Babad Jawa

Babad Jawa
Chapter 8 Para Pemberontak Samudra Pasai



penggambaran karakter menurut author diambil dari internet, karena author sendiri gambarnya tidak bagus


lintang



abirama



anjani



surya



hutasena



gitasena



Ronggowarsito sedang berada di antareja disebuah rumah yang jika dilihat dari luar seperti sebuah rumah orang kaya.


beberapa orang sedang rapat untuk menyiapkan sebuah rencana.


"situasi saat ini tidak begitu menguntungkan kita" ucap seorang pemimpin yang memimpin rapat hari ini, dia mengenakan topeng bermotif naga yang menutupi seluruh wajahnya terkecuali mulutnya dan matanya. dia dijuluki pendekar naga merah


"itu benar musuh masih memiliki banyak kekuatan" ronggowarsito menangggapi


"pasukan teratai hitam juga masih belum bergerak mengingat mereka yang merencanakan pemberontakan ini" kata seorang pendekar berbaju ungu dia adalah salah satu buronan di 3 kerajaan jawa yaitu destrajaya. dia dijuluki sebagai pendekar katak beracun


tiba-tiba sesosok misterius muncul dari bayangan.


"jaga omonganmu destrajaya, kami sedang mengumpulkan pasukan" hadiwijaya adalah orang terkuat ketiga di teratai hitam pengguna ilmu sihir kemampuanya berada di tingkat betara.


"hadiwijaya akhirnya kau datang juga, lama tak jumpa" kata pemimpin misterius


"maafkan aku pendekar naga merah, kami tadi ada urusan mendesak karena mahesasura di kalahkan oleh pendekar harimau dan kawannya yang misterius"


"lagi-lagi pendekar harimau menghalangi langkah kita. mahesasura harusnya menjadi salah satu calon senopati" destrajaya menjawab dengan nada marah karena dia adalah teman baik mahesasura.


"sepertinya kita tidak baik jika di biarkan saja aku akan membuat perhitungan dengan dia jika kita bertemu" sahut hadiwijaya


tiba-tiba puluhan anak panah menghujani tempat pertemuan mereka membunuh beberapa penjaga yang tidak siaga.


"pertemuan ini kita cukupkan dulu, sepertinya pasukan antareja telah mengendus keberadaan kita" kata pendekar naga merah.


"akan ku selesaikan secepat mungkin, otot-otot ku sudah sakit karena beberapa hari ini bersantai" destrajaya melangkah menuju keluar.


"keluar kalian teratai hitam menyerahlah mungkin kau kami ampuni" ucap salah seorang senopati dari antareja


destrajaya melompat menembus atap langsung menuju ke barisan paling depan pasukan antareja. ada sekitar 50 orang pemanah dan 100 orang pasukan infantri berada di depan rumah itu.


"sepertinya kalian salah, biar aku luruskan kalian bunuh diri saja atau ku bunuh kalian semua dalam hitungan ketiga"


"1"


.


.


.


"2"


.


.


.


"3"


"dasar sesumbar, lepaskan anak panah" puluhan anak panah menuju destrajaya namun tidak satupun yang menggores kulit destrajaya, karena ilmu kebalnya sangat tinggi.


destrajaya memasang kuda-kuda menyerang, dalam sekejap belasan pasukan pemanah tumbang karena terkena pukulannya.


"tehnik racun, jurus nafas katak biru" asap berwarna biru keluar dari mulut destrajaya melumpuhkan puluhan pasukan antareja.


pasukan yang tersisa segera meninggalkan pertarungan untuk memanggil bantuan.


ketika tidak ada lagi pasukan yang berdiri destrajaya meninggalkan tempat itu.


selagi destrajaya menghabisi pasukan antareja para pemberontak meninggalkan tempat pertemuan.


***


sudah 3 hari berlalu sejak pertempuran dengan mahesasura, kondisi anjani sudah lebih baik dari sebelumnya. hari ini mereka kedatangan tamu dari padepokan pedang langit.


tok-tok-tok....


"permisi bisakah kami bertamu??" kata seorang pria paruhbaya ditemani oleh indira.


tak lama kemudian pintu terbuka, munculah abirama dari dalam rumah tersebut.


"wah ada indira mari masuk" abirama mengawasi orang asing yang bersama indira


"perkenalkan namaku adalah sulawi salah satu guru dari padepokan pedang langit salam kenal"


mereka pun berjabat tangan dan masuk ke rumah yang telah dipinjamkan warga


"maaf sebelumnya apa maksud kisanak bertamu kalau boleh tahu?" abirama penasaran alasan kedatangan sulawi menemuinya


"maaf jg sebelumnya karena mengganggu waktu kalian yang berharga. kedatangan kami kemari untuk mengetahui siapa pembunuh dari adikku widura" sulawi merupakan kawan dari widura yang gugur melawan mahesasura


"sebenarnya aku tidak melihat secara langsung siapa pembunuh widura namun dari senjata yang digunakan itu adalah jarum beracun" jawab abirama menyampaikan hasil pengamatannya setelah melihat jasad widura


"dan aku tahu siapa pendekar yang menggunakan jarum beracun seperti itu adalah anggota dari teratai hitam" ucap anjani


"bagaimana kau bisa seyakin itu?" sahut sulawi penasaran


"aku tahu karena beberapa kawanku telah tewas karena senjata seperti itu, dan untuk adikmu aku tahu pasti siapa pembunuhnya"


"siapa memangnya"


"dia adalah hutasena dijuluki sebagai pendekar jarum api, dia memiliki kesaktian yang tinggi dan merupakan murid langsung dari hadiwijaya"


"bajindul..... akan kupatahkan setiap tulang di tubuhnya kalau kita ketemu"


"kalau kau mau membuat arwah adikmu lebih tenang sebaiknya kau ikut kami karena kami akan mengobrak abrik markas para bajindul itu" kata anjani


"kalau demikian aku akan ikut kalian tapi hanya sampai dendamku pada hutasena tercapai, untuk indira kuserahkan padamu mau ikut kami atau pulang ke padepokan pedang langit"


"sudah diputuskan kita akan berangkat ke hutan bambu hitam siang hari nanti"


akhirnya rombongan mereka bertambah menjadi 4 orang.


***


di markas rahasia teratai hitam yang tidak diketahui tempatnya. datanglah hadiwijaya bersama beberapa anggota teratai hitam.


di lobby penginapan teratai hitam ada beberapa anggota eksekutif dari teratai hitam sedang bercengkrama termasuk hadiwijaya dan hutasena.


"salam untuk guru hadiwijaya" seorang pendekar yang tidak laian adalah hutasena memberi salam


"salam untuk guru hadiwijaya semoga sehat selalu" gitasena mengikuti


"kalian berdua adalah murid-murid kebanggaanku, apa yang kalian temukan hingga kalian menyuruhku untuk datang langsung seperti ini"


"sepertinya pembicaraan kita lanjutkan ke tempat yang lebih sepi saja guru murid takut ada telinga yang tidak seharusnya mendengar percakapan kita, mari kami tunjukan jalannya"


mendengar kata-kata mereka hadiwijaya semakin penasaran dengan apa yang hendak ditunjukan oleh muridnya ini.


setelah menuju tempat yang cukup sepi


"kami menemukan ini guru, potongan kitab raja kegelapan "


"apa coba aku lihat"


setelah melihat-lihat halaman yang ada di dalam kitab itu hadiwijaya terlihat takjub dengan apa yang di lihatnya.


"ini benar-benar kitab raja kegelapan, ini adalah bagian tengah dari kitab itu, tak salah kalian memang murid-murid kesayanganku, kalian pelajari kitab ini dan ingat jangan sembarangan menggunakan ilmu di kitab ini dari Pengamatanku dibutuhkan penguatan tubuh yang cukup tinggi untuk menggunakan ilmu di kitab ini"


ilmu yang ada di bagian kitab ini memang harus dipelajari setelah membaca bagian awal buku ini, bukti nyatanya adalah mahesasura yang menghabiskan begitu banyak tenaga dalam untuk menggunakan ilmu rengka gunung.


"baik guru" ucap mereka berdua bersamaan.


"aku kesini sebenarnya juga ada yang perlu kusampaikan dengan kalian berdua"


"mengenai hal apa guru?"


"ini mengenai rencana pemberontakan ronggowarsito, sepertinya dalam waktu dekat pasukan teratai hitam akan menyerang kerajaan samudra pasai, kuharap kalian bersiap jika tenaga kalian nantinya dibutuhkan."


"murid mengerti guru"


"baiklah jika tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan aku akan istirahat dulu, perjalanan jauh membuat punggungku sakit"


"baik, silahkan beristirahat guru"


hadiwijaya meninggalkan hutasena dan gitasena menuju kamarnya.


***


kinanti dan utina sesuai dengan informasi yang di dapatnya menuju ke kota berikutnya yaitu kota ngawi tapi untuk sampai di sana mereka harus melewati desa nyengiran, banyak pendekar yang memutari desa ini sehingga menghabiskan banyak waktu.


siang hari di desa nyengiran banyak orang berlalu lalang di desa ada pasar dan banyak hal lainnya seperti kebanyakan desa pada umumnya.


kinanti dan utina segera mencari warung pendekar untuk membeli beberapa keperluan selama perjalanan.


menjelang sore hari suasana mendadak sepi jalanan hanya ada beberapa orang berlalu lalang namun mereka seperti terburu-buru.


melihat ke anehan ini kinanti segera menuju ke penginapan terdekat untuk memperoleh informasi.


tapi penginapan mendadak sepi karena semua orang mengunci dirinya di kamar termasuk pemilik penginapan.


tiba-tiba terdengar teriakan dari salah satu rumah warga. kinanti dan utina segera menuju ke sumber suara. alangkah terkejutnya karena mereka menemukan seorang wanita dan laki laki yang sedang pingsan dan beberapa saat kemudian terdengar teriakan berikutnya.


kali ini terlihat sesosok bayangan laki-laki tua yang sedang tersenyum melihat kearah utina dan kinanti, laki-laki itu tiba-tiba menyerang kinanti kemampuan silatnya sangat tinggi dan kecepatanya luar biasa.


bahkan gabungan kekuatan kinanti dan utina kalah jauh dibanding dengan kemampuan laki-laki ini. jurus yang dipakai orang ini adalah ilmu totok saraf yang sangat tinggi dengan kecepatanya pukulanya dia dapat melumpuhkan orang biasa tanpa di sadari.


belum sempat kinanti mengeluarkan jurus utina telah dilumpuhkan oleh laki-laki itu. dalam waktu singkat pendekar itu berada di depan kinanti dan melepaskan beberapa pukulan kinantipun kehilangan kesadaran.


esok hari di desa nyengiran yang indah.


puluhan warga berada di balai pengobatan di desa nyengiran terlihat beberapa warga menunggui kerabatnya yang menjadi korban penyerangan tadi malam.


"utina bangun"


"senyum lebar menghiasi wajahmu kak aku jadi bahagia"


"oh ini sepertinya ini akibat dari pukulan pendekar asing semalam, dia sepertinya menyerang titik meridian saraf tertawa sehingga mulutku tidak bisa berhenti tersenyum"


melihat hal ini utina tidak dapat menahan tertawanya karena melihat ekspresi dari wajah kinanti dengan mata yang serius dan mulut nyengir seperti kuda


"hmphh..... hahahaha....." utina akhirnya tertawa lepas.


"kau harusnya lihat wajahmu sendiri, ini ada cermin"


"huahahahaha.... " melihat wajahnya sendiri di cermin utina tambah tertawa terbahak... bahak


akhirnya mereka berjalan keluar dari puskesmas itu.


di jalan dia melihat korban dari pendekar tadi malam


"kak lihat anak kecil itu tersenyum meski di jewer oleh ibunya..... lucu sekali"


"apanya yang lucu... dia pasti korban pendekar itu"


"liat kak ada orang nagih utang tapi tetap tersenyum ramah..... hahaha"


"itu juga pasti akibat pendekar tadi malam"


"liat kak ada orang yang dipukulin istrinya tapi tetap nyengir kayak kuda kak aj kak hahaha....."



meski mulutnya tersenyum tapi mata dari korban pendekar itu tetap sesuai dengan kondisi yang dialami oleh orang itu, hanya saja seperti 2 ekspresi dalan satu wajah.


kemudian di penginapan pemilik penginapan menjelaskan siapa sosok pebdekar tua yang menyerang mereka.


dia adalah bocah tua gokil, adalah pendekar yang sangat kuat pada jamanya namun pada suatu saat ada kejadian yang membuat trauma yang begitu mendalam sehingga kejiwaanya terganggu. dulu di masa mudanya dia adalah pendekar 10 jari dimana dengan menggunakan jarinya dia mampu mengalahkan musuh-musuhnya.


keberadaan pendekar itu sangat misterius bahkan pembunuh bayaran yang disewa hanya bisa gigit jari ketika berhadapan dengan bocah tua gokil ini. kali ini keisenganya membuat orang-orang berekspresi tertawa.


pernah suatu ketika dia membuat seluruh tamu pernikahan anak kepala desa menangis bahkan sampai air matanya para tamu habis dan dehidrasi.


lain waktu juga pernah bocah tua gokil ini menukar ekspresi warga sehingga orang-orang berekspresi tidak sesuai dengan kondisi hatinya. namun pendekar ini tidak pernah membunuh warga desa ini.


----------×××××-------------


***Maaf para pembaca sekalian mohon bantuanya untuk konfirmasi dengan like atau jempolnya sukur-sukur bisa di vote\, author sedang mempertimbangkan untuk menyelesaikan novel ini jika memang sedikit peminatnya hal ini karena kesibukan dan lain sebagainya di dunia nyata.


konfirmasi yang saya maksud adalah untuk memastikan jika memang para pembaca benar-benar menikmati atau menginginkan kelanjutan dari novel ini***.


mohon maaf sebelumnya