
"kenapa kamu pergi tanpa sepengetahuan dad?" tanya Rina.
"mom aku juga buru buru jadinya aku lupa. Aku juga ngak liat kalian jadi gak ada waktu buat nyari dulu".
"se enggaknya kamu telpon sayang, biar dad kamu ngak khawatir".
"mom juga ngak ngasih tau bakal ada keluarga dia kesini" ketus Stevan.
"anak mom udah besar ya, udah bisa ngelak" ucap Rina sedikit menyindir sambil tersentum.
Stevan langsung terdiam mendengar perkataan ibunya itu. Biasanya Stevan akan menganggap itu candaan saja, namun kali ini tidak. Dia merasa bahwa dia memang salah. Dia jadi mengingat moment moment bersama Lia dan Ila.
Moment dimana mereka mensyukuri setiap yang tuhan berikan. Mereka juga terlihat tidak egois atau pun menang sendiri. Mereka juga tetap positif thinking dan ya, selalu patuh juga pada orang tua.
Rina yang melihat anaknya terdiam menjadi sedikit aneh. Rina melihat Stevan seperti memikirkan sesuatu. Padahal biasanya sindiran seperti itu sudah biasa baginya.
"Stevan kamu—ehh". Stevan tiba tiba memeluk ibunya dengan kasih sayang. "maaf mom maafin Stevan udah ngelawan mom. Stevan janji Stevan ngak bakal ngelawan mom lagi" ucap Stevan yang berhasil membuat Rina tersentuh.
Ya, baru pertama kali seumur hidup dia mendapatkan kata kata seperti itu dari anak tunggalnya. Rina bangga dengan perkembangan Stevan yang mulai membaik. Kira kira siapa yang membuatnya begini?
"yasudah besok kamu ajak jalan Sella sembari kamu mengenalnya ya? Mom harap kamu bisa menerima ini karena kita mencarikan yang cocok untuk mu" nasihat Rina membuahkan senyuman di wajah Stevan.
Ia masih ingat nasihat panjang lebar dari Lia. Dia tidak akan lupa dan tak kan terlupakan. Wanjay.
Lia kembali ke kamarnya setelah mengurus sang adik untuk tidur lelap di kamarnya.
Ya, Ila tidur bersama dengan Lia karena Ila tidak pernah mau sendiri. Karena sang ibu tak ada begitu pun ayahnya, jadi Lia lah salah satu orang yang bertanggung jawab atas Ila.
Lia ikut membaringkan tubuhnya di kasurnya lalu beberapa merejapkan matanya.
Masih terbayang suasana tadi yang membuatnya amat senang dan nyaman. Namun mustahil sekali kejadian itu bisa terjadi, mengingat Stevan akan segera mempunyai istri dan hidup bahagia.
Ohya! Lia lupa bertanya kapan pernikahan itu akan di laksanakan. Yah mungkin saat masuk sekolah nanti dia akan menanyakannya.
Lia menutup matanya. Setelah beberapa lama, dia pun tertidur lelap.
"kakak mau jual dimana?" tanya Ila sambil mengemas kue kering buatan sang kakak.
"kita jualin ke warung warung aja, trus kita juga tempel brosur ini dek biar ada yang bisa pesen jua!" jawab Lia dengan semangat yang di balas dengan senyuman 'oke'.
Setelah selesai mengemas kue kering, mereka pun bersiap siap untuk pergi ke luar rumah.
Lia pun mengunci pintu dan mengambil alih sebagian kantung kresek yang berisi kue kering.
Lia memasuki warung pertamanya dan meminta izin untuk menjual kue kering nya dan mereka langsung menerimanya dengan senang hati! Membuat Lia beserta adik nya ikut senang dalam berjualan.
Mereka berjalan menyelusuri kota sambil menempelkan kertas di dinding atau pun pohon tak lupa juga menawarkan kue kepada orang orang yang melewat. Tepat di depan pabrik yang banyak pekerjanya, Lia dan Ila menawarkan kue kuenya dan mendapatkan respon yang sangat banyak.
Mereka semua tertarik pada kue yang Lia buat dan memesan beberapa kue juga. Setelah semua kariawan pergi, Lia mengucapkan syukur karena kuenya tejual habis.
"alhamdulillah dekk kita dapet banyak uangg!!" seru Lia.
Merasa aneh karena tak mendapatkan respon, Lia pun mendonggak.
"Ila?!" teriak Lia terkejut melihat adiknya tak ada di sekitarnya.
"ILAAAA!! ILAAAAA!!!" Lia teriak semakin kencang.
Dia menatap sekeliling jalan yang sepi, sama sekali tidak menemui anak seusia Ila yang berjalan jalan di sana.
"ILAAAA!! ILAAA KAMU DIMANA?!?!!? ILA JANGAN BERCANDA ILAA!! ILAA KAMU DIMANAA!!!" teriak Lia yang semakin kencang sambil menagis.
Dia berjalan kesana kemari berharap bahwa adiknya bermain di belakang pohon atau belakang bangun besar namun tak ada.
"ILAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!"