Babad Jawa

Babad Jawa
Chapter 17 Patih Brataputih



memfokuskan pikiran adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. empat belas hari berlalu tanpa hasil. lintang bersama wawa memutuskan untuk berkeliling ke sekitar pulau.


lintang menuju ke sebuah bukit yang cukup terjal. di atas terlihat seluruh bagian pulau yang begitu hijau tertutup oleh pepohonan yang rindang. pemandangan yang indah ini mengingatkan dirinya tentang padepokan agra leksana hal yang paling dia ingat adalah hari-hari bersama abirama setelah beberapa tahun tidak berjumpa.


di bawah pohon yang rindang lintang bersila mencoba memfokuskan pikiran, sementara wawa mencari buah-buahan dan serangga untuk di makannya.


lintang mengatur tempo nafas untuk mulai bersemedi memfokuskan pikiran. semakin fokus pikiran lintang dia mendapatkan semakin banyak ingatan masalalunya dan semakin sulit untuk berkonsentrasi.


hingga akhirnya lintang tertidur di bawah pohon yang rindang. dari jauh ardhan mengamati lintang dan kali ini dia berada di hadapan lintang yang tertidur pulas.


pukulan tongkat ardhan mengenai kepala lintang, sontak lintang memasang kuda-kuda.


"ku suruh kau memfokuskan konsentrasi kau malah tidur"


"maaf guru lintang kehabisan ide, semakin aku konsentrasi semakin banyak ingatan yang mengganggu konsentrasiku"


"hmmm.... coba ceritakan masalahmu"


lintangpun menceritakan apa yang di alaminya dari awal hingga akhir sampai di pulau ini. hingga tak terasa senjapun mendatangi mereka


"mungkin sedikit trik bisa membuatmu lebih mudah berkonsentrasi"


"apa itu guru"


"ini adalah trik yang guruku ajarkan ingatan masalalu mungkin tidak bisa di ubah namun kau bisa menambah ingatanmu untuk mendukungmu sekaligus memperkuat fokusmu, coba bayangkan orang yang muncul di ingatanmu buat mereka menjadi supportermu mendukungmu untuk terus berkonsentrasi"


"baik guru akan aku coba sekali lagi"


lintangpun bersila, kali ini sebuah bayangan semu muncul berbentuk lintang


"lihat guru aku berhasil memproyeksikan ruh ku"


"itu masih jauh dari bagus kau harus berusaha lebih keras lagi"


ardhan berbalik badan meninggalkan lintang dan wawa yang masih terlalu senang dengan keberhasilan lintang.


senyum menghiasi wajah ardhan.


aku butuh waktu 3 bulan untukku mulai mendapatkan proyeksi ruh namun anak ini hanya butuh waktu 14 hari mungkin aku yang berbakat menjadi guru atau dia yang termasuk jenius. kurasa dia akan menjadi pendekar yang hebat dalam pikiran ardhan memuji kemampuan lintang.


***


kerajaan antareja menyelesaikan pembangunan benteng yang telah direncanakan sejak beberapa tahun yang lalu. pembangunan di bantu dengan tenaga dari pendekar yang ada sehingga segera selesai dalam beberapa bulan.


wisnu aji memerintahkan brataputih mengunjungi desa tranggil yang sedang dilanda kejadian aneh. yaitu munculnya mahluk buas yang menyerang warga beberapa hari ini.


ketika rombongan brataputih datang, desa tranggil dalam kondisi yang memperihatinkan bau amis darah memenuhi udara. sekelompok warga desa sedang menguburkan beberapa mayat sekaligus.


kepala desa segera menemui rombongan brataputih, dengan kondisi luka di lengan kirinya yang dia tutupi dengan kain.


"maaf tuan patih brataputih kami kurang bisa menyambut anda dengan baik" kepala desa merasa bersalah


"apa yang terjadi disini?"


"semalam terjadi penyerangan tuan beberapa keluarga menjadi korban penyerangan"


"apa kalian tidak membentuk pasukan penjaga desa sampai bisa seperti ini"


"sudah tuan tapi mahluk itu cukup cerdas dan memghindari kami tuan"


"coba kau ceritakan bentuk dari mahluk ini"


"mahluk ini seperti seekor serangga tuan dengan cakar dan beberapa bagian yang tumbuh menyerupai serangga, dan anehnya menurut saksi mata memiliki kemiripan wajah dengan korban yang hilang"


"bedebusss.... malam ini kita habisin mahluk ini, pasukan kita pasang palang penghalang di sekitar desa"


malam hari pun mulai menyongsong bulan berbentuk sabit membuat malam tidak secerah biasanya dan kesunyian menyelimuti desa itu.


brataputih dan pasukanya bersiaga malam itu di beberapa titik dan pintu masuk. namun malam semakin larut belum ada tanda-tanda kemunculan mahluk itu.


menjelang dua per tiga malam teriakan terdengar dari rumah kepala desa. brataputih menuju rumah tersebut terlihat anak kecil menangis di pojok rumah, masuk lebih dalam rumah terlihat tubuh wanita tanpa kepala tergeletak di lantai.


bayangan hitam berada di langit-langit rumah dengan mata merah menyala. beberapa prajurit menembakan panah kearah mahluk dan mengenainya. mahluk itu jatuh ke lantai cukup keras.


brataputih langsung memeriksa jasad mahluk itu. namun mereka tercengang karena mahluk itu seperti sosok kepala desa dengan lengan yang ditumbuhi tungkai kelabang, selain itu separuh wajah kepala desa telah mengeras seperti seekor kumbang.


"coba buka bekas luka yang tertutupi perban" kata brata putih.


beberapa pasukan membuka bekas luka kepala desa terlihat bekas gigitan dengan bentuk melingkar seperti bekas gigitan lintah.


"sialan yang kita hadapi ini adalah sejenis siluman parasit tingkat tinggi"


"kalian harus hati-hati jika tergigit siluman ini kalian akan berubah menjadi seperti kepala desa, pastikan kalian saling menjaga dan jangan berpencar"


"baik tuan"


tak berapa lama terdengar beberapa jeritan sekaligus.


sialan siluman itu pasti telah menggigit beberapa orang desa ini beberapa hari yang lalu dalam benak brata putih dia menyimpulkan.


beberapa penduduk desa yang telah berubah segera di lumpukan oleh pasukan brataputih. namun ada hal yang lebih mengerikan terjadi karena dari luar desa terlihat banyak hewan mulai mengerubungi desa dengan ciri-ciri yang sama mulai menyerang desa.


"kumpulkan semua penduduk yang tersisa untuk mengankat senjata desa ini akan musnah jika kita tidak bersatu"


"hanya sebagian penduduk yang memutuskan bertempur tuan"


"kumpulkan mereka di balaikota berikan mereka busur atau senjata milik prajurit yang sudah mati atau tersedia di sini"


"baik tuan"


"kalian yang disana,


pasang palang berduri untuk mencegah mahluk itu masuk, pastikan anak-anak dan wanita terlindungi"


brataputih memutar otak untuk mencari ide terbaik untuk menyelamatkan desa ini.


brata putih menggunakan jurus tombaknya untuk menghalau monster yang datang. hampir 3 jam tanpa tanpa henti brata putih mengayunkan tombaknya. tenaganya semakin habis begitu juga para prajuritnya


semakin malam semakin banyak monster yang muncul dari hewan-hewan hutan ataupun siluman yang telah tergigit, beberapa penduduk desa bahkan mengenali sanak saudaranya yang hilang beberapa hari yang lalu telah menjadi monster.


panah semakin sedikit dan jumlah prajurit menurun dengan cepat. gerbang depan mungkin tidak dapat dipertahankan lebih lama.


melihat perjuangan pasukan yang begitu gigih akhirnya satu persatu penduduk yang ketakutan mulai mengangkat senjata. pisau, clurit, golok, palu, gergaji apapun yang dapat digunakan untuk melawan mereka kerahkan.


melihat hal ini semangat prajurit kembali berkobar para wanita yang sebelumnya berada di balai kota ikut ambil bagian dengan alat seadannya.


jumlah monster akhirnya menurun dengan cepat ketika segalanya mulai terlihat lebih baik seekor siluman muncul di depan gerbang penampilan siluman ini sangat berbeda dari monster sebelumnya.


dari luar terlihat seperti seekor capung dengan ekor yang seperti belalang sembah dengan empat tungkai di badannya seperti empat buah tangan yang masing-masing tiga jari di setiap tungkainnya.


wajahnya seperti seekor ular dengan 4 pasang mata berbentuk bulat di sekeliling kepalanya. gigi taring menghiasi dua pasang rahang di sisi kanan dan kirinya.


ukuran keseluruhan siluman itu setinggi 4 meter dan ukuran lebar hampir 7 meter. sungguh membuat ciut nyali siapapun yang melihat siluman ini.



*gambar di atas diambil di internet jika harus di hapus saya dengan senang hati menghapusnya.


gambar di atas adalah penggambaran paling mendekati dari vetasena*


"kalian kenapa tidak terima nasib saja dan mati sebagai budakku?"


"jahanam.... siapa kau berani membuat kekacauan di desa ini" sahut brataputih


"lancang sekali kalian orang jaman dulu memanggilku vetasena sang penakluk menyembahku bagai dewi, setelah ratusan tahun tertidur kalian lupa"


ternyata dia adalah siluman kuno, siluman seperti ini biasanya memiliki kekuatan yang luar biasa dan sangat kuat.


"kita bunuh siluman ini sama-sama. kalian malam ini adalah saudara saudara seperjuangan malam ini kita binasa atau mahluk jahanam itu yang enyah. mari sama-sama berjuang demi antareja!!!!" pidato brataputih menggema di desa mengobarkan semangat juang penduduk desa.


"baiklah kalau itu maumu, aku kabulkan"


pertempuranpun terjadi brataputih melawan vetasena.


"jurus tombak tehnik tanduk sapi" tehnik tombak yang cukup cepat menyerang vetasena.


namun jurusnya di tangkis dengan lengan yang cukup panjang.


"ajian angin tehnik tiupan topan" dari mulut vetasena muncul beberapa bola angin menuju pasukan brataputih dan menghempaskan mereka ke arah rumah penduduk"


brataputih berhasil menghindar. dari serangan kali ini ayunan lengan vetasena menyerang mereka. brataputih mengeluarkan golok dan menebas tangan yang menyerangnya hingga putus.


namun golok itu segera hancur selesai menuerang. hal ini karena golok biasa tidak mampu menerima tenaga dalam yang di alirkan oleh brataputih.


"beraninya kau memutus lenganku" vetasena berucap dengan nada marah


lengan lain berusaha menyerang kembali namun kali ini mengenai brataputih membuatnya terpental cukup jauh. tak disia-siakan oleh brataputih dia segera bangkit dan mengambil dua buah pedang dari prajurit yang mati.


kali ini sasaranya adalah kepala dari siluman itu namun dengan 4 pasang mata sulit membuat serangan kejutan untuk siluman ini. serangan brataputih dimentahkan dengan mudah.


"hanya segitu saja kemampuanmu kurasa waktunya kau untuk mati sudah datang"


"ajian sengat tawon tehnik seribu duri"


"Pasukan bertahan " gawat dalam pikiran brata putih


ratusan duri menghujani pasukan dan membunuh pasukan yang tidak siap.


beberapa duri menancap di punggung dan lengan brataputih.


"tamat riwayatmu bersama penduduk desa ini"


brataputih hampir kehilangan kesadaran karena terlalu lelah. kemudian dia mengambil jarak dan bersiap menggunakan jurus terakhirnya brataputih mengambil kuda-kuda seperti orang yang mau melempar lembing.


"jurus tombak tehnik mata angin selatan" hembusan angin yang besar seolah berkumpul di mata tombak dan melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi melewati beberapa monster


jika jurus ini dapat di hindari maka tamatlah riwayatku dan desa ini setelah ini aku pasti akan kehabisan tenaga dalam, aku benci sekali jurus ini. ucap brataputih dalam hati


keberuntungan berpihak pada mereka tombak itu menembus kepala dari siluman itu dan membelah gerbang kota bahkan sampai menghancurkan pepohonan yang dilaluinya.


monster yang dikendalikan pun segera tumbang dan kehilangan nyawa mereka seperti boneka yang kehilangan tuan mereka.


pertempuran hari itu telah selesai matahari pagi segera menyongsong menyambut kemenangan mereka dengan kehangatan dan rasa syukur, namun duka bagi yang masih hidup belum selesai karena rasa sedih ditinggalkan sanak saudara baru dimulai.


dan patih brataputihpun jatuh tak sadarkan diri sebagai pemenang dalam pertarungan sengit malam ini.