
Lia segera membersihkan luka nya yang tersayat paku yang ada di pinggir rak piring.
Dia langsung mengemas makanan nya ke dalam tas dan segera bersiap siap.
Setelah mereka berdua siap, baru lah mereka pergi bersama sama.
Stevan tersenyum senyum sendiri melihat tv yang sedang menyala. Namun sepertinya dia tidak tersenyun kepada tv, melainkan.
"Van lo kayak gila ih takut gue!" sentak seorang wanita.
"kagak ngerti ngapain dia" ucap wanita satinya lagi.
"brisik lo pada ah! Ganggu aja" ketus Stevan.
"sepupu lo La".
"lo juga Saa".
"sampe kapan sih lo tidur di situ! Males kita nungguin lo!" sentak Klara karena susah jenuh.
"kalo ngak mau pulang aja ngak ada yang nyuruh lo di sini!" balas Stevan.
"yaudah".
"ehh Kla, ntar kalo dia mau loncat lagi gimana!" seru Tissa yang teringat kejadian tempo lalu.
Stevan langsung cengengesan.
Pasalnya, waktu itu Stevan tak di temani saat sakit, karena biasanya dia sangat disayang oleh keluarga 'karena' anak cowok satu satunya dia berfikir kalo semua sudah tidak menyayangi nya.
Stevan sudah ingin loncat dari jendela, namun pemikirannya yang masih anak anak membuat anak anak pun khawatir.
Kamar Stevan hanya di lantai 1, jatoh pun kagak mungkin mati \(kec udh takdir\) tapi karena sepupu sepupunya juga masih kecil, jadi membayangkan kalo Stevan akan mati.
"yaelah mati mati aja, bodo amat gue mha gak peduli!" Klara langsung pergi dari ruang rawat.
Karena Tissa tak mau sendiri, dia menyusul Klara dan Stevan acuh tak peduli. Toh dia juga pasti mikir dua kali buat bunuh diri.
"Dina!" teriak Lia dari ujung koridor.
Lia dan Ila langsung berlari dan menumpahkan pelukannya.
"Yaa gue takutt!!" teriak Dina.
Lia terus mengusap punggung Dina yang di bantu oleh Ila.
"kakak gak usah khawatir, kalo seseorang di beri sakit dia sedang di sayang Allah" ucap Ila polos.
"tenang Din, gue disini, lo tenang yaa. Pasti semua ini ada jalannya" sambung Lia.
Dina melepaskan pelukannya setelah dokter keluar dari ruang rawat.
"operasi?".
"kami akan segera menyiapkan persiapan operasi. 30 menit lagi kami akan memulainya, selamat malam" dokter pun pergi dari hadapan mereka.
Lia memegang pundak Dina.
"bahkan untuk pengobatan pun gue ngak bisa beli Yaa" Dina meneteskan air matanya.
Ila yang melihat itu langsung memeluk erat Dina yang tak berdaya.
"kakak jangan sedih! Pasti kita bantu kakak" Ila mengusap air mata Dina.
Dina tersenyum.
"makasih banyak Ila" Ila mengangguk senang.
Lia dan Ila sedang di kantin rumah sakit untuk memakan perbekalan yang Lia bawa tadi.
Dina tidak ingin ikut karena pasti tak berselera, namun Lia memaksanya untuk makan makanannya walau hanya sedikit.
"kakboy di rawat di ruang mana kak?" tanya Ila.
Lia terdiam.
"kakk" Ila mengguncang kan tubuh Lia.
"ehh".
Drrrrt drrrt
Suara hp Stevan berbunyi. Awalnya dia acuhkan, tapi semakin lama dia semakin penasaran dan langsung mengangkat teleponnya.
"..."
"sini aja lagi sepi kok"
Telepon langsung dimatikan.
"cihh irit pulsa banget" ketus Stevan.
Perlu waktu seperempat jam untuk Lia ke ruang rawat Stevan.
Stevan senang saat melihat Ila bersamanya.
"hallo kakboyy!!" seru Ila yang langsung berada di samping ranjang.
"hallo Ila!!" semangat 45 dari Stevan.
"kakboyy biar aku periksa ya!! Kalo aku yang periksa pasti besok kakboy sembuh!".
"iya boleh".
Ila langsung pergi ke samping sebelah kiri Stevan.
Meneliti setiap luka yang di perban, menyentuh perlahan dan mulai membaca doa.
Lia yang melihat nya hanya dia duduk di kursi pinggir kasur.
"Ila ngapain?" tanya Stevan setelah Ila mengakhiri semua aktivitas nya.
"aku bacain ayat kursi dan surat surat pendek buat kakboy, supaya Allah ngasih kekuatan juga perlindungan ke kakboy" jelas Ila.
"makasih Ila". Ila mengangguk.
"udah kan Ila? Kita ke kak Dina lagi ya?" ucap Lia. Stevan cemberut.
"kakboy gak usah sedih! Aku janji setiap aku solat aku doain kak boy!" seru Ila. Stevan tersenyum.
"makasih banyak ya Ila" Stevan mengacak pelan rambut Ila.
"iya kakboy, assalamualaikum".
"waalaikumsalam".
Lia dan Ila pun keluar ruangan. Tak beberapa menit kemudian dua wanita masuk dengan wajah garangnya.