Bad or Good Girls

Bad or Good Girls
Suka apa Rindu?



"kakak ngak papa kan kakboyy?!" tanya Ila khawatir.


"ngak papa kok Ila, kita doa aja yaa" jawab Stevan.


Dokter pun keluar dari ruangan. Seketika Stevan langsung bangun.


"pasien tidak papa, hanya mungkin mengalami stress ringan. Saya permisi" dokter pun pergi.


Ila dan Stevan memasuki ruangan.


"kakak, kakak kenapa?" tanya Ila padahal Lia belom sadar.


"Ila, kakboy beli makanan dulu kebawah bentar yaa, Ila tunggu di sini" ucap Stevan Ila mengangguk.


Stevan keluar ruangan untuk pergi ke kantin. Di perjalanan dia mendapatkan telepon.


"hm"


"..."


"rs"


"..."


"iya sayang". Stevan menutup teleponnya.


Di buru buru ke kantin membeli banyak makanan dan minuman dan berlari lagi ke ruang rawat untuk memberikannya ke Lia.


"PERGI LOO!!" teriak Lia melempar semua yang ada di sekitar nya ke arah Stevan.


"ehh--Yaa!! Ini guee!!".


"Pergi loo jangan ganggu guee!!"


"Yaa, ini guee!!" Stevan mendekati Lia.


"pergiii!!! Jangan ngedekett!!".


"Yaa ini guee!!" Stevan mencekal tangan Lia membuatnya terdiam.


Mereka saling pandang dalam jarak yang lumayan dekat membuat mereka terdiam hening.


"kakak". Stevan langsung menjauh dengan bantuan dorongan dari Lia.


"ehm, Ila ini makanan sama minumannya. Kakak pulang ya" ucao Stevan.


"tapi kakak mau pulang juga" ucap Ila.


Stevan melirik Lia.


"yaudah kakboy anterin ya" Ila mengangguk.




"kakak udah ngak sakit kan?" ucap Ila yang di pangku di jok depan.



"ngak Ila, ini semua kan karena Ila yang periksa tadi" jawab Lia.



Ila tersenyum dan memeluk kakanya.



Mereka pun sampai di rumah Lia.



"makasih Van, maaf ngerepotin" ucap Lia. Stevan mengangguk.



Setelah Lia dan Ila turun, Stevan langsung menancap gasnya menuju tempat langganannya.



Lampu berkelip kelip, musik bergema gema, manusia menari nari, disana lah Stevan sekarang.



Bermabok mabok ria dengan teman temannya.



Namun Stevan and the geng bukan tipe tipe menyentuh wanita~ meren.



Stevan cs duduk di tempat vip yang lebih tenang dan yang pastinya sepi tidak banyak orang, hanya ada berempat.



"jadi gimana lo sama si Sella?" tanya Liam.



"gue juga ngak tau" jawab Stevan.



"lo udah ngestuk belom?" tanya Raffa. Stevan menggeleng.



"uda lahh, cari yang lain ajaa. Cinta tak bisa di paksakan. Asoy" sambung Devan.



"gue juga mikir gitu" jawab Stevan.



"jadi bakal lo tolak?" tanya Liam.



"lo tau ngak?! Selama gue sama dia, dia minta gue ngerokok sama mabok terus! Ngak sehat kan tuh cewek!" jelas Stevan.



"yaudah sii kagak ngapa emang lo suka itu kan?!" sambet Raffa.



"ya maksudnya calon istri tuh harus nya membenari gitu loh! Kalo gue mati pas anak gue masi bayi gimana?!".



"ya lo mikir lah! Kalo emang jelek ngapain di ikutin!".



Stevan menoleh dan membuka matanya lebar.



"bego banget milih cewek yang ngak tau diri!".



"ngapain si lo\-\-". "gue lagi main tanah" potong Devan.




"jangan ganggu Devan Stevannn" ucap Lia.



Stevan mengacak ngacak rambutnya stress.



"ngapa lo?" tanya Liam.



"huhh, kenapa di sekitar gue selalu ada orang yang ganggu gue sih!" sentak Stevan.



Temannya saling bertatap.



"maksud lo kita ngeganggu lo?!" ucap Raffa.



"ehhh!! Bukan.. Mak\-\- maksud guee. Duhh".



"apa si nyet!" Devan menoyor kepala Stevan.



"serius seriuss gue mau cerita". Semua teman temannya langsung masuk kedalam mode fokus.



"gue tuh selalu aja ada bayang bayangan cewek ngikut campur kalo gue ngomong. Saat kapanpun dia pasti datang napa ya?" jelas Stevan.



"Nahhhhh!!!! Lo sukaa kali sama cewek ituu!!!" teriak Devan.



"ah masa sih goblok, gue malah benci sama tu orang" balas Stevan.



"ahh, cinta sejati itu di awali dari benci, bersama, dan hatiiii" sambung Liam.



"iya nyett bisa aja" lanjut Raffa.



Stevan berfikir keras.



"ah ngak goblok gue ngak suka sama dia!" lantang nya.



"emang siapa nyet ceweknya?".



...



"Lia".



Yang punya nama menoleh.



"apa" jawabnya.



"lo kenapa sihh akhir akhir ini agak anehh. Suka merenung, kadang panik, takut takut sendirii. Lo ada yang nyantet ya?" tanya Dina.



"gue juga takut Din" ucap Lia.



"takut kenapa?" tanya Shalma.



"duhh susah sihh kalo di jelasinn kalian mama mau percaya" lanjut Lia.



"kita bakal percayaa kok, janji" ucap Mitha.



"iyaa Yaa, masa aja kita ngak percayaa" sambung Dina.



Lia tersenyum.



"gue ngak ngerti ya, kenapa dua hari kemaren gue di ikutin trus sama bayangan cowok" jelasnya.



"cowok?".



"iyaa. Kalo gue lagi masak dia ada trus ngomong ngomong kek ngingetin 'asinnya jangan kebanyakan', 'kompornya jangan lupa di matiin', gue kan jadi takut pas tau kalo cuman gue yang bisa liat adek gue ngak!" seru Lia.



"ahh masa sihhh. Keknya ada suatu kejanggalan" ucap Mitha.



"mungkin aja lo rindu sama cowok itu" sambung Dina.



"ihh males rindu, tiap hari juga ketemu" sentak Lia.



"siapa emangnya?" tanya Shalma.



"Stevan"