedang ada di mobil Liam, berusaha menyadarkan Stevan yang ngomong mulu dari tadi.
"ishh brisiknya Stevan kek kucing mau lahiran!" sentak Devan.
"dia minum banyak nyet!" seru Liam.
"trus kita kemanain?! Masa kirim kerumah dalam keadaan begini?!" ucap Devan.
Stevan terus mengobrol sambil menutup matanya, teman teman nya hanya meratapi nasib sebelum memutuskan untuk kehotel.
"i lov u Ya"