
Lia meminum teh hangat pagi ini. Di hari lubur begini, biasanya setiap pagi sebelum memasak dia pasti menikmati indahnya pagi.
"nikmat banget bu~"
Lia langsung berlari masuk kedalam rumah dan mengunci pintu dengan cepat.
"ngapain ngunci pintu kalo gue udah di dalam".
Lia langsung berbalik dan tak ada siapa siapa di sana.
"gue di sini thor" ucap Stevan duduk manis di kursi ruang tamu.
Lia menempel ke dinding, tak lama Ila datang.
"kakak kenapa?" tanya Ila.
"Ila Ilaa! Itu siapa?!" Lia menunjuk Stevan, 'bayangan' meksednye.
Lia percaya bahwa anak kecil yang masih polos bisa 'melihat' sesuatu yang orang besar tidak melihat.
Ila melirik kesana kemari.
"ngak ada siapa siapa kakk, misi dulu Ila mau buang sampah" Ila membuka kembali pintu dan pergi keluar.
"ngak normal".
"lo yang ngak normal ngapain ngikut ngikut gue!" bentak Lia.
"Ya?" suara berat menyapa. Lia menoleh.
"kamu ngomong sama siapa?" tanya Mansyur.
Lia menatap Stevan tegang.
"jawab orang tua nanya!".
"Ya? Kamu kenapa?" tanya Mansyur makin khawatir.
Lia mencoba tenang dan relex. "ngak papa pah, Lia bikin makanan dulu ya" Lia langsung perge ke dapur.
Stevan keluar dari kamar mandi dan mengeringkan badannya menggunakan handuk dia menatap ke kaca untuk melihat bagaimana perkembangan pembentukan absnya.
"kerempeng!"
Stevan langsung berbalik.
Dia panik dan buru buru memakai baju yang ada di lemarinya.
"kenapa lo bisa di sini?!" sentak Stevan.
"gak kenapa napa".
"keluar lo!".
Lia menggeleng.
"keluar!!".
Tetap menggeleng.
Stevan menghampirinya dan menggapai tangannya namun tiba tiba Lia hilang membuat Stevan terloncat kaget.
"iya gue keluar" ucapnya yang berada di jendela.
"ehh bukan di situ pintunya!" teriak Stevan.
"trus yang mana?"
"itu beg\-\-". Stevan terdiam saat melihat Rina sedang memperhatikkannya di gagang pintu.
"ada ibu lo".
"kamu bicara sama siapa?" ucap Rina heran.
Stevan melirik Lia yang hanya mengangkat kepala sambil duduk bersandar di jendela.
"Stevan kamu ngak mabok kan?!".
"mabok tanteee!! Dia minum dua botol tadiii...".
"diem loo!" Stevan menunjuk Lia yang mengacung jari 'piss'.
"DARLINGGG STEVANN KERASUKAN SETANN!!!!" teriak Rina yang langsung berlari ke bawah.
Stevan membuka matanya lebar lebar.
Rina ngos ngosan akibat lari lari turun tangga dengan cepat.
"Darlinggg liatt anak kamuu, dia ngomong sendirii aku takuttt!!!" teriak Rina.
"ahh mungkin dia lagi latihan ekting" Charlie berusaha 'positive thingking'.
Stevan turun ke bawah dengan bergaya 'pura pura cool' biar ortu nya ngak curiga.
"pagi mom, dad" ucapnya santai.
Rina terdiam.
"tadi tuu Stevan cuman bercandaaa" jelas Stevan.
Rina mengelus dadanya dan duduk tenang di kursi meja makan.
"macacihhh".
Stevan menoleh dan memutar matanya malas.
Stevan duduk di kursi langganannya dan mulai mengambil roti beserta selai coklat.
"gue mau dong!".
"males!".
"tuhh kann!!" teriak Rina.
"ehh mom Stevan lagi kesel sama temen tadi di atas nelpon mau ke mall katanya" Stevan berusaha menjelaskan.
"kayak cewek aja kamu ke mall" ejek Charlie .
"ajak aku donggg" ucapnya duduk di sebelah Stevan dengan puppy eye.
"diem!" bisik Stevan.
"awas garem kebanyakan"
"jangan tambahin micin ntar jadi anak micin"
"jangan lupa bawang daunnya"
"awas itu minyak jangan kebanyakan ntar kolestrol"
"gulanya di kontrol dong jenggg"
"minyaknnya dah panas tuh!!".
"IHHH BERISIKK!" teriak Lia, dia malah tertawa sambil memegangi perutnya.
Lia melanjutkan kegiatan memasaknya itu.
"cantik juga ya kalo lagi masak".
"ck LO! --".
"KAKAKK ADA TEMENN" teriak Ila dari ruang tamu.
Lia mendeleki Stevan dan berjalan keruang tamu.
Lia sangat terkejut Stevan ada di hadapannya lagi.
"PERGI!" bentak Lia.
"lo kok ngusir gue!?"
"pergi pergii" Lia mendirong Stevan keluar.
"kakak kenapa ngusir kakboy?" ucap Ila yang baru datang dari kamarnya.
Lia terdiam dan menatap Stevan kembali.
Lia menjauhkan tubuhnya.
"temen kakak mana?" tanya Lia.
"kakboy tuh kan temen kakak?" jawab Ila.
Lia menatap Stevan yang di balas tatapan meneliti juga.
Apa jangan jangan Lia juga ya.
Lia langsung pergi ke dapur dan melanjutkan masakannya.
"tadi kompornya ngak di matiin jadi gue matiin dulu, awas minyaknya masi panas!".
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"