Babad Jawa

Babad Jawa
Chapter 24 Seorang Orator



pkeberhasilanara utusan sailendra telah kembali dengan dan penaklukan penuh daerah samudra pasai. dengan ini kekuatan dari teratai hitam dapat dikatakan seperti sekuat kerajaan. sailendra tidak menunggu lebih lama dan mulai menaklukan daerah-daerah disekitar kerajaan teratai hitam.


keinginan sailendra untuk menguasai dunia ini begitu besar sehingga sosoknya menjadi idola bagi sebagian besar anggota teratai hitam. anggota teratai hitam melihat sosok sailendra sebagai orang yang mampu membawa aspirasi mereka dan membuatnya jadi kenyataan dengan kekuatannya. hal ini membuat kesetiaan anggota teratai hitam bukan terletak dari rasa takut namun lebih seperti seorang fanatik terhadap ideologi.


dewangga memasuki ruang tahta dan berlutut memberi salam.


"kaisar penaklukan daerah madukara berjalan baik 20 armada kapal siap dikerahkan"


"kerja bagus dewangga, persiapkan armadamu untuk menaklukan kerajaan bali"


"baik kaisar segera ku laksanakan"


kemudian dua orang lain memasuki ruang tahta, dua orang itu adalah ulung dan trisusetya. keduanya segera berlutut


"hormat pada kaisar teratai hitam semoga kesehatan selalu menyertaimu" keduanya mengucapkan penghormatan pada sailendra


"terimakasih atas salam kalian, bagaimana kabar penaklukan daerah kalian?


"Malang batu telah tunduk pada kekuasaan teratai hitam paduka, ada ratusan pendekar yang menyatakan kesetiaanya kepada teratai hitam"


"bagus ulung, bantuanmu sangat berarti"


"lapor juga baginda, kendari sudah tunduk baginda ratusan prajurit siap bergabung menjadi pasukan teratai hitam"


"terimaksih trisusetya, sepertinya kerajaan ini akan semakin kuat kedepanya"


tak lama kemudian hadiwijaya masuk ke ruang itu.


"lapor paduka rakyat telah dikumpulkan di alun-alun ibukota siap mendengar sambutan paduka"


"baik aku segera kesana, pastikan semuanya tetap tenang"


"baik paduka" hadiwijaya pun meninggalkan tempat itu


"selamat siang semuanya kalian dikumpulkan siang ini di alun-alun sebagai bukti bahwa hari ini kalian bukan lagi rakyat samudra pasai, hari ini kalian adalah rakyat teratai hitam kerajaan yang akan mempersatukan seluruh tanah jawa.


bergabunglah dengan kerajaan ini maka masa depan kalian akan terjamin, kalian akan menjadi saksi kekuatan dari kerajaan teratai hitam. dan hari ini pintu teratai hitam terbuka bagi siapapun yang hendak memajukan teratai hitam yang hendak berjuang untuk teratai hitam.


dan kehancuran bagi mereka yang menentang kerajaan teratai hitam, mereka akan menjadi kayu bakar untuk kemajuan teratai hitam.


rawe-rawe rantas


malang-malang putung


jayalah teratai hitam..... "


sailendrapun meninggalkan mimbar di alun-alun dan kembali ke kerajaanya.


yel yel teratai hitam dipekikan oleh sailendra berbalas ribuan orang yang merasakan semangat yang dibakar oleh sailendra.


kemampuan sailendra untuk memainkan trik psikologis memang luar biasa. kemampuan orasinya tidak hanya membuat pasukan menjadi pulih mentalnya namun membuat nyali lawan menjadi ciut.


sailendra adalah sosok dibalik majunya teratai hitam yang misterius hal ini dibuktikan dengan kemampuan kepemimpinanya dan kesaktianya yang luar biasa hingga kendali atas teratai hitam sepenuhnya menjadi miliknya.


di dalam ruang tahta sailendra menunggu seseorang untuk datang.


tak lama kemudian datanglah trisusetya.


"paduka memanggil saya?"


"aku butuh bantuan ilmu sihirmu untuk melakukan penyerangan pertama"


kita akan menyerang kota - kota disekitar perbatasan namun sebelum serangan prajurit dimulai gunakanlah sihirmu untuk melemahkan pasukan yang ada"


"serangan seperti apa yang paduka inginkan?"


"kirimkanlah semacam badai atau binatang buas untuk melemahkan mereka "


"baik paduka"


trisusetya adalah pengguna sihir hitam yang kuat rambutnya gondrong dan dilehernya ada beberapa tengkorak hewan dia jadikan kalung, di sekitar pinggangnya membawa botol-botol berisi cairan magis dan di tanganya ada 3 buah batu akik berwarna merah, hitam dan ungu. penampilanya beda dari orang pada umumnya dan terlihat tidak bersahabat.


***


utusan dari agra leksana datang membawa pesan dari brawijaya, utusan ini terlihat sudah tua dan menggunakan tongkat. tidak semua orang agra leksana mengenalnya terkecuali orang dengan posisi yang cukup tinggi.


dinginnya malam membuat jangkrik enggan bersuara dan dengan belaian angin malam yang lembut membuat mata ingin terpejam.


di taman kota karang taruna dihiasi meriahnya lampion abirama dan anjani menunggu utusan dari Agra Leksana.


"Bagaimana menurutmu misi ini?" tanya abirama


"jika kau tanya pendapatku, misi ini tidak sepenuhnya gagal..." ucap anjani


"jika aku boleh jujur aku ikut dalam misi ini sebenarnya untuk menghilangkan sedikit rasa kehilanganku atas putra angkatku"


"apa kau mendapatkanya?"


"hmmmm.... kalau dipikir-pikir dari misi ini mungkin aku mendapat sedikit pelampiasan rasa kesalku namun aku tahu pada akhirnya hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka"


dalam pikiran anjani, kurasa ini waktunya aku mengungkapkan perasaanku


"hmmm.... bolehkan aku mengungkapkan sesuatu abirama??"


"silahkan, jangan sungkan...."


"sebenarnya aku......." wajah anjani memerah dan pembicaraan anjani terputus membuat abirama kebingungan


"aku apa???...." abirama semakin penasaran


"aku membelikanmu sebuah baju....."


anjeeeeerrrrrrrrrrrr........ ucap anjani dalam hatinya begitu berat lidahnya untuk mengungkapkan perasaanya....


"wah.... terimakasih banyak"


tak berapa lama seorang kakek-kakek bertongkat menghampiri mereka.


"hahaha.... orang tua lama tak jumpa, bagaimana kabarmu?" sahut abirama


"lama tak jumpa pak tua kiswanto" ucap anjani


"wahhh.... benih-benih agra leksana telah menjadi sebuah pohon, brawijaya sepertinya mendidik kalian dengan baik, salamku untuknya"


"pak tua apa informasi yang ingin anda tunjukan kepada kami"


"jangan disini, kita terlalu mencolok"


kiswanto membawa mereka ke rumahnya yang terletak di luar kota karang taruna.


di rumah itu terlihat cukup bersih dengan dinding dari kayu jati, di dalam rumah bau masakan begitu wangi lantai kayu berwarna coklat dan lampu sentir membuat kesan hangat di dalam rumah, sama sekali tidak ada kesan bahwa ada pendekar di rumah ini.


"ayo kalian masuk" kiswanto mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.


"dimana istrimu pak kis??"


"hmmm... istri dan anaku tidak berada di sini dia tinggal di antareja, kalian kenapa tidak menikah?"


mendengar pertanyaan itu tidak satupun dari mereka yang menjawab.


"mungkin kalian berfikir menikah akan berbahaya atau belum siap atau alasan lain, namun salah satu hal yang tidak pernah kusesali dalam hidup adalah menikah dengan istriku.


itu memmbuatku lebih kuat 4 sampai 5 kali lipat untuk tetap membuatku waras, dan tetap berjuang untuk pulang di situasi terburuk sekalipun"


"hahaha apa menurutmu kami cocok pak tua?" sahut abirama


"orang ***** selalu mencari hal yang cocok padahal kecocokan itu seperti batu yang harus di ukir, satu-satunya sandal bisa disebut cocok adalah dia dipakai sepasang kanan dan kiri perbedaan itulah yang membuatnya cocok jadi sekali lagi saranku jangan menunggu mencari yang cocok karena itu tidak ada"


mereka terdiam merenungkan apa yang barusaja dikatakan oleh kiswanto yang menurut mereka memang benar adanya.


sampailah di sebuah dinding, dan dengan sekelebatan tangan kiswanto dinding itu terbuka dan terlihatlah terowongan menuju suatu ruang.


suasana didalam ruangan cukup kotor dan sepertinya memang lama tidak di gunakan. sarang laba-laba bergelayutan di langit-langit terlihat beberapa tikus berlarian karena mendengar jejak langkah mereka.


sampai di ujung lorong ada sebuah meja besar dengan banyak lemari yang berisi beberapa senjata pusaka dan emas.


"brawijaya sendiri yang memerintahkanku untuk memberi kalian perbekalan yang dibutuhkan"


"tugas kalian adalah menyelamatkan seorang pendekar penting yang menjadi tawanan teratai hitam markas utamanya"


"apa.... kau pikir brawijaya kali ini sudah mulai gila" ucap anjani


"apa dia tidak melihat kita kemarin hampir di bunuh oleh para pendekar teratai hitam"


"aku tahu tapi ada hal penting yang menjadi dasar kenapa misi ini memiliki keberhasilan yang tinggi. menurut informasi dari para mata-mata kita, pendekar utama mereka dan sebagian besar pasukan telah berada di kerajaan teratai hitam"


"hmmm.... menarik tapi masih ada kemungkinan beberapa pendekar sakti berjaga di markas utama mereka"


"kalian boleh menggunakan seluruh sumber daya yang ada disini silahkan ambil saja"


merekapun mengambil senjata yang dibutuhkan yang akan digunakan untuk persiapan misi yang akan mereka lakukan.


***


lintang hari ini memutuskan untuk berpetualang kembali ke dunia ruh dengan hati yang riang. dia berharap hari ini akan menemukan pengalaman yang menarik dan pengetahuan baru.


lintang bersila dan bersiap memasuki dunia ruh.


lintang membuka mata di dunia ruh, lintang dikejutkan dengan pemandangan yang luar biasa dimana ada pertempuran antara dua pasukan berwana biru dan merah.


lintang langsung terlibat pertempuran itu namun dalam kondisi kebingungan harus membantu siapa. akhirnya dia menggunakan serangan tipe area untuk menghalau siapapun yang mendekat.


"ajian musang api, tehnik 12 bola api" dua belas bola api berukuran sebesar kepala manusia mengitari lintang dan menyerang ke segala arah menimbulkan ledakan di sekitar lintang.


puluhan pasukan yang menyadari keberadaan lintang segera mengeroyoknya. adu ilmu silatpun tak terelakan beberapa prajurit menyerang kearahnya namun dapat ditangkis dan dimentahkan.


pisau es mengarah ke lintang dari arah barat, seorang peajurit dengan baju warna biru yang berbeda dari yang lainya menyerang dengan serangan es.


lintang berusaha untuk menghindari serangan yang ada, namun kurang cepat untuk menghindari pisau itu sebuah goresan mengenai leher lintang.


rasa dingin yang muncul dari luka dilehernya membuat lintang kesulitan bergerak.


"kau terkena racun es, kau akan membeku kurang lebih selama 2 jam"


"ajian musang api tehnik aura api" kobaran api muncul dari sekujur tubuh lintang namun rasa dingin yang muncul tidak banyak berkurang.


"aku adalah panglima es wirapto" sebuah pedang lebar di ayunkan ke arah lintang


lintang pun melompat diudara untuk menghindari serangan wirapto. lintang bertarung dengan wirapto tanpa menggunakan senjata, hal ini karena surya lebih suka bertarung tanpa menggunakan senjata akhirnya gaya bertarungnya mengikuti gurunya.


ayunan pedang wirapto sangat cepat bahkan dengan ukuran pedang lebar yang dimilikinya. wirapto menggerakan pedang itu seolah lidi yang begitu ringan. ditambah racun es di tubuhnya hal ini menyulitkan lintang bahkan untuk sekedar bertahan.


melihat peristiwa ini para prajurit mengambil jarak dengan mereka.


"sebenarnya kalian siapa? kenapa kalian menyerangku"


"apa kau bilang, bukanya kau yang menyerang kami dengan bom apimu"


"tapi kalian dulu yang mengeroyoku"


"banyak bicara, kau adalah sekutu dari pasundan bukan"


"siapa pasundan? aku baru datang"


mendengar kata-kata lintang wirapto menancapkan pedangnya di atas tanah.


"jadi kau bukan pasundan?"


"aku adalah lintang" mendadak rasa dingin yang sangat membuat lintang kehilangan kesadaranya


"sungguh anak yang luar biasa siapapun yang terkena racun es harusnya kehilangan kesadarannya dalam 1 menit tapi dia mampu bertahan hingga 20 menit sambil bertarung"


pasukan biru segera membawa lintang menjauhi pertempuran.