
"kamu harus nikahin dia" balas Charlie menjawab enteng.
"OHOKKK!!" Stevan terbatuk keras sambil memukuli dadanya dan meminta bantu kepada sang ibunda.
Setelah lumayan reda dia pun protes.
"PAPII APA APAAN NIKAHIN STEVAN KAYAK STEVAN NGAMILIN DIA AJA" teriak Stevan membuat para pembantu di rumah pun terkejut.
"BWHAAHHAAH, liat lah darling anak mu ini! Ekspresinya very nice very menghibur. Hahaha" teriak Charlie sambil tertawa terbahak bahak.
"hahahha, lucu juga ya dia pas di prank nikah mudaa" balas Rina.
Muka Stevan memerah merasa malu di ketawai oleh ayah dan ibunya. Tak hanya mereka! Tapi para pembantu juga menertawakannya.
Stevan langsung bangkit dari duduk nya dan bergegas pergi menuju kamar.
"kamu pergi papi nikahin kamu beneran!" tegas Charlie. Stevan pun terdiam.
"kemari anakku" ucap lembut sang ibunda.
Stevan pun memutar badannya dan duduk kembali ke tempat asalnya.
"besok keluarga besar akan berkumpul di rumah ini. Dady gak mau kamu melakukan sesuatu yang membuat acara itu rusak" tegas Charlie.
"dalam rangka apa?" tanya Charlie.
"hari pernikahan grandma dengan grandpa" jawab Charlie.
Stevan mengangguk.
"udah?" tanya Stevan yang di balas anggukan oleh ayah dan ibunya. "good night all" ucap Stevan dan langsung pergi ke kamarnya.
Lia membuka laptop nya dan mulai mengetik untuk membuat tugas yang harus segera di kerjakan.
Tok tok tok
"masuk" perintah Lia.
Muncunlah gadis kecil berambut panjang sambil membawa boneka menghampiri Lia.
"kakakk tolong ikat kan rambut Ilaa" ucap Ila.
"aduh Ila, kakak lagi sibukk, ke bunda aja sana" seru Lia.
"tapi bunda sedang memasak kakak. Ila ngak mau ngeganggu" jawab Ila.
Karena tidak ingin memberika contoh yang jelek akhirnya Lia mengikatkan rambut Ila menjadi dua, di kiri dan kanan.
"udah" Lia langsung kembali ke laptopnya.
"makasih kaka!" seru Ila yang langsung mencium pipi kakanya.
Ila pun keluar kamar dengan girang. Tak lupa menutup pintu kembali agar sang kakak tidak marah.
Lia terus fokus kepada komputernya sehingga tak ngeh kalau sendari tadi ada yang memberinya pesan.
"ckk! Mana si tu anak!, giliran dah ngadu aja takut! Huhh" seru Stevan langsung menjatuhkan dirinya ke kasur king size nya itu.
"ehhh ngapain lo ngadu ngadu ke bokap gue kalo udah gue peluk!"
Lia langsung mengenali pesan dari siapa dengan tidak perlu basa basi 'ini siapa?' itu hanya membuang waktu baginya!
"Liam yang ngomong bukan gue!" balas Lia dengan malas.
Stevan langsung melirik iPhone nya yang berbunyi dan membuka sebuah pesan balasan.
"kata Liam?"
"maksud lo apa bawa bawa sahabat gue?!" jawab Stevan dan langsung mendapatkan jawaban.
"ehh bege! Yang ngomong ke bu Nista itu LIAM bukan GUE!. Salah lo sendiri ngapain peluk peluk gue! Emangnya gue bini lo main peluk peluk kek gak inget dosa huh! Cowok kampret!. Ohhh atau mungkin itu udah hobi lo yaaa?! Huh, gue sumpahin lo ngak dapet jodo!"
"buset panjang amat males gue bacanya"
"kalo gue bener gak dapet jodo, gue sumpahin lo yang jadi jodo gue!" balas Stevan mengancam.
"maaf. Gue terlalu cantik untuk di jodohkan dengan lelaki murahan"
"cihh, bekas pelukan gue juga mana ada yang mau! Ntar gue bikin lo terpaksa nikah sama gue"
"liat aja ntar lo yang maksa gue nikahin lo!" balas Stevan.
"kapan?!" balasan Lia.
"pas gue udah ngamilin lo! Hahahaahhaa!!!" balas Stevan sambil tertawa terbahak bahak.
"STEVANNNN!! AWAS LU YAA!! NYENTUH GUE DIKIT AJA GUE BAKALAN LAPORIN LO KE POLISI! DI PENJARA PUAS LO!"
Lia menyimpan ponselnya kasar. Moodnya langsun turun akibat pesan terakhir yang Stevan kirim. "bengsyet banget dia ya Allah...." ucap Lia lalu tidur di ranjang kecilnya.
Dia menatap langit langit kamarnya yang dia tempeli dengan bintang bintang glowing in the dark.
Mencoba menutup mata dan Ting!. Hpnya berbunyi.
Dia langsung mengambilhpnya dan melihat pesan bahwa Stevan megirimnya foto. Lia agak curiga namun penasaran dengan foto yang Stevan kirim. Begitu pesannya di buka.
"STEVANNN!!!"