Babad Jawa

Babad Jawa
Chapter 14 Persaudaraan Tak Sedarah



Sampai di sebuah pulau kecil di tengah danau tempat yang sepertinya belum terjamah manusia. lintang dan surya menginjakan kaki di pulau masuk kedalam hutan yang cukup lebat.


didalam hutan pohon-pohon tumbuh amat tinggi hingga menutupi cahaya matahari. tiba-tiba seekor monyet dengan ukuran sebesar manusia melihat kearah mereka.


"itu bukan monyet biasa lintang, itu adalah seekor siluman, waspadalah"


"baik guru"


ekkkk.... ekkkk suara monyet itu terdengar semakin keras. kemudian beberapa pohon mulai bergerak dan berubah menjadi beberapa monyet yang serupa dengan siluman monyet.


tak terasa ternyata lintang dan surya telah dikepung oleh sekumpulan siluman monyet. sebuah batang pohon di ambil lintang dan monyet-monyet pun mulai menyerang mereka.


seekor monyet melompat kearah lintang dengan tangkas lintang memukul monyet itu hingga tersungkur ke arah kiri. monyet lain ikut menyerang kali ini 3 monyet sekaligus dari arah yang berbeda menyerang surya menendang monyet itu namun monyet itu berubah jadi burung, dua monyet lainya menjadi ular dan berusaha menyerang lintang.


lintang berusaha memukul ular itu namun cukup sulit karena merak sangat gesit. belum selesai melumpuhkan ular, seekor badak tiba-tiba muncul menghantam bahu kiri lintang, lintang pun terpental ke belakang dan di tangkap oleh gurunya.


sepertinya kita harus memisahkan mereka jika bersama-sama bisa sangat merepotkan kemampuan siluman ini.


surya segera meloncat ke atas rimbunnya pepohonan beberapa monyet mengikuti surya.


siluman yang mengikuti surya kini berubah wujud menjadi sekumpulan elang yang berukuran cukup besar.


siluman yang menyerang mereka adalah siluman monyet seratus wujud. dapat meniru hewan-hewan yang mereka temui bahkan menjadi serangga sekalipun. namun tidak dapat meniru suara.


"baiklah kalau kalian memaksa jangan salahkan aku jika kalian mau patah tulang"


seekor monyet kecil menirukan gaya bicara dari lintang.


"kau monyet kecil sepertinya belum pernah dikasih pelajaran."


sebuah batu besar melayang ke arah lintang dari sebuah tebing, lintang pun meninju batu itu hingga hancur berkeping-keping dan lintang segera menuju arah pelempar batu yang berada diatas tebing ternyata dua ekor gorilla sedang menunggu kedatangan lintang.


seekor gorila di tinju hingga terpelanting ke arah sebuah pohon sedang gorila lain berusaha memukul lintang namun dapat dihindari. kecepatan siluman ini cukup tinggi pukulan dan tendangan lintang pun berhasil di hindari. gorila itu pun berubah menjadi tikus dan kabur untuk bergabung dengan teman-temanya.


beberapa monyet mengepung dan pertukaran jurus pun dimulai, monyet-monyet ini menggunakan semacam beladiri yang unik sesuai dengan wujud monyet mereka, lintang pun kewalahan harus menghadapi beberapa monyet sekaligus.


beberapa pukulan dilayangkan lintang sambil menghindar keuntungan mereka adalah mampu mengubah wujud menjadi hewan yang mereka tahu dan menjadi landak adalah yang paling menjengkelkan.


dengan kegesitan lintang akhirnya beberapa monyet berhasil dikalahkan.


seekor kupu-kupu berwarna merah terbang di atas lintang dan tiba-tiba berubah menjadi seekor gajah. ketika hendak dipukul gajah tersebut berubah menjadi landak.


seekor monyet melayang di depan lintang karena di pukul oleh oleh surya.


melihat teman-temanya tak berdaya beberapa monyet langsung kabur. tak terkecuali monyet kecil namun sebelum kabur berhasil di tangkap oleh lintang.


"kau monyet nakal ngeledekin aku tadi" monyet itu seolah mengerti bahasa manusia monyet itu memohon ampun untuk dilepaskan


tak berapa lama berselang seorang kakek-kakek bercaping mengendarai sapi yang bisa terbang turun dari langit.


"kau lepaskan monyet kecil itu, dasar tamu tak diundang" kata kakek itu


"siapa kau? apa kau penghuni pulau ini??" ucap lintang sambil melepaskan monyet itu


"akulah penguasa pulau ini" sebuah tongkat dilemparkan menuju lintang


lintangpun menangkis tongkat itu dengan sekuat tenaga namun masih terdorong cukup jauh.


dalam benak lintang kekuatan kakek ini sangat besar. kurasa dia setidaknya tidak lebih kuat daripada guru.


lintang memasang kuda-kuda untuk bersiap menyerang dengan segenap kemampuanya.


ketika mereka hendak beradu pukulan tiba-tiba surya muncul.


"ardhan kau bersembunyi di tempat seperti ini apa tidak bosan"


surya menghampiri kakek tua itu


"ya ampun kenapa tidak bilang sejak awal sampai aku harus repot-repot menyamar"


kakek tua itupun berubah menjadi laki-laki paruh baya berjenggot warna abu-abu.


"dasar musang tumben kau keluar dari liangmu"


"hahaha.... kau masih saja sama dari dulu selera humor yang buruk"


"kalian ku anggap sebagai tamu mari ke rumahku"


sebuah rengkahan muncul di tanah dan membentuk sebuah goa


mereka memasuki goa bersama-sama.


***


aula kerajaan samudra pasai yang kini telah menjadi milik teratai hitam. sailendra mengumpulkan para pendekar teratai hitam maupun pendekar yang kebetulan sedang singgah di kerajaan teratai hitam.


banyak dari para pendekar yang ada adalah tahanan samudra pasai, pasukan yang menyerah dan para pendekar petualang yang berada di samudra pasai saat penyerangan terjadi.


"kalian ku kumpulkan disini untuk satu tujuan bergabung dengan pasukanku sebagai sebuah kehormatan atau kalian mati" ucap sailendra


"jaga omonganmu kau menggulingkan kerajaan yang sah para kepala daerah tidak akan tinggal diam" bentak salah seorang pendekar


"baiklah untuk mempersingkat waktu kutantang kalian, bagi siapa saja yang mampu mengalahkanku maka kerajaan ini milik dia tapi jika kalah siapapun kalian akan menjadi anggota teratai hitam"


empat orang pendekar segera menyerang sailendra bersamaan.


"jurus beruang pukulan bertenaga"


sailendra menahan pukulan itu tanpa seujung jaripun, dia membiarkan pukulanya mengenai dadanya. sailendra terpukul kebelakang dan segera bangun untuk membersihkan bajunya.


pendekar kedua menyerang


duabelas pukulan menghantam sailendra dan sailendra kembali tersungkur namun lagi-lagi dia bangkit seolah tidak terjadi apa-apa.


pendekar lain takjub dengan apa yang terjadi melihat ilmu kebal sailendra begitu tinggi.


pendekar ketigapun menyerang kali ini menggunakan tombak


"jurus tombak tehnik tetesan air hujan"


jurus tombak mengenai tubuh sailendra namun anehnya tidak ada luka gores sedikitpun pada tubuh sailendra. mata tombak yang digunakanpun patah.


hal ini semakin membuat para pendekar yang berada di dalam aula semakin menciutkan nyalinya untuk melawan.


pendekar terakhir menggunakan ajian


"ajian telapak beracun pukulan kelabang merah"


pukulan beracun mengenai sailendra namun setelah beberapa saat racun sama sekali tidak berefek pada sailendra


"melawanku kalian bahkan tidak bisa memberikan luka kalau kalian sayang nyawa kalian bergabunglah denganku atau mudahkanlah tugasku dan bunuhlah diri kalian"


serempak seluruh pendekar yang ada di aula berlutut dan menyatakan kesetiaanya kepada sailendra.


"bagus terimakasih saudara-saudara hari ini kalian menjadi bagian dari teratai hitam besuk kita mulai mentaklukan ketiga kepala daerah "


kekuatan sailendra memang sangat tinggi dan menjadi yang terkuat di teratai hitam memang bukan hal yang main-main.


setelah pidatonya sailendra kembali ke ruangannya disana telah menunggu dewangga.


"kau kemana saja" ucap sailendra


"aku baru saja mau main-main"


"main mulu, esok bawa pasukanmu terbaikmu ke sini kita akan menaklukan wilayah penguasa daerah yang masih tersisa"


"baiklah, bagaimana dengan ronggowarsito"


"ajak dia sekalian kesini biar kita selesaikan masalahnya"


***


utina dan indira menjaga sulawi yang sedang terluka, luka yang di alami sulawi cukup parah andaikan dia adalah pendekar biasa dia pasti sudah tewas.


sifat utina yang pendiam membuat situasi semakin canggung bagi indira. indira berinisiatif untuk membuka obrolan.


"namau utinakan? aku indira sepertinya kita belum sempat berkenalan"


"iya aku utina salam kenal" jawab utina dengan nada datar


"bolehkah aku bertanya?"


"silahkan saja"


"bagaimana kau bisa bersama kinanti, apa kalian semacam partner kerja?"


"hmmmm.... bisa di bilang seperti itu, sebelum aku bersama kinanti aku adalah anak korban perampokan. kedua orang tuaku tewas dibunuh oleh sekawanan perampok, aku dijadikan budak oleh mereka selama beberapa bulan kehidupanku bagai di neraka hingga kinanti dan anjani datang menghabisi kawanan perampok itu memenggal kepalanya satu persatu dan membebaskanku.


aku yang tidak lagi memiliki keluarga dan rumah ditawari kinanti untuk menjadi muridnya sekaligus sebagai saudara angkat sampai saat ini"


"maaf jika aku membuka luka lamamu"


"tidak apa-apa, kalau kau sendiri mengapa orang ini (sambil melihat ke arah sulawi) begitu penting bagimu?"


"sepuluh tahun yang lalu di desa telogoharjo terjadi tanah longsor yang cukup besar. dua atau tiga hari setelahnya beberapa padepokan mengirim bantuan untuk membantu penduduk desa yang kesusahan.


salah satu padepokan yang membantu kami adalah padepokan pedang langit, aku dan ibuku kebetulan berada di sebuah goa bersama beberapa penduduk desa sedang mencari mineral sebagai bahan pembuat pedang ataupun senjata lain. batuan yang cukup besar menghalangi kami untuk keluar.


kami terjebak di goa itu hampir dua bulan dengan makanan dan air yang terbatas kami berjuang dari 10 orang yang selamat hanya 4 orang yang berhasil bertahan. kami dengan keadaan putus asa tiba-tiba secercah harapan muncul.


dua orang pendekar dari padepokan pedang langit menghancurkan batuan yang menutupi goa, bagai seorang malaikat kedua orang itu mengeluarkan orang yang selamat.


menurut cerita kepala desa dua 3 hari 3 malam mereka menyerang batuan itu hingga hancur. dua orang itu adalah widura dan sulawi bagiku mereka adalah penyelamatku dan panutan sejak saat itu aku berjanji akan masuk ke padepokan pedang langit.


namun beberapa tahun yang lalu guruku widura telah di bunuh oleh hutasena. karena itu guruku sulawi begitu ingin membunuh hutasena pada pertempuran kemarin"


"hmmm... seperti itu rupanya, ternyata kisah kita hampir mirip, kita mungkin bisa menjadi teman baik"


"aku punya usul yang lebih baik karena kau tidak punya siapa-siapa lagi bagaimana kalau kita jadi saudara angkat saja"


"usul yang tidak buruk tapi kau jadi kakaknya ya... hahaha" ucap utina sambil tersenyum.


adalah senyum utina yang pertamakali dilihat oleh indira sejak awal perjumpaan.


tak lama kemudian anjani dan kinanti datang.


"kalian sepertinya sedang ngomongin aku ya" ucap anjani


"bukan...." jawab utina dan indira


"aku membawakan obat, utina berikan obat ini ke sulawi ini adalah obat yang sangat mujarab dan mahal"


obatpun diberikan kepada sulawi sekarang tinggal menunggu waktu sampai obat itu bereaksi.


----------×××××-------------


***Maaf para pembaca sekalian mohon bantuanya untuk konfirmasi dengan like atau jempolnya sukur-sukur bisa di vote\, author sedang mempertimbangkan untuk menyelesaikan novel ini jika memang sedikit peminatnya hal ini karena kesibukan dan lain sebagainya di dunia nyata.


konfirmasi yang saya maksud adalah untuk memastikan jika memang para pembaca benar-benar menikmati atau menginginkan kelanjutan dari novel ini***.


mohon maaf sebelumnya