Babad Jawa

Babad Jawa
Chapter 13 Pemberontakan Yang Dihianati




Danau yang sangat luas membentang di depan tanpa terlihat ujungnya, suasana pagi hari yang sejuk dihiasi kabut membuat danau itu begitu indah.


dipinggir danau ada sebuah gubuk tua namun berpenghuni, surya dan lintang segera menuju ke gubuk tersebut dan tak disangka ternyata pemilik gubuk tersebut mengenali sosok surya.


"masuk kau surya, jangan basa-basi"


"hahaha.... masih mengenaliku kau herman"


"bagaimana bisa aku melupakan satu-satunya teman baikku, siapa pemuda yang bersamamu itu "


"ini muridku.... lintang, dan dia adalah temanku herman"


"ku kira cemilanmu... hahaha"


"kau ini menakutinya saja"


"luar biasa kau masih terlihat sama setelah puluhan tahun, mari masuk"


seorang pria tua dengan tangan yang di ganti dengan pengait mengajak mereka masuk. di dalam gubuk peralatan pancing kait dan jaring menghiasi dinding. kursi bambu yang sudah usang dan beberapa tengkorak hewan buas menjadi hiasan rumah


"bagaimana kabarmu teman" ucap surya


"seperti yang kau lihat aku sudah memasuki masa senjaku, ku lihat kau tidak begitu baik "


"aku mendapat luka dari seorang pendekar asing, aku berniat mencari kura-kura giok mungkin dia bisa membantuku"


"kabar terakhir dia berada di pulau di tengah danau ini, namun hal itu cukup berbahaya mengingat di tengah danau konon ada beberapa siluman buas bersemayam"


"apa kau bisa membantuku herman?"


"melihat kondisiku sekarang kurasa tenagaku sudah tidak diperlukan, namun aku bisa memberi kalian sebuah perahu"


"baiklah jika demikian aku hargai bantuanmu, aku akan memberikanmu ini, ini adalah bunga mawar darah jika dimakan manusia akan melancarkan peredaran darah dan membuat tubuh lebih muda beberapa tahun"


"terimakasih surya, sama-sama kawanku"


mereka berdua berangkat menggunakan rakit yang harus di dayung karena angin di danau ini begitu tenang.


tiga jam berlalu lintang diliputi rasa penasaran apa yang dicari gurunya hingga jauh-jauh ke tempat ini. tak berpa lama kemudian dari sebelah kanan muncul seekor ular berkepala dua bertanduk dan berbadan seperti seekor ikan hiu ukurannya begitu besar bahkan mampu menelan perahu dengan sekali gigit.


reflek surya dan bintang terkejut.


"ini adalah siluman buas sepertinya dia berniat menyerang kita guru"


dengan ilmu meringankan tubuh keduanya berdiri di atas air meninggalkan perahu yang mereka tumpangi.


siluman itu mulai menyerang menyemburkan air dengan tekanan yang amat kuat lintang dan surya menghindari serangan demi serangan.


"ajian api tembakan panah api" surya menghujani siluman itu dengan panah api.


"ajian api tehnik tendangan api" lintang menggunakan tendangan langsung ke arah kepala siluman itu.


kepala siluman itu terhempas ke permukaan air, serangan elemen api tidak begitu efektif melawan siluman buas ini. menyadari hal ini surya mengeluarkan ajian lain.


"ajian angin tehnik pedang angin " sebuah pedang dari elemen angin terbentuk di tangan surya.


menggunakan pedang di tangannya surya menebas salah satu leher dari siluman itu


slatt......


leher siluman itupun terputus siluman itu segera lari melihat salah satu kepalanya terlepas dari lehernya.


perahu yang mereka naiki mengalami kerusakan namun masih dapat digunakan untuk berlayar. memahami keadaan ini mereka sadar kemungkinan akan bertemu siluman lagi sangat besar. namun memutar jalan adalah hal yang mustahil juga mengingat keadaan kapal yang kurang baik.


akhirnya dengan pertaruhan yang belum jelas mereka memilih untuk meneruskan perjalanan dengan harapan menemukan pulau kura-kura giok.


***


kerajaan samudra pasai sedang mengalami keguncangan, beberapa petinggi kerajaan berkumpul di kediaman warangga sedang mengusulkan untuk melakukan kudeta dan memastikan tahta jatuh ke tangan warangga.


"sebaiknya kita melakukan penyerangan terlebih dahulu pangeran, jika pangeran yuda terlebih dahulu menyerang kita maka sudah dipastikan kita tidak akan mampu menyerang balik" kata patih sangkuriang


"pangeran jangan gegabah melakukan kudeta sekalipun masih ada kemungkinan kita kalah dan dianggap sebagai penghianat" Patih lain menjawab


"aku akan pertimbangkan usulan kalian ... " belum selesai omongan pangeran sebuah anak panah menembus kepala patih dari belakang disusul dengan hujan anak panah yang cukup banyak.


brakkk....


"siapa yang berani menyerang pangeran" ucap patih sangkuriang


seorang penjaga memasuki ruangan


"kita diserang oleh simpatisan pangeran yudha"


"sepertinya mereka memulai serangan duluan pangeran"


"kalau itu maumu kumpulkan pasukan kita serang malam ini kediaman yuda"


"siap pangeran"


**


dikediaman pangeran yuda ternyata juga terjadi penyerangan. yuda menanggapi masalah ini dengan kepala dingin dan mencoba tetap berpikir dengan jernih.


yuda memperketat penjagaan di sekitar kediaamanya dan menempatkan beberapa pos penjagaan di bagian-bagian rawan.


namun sentimen dan masalah yang telah menumpuk membuat bias penilaian pangeran warangga.


kemungkinan besar akan terjadi perang saudara di kerajaan samudra pasai.


menjelang malam yang ditakutkan yuda terjadi, hujan panah api menghujani kediamannya.


"pangeran, pasukan pangeran warangga menyerang kita" ucap salah satu prajurit


"serang balik mereka, jika pertahanan kita kalah maka dapat dipastikan warangga akan menguasai kerajaan"


pasukan berpedang segera menyerbu kediaman yuda, pertempuranpun tak terelakan pendekar-pendekar dari masing masing kubu saling beradu.


malam itu banyak sekali korban namun penyerangan warangga dapat dikatakan berhasil meski banyak korban berjatuhan. yuda berhasil dibunuh dengan bantuan beberapa pendekar.


menjelang pagi hari warangga hendak merayakan keberhasilan kudetanya hal yang tidak terduga terjadi.


"kau berhasil pangeran" ucap patih sangkuriang


"untung saja aku mengikuti nasihatmu patih"


sebuah pisau menikam pangeran warangga


"bajindull..... kau sangkuriang ternyata selama ini kau, bukankah kau seharusnya mendukungku"


"supaya kau lebih tenang ku beritahu satu hal lagi akulah yang membunuh permaisuri dan juga yang merencanakan penyerangan raja hahaha..."


"jahat sekali kau sangkuriang" pekik warangga di sisa-sisa nafasnya


"kerajaan jauh lebih jahat kerakusan kalian membuat seluruh keluargaku terbunuh dalam perang, tapi setidaknya aku tidak pernah membunuh keluargaku"


tamatlah riwayat warangga sekaligus pewaris sah dari samudra pasai.


kemudian sangkuriang membunyikan sebuah peluit yang sangat keras. itu adalah peluit dengan bunyi yang sama dengan milik teratai hitam.


pasukan yang kelelahan kini harus melawan pasukan teratai hitam sebagian pasukan menyerah karena sudah kehilangan patih dan pemimpinnya sedangkan sisanya yang melawan di bunuh.


pergerakan pasukan teratai hitam yang selama ini terjadi ternyata memiliki tujuan akhir untuk menaklukan samudra pasai dan mendirikan kerajaan baru.


sebuah petir putih menyambar ke arah sangkuriang kemudian dia segera berlutut. seorang pria dengan tubuh kekar berbaju hitam dengan bekas luka di mata kirinya muncul dari bekas sambaran petir.


"memberi hormat pada tuan sailendra sang raja petir" sangkuriang berlutut disertai dengan seluruh pasukan teratai hitam.


"rencanamu berjalan mulus tanpa halangan sangkuriang, kerajaan telah ditaklukan selanjutnya tinggal membersihkan wilayah sekitar"


"baik raja"


"sekarang aku tidak mau dipanggil raja lagi, panggil aku dengan kaisar teratai hitam. kerjaan ini sekarang bernama kerajaan teratai hitam"


"sesuai kehendakmu raja maksudku kaisar"


"oh iya sebelum aku kembali kau lah yang menguasai kerajaan ini, tapi ingat posisimu dan jangan nakal"


sailendra meninggalkan tempat pertempuran kembali dalam wujud petir putih.


***


kinanti dan anjani di cegat oleh sesosok misterius dengan topeng gagak.


"maaf nona-nona harus mengganggu waktu kalian darimana kalian mendapat senjata-senjata itu"


"aku mendapatkanya dari buronan yang ada di samudra pasai"


"hmmm... menarik sepertinya kau wanita yang cukup kuat hingga mampu membunuh anak buahku"


"ku rasa anak buahmu terlalu lemah hingga kalah dari perempuan, hahaha" ucap anjani


"kalian dingin sekali, sepertinya aku harus sedikit menghangatkan kalian"


"ajian naga jurus nafas api" api berwarna kuning keluar dari mulut pendekar itu.


anjani dan kinanti menghindari api itu namun berhasil membakar topeng mereka.


"ajian naga tehnik silat aliran naga" dengan tangan kosong dia beradu pukulan dengan anjani


anjani pun terpojok sedangkan kinanti berusaha membantu.


"tehnik harimau tapak sakti" pukulan mereka beradu membuat keduanya terdorong mundur. darah segar mengalir dari bibir anjani.


tenaga dalamnya sangat tinggi dan pengendalian elemen apinya juga sangat kuat benar-benar lawan yang merepotkan. dalam benak anjani


"tehnik cakram jurus sisik arwana" cakram yang di lempar kinanti membelah menjadi begitu banyak seperti sisik ikan.


dengan tangkas pendekar naga merah menghindari cakram-cakram itu, elemen dasar yang dimiliki oleh kinanti adalah elemen angin disekeliling cakram itu di selimuti angin yang sangat tajam.


"anjani seperti waktu dulu lakukan tehnik sangkar harimau"


"tehnik sangkar harimau jurus kombinasi angin" anjani berlari menuju pendekar naga yang sedang menghindari cakram-cakram kinanti.


anjani menggunakan cakram kinanti sebagai pijakan untuk menambah kecepatan geraknya sedangkan cakram yang lain mencegah musuh untuk bergerak bebas. pendekar naga merah pun terpojok.


"tak kusangka kombinasi jurus kalian akan membuatku kewalahan seperti ini"


"ajian naga tehnik aura matahari " ledakan api keluar dari tubuh pendekar naga membakar cakram yang menyerangnya dan melemparkan anjani menuju kinanti.


topeng gagak yang dikenakan oleh pendekar naga merahpun terbakar dan terungkaplah wajah pendekar naga merah dengan rambut dan mata berwarna merah menyala.


"sepertinya aku meremehkan kalian aku akan mulai serius"


sebuah kilat berwarna putih menyambar ke arah langit menghentikan pertarungan pagi itu.


"maaf nona-nona sepertinya waktu bermain kita telah habis perkenalkan namaku dewangga, kurasa aku mengenal kalian kinati dan anjani"


api berwarna merah membakar tubuh dewangga dan menghilang dari pandangan.


anjani mengalami beberapa luka bakar namun salah satu keistimewaan dari anjani adalah kemampuan penyembuhanya yang relatif cepat apalagi kinanti membantu penyembuhannya.


mereka berduapun bernafas lega terlepas dari pendekar yang sangat berbahaya yang nyaris merenggut nyawa mereka.


"aku agak bingung dengan pendekar tadi secara situasi dia berada di atas angin mengapa dia malah pergi " anjani merasa aneh


"mungkin petir putih yang kita saksikan berarti sesuatu baginya"


"firasatku petir itu bukan petir biasa, dan arah petir itu dari samudra pasai"


Setelah memulihkan luka-luka yang diderita mereka segera menuju ke toko obat untuk membeli obat untuk sulawi.



"permisi kami mau membeli obat"


"ohhh... maafkan kami kurang baik dalam menyambut, tidak biasanya pagi-pagi sekali ada pelanggan, kalau boleh tahu obat apa yang nona-nona butuhkan??"


"kami butuh dua buah obat untuk luka dalam"


"oh seperti itu kami punya pil melati es seharga 10 keping emas dan pil bulu phoenix seharga 25 keping emas"


"oke kami ambil 2 pil phoenix dan kalau ada obat untuk racun api"


"kami punya pil intisari es seharga 20 perak"


"oke kami ambil 5 pil "


"terimakasih nona-nona"


merekapun menuju ke penginapan untuk memberikan obat yang telah dibeli.