
"Liam yang maksa! Narik narik kita buat masuk mobil!" bela Dina.
"eh--i, yaa benehh!! Liam tarik tarik maksa kita!" sambung Lia.
"iyaa parah nih si Liam nie maksa cewekk niee" ucap Devan.
"lah si goblok malah mihak org" ucap Liam tak terima.
"gue mah pasrah kalo sama cewek" bisik Devan.
"jadi kenapa lo bisa di sini?"
Stevan melirik Dina.
Iya, Dina yang nanya.
"kemaren abis berenang"
"lahh gimana ceritanya abis berenang lo kecelakaan?!" sambung Lia.
"ya ngak berenang lah, ih begonya nie cewek".
"APAH?!" teriak sang wanita berbarengan kepada Devan.
"rumah sakit mohon tenang" ucap Liam.
"tau nih siapa juga yang mau kalian dateng" ucap Stevan. Semua meliriknya.
"owh kagak mau? Yaudah balik yu Din" Lia menarik tangan Dina yang di balas anggukan.
Lia dan Dina pun keluar dari ruangan dan pergi meninggalkan rumah sakit.
Mereka sedang berjalan di trotoar sambil menunggu kendaraan umu yang melewat, namun belom saja melewat.
"Ya" ucap Dina.
"hm".
"lo pernah ngerasa kesepian gak sih? Kalo ayah lo ngak pulang?" tanya Dina.
Ayah Dina telah meninggal saat Dina kelas 3 smp. Dina sangat terpukul akan kepergian ayahnya karena dia sangat amat dekat dengan ayahnya.
Karena ayahnya mencintai dia dengan sangat lebih, membuat Dina sendiri 'susah mupon' dari kasih sayang sang ayah selama ini.
Lia tersenyum mengerti apa yang sedang di rasakan sahabatnya ini.
"gue juga kangen kok, tapi maklum kalo dia sibuk. Tapi kalo gue jadi lo, gue bakal ikhlas dan berdoa selalu untuk ayah. Karena bagaimana pun, dosa dan pahala cewek kan ngalirnya ke ayah jadi apa salah nya ngebales semua kasih sayang nya dengan beribadah?" ucap Lia.
Dina tersenyum bahagia.
Dia tau dia pas curhat kepada siapa. Dia sangat senang bilamana Lia menceramahinya dengan tidak mengolok ngolok nya atau pun merendahkan pihak mana pun.
Lia selalu 'jelas' memberikan ceramahan pada orang orang. Bahkan jika dilihat dari cara Lia berbicara, Dina tak merasa bahwa dia sedang di poyokin sehingga setan setan tak menggoda Dina untuk memberontak.
"makasih Liaa sayangg" Dina memeluk Lia yang juga di balas pelukan.
"masama unchhh".
"Lia yang mana? Yang rambutnya pendek atau panjang?" seru Rina.
"apa si mom".
"ihh, masa ngak mau cerita sama mom yang mana cewek yang kamu peluk?!".
Stevan memutarkan bola matanya.
"yang panjang".
"apa si mah, item, kurus, pendek gitu di bilang cantik" ketus Stevan.
"ehh jangan asal ngomong kamu ya! Cewek itu bisa berubah dalam sekejap kalau ada seseorang yang ngomong gitu!" sentak Rina.
Stevan memunculkan smirk nya.
Lia sedang melipat lipat baju yang baru saja ia jemur. Dia juga di bantu oleh sang adik yang melipat pakaian kecil.
Setelah beres dengan kegiatan melipat, Lia langsung ke daput untuk memasak makanan malam.
Tak beberapa lama, hp Lia berbunyi. Namun yang mengangkat malah Ila.
"hallo" ucap Ila.
"hallo Ilaa! Apa kabar" balas sang penelpon.
"baik kakak, kakak gimana?" tanya balik Ila.
"kakak di rumah sakit".
"hahhh?!?! Kakboy kenapa bisa di rumah sakitt?!?!" panik Ila.
"haha,ngak papa Ila, kakboy cuman kecelakaan ringan".
"Ila mau liat kakboy" ucap Ila yang terdengar oleh penelpon.
"kakboy? Siapa kakboy?" jawab Lia.
"itu loh kak, yang kemarin nganterin kitaa".
Lia sedikit berfikir, dan pikirannya terhenti kepada Stevan.
Lia merebut ponselnya dari Ila.
"ngapain?!".
"ihh sante aja bu".
"ngak jelas". Lia langsung menutup teleponnya.
"kakak mau jenguk kakboyy!!" teriak Ila.
"kakboy bentar lagi juga pulang" jawab Lia sambil menyiapkan makanan.
"tapi kalo Ila yang periksa, pasti sekarang kakboy pulang nya" ucap Ila masih memohon.
Drrt drrrt.
Lia menatap ponselnya melihat ada profil Dina di sana. Langsung ia angkat dengan segera.
"hallo Din ke--"
"..."
"rumah sakit mana?!"
"..."
"kamuu tenang yaa, aku ke sanaa!".
"kakak kenapa?" tanya Ila.
"Ila cepet cepet ganti baju yaa, kita ke rumah sakit! Mama nya kak Dina tiba tiba pingsan!" panik Lia.
Ila mengangguk dan segera bersiap siap ke kamar.
Lia membereskan kembali makanan dan berniat untuk membekalnya.
"Awwww!"