
Stevan memakai jas yang telah di berikan oleh ibunya. Dia memakai farfume mahal yang tak lama ia beli dari Prancis. Setelah merasa sudah siap, dia keluar dari kamarnya pas pasan dengan orang tuanya.
"wahhh anak mommy udahh wangii" puji Rina yang mencium aroma farfume Stevan.
"iya dongg maa" jawab Stevan memasukan tangannya ke saku celana.
"sebenernya selain acara ulangtahun pernikahan grandma dan grandpa, kita juga bakalan ngenalin kamu ke seseorang Van" ucap Charlie membuat Stevan terkejut.
"tapi kalau kamu tidak suka, kita tidak akan memaksa" jelas Rina.
Stevan mengangguk dan tersenyum. Mereka bertiga pun turun kebawah.
"grandma" panggil Stevan. Neneknya pun menoleh dan langsung memeluknya.
"cucu grandma akan segera menikan bukan?" tanya Rihan.
"Stevan bakal liat dulu dia cocok atau ngak grandma" jawab Stevan.
Rihan mengangguk tersenyum.
"Mansyur! Tolong urus berkas yang ada di kantor ya" perintah Charlie.
"siap pak, saya akan urus semuanya" jawab Mansyur.
"ohiya, gadismu mana?" tanya Charlie.
"huh, sepertinya dia kelelahan. Maaf pak"
"tak apa. Kau bisa kembali ke kantor" ucap Charlie yang di balas anggukan.
"hallo Charliee!" sapa seorang laki laki tua berjas rapi dan wangi.
Charlie menoleh dan langsung tersenyum.
"haii Kunswar" balas Charlie.
"ini dia putri ku, Sella. Dia punya kembaran bernama Misella namun dia telah bertunangan dengan Alfid anak dari si Phasa. Yaa kebetulan kakaknya sudah memiliki pasangan ngak salah juga kan adeknya segera nyusul. Haha" jelas Kunswar.
"haha, iya itu sangat baik buat kita biar temenan makin dekat bahkan bersaudara. Oh ya, di perjodohan ini tidak ada paksaan bukan?" tanya Charlie.
"ohh tentu saja temann" jawab Kunswar. Charlie pun mengangguk sambil tersenyum.
"baik lah, ayo masuk. Saya kenalkan dengan anak saya" ajak Charlie. Mereka pun masuk ke rumah.
"Stevan!" panggil Charlie. Yang punya nama pun menoleh dan menghampiri ayahnya.
"ada apa Dad?" tanya Stevan.
"ini Sella, Sella ini Stevan" ucap Charlie. Mereka pun berjabar tangan.
"kalian mau mengobrol dulu? Silahkan" tawar Kunswar. Mereka pun mengangguk.
Stevan jalan lebih dulu sebagai pengandu jalan. Dan Sella hanya mengikutinya dari belakang.
Tak perlu beberapa menit, mereka pun sampai di taman belakan dan duduk di kursi yang telah dihias.
"menurut lo apa keuntungan kalau kita nikah?" tanya Stevan langsung ke inti masalah.
"gak ada buat kita, tapi ada buat orang tua kita" jawab Sella.
"maksud lo di pekerjaan gitu?" tanya Stevan. Sella pun mengangguk.
"ngak asik banget cuman karena begituan" sambungnya.
Sella hanya diam. Mengingat dirinya yang sangat irit bicara.
Stevan melirik ke arah Sella yang tidak di tatap balik. Dia meneliti dari ujung kaki hingga ujung kepala, namun tidak ada satu pun yang menarik bagi Stevan.
"gue ngak mau" jawab Stevan padahal tidak ada yang bertanya.
"yaudah" jawab Sella tanang.
Sella pun bangundari duduk nya dan bergegas pergi namun di tahan oleh Stevan.
"gue bakal pikirin lagi".
Sella mengangguk dan melepaskan genggaman Stevan lalu pergi.
Stevan menoleh. "apa".
"lo tau ngak si Lia kenapa kemaren?!" seru Liam.
Stevan mengangkat bahunya acuh.
"hampir mau di culik goblok!" teriak nya masih dalam berbisik.
Stevan melirik ke samping kirinya bahwa di sana masih tertata jelas tubuh Lia yang bernapak dan pastinya berwujud.
Yaa, karena orang yang duduk dengan Dina waktu kemarin itu sedang absen alias Kintan, jadi Lia duduk di pinggirnya. Tapi karena hari ini semua hadir, Lia tidak bisa menolak kenyataan bahwa dia duduk dengan Stevan.
"samping gue bukan hantu kan?" tanya Stevan.
"ishh serius bege! Mumpung kemaren gue sama si Devan balik lagi kesekolah, jadi dia kagak jadi di culik" jelas Liam yang dibalas dengan 'oh' saja. "kampret".
Stevan melirik ke Lia yang sedang fokus mengisi ulangannya. Lia pun menoleh.
"lo mau nyontek ya!" seru Lia.
"kagak ih geer" Stevan kembali ke tugasnya. Lia menatapnya curiga dan meneruskan tulisannya.
Gue minta saran aja kali ya ke si Lia, dia kan bisa jadi mama dedeh batin Stevan sambil menatap Lia.
Lia melempar buku ke muka Stevan yang membuatnya kaget.
"ngapain si lo njing!" seru Stevan.
"lo yang ngapain! Liat liat gue!" teriak Lia.
"lo ngak usah teriak teriak dong! Tau lagi sunyi" peringat Stevan menutup mulut Lia.
"mmmmmmmmm" teriak Lia dalam tenggorokan.
"STEVAN, LIA KALIAN SEDANG APA?!" teriak bu Nista dari depan kelas.
Stevan buru buru melepas tangannya dan kembali ke posisi semula.
"dia mau cium saya bu!".