Bad or Good Girls

Bad or Good Girls
Nasihat



"Stevan?" panggil Lia.


Stevan mengenggak kemudian tersenyum.


"gue mau ngomong"


"aduhh Vann gue ada urusan, ntaran aja di sekolah" Lia bergegas pergi namun tangannya di tarik oleh Stevan.


"kakak gak boleh pegang tangan kakak aku! Dia cewek! Bukan muhrim kakak!" tegas Ila marah.


Stevan segera melepas genggaman tangannya.


"maaf yaa kakak reflex" Stevan mengelus rambut Ila dan tersenyum.


"ayo Ila" Lia menarik tangan adik nya setelah mengunci pintu.


"ehh Ya, biar gue anter" ucap Stevan yang di balas gelengan.


"gue naik angkot aja" jawab Lia.


"tapi Ya, angkot jam segini tuh bisa bahaya. Apalagi lo cewek! Bawa anak kecil lagi" ucap Stevan.


"memangnya kakak siapa?" tanya Ila.


"kakak sahabatnya kak Lia. Kakak ngak bakal nyakitin kalian kok" rayu Stevan sambil mengacungkan dua jari.


"gue bisa jaga diri kok"


"jangan Ya! Lo ngebahayain diri aja! Kemaren gimana pas pulang malem kagak ada angkot?! Sama sekarang juga susah angkot!" tegas Stevan.


Lia melirik ke arah Ila yang di balas senyuman manis.


Ia jadi ingat masa masa dimana dia kehilangan adik laki lakinya. Dia sangat menyesali kejadian itu, karena disana Lia hanya memperhatikan dan menggengam adik bungsunya yang masih balita.


Ketika di telusuri oleh polisi, Ali ditemukan tak bernyawa di sekitar sungai.


"Ya" ucap Stevan. "ngapa lo nangis?".


Stevan pun membalas senyumannya dan menggandeng Ila.


Lia dan Ila masuk kedalam dan duduk di kursi penumpang.


"yaelah ada yang duduk di depan dong, berasa supir" sindir Stevan.


"kakak aja yang di depan, Ila mau tiduran" ucap Ila.


Lia mengangguk dan pindah ke kursi sebelah Stevan.


Tak lama mobil pun di lajukan.


"emmm Ya" ucap Stevan memecahkan keheningan. "hm"


"gue mau curhat"


Lia melirik Stevan. "boleh"


"jadi gue itu kemaren di kenalin sama bokap gue ke anak cewek temennya. Bokap gue bilang gue bisa nentuin sendiri mau atau ngak gue di jodoin sama dia. Ya gue percaya percaya aja sama bokap gue nyari innya pasti yang terbaik. Tapi gue merasa ngak tertarik bahkan ngak bakal tertarik, menurut lo gimana?" jelas Stevan.


Lia terdiam sebentar.


"hmm menurut gue itu kembali kediri lo sendiri sih. Kalau lo siap hidup dengan istri atas dasar cinta atau kebahagiaan orang tua yang bakal ngalir ke lo juga. Bahkan gue sendiri kalau ada di posisi lo terima terima aja karena gue selalu bikin orang tua gue nurut sama pinta gue, jadi apa salahnya gue juga nurutin pinta mereka walau terasa berat. Dan.. kalo lo mau nya hidup sama istri lo itu dengan cinta, lo juga bisa yakinin hati lo kalau dia dan lo bisa saling suka. Walau banyak perbedaan dan keselarasan, waktu bisa gabungin lo kok. Dan kalaupun kalian jodo, kalian bakal selalu allah dekatkan dan kuatkan agar saling percaya. Kalau lo ragu dalam pilihan lo untuk terima, lo bisa minta doa ke allah biar lo di temuin sama wanita yang yakin banget buat lo ngomong 'terima' tapi kalau lo yakin dengan lo ngomong terima, semua orang di sekitar lo termasuk allah akan selalu dokung lo dan buat lo sadar kalau dia adalah jodo lo" jelas Lia panjang lebar.


Stevan diam tak berkutik. Bagai pesan singkat yang bermakna namun sebenarnya panjang dan sulit dipahami. Dia tak bisa berkata apa apa lagi dengan nasihat yang di berikan oleh Lia.


Stevan bahkan curhat kepada teman temannya atau pun sodaranya yang hanya menerima respon "terima aja", "coba lo deketin dulu", "ntar aja cari yang lain", "coba dekatin diri ke tuhan".


Dia bisa saja mendekati diri ketuhan, tapi dia juga butuh dorongan untuk menegtahui isi hatinya tersebut. Dan kini, hatinya telah di ketuk oleh seseorang yang menurutnya sangat lah ajaib.


"tapi ya lo juga harus deketin diri ketuhan biar lo dapet yang baik. Karena wanita yang buruk bakal dapetin lelaki yang buruk juga. Sedangkan wanita yang baik akan mendapatkan pria yang buruk. Kalau lo nemu wanita yang baik tapi dapet pria yang buruk, berarti blom seutuhya wanita itu baik dan sebaliknya" jelas Lia kembali yang di respon dengan anggukan.


"ada juga cewek yang baik tapi jodo nya sama cowok buruk yang sebernya cowok itu baik" Lia tersenyum ke arah Stevan begitu pun sebaliknya.


"berarti ngak mustahil dong gue berjodo dengan lo"