
"Lia?!"
"Ila!!"
"Lia lo kenapa?!"
"Ilaaaa!!! Ilaaaa!! Ilaa lo sumputinkann!! Iya kann?!!! Udah deh Van lo jangan main main sama gue cepet balikin Ila, BALIKIN ILAA!!" sentak Lia yang sudah tidak bisa mengontrol dirinya.
Tak tega melihatnya menangis, Stevan membawa Lia kedalam pelukan hangatnya.
"lo kann iya kan yang nyembunyiin Ila kan huh?!?!! Lo kan ia kann!!" teriak Lia.
"Yaa, tengang duluu Yaa. Lo jelasin kenapa Ilaaa?!"
"ILAA HILANGG!! ILA HILANG! TADI WAKTU GUE LAGI JUALIN KUE DIA HILANG! DIA HILANG VANNN DIA HILANGG!!! NGAK GUE NGAK MAU LAGI KEHILANGAN ADIK. NGAKKK GUE NGAK MAU JADI KAKAK DURHAKA NGAKKK!!!" Lia menjenggut jenggut rambutnya sambil menangis hebat.
Mumpungnya di daerah sana sangat sepi, jadi tak ada satupun orang yang melihatnya.
Eh tunggu, sepi? Trus yang beli kue tadi siapa?!
Stevan membawa Lia kedalam mobil agar dia bisa tenang namun di tolak oleh Lia. Dia takut ketika dia pergi Ila datang dan mencarinya.
Ila juga tidak mungkin ingat jalan pulang karena jarak dari rumah nya kesini sangat lah jauh.
"Yaa masuk ke mobil" pinta Stevan.
"NGAK! NANTI ILA DATENG PAS GUE GAK DI SINI GIMANA?!" teriak Lia.
Tidak mungkin Stevan meninggalkan Lia dalam keadaan seperti ini akhirnya dia pun menelpon Liam agar bisa menjemput polisi dan datang ke tkp.
Tak perlu silang beberapa lama, polisi pun datang dengan timnya.
"gledah semua sekitar sini! Cepat!" perintah Stevan yang langsung di lakukan oleh para tim polisi.
Semua berpencar mencari bocah kecil berusia 4 tahun yang masih imut itu.
Mereka semua mencari sampai kedalam dalam gedung yang ada di area itu.
Lia dibiarkan berduduk ditempat dan menunggu hasil dari pencarian polisi. Stevan hanya bisa menenangkannya dengan pelukan hangat karena stevan salah satu orang yang tak pandai berbicara.
"gue ngak mau Van kehilangan adek gue lagi! Cukup Ali! Cukup! Jangan sampai Ila pun menjadi korban selanjurnya Van!!" isak Lia dari dalam pelukan Stevan.
"tenang Lia, gue ngak bakal biarin Ila lepas dari genggaman lo!" seru Stevan.
"gue gak bisa tenang dengan kehilangan Ali waktu itu yang ditemukan dengan keadaan gak bernyawa! Gue ngak mau Ila begitu jugaa!!!" sentak Lia memukul mukul dada Stevan.
"tenang Yaa, semua polisi bakal nyari dengan teliti" Stevan mengelus elus rambut Lia yang masih dalam pelukannya.
Liam dan Dina pun datang berlari ke arah Lia dan Stevan dengan muka cemas dan menangis.
"LIAAA!!" teriak Dina.
Lia melepaskan pelukannya dengan Stevan dan langsung menangkap tubuh Dina yang sudah siap sendari tadi.
"Dinn gue gak—". "sssttt jangan mikir itu Yaaa! Ila pasti ketemu! Pasti!" ucap Dina mengelus elus rambut Lia.
"tapi gimana kalau ngak bernyawa?!" .
"Liaa lo ngak boleh bialang gitu!! Kita berserah diri sama Allah yaa" ucap Dina kemudian membawa Lia duduk ditanah.
"gue juga jadi nyesel kemaren udah ngejailin dia" ucap Liam dengan nada rendah.
"polisi bakal nemuin dia!" tegas Stevan yang di balas anggukan dari Liam dan yang lainnya.
"tadi lo lagi ngapain?" tanya Dina dengan tenang.
Semua berusaha tenang terutama Dina yang mengelusnya terus menerus.
"Stevan" panggil polisi itu. Semuanya langsung menoleh dan berdiri.
"gimana Ila pak?" tanya Stevan.
Polisi itu menunduk dan menghembuskan nafasnya.
"kami menemukan Ila".
Semua tersenyum bahagia.
"mana Ila pak!!? Mana Ila adik saya?!" teriak Lia.
Seseorang pun datang membawa Ila yang tidak sadarkan diri.
Buru buru Lia merebutnya dan menggendong nya dari pangkuan sang polisi.
"Ilaaa bangunn sayangg kakak disiniii, Ilaa sayangg" panggil Lia yang terus menepuk nepuk pipi adiknya.
"pak polisi kok adik saya ngak mau bangun?!" tegas Lia.
Pak polisi itu terdiam dan menggeleng kepalanya sambil menatap Stevan.
"kami menemukannya dengan tidak bernyawa".