Babad Jawa

Babad Jawa
Chapter 3 Surya Agni



Di dalam goa siluman rubah memberikan makanan yang dia masak ala kadarnya dan meninggalkanya disamping lintang yang sedang tidur.


tak lama berselang lintang pun bangun dengan rasa lapar yang sangat karena beberapa hari dia telah terlelap. dia menemukan beberapa makanan dan segera memakannya tanpa berpikir panjang.


Selesai Lintang memakan makanan yang ada, siluman musang api kembali muncul, disekitar tubuhnya diselimuti aura cukup terang yang membuat siapapun di goa mampu untuk melihat.


"Kau anak manusia sepertinya kau terbawa ke tempat persembunyianku tanpa sengaja, siapa namamu?"


"Namaku Lintang, apa kau berniat memakanku??"


"hahaha.... " suara tawa yang mengintimidasi mengisi ruangan itu, sementara lintang terdiam karena merasa ngeri


"andakaikata aku ingin memakanku bukankah lebih mudah kulakukan ketika kau masih belum sadar tadi, Namaku Surya agni, nama yang diberikan orang tuaku"


Tiba-tiba Surya menyerang Lintang. Lintang segera menangkisnya dan terpental beberapa langkah. Kemudian Lintang membalas dengan 3 pukulan namun semuanya di tangkis oleh Surya.


Kemudian Surya mengeluarkan jurus tarian matahari terbit. Dari sepuluh pukulan, dua pukulan kena telak ke perut Lintang. Lintang merasakan hawa terbakar dari pukulan, Lintang pun jatuh tersungkur. Andaikata tidak terluka pasti akan muncul luka bakar di setiap pukulan Surya.


"Anak manusia sepertinya ilmu silatmu tidak buruk"


"Kenapa kau tidak membunuhku saja" Tanya Lintang sambil memegangi perut.


"Aku tadinya memang ingin membunuhmu, namun aku berubah pikiran. Aku akan memberimu kesempatan untuk memilih antara menjadi muridku atau mati sekarang?"


Lintang kemudian terdiam sejenak untuk berpikir. Dalam benaknya ada pikiran kalau dia melawan maka tetap saja dia mati. Andaikan dia berhasil menang sekalipun dia tidak mungkin keluar karena goa ini sepertinya memiliki lorong-lorong yang tidak diketahui ujungnya.


"Lama sekali kau berpikir, atau langsung ku bunuh saja dirimu??"


"Baik-baik aku akan menjadi murid anda" Lintang berucap sambil bersujud.


"Baiklah mulai sekarang kau adalah muridku" Kata Surya.


***


Tanah jawa yang begitu luas dikuasai oleh 3 kerajaan yaitu Antareja, pangelingan dan samudra pasai. Tiga kerajaan ini saling berebut kekuasaan dan tak jarang saling berperang yang menyebabkan rakyat masing-masing kerajaan menderita.


Setiap kerajaan memiliki banyak sekali padepokan yang merupakan tempat lahirnya pendekar ataupun kesatria-kesatria hebat yang membela kerajaan masing-masing.


Namun tidak semua pendekar adalah pendekar yang baik beberapa menjadi penjahat atau menggunakan kekuatanya untuk hal- hal yang tidak bijak.


Di beberapa kota ada warung khusus yang tidak hanya menjual makanan maupun minuman namun menawarkan perlengkapan pendekar dan yang lebih menarik adalah warung ini juga menawarkan misi atau tugas yang memberikan imbalan atau hadiah. Warung ini adalah warung pendekar.


***


Di rumah Abirama di dekat padepokan.


Abirama meskipun telah melalui banyak pertempuran namun kehilangan anak angkatnya masih terlalu berat untuknya.


Abirama berusaha menghilangkan perasaan sedihnya dengan berlatih dan bertapa untuk menemukan kembali ketenanganya.


Tak berapa lama kemudian datanglah tetua anjani menghampiri kediaman Abirama. Anjani merupakan teman seperjuangan Abirama namun karena Abirama banyak menghabiskan waktu di luar sehingga dia tidak di jadikan tetua padepokan agra leksana.


"Saudara Abirama ku dengar kau sedang menangis, ah... Kurasa kau bukan Abirama yang aku kenal" Anjani sambil tersenyum mengejek


"Lama tak bertemu saudara anjani, seperti biasa mulutmu pedas seperti pertama kali bertemu, ada apa tetua anjani mengunjungi ku??" Abirama tersenyum.


"Ahhh... Tetua, seolah aku lebih tua darimu saja. Aku hanya ingin mengunjungi kawan lama, sambil membicarakan hal penting"


"Oh seperti itu, jika memang penting mari kita bicarakan di rumah saja, biarkan kawan ini menjamu" Abirama berdiri dari pertapaanya.


***


Kota Kalisewu adalah sebuah kota yang berada di kerajaan Antareja. Kalisewu adalah kota yang cukup besar berada di bagian selatan Antareja dan letaknya tidak terlalu jauh dari bukit tangkuban prahu.


Dua orang penjaga yang sedang berjaga di pintu gerbang utara sedang terkantuk-kantuk berbincang.


"Jo dingin amat ya malam ini, minum kopi enak kali ya" Kata wagino


"Iya no apa lagi kalo ada ketela rebus mantep" Sahut paijo


"Kali nanti ada yang pengertian bawain makan, jo kamu tahu nggak kabar angin kalo ada hantu yang meneror kota kita"


"Seriusan lo no, kalo ngomong sembarangan lo, tapi kalo cewek cantik hantunya sih nggak masalah hahaha" Jawab paijo sambil terkekeh


"Iya jo bisa di godain siapa tahu bawa makanan sama kopi sekalian nemenin kita ngeronda malam ini hahaha"


Tak berapa lama muncul sesosok wanita misterius yang membawa caping dan membawa bungkusan. Dan membawa golok menuju pintu gerbang utara.


"No... No... Siapa itu no jangan jangan hantu" Jawab paijo sambil gemetaran


"Iya no kakinya nggak nampak jo..... Hantu jo hantu mati kita.... "


Kemudian mereka pura-pura pingsan


"Ampunnnn... Hantu" Kata merka serempak


Ketika semakin dekat jarak mereka berdua ternyata hantu tersebut adalah......


"Kalian ngapain tiduran di bawah" Tanya markonah


"Anjirrr.... " Kata mereka berdua


"Pake baju yang bener napa sih ya mar... Mar... Bikin takut aja" Sahut paijo


"Lhah aku salah apa jo, aku tadi habis nebang pohon pisang, ini ku bawain singkong rebus kalian pasti lapar makanya berhayal yang enggak-enggak" Markonah sambil menyerahkan singkong


"Aneh-aneh aja lu kon, masak malem-malem nebang pohon pisang kayak nggak ada kerjaan aja lo" Sahut wagino


"Aku orangnya emang gitu, kalo punya kemauan harus di selesaiin kalo nggak aku nggak bisa tidur tenang" Markonah meninggalkan mereka berdua.


Tak jauh dari pintu masuk ada beberapa pendekar yang mengamati mereka bertiga, dengan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi mereka meloncati pepohonan dan memasuki kota.


Pramudya adalah walikota Kalisewu. Seorang yang sangat baik dan memiliki jiwa keadilan yang tinggi, bahkan tidak segan untuk membantu pihak-pihak yang lemah. Masalah timbul karena membantu rakyatnya yang menjadi korban kesewenang-wenangan seorang bangsawan Sugiarto.


Malam itu Sugiarto mengirim 3 orang pembunuh bayaran untuk membunuh Pramudya karena menghalangi rencananya. Masing-masing pembunuh itu memiliki ilmu silat yang tinggi, karenannya Sugiarto optimis dia tidak mungkin gagal.


Tiga jam sebelumnya di kediaman bangsawan Sugiarto datanglah 3 orang pendekar berbaju hitam.


Ketiga orang pendekar segera di antar pelayan ke ruang pribadi Sugiarto.


"Selamat malam ki sanak namaku ulung suropati, kami dari kelompok teratai hitam datang karena mendapat tugas dari tetua" Sambil memberi hormat


"Selamat malam ki sanak aku memang sedang butuh bantuan kelompok teratai hitam untuk menyingkirkan seseorang"


"Siapapun targetnya bukan masalah yang penting harganya sebanding dengan kepalanya"


"Baiklah kalau demikian, kuberikan masing-masing kalian 50 keping emas jika berhasil membunuh Pramudya, dan untuk kelompok teratai hitam 100 keping emas"


"Tawaran anda kami terima tuan, beritahu kami dimana lokasinya besuk pagi pasti semuanya sudah beres"


"Dia berada di kota Kalisewu. Dan didepan rumahnya terdapat pohon beringin" Sugiarto berdiri dan bersiap untuk undur diri.


Kemudian mereka bertiga meninggalkan kediaman Sugiarto.


***


Kembali ke rumah Abirama yang tenang dan sejuk di lereng bukit. Anjani dan Abirama sedang bercengkrama layaknya sahabat menceritakan pengalaman dan kejadian-kejadian unik dalam perjalanannya.


"Aku tidak basa-basi lagi kedatanganku kemari adalah untuk meminta bantuanmu menyelesaikan misi dari padepokan. Misi ini begitu rahasia hingga aku tidak berani mendelegasikan orang lain" Kata anjani dengan suara yang serius.


"Misi seperti apa yang begitu penting sampai seorang tetua tidak mempercayai tetua lain?"


"Sebenarnya beberapa tahun ini aku menjalankan misi rahasia untuk menyelidiki kelompok pembunuh teratai hitam, kelompok ini sedang berkembang dan sangat sulit di tumpas karena ternyata dari penyelidikanku mereka mengirim murid-muridnya untuk menjadi mata-mata di beberapa perguruan"


"Oh demikian ya, aku kurang tahu dunia luar karena aku banyak menghabiskan waktu untuk mengurus Lintang, tak kusangka kelompok perampok bisa berkembang sepesat itu dalam beberapa tahun. Bantuan apa yang bisa kuberikan memangnya??" Kata Abirama dengan ekspresi heran.


"Begini aku akan menuju hutan bambu hitam, dengan kemampuanku aku merasa akan kesulitan untuk menghadapi pendekar-pendekar yang mungkin muncul, dengan jurus pedang bayanganmu kurasa akan lebih mudah menjalankan misi ini, alasan keduaku adalah di padepokan hanya kau lah yang pasti bukan mata-mata dari teratai hitam."


Kemudian Abirama berdiam sejenak, dalam benaknya mungkin ini kesempatan bagus untuk menghilangkan penat karena masalah Lintang.


"Baiklah kalau demikian aku setuju, kapan kita berangkat?"


"Kita berangkat pada malam hari ini"


Sebenarnya anjani memiliki perasaan pada Abirama hanya saja dia terlalu malu untuk mengungkapkanya, dan Abirama juga orang yang tidak terlalu peka terhadap perempuan. Dalam benaknya ini mungkin kesempatan yang baik untuk menjalin hubungan lebih serius dengan Abirama.


***


Didalam goa siluman rubah.


Lintang yang telah menjadi murid dari Surya mulai diberikan penjelasan dari Surya.


Jauh sebelum aku menjadi siluman rubah api sebenarnya aku adalah manusia, aku mendalami berbagai ilmu silat sampai ke tingkat yang cukup tinggi.


Hingga kemudian aku sedang berburu di hutan. Ketika sedang dihutan aku melihat rubah merah yang sedang bersama seekor rubah putih yang sangat indah. Melihat buruan yang begitu besar aku membidik rubah putih dan panahku mengenai jantung rubah tersebut.


Mendadak langit menjadi gelap dan halilintar menyambar pepohonan, rubah merah itu berubah menjadi seorang pendekar yang memancarkan aura yang sangat kuat.


Siapa kau berani membunuh istriku, salah apa istriku kepadamu?? Suara terdengar begitu kuat dan sangat mengintimidasi yang mendengarnya.


Meski dengan ilmu yang begitu tinggi jelas pendekar didepanku adalah pendekar tingkat tinggi dan kurasa dia bukan lagi di tingkat manusia.


Mendengar suara itu aku gemetar dan segera bersujud.


Matanya memancarkan aura kemarahan dan warna merah seperti api yang menutupi warna hitam matanya.


Ampun pendekar


Pendekar ini memiliki kesaktian yang sangat tinggi.


Pendekar itu melayang dengan sangat cepat mencekik leherku.


Membunuhmu tidak akan menghidupkan istriku, membunuhmu juga tidak akan menghilangkan rasa sakitku.


Aku akan mengutukmu dengan seluruh kesaktianmu dan amalku.


Yang maha perkasa lagi maha bijaksana berikanlah hamba keadilan dengan nyawaku dan apa yang ada dalam diriku sebagai pertukaranya ku kutuk pemuda ini menjadi siluman hingga akhir hidupnya. Kutukan akan berakhir jika dia melakukan kebajikan yang senilai dengan nyawaku dan amalku.


Halilintar yang sangat kuat menyambar tubuhku dan perlahan-lahan pendekar itu menghilang menjadi butiran cahaya.


Setelah sadar aku tidak lagi berwujud manusia, aku berwujud setengah siluman. Aku sadar bahwa yang baru saja aku celakai adalah seorang brahmana yang sangat kuat.


Kutukan bukanlah sihir ataupun sesuatu yang dapat dipelajari, kutukan adalah sebuah pertukaran dengan yang maha kuasa. Dia tidak akan bisa terangkat dengan sihir macam apapun. Kecuali syarat pengangkatan terpenuhi.


Meskipun aku mati aku akan dilahirkan kembali di suatu tempat dengan kondisi yang sama dan bahkan lebih buruk. Itulah kengerian dari kutukan.


Pelajaran yang dapat kau petik adalah jangan sombong, dan selalu waspada karena bisa jadi apa yang ada di hadapanmu adalah seorang yang luar biasa. Kata Surya sambil mengakhiri ceritanya.


----------×××××-------------


***Maaf para pembaca sekalian mohon bantuanya untuk konfirmasi dengan like atau jempolnya sukur-sukur bisa di vote, author sedang mempertimbangkan untuk menyelesaikan novel ini jika memang sedikit peminatnya hal ini karena kesibukan dan lain sebagainya di dunia nyata.


konfirmasi yang saya maksud adalah untuk memastikan jika memang para pembaca benar-benar menikmati atau menginginkan kelanjutan dari novel ini***.


mohon maaf sebelumnya s