Babad Jawa

Babad Jawa
Chapter 21 Senja Kemarin Sore



Setelah keberangkatan kinanti dan kawan-kawan anjani menunggu kabar selanjutnya di karang taruna, 3 hari lagi utusan dari agra leksana akan memberikan informasi lanjutan karena informan sebelumnya telah terbunuh.


daripada bengong seperti orang stress abirama berlatih menggunakan seruling bambu hitam yang telah diperolehnya dari sutejo tempo hari.


dengan berbekal kitab yang di berikan oleh sutejo, abirama memilih salah satu lagu yang ada di kitab tersebut.


"Senja kemarin sore"


abirama membaca setiap nada yang telah tertulis di buku kemudian mencoba memainkanya, nada ini adalah nada yang menceritakan tentang masa lalu dan ada semacam efek yang ditimbulkan yaitu membangkitkan masa lalu.


dua puluh tahun yang lalu di gunung tangkuban prahu, abirama dan abimanyu adalah dua orang saudara seperguruan dengan guru mereka adalah brawijaya yang kala itu masih seorang tetua yang terpandang.


mereka mendapatkan misi untuk menumpas pemberontak antareja yang kala itu menguasai wilayah selatan antareja. saat itu putri puspa arum tengah di culik dan dijadikan sandra oleh kelompok pemberontak cakra api.


kelompok pemberontak ini bahkan telah mendirikan pos-pos untuk memperkuat kekuasaan mereka. beberapa pos dijaga oleh pasukan bersenjata lengkap untuk mencegah serangan dari antareja.


raja antreja saat ini memiliki 3 orang anak yaitu puspa arum, puspa wulan dan wisnu aji. ketiganya memiliki hubungan yang baik dan saling percaya siapapun yang menguasai tahta adalah yang terbaik dan akan melindungi saudara-saudaranya.


malam itu mereka bertiga melakukan misi penyelamatan puspa arum yang di tangkap di kaliwungu. ketika puspa arum di temukan brawijaya dengan kesaktianya membuat kekacauan di beberapa tempat untuk mengalihkan perhatian para penjaga sedangkan abimanyu dan abirama menemukan dan membebaskan puspa arum.


mereka dapat masuk dengan cukup mudah ke kaliwungu karena mereka mengenal beberapa orang penjaga. dalam 2 hari akhinya posisi puspa arum di temukan dia disekap di sebuah rumah yang cukup mewah. dengan struktur banguna dari batubata yang kokoh bangunan itu tampak sulit untuk di jebol.


di luar rumah


"abirama dan abimanyu kalian masuk ke dalam aku akan membuat kekacauan, segera selamatkan dia aku akan memberikan kalian sebanyak mungkin waktu untuk mengecoh penjaga"


"baik guru, dia berada di lantai 2 dijaga oleh beberapa penjaga dan seorang pendekar yang aku tidak tahu kekuatanya" ucap abimanyu


"jika pendekar itu begitu kuat jangan menghadapinya secara langsung, salah satu dari kalian selamatkan putri dan siapapun alihkan perhatianya"


"baik guru"


brawijaya mengebom pintu gerbang dengan bom yang cukup besar untuk menarik perhatian para penjaga.


mereka berdua melumpuhkan setiap orang di rumah itu satu persatu.


"tehnik petir tebasan petir putih"


sebuah petir menyambar ke arah abirama namun di tangkis oleh abimanyu.


"tehnik petir sungguh pengguna jurus yang amat langka" ucap abimanyu


"siapa kalian beraninya menyusup ke tempat tawanan"


"kami hanya pengelana yang kebetulan lewat" ucap abirama


"apa kau bodoh atau aku yang terlalu pintar"


sebuah tebasan kembali di lepaskan oleh pendekar itu.


"abirama aku akan memgalihkan perhatian orang ini kau selamatkan tuan putri"


"oke"


"tehnik cahaya pedang menyilaukan" cahaya yang sangat silau memancar dari pedang abimanyu membuat lawan harus menutup mata.


"bajingun jurus yang merepotkan"


abimanyu melakukan serangan bertubi-tubi kearah pendekar itu. namun dapat di tangkis dengan cukup mudah.


"andaikan bukan aku musuhmu malam ini pasti kau akan menang dengan mudah, kuakui tehnikmu sungguh merepotkan"


"kau pasti bercanda tidak banyak pendekar yang mampu bertarung dengan mata tertutup sepertimu kau benar-benar kuat"


"hahaha... aku sailendra siapa namamu pendekar"


"aku adalah abimanyu mungkin kita bisa minum kopi di kedai dekat sini"


"tehnik petir jurus halilintar tak terbendung" pedang sailendra bergerak sangat cepat dan sulit di hindari"


"sebuah tebasan mengarah ke leher abimanyu"


"tehnik cahaya jurus ilusi " mendadak tubuh abirama terbelah menjadi beberapa sosok yang sama.


membuat fokus sailendra terpecah, masing-masing bayangan bergerak dengan cukup bebas dan seperti memiliki keinginan sendiri.


"sungguh menarik sepertinya kita memang harus minum kopi kapan-kapan"


ketika mereka berdua asik bertarung abirama telah berhasil membawa putri keluar dari rumah itu ke tempat aman.


"tehnik petir penggetar langit" gelombang kejut keluar dari tubuh sailendra dan membuat tubuh abimanyu terlumpuhkan karena sengatan listrik.


suara petir yang cukup besar berasal dari tempat abimanyu, kurasa ini pertanda yang kurang baik, pikir abirama


"tuan putri bersembuyilah di tempat ini sampai aku kembali"


abirama berlari menuji tempat itu dan mendapati abimanyu telah pingsan.


"tehnik bayangan, jurus gerhana bulan" tubuh abirama tertutupi oleh bayangan dan mendekati sailendra yang hendak menikam abimanyu.


"tehnik bayangan tebasan kegelapan"


sailendra yang tidak menyadari keberadaan abirama terkejut dengan serangan tiba-tiba yang dilancarkan abirama.


sebuah luka tergores di mata kiri sailendra, karena terkejut dengan serangan tiba-tiba abirama, sailendra mundur beberapa langkah.


"bajindalll.... siapa kau...." sailendra sangat marah dengan luka yang di daratkanya.


"ajian halilintar, tehnik auman naga petir" sailendra memasang kuda-kuda, kumpulan energi dengan jumlah tinggi berkumpul di sekitar tangannya, dan petir kecil mulai keluar dari sekitar tubuh sailendra.


melihat kondisi ini mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dan lari ke arah hutan.


"graaaahhhhhhh......" gemuruh petir mengisi udara dan melepaskan petir yang menghancurkan bangunan dua lantai itu dan petir yang sangat besar berbentuk naga putih mengejar mereka berdua.


di dalam hutan jurus naga petir itu menghancurkan pohon seperti daun kering di musim kemarau. kecepatan naga petir itu layaknya halilintar dan mustahil di hindari, ketika hendak mengenai mereka brawijaya muncul dan menendang jurus naga petir itu ke atas, petir yang sangat dahsyat menyambar ke arah langit.


"sialllll.......lllll" sailendra berteriak terdengar dari bangunan dan menggema begitu marah, karena melihat abirama dan sailendra lepas dari genggamanya.


beberapa prajurit berbaju hitam menuju ke arah sailendra.


"segera temukan mereka atau kita akan digempur habis-habisan oleh pasukan antareja jika putri sampai ke antareja"


"baik tuan" ucap mereka serempak


di hutan setelah brawijaya menyelamatkan mereka.


mereka segera membawa tuan putri keluar dari tempat persembunyian. dan membawanya ke tempat aman.


abirama menggendong puspa arum karena abimanyu terluka.


ditengah perjalanan mereka bercakap-cakap.


"kau pendekar siapa namamu?"


"aku adalah abirama, yang berambut gondrong berbaju ungu adalah guruku namanya brawijaya, yang berbaju putih adalah kakak seperguruanku abimanyu"


"hmmm... kenapa orang kuat terlihat tampan"


"apa pendekar petir yang barusan kita tinggalkan terlihat tampan juga?"


"hmmmm.... sepertinya, tapi tidak lebih tampan darimu"


mendengar ucapan itu dari sang putri wajah abirama menjadi merah.


"wah wajahmu memerah hahaha" ucap sang putri meledek abirama.


"diam atau ku jatuhin neeh" ancam abirama


"iya iya aku diam hihihi...." ucap sang putri sambil terkekeh


setelah di rasa aman mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan energi. sebagai seorang pendekar mereka harus mampu bertahan dalam kondisi yang tidak menguntungkan. dalam kondisi ini kemampuan memasak sangat dibutuhkan karena di hutan akan sulit mendapatkan makanan matang.


"abirama hari ini kau memasak ya biar kami yang mencari bahan mentah yang bisa dimakan"


"baik guru aku akan masak hari ini kebetulan aku punya beberapa bumbu masak yang baru ku beli"


"baiklah, tuan putri kau disini dulu bersama abirama"


"baik tuan" ucap puspa arum


abimanyu dan brawijaya berangkat mencari bahan makanan. dan tinggalah mereka berdua.


"hey abirama apa kau sudah punya istri"


"hahhhh.... aku belum mau mengenal wanita tuan putri"


"aihhhh.... panggil aku puspa saja"


"baik putri, maksudku puspa"


"aku sebenarnya iri dengan kehidupan kalian begitu bebas dan begitu tenang"


"kenapa begitu bukankah menjadi putri impian setiap wanita ya.... hidup nyaman apapun terpenuhi dan fasilitas nomer satu"


"itu yang terlihat di mata rakyat ya.... hahaha... "


"memang seperti apa seharusnya?"


"di dalam kerajaan ada begitu banyak penjabat yang berebut mencari muka untuk mendapatkan jabatan, aku harus selalu tampil menyenangkan siapapun disegala kondisi bahkan disaat hatiku terasa sedih


sebagai seorang putri kau lebih berharga dari siapapun terkadang kau harus melihat orang yang kau sayangi tewas terbunuh agar kau bisa hidup sungguh mengesalkan" ucap putri


"hmmm... sepertinya menjadi putri memang bukan pekerjaan yang bagus tapi menjadi putri memungkinkanmu untuk menggunakan kekuasaanmu untuk tujuan yang lebih baik"


"hmmmm.... untuk apa... supaya orang lain memanfaatkanmu untuk kepentinganya, orang awam tidak mengerti bahwa kerajaan adalah tempat yang penuh ketidakadilan"


"hahahaha......" abirama tertawa mendengarnya


"kenapa kau tertawa ??"


"banyak orang yang mungkin berada di posisimu bahkan menghallalkan segala cara supaya tujuanya tercapai seperti para penjabat yang kau maksud sementara dirimu sedikitpun tidak ingin mendapatkanya benar-benar sebuah ironi"


"mungkin tuhan mempermainkan manusia dengan seenaknya"


"kau salah tentang hal ini, tuhan mentakdirkan segala sesuatu sesuai dengan kemampuanya kau dengan kapasitasmu sebagai putri, aku dengan kapasitasku sebagai pendekar dan beberapa orang memilih jalan yang salah atas dasar takdir dan menyalahkan hasilnya kepada tuhan seolah-olah takdirnya di tentukan tuhan"


"hey... untuk ukuran orang yang belum beristri kau terlalu bijak sepertinya"


"hahaha... dan untuk seorang putri kau terlalu..... hmmm"


"terlalu apa? abirama....."


"hmmmm tidak... lupakan saja" wajah abirama memerah


tak berapa lama kemudian brawijaya dan abimanyu membawa seekor rusa dan sayur-sayuran.


"abirama silahkan masak ini jadikan yang terbaik ya" ucap brawijaya


"jangan lupa makanan kesukaanku sop dengkul rusa ekstra pedas"


"siappp... tunggu ya" abirama memasak makanan dengan cepat dalam waktu 1 jam telah terhidang aneka masakan dari rusa beserta sayur-mayurnya. tuan putripun memakan makananya dengan lahap.


"tuan putri kita akan sampai di ibukota mungkin butuh waktu 1 hari 1 malam"


"tidak apa-apa guru aku sudah siap, ngomong-ngomong masakan ini sangat lezat mengalahkan masakan kerajaan"


"hmmm... tentusaja aku kan koki jenius"


abimanyu dan brawijaya melotot ke arah abirama.


"tenang saja aku anggap kalian temanku kalian silahkan panggil aku puspa, untuk menyamarkan identitasku juga ketika bertemu orang asing"


"hahaha..... abirama tertawa lepas"


setelah selesai makan terasa ada hawa pembunuh disekitar mereka 5 bayangan hitam mengepung mereka bersiap untuk menyerang.


"kalian lindungi putri biar aku yang urus mereka" ucap brawijaya


"siap guru" keduanya menjawab bersama-sama


"ajian pengganda serangan tehnik hujan shuriken" sebuah shuriken dilempar ke atas dan jatuh memghujani brawijaya dan para muridnya.


"mereka pasukan ninja dari jepang, ilmu mereka sedikit asing kalian harus tetap waspada" ucap brawijaya


"tehnik pedang cahaya tarian bunga matahari" abimanyu mengayunkan ilmu pedangnya untuk menghalau hujan shuriken.


Permainan seruling abirama membius siapapun yang mendengarnya dan membuat pendengarnya merasakan perasaan yang dialami pemain serulingnya, permainan seruling abirama telah mencapai pertengahan lagu