Bad or Good Girls

Bad or Good Girls
Perpisahaan



"HAH?!" teriak Lia.


"kakak kenapaa?!" panik Ila yang terbangundari tidurnya.


"ehh gakk papa Laaa, hhe kamu tidur lagii yaaa" ucap Lia menenangkan adiknya.


Maksud lo paan huh?!


Ngakk, itu anu maksud gue, dia gak mustahil jadi jodo gue soalnya gue baik


Awas lo!


Batin mereka.


Akhirnya mereka sampai di bandara. Lia mencari ibunya di dekat restoran yang ada di bandara tersebut. Ohya, mereka tiba pukul setengah delapam malam.


"Liaaa!" seriak seseorang membuat Lia menoleh. "itu mama".


Mereka bertiga pun menghampiri Kani dan menyalaminya.


"ehh, ini siapa?" tanya Kani lembut.


"saya teman Lia tante" jawab Stevan yang di balas dengan anggukan dan mulut yang berbentuk 'O'.


"ini ma" Lia memberikan kertas yang ibunya butuhkan.


"ahh alhamdulillah. Makasih sayang" Kani memeluk Lia dengan penuh kasih sayang begitu pun Lia.


"mamah jangan lupa sering kabarin Lia yaa" rengeh Lia sambih menangis di pelukan ibunya.


"iyaa, mama bakalan selalu kasih kamu kabar sayang" jawab Kani yang makin mengeratkan pelukannya.


"kamu juga jangan lupa jaga Ila yaa, sama papa kamu jugaa. Jadi anak solehh dan berbakti. Ingett jangan pacaran atau pun terlalu deket sama cowok. Jelek keliatannya" pesan Kani agak sedikit menyindir.


"iya mama" Lia mengangguk.


Kani pun melepaskan pelukan dan beralih ke anaknya yang paling muda.


"Ila sayang, nurut ya nak sama kakak dan papa kamu. Jangan pernah ngebantah atau ngelawan mereka. Tegur mereka juga kalau mereka salah. Mama bakal selalu inget kamu sayaang" ujar Kani langsung mencium kening anaknya sangat lama dan memeluknya.


"Ila janji mama. Ila bakal jadi anak yang penurut" ucap Ila dengan tersenyum dan menghapus air mata ibunya begitu selesai pelukan.


Kani pun beralih ke Stevan.


"tante nitip gadis gadis tante ya. Maaf kalau merepotkan, tapi nanti insyaallah tante bakal bales kebaikan kamu ya nak" ucap Kani tersenyum.


"iya tante. Stevan janji Stevan bakal jaga gadis tante".


Janji? Sampai kapan?


"mama berangkat sekarang ya sayang. Hati hati selalu dimana pun kamu berada ya" Kani mencium pipi kedua anaknya.


Lia dan Ila pun mengangguk tersenyum.


Kani pergi meninggalkan mereka bertiga setelah bersalaman dan berpelukan. Sampai akhirnya tubuh Kani pun tak terlihat lagi oleh mereka.


"kakak". "ya" jawab Lia dan Stevan barengan.


"gendong aku" pinta Ila.


Lia pun bergegas menggendongnya.


"sama gue aja. Lo so soan kuat badan gepeng juga" sindir Stevan yang langsung mengangkat tubuh Ila di pangkuannya.


"Ila umurnya berapa?" tanya Stevan.


"empat tahun" jawab Lia.


"tahun depan tk dong?!" seru Stevan. Lia pun mengangguk.


"sekolah di tk gue aja. Yang ngelola sepupu gue".


Lia melirik Stevan dan tersenyum. "insyaallah".


"kakak, kita belum salat isya" peringat Ila.


"ohiya! Kita ke masjid dulu yaa" jawab Lia.


Stevan tersenyum lebar melihat Lia begitu akrab dengan Ila. Stevan jadi menyesal saat setuju bahwa ibunya tidak akan mempunyai adik lagi. Karena dulu Stevan menganggap bahwa jika dia hidup seorang diri, dia akan selalu dimanja atau di beri perhatian.


Tapi melihat Lia dan Ila yang di perlakukan adil oleh ibunya, Stevan jadi merasa ingin mempunyai anak kecil.


"Van! Lu diem mulu!" teriak Lia mengagetkan Stevan.


"ehh apa?"


"ini udah sampe masjid lu diem aja! Turunin Ila!" bentak Lia. Stevan pun menurunkan Ila.


"kita solat dulu. Lo bisa solat kan?! Awas aja lo bilang gak bisa!" sentak Lia sekali lagi.


Ngak! Bukan gak bisa! Ya kalee ortu nya ngak pernah ngajarin solat dan ngingetin. Stevan nya aja yang ngak suka solat.


"bisalah!"


"yaudah sama masuk" perintah Lia. Mereka pun masuk masjid.


Setelah beberapa menit yang lalu, akhirnya mereka telah selesai salat.


"kaka aku laperrr" ringis Ila di pangkuan Stevan.


"iya kita makan dulu ya" jawab Stevan langsung mencari restoran.


"kita makannya di rumah aja yaa?" ucap Lia. Ila pun mengangguk.


"lohh ngak papa di sini aja! Keburu mati dia" canda Stevan.


"ihh ngak usahh gue juga bisa masak!"


"tuhh blom masak nyaa. Udah di sini ajaa" Stevan melanjutkan perjalanannya.


"kalau makan di sini bisa tambah lama, di sini restorannya penuh penuh" ucap Lia.


"yaudah ntar di jalan kita cari mall" jawab Stevan. Lia pun tersenyum.


Ntah lah. Lia merasa kehangatan saat ini. Melihat adiknya senang dipangku oleh seorang lelaki, dapat perhatian seorang lelaki, mendapat kasih sayang dari seseorang bak ayahnya.


Yap. Ila sangat susah mendapatkan semua itu. Karena ayah mereka adalah seorang ob di salah satu kantor terbesar dan benar benar ramai sehingga tak jarang bagi dia untuk tidak pulang.


Karena kasihan melihat sang suami bekerja sangat keras, akhirnya sang istri meluncur ke arab untuk menjadi seorang tkw.


"pakkk!! Bu!!!" teriak seorang petus bandara.