Babad Jawa

Babad Jawa
Chapter 29 Arti dari Satu Untuk Semua



Sailendra mengutus Dewangga untuk menyerang wilayah pangelingan, sailendra mempercayakan penyerangan ke benteng gunung sewu, benteng ini adalah perbatasan langsung dengan kerajaan teratai hitam. Benteng ini tebuat dari batu besar dan kayu-kayu jati yang dengan rapi di tata hingga membentuk sebuah benteng kokoh yang sangat kuat. Benteng ini dihuni oleh tak kurang 2000 orang dengan suplay makanan dan kebutuhan dari kota pamungkasan benteng ini dilengkapi oleh pemanah dan prajurit yang akan sangat sulit ditembus jika menggunakan cara biasa selain itu ada juga pendekar dengan berbagai tingkatan yang melindungi benteng ini.


Dewangga adalah pendekar dengan kemampuan tempur tinggi namun jika hanya menggunakan kekuatanya mustahil benteng ini akan ditaklukan. Strategi yang di gunakan adalah memutus suplay makanan dari benteng ini untuk memperlemah kekuatan tempurnya dan menyerangnya.


Hari ini adalah hari ke tiga benteng gunung sewu kehilangan kontak dengan kota pamungkasan, makanan yang semakin menipis membuat mereka lemah bantuan yang mereka kirimkan belum ada kepastian akan datang sedangkan pasukan teratai hitam telah mengepungnya.


Patih Darsih dengan dua orang pengawalnya sedang berdiskusi mengenai apa yang akan dilakukan,


“benteng ini tidak akan bertahan lebih lama pasukan teratai hitam telah meratakan kota pamungkasan” Ucap Kerso


“benar patih orang kita hanya tersisa tidak lebih dari 400 orang setelah penyergapan tadi malam” Kata Hendro


“aku tahu kekawatiran kalian kurasa butuh waktu beberapa hari sampai bantuan datang” Ucap patih Darsih


“benteng ini akan menjadi senjata masalah besar bagi Pangelingan jika sampai jatuh ke tangan musuh” Hendro menghela nafas panjang karena peliknya masalah ini


“kau benar Hendro, benteng ini adalah salah satu pintu paling strategis untuk memulai penyerangan”


“itu benar sekali, namun keadaan ini sangat pelik kurasa keadaan kita benar-benar buruk, kita tidak mungkin mempertahankanya sedangkan melepasnya akan membuat kita kesusahan di akhir”


“aku punya ide patih, mungkin ini ide terburuk yang mungkin dilaksanakan”


”Apa itu Hendro?”


“bagaimana kalau kita hancurkan benteng ini?”


“sempat terlintas di benaku cara itu, namun bagaimana dengan nasib prajurit yang tesisa?”


“kita bergerak di tengah malam, melewati jalan rahasia di bawah benteng, kita akan bergerak ke kota Buana Jaya kalian segera mengabari raja bahwa benteng ini telah diserang, benteng ini akan ku bakar ketika kalian sudah aman”


“apa maksudmu…. Kau mau mengorbankan dirimu sendiri??” Ucap Kerso


“aku telah memikirkan matang-matang ide ini, andaikata ada cara lain pasti telah terlebih dulu ku katakan, menurut kalian apa kita punya pilihan??”


Darsih dan Kerso terdiam apa yang dikatakan Hendro adalah fakta, sekalipun mereka memaksa menyerang maka hanya akan membunuh lebih banyak prajurit.


“aku tidak setuju dengan bagian akhir, kenapa harus kau yang mendapatkan kehormatan itu?? Bukankah kalian bawahanku disini??”


“justru itu patih dengan adanya anda dan Kerso pasukan akan lebih mudah memasuki kota BuanaJaya dan kau memiliki akses militer untuk mengabarkan keadaan benteng ini”


“kau, sejak kapan cara bicaramu jadi sebagus ini, aku sampai terharu “ ucap Kerso


“hahaha… Aku jago bicara sejak lahir tidak seperti kau sama wanita aja udah gemetaran”


“sontoloyo….., wanita selalu membuatku berkeringat dingin”


“jadi kau pikir aku ini bukan wanita seperti itu maksudmu??” Ucap Darsih


“bukan itu maksudku patih” Kerso menggunakan ekspresi takut bercampur dengan rasa bersalah


“baiklah kalau memang demikian kita akan mulai bergerak pukul 11 malam kita siapkan drum berisi minyak untuk membakar benteng ini”


Rencana pembakaran benteng itu pun mereka setujui dengan berat hati persiapan-demi persiapan segera mereka lalui drum-drum berisi minyak diletakan diberbagai sudut benteng. Pasukan bergerak sedikit-demi sedikit melalui jalan rahasia jalan begitu sempit hanya muat untuk dua orang harus dilalui oleh kurang lebih limaratus orang membuat udara menjadi panas dan pengap.


Menjelang malam hari, pasukan teratai hitam mulai bergerak obor-obor bergerak diantara hutan dengan banyaknya prajurit kepulan asap hitam terlihat dari kejauhan. Hendro mengawasi pergerakan mereka dari atas menara benteng bersiap jika ada pergerakan.


Dewangga yang mengamati benteng itu belum curiga mengenai apa yang terjadi namun rasa penasarannya semakin lama semakin besar, benteng yang seharusnya berisi hampir 500 orang begitu sepi bagai kuburan. Dewangga menyiapkan beberapa pendekar terbaiknya untuk menyusup ke benteng.


Dewangga bergerak dengan hati-hati dengan ilmu meringankan tubuhnya memasuki benteng dengan melompat dari atas pepohonan diikuti oleh beberapa pendekarnya. Sampai di dalam Dewangga merasa aneh. Apakah ini jebakan ucap Dewangga dalam hati masuk kedalam benteng tak terlihat satupun prajurit membuat mereka semakin waspada.


Merasa sudah aman mereka berpencar Dewangga menuju menara yang di atasnya ada Hendro yang telah menunggu. Tangga berulir membutuhkan lima menit untuk di daki langkah-demi langkah membuat Dewangga semakin penasaran. Sebuah pintu kayu berada di depan Dewangga segera dibuka olehnya dan segera sebuah pisau melesat kearah kepalanya tanpa terduga.


Dewangga berhasil menangkisnya dengan tangan, mereka berdua saling bertatapan dan saling waspada.


”Kau adalah pemimpin teratai hitam “


“kau benar namaku Dewangga, kemana para prajurit ?”


“hahaha… Entahlah. Aku akan membunuhmu disini”


“kita buktikan saja “


Mereka berdua beradu ilmu silat dengan cukup sengit. Namun jelas Dewangga di atas angin, Hendro memang sudah pasti akan kalah namun tujuan sebenarnya dia beradu silat adalah untuk memberkan waktu bagi pasukan untuk melewati jalan rahasia. Dengan jumlah yang besar waktu yang dibutuhkan kira-kira adalah 3 jam untuk sepenuhnya sampai.


“bagaimana menurutmu, apa kau sudah tau kemampuanmu??” Dewangga menikam Hendro dengan pisau yang dilemparkannya di awal ternyata menjadi senjata yang mencelakainya.


“kau memang hebat, tapi kau tidak cerdas” Hendro melemparkan obor ke sebuah drum berisi dan segera api menjalar ke bagian luar benteng dan dengan cepat membakar seluruh kastil tumpahan minyak yang telah dipersiapkan sebelumnya menjadi medium api merambat ke seluruh bagian benteng dengan cepat dan segera terjadi ledakan di beberapa tempat secara beruntun.


Dari kejauhan Darsih melihat kobaran api membakar benteng yang selama ini dilindunginya, rasa sakit dan penyesalan membuatnya dadanya sesak tidak ada waktu untuk bersedih pengorbanan Hendro tidak boleh disia-siakan. Pasukan ini harus sampai di sampai ke buanajaya.


Melihat kejadian ini Dewangga segera meloncat ke udara cepatnya api menyambar ke bagian benteng ini membuat mereka harus waspada, namun Dewangga mempunyai ide dengan api ini.


“ajian naga api tehnik pelahap api “ api yang begitu besar tersedot masuk ke dalam mulutnya seolah perutnya tak berdasar dalam beberapa menit seluruh api yang membakar benteng pun habis namun kerusakan benteng sangat parah karena ledakan yang ditimbulkan.


“pasukan segera bangun kembali benteng ini, kita akan membuat sebuah benteng yang cukup kuat untuk menahan pasukan pangelingan” Dengan nada yang kuat Dewangga memimpin pasukannya untuk membangun kembali benteng yang telah terbakar ini


Sailendra sendiri ahli dalam strategi dia selalu mencari cara paling efektif dalam pertempuran untuk mengurangi kerugian yang diderita pasukan. Atas arahan darinya pasukan dewangga mampu melumpuhkan benteng yang ratusan tahun berdiri dengan kerugian minimal meskipun akhirnya benteng itu harus dibuat lagi.


Dengan ini telah jelas bahwa pangelingan dan teratai hitam berperang, dan tentunya peperangan ini akan membawa kerugian yang sangat besar dan yang paling menderita tentunya adalah adalah rakyat kecil yang terpengaruh langsung. Wilayah yang menjadi medan tempur tentusaja penduduknya akan mengungsi.


***


Abirama dan anjani menjalankan misi penyelamatan tokoh yang sangat penting, dia adalah werkudara sang pendekar naga putih prestasi yang ditorehkanya di masa lalu adalah menjadi salah satu pendekar terkuat dimasanya. Siapapun yang hidup di jaman itu sudah dipastikan mengenal siapa werkudara.


Namun karena suatu sebab yang kurang jelas akhirnya werkudara tertangkap sehingga beberapa  tahun ini namanya sudah tak terdengar bahkan banyak yang mengira bahwa dia telah mati.


Baju berwarna hitam dan mengenakan topeng mereka berdua hendak menyusup ke markas teratai hitam, hal ini tentunya sangat berbahaya jika tidak disertai dengan perlengkapan dan senjata yang mencukupi.


Di barat hutan bambu hitam berdiri sebuah bangunan yang cukup megah dengan penjagaan yang lumayan ketat, dua pasukan saling bencengkrama dan setiap beberapa saat berganti posisi.


abirama jadi teringat masalalu dengan guru brawijaya tentang misi penyelamatan putri antareja, hal ini membuatnya lebih waspada dan tidak ingin gagal seperti di masa lalu.


Abirama dan anjani masuk melalui langit-atap bangunan sangat hati-hati menyembunyikan diri masing-masing bahkan telapak kaki mereka tidak terdengar.


Dari mata-mata ruang penjara berada dilantai bawah bangunan namun pintu masuknya berada di bagian tersembunyi hal ini membuat mereka berdua harus menemukan pintu rahasia itu.


Penantian mereka tidak sia-sia sosok yang mereka kenal yaitu gitasena barusaja keluar dari pintu rahasia tersebut. Menunggu waktu yang tepat mereka bersiap menyusup ke dalam ruangan rahasia itu. Setelah beberapa saat kesempatan itu akhirnya datang juga mereka segera masuk keruang rahasia.


Didalam ruang rahasia itu ada banyak sekali tahanan-tahanan dari berbagai daerah, masing-masing mereka sepertinya disiksa dengan tidak wajar bahkan ada beberapa tahanan terlihat begitu kurus seolah tidak diberi makan.


Berjalan lebih jauh mereka menemukan sesuatu yang sangat-sangat mencengangkan yaitu sosok ronggowarsito yang meringkuk di penjara begitu kurus.


”kau bukankah ronggowarsito kenapa kau bisa berada disini?” ucap anjani


“seseorang mencuri identitasku, apa kalian dari samudra pasai”


“kau belum tahu, samudra pasai telah dihancurkan “


“jangan bercanda kalian itu tidak lucu”


“kami berarti salah mengira ku sangka kau adalah dalang dibalik hancurnya samudra pasai”


“apa kau sudah *****, bagaimana mungkin aku menghancurkan warisan leluhurku”


Abirama membebaskan ronggowarsito dan memberinya obat penambah tenaga.


”kau istirahatlah dulu dan pulihkan dulu tenagamu mungkin kau bisa membalaskan dendamu jika sudah keluar dari sini”


“siapa yang kalian cari??”


“aku mencari werkudara si naga putih, apa kau tahu dimana dia”


“aku tahu dimana dia namun kurasa kalian tidak akan bisa membebaskanya, tapi jika kau ingin mencobanya dia ada di ruangan dengan pintu besar berwarna merah disana”


Keduanya menuju ruangan itu dan mendapati seorang pendekar berbaju putih dengan tubuh sangat kurus berada di tengah ruangan yang disinari dengan lampu lampion berwarna merah.