
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Cuaca mulai terik, namun itu bukan alasan sebenarnya seorang Salfa memilih untuk tetap duduk di bangku kapal bersama kopernya. Meski sudah mengatakan alasan demikian, tetap tak ada yang percaya. Hal itu dikarenakan Genta yang bilang bahwa dirinya takut di laut. Kini teman-temannya tak berhenti mengajaknya ke tepian kapal, untuk menikmati pemandangan, sekaligus ingin mengerjainya.
"Ayo lah, Sal. Yakali anak teknik sipil takut panas," ujar Vin yang menarik-narik tangan Salfa yang masih ogah-ogahan.
"AYO, SAAAAAAL!! PEMANDANGANNYA BAGUS GEWLAAA," sahut Gopal yang lebih dari bersemangat.
Sementara Genta? Jangan ditanya! Dari tepian kapal ia tersenyum puas melihat ke arah mereka yang heboh. Lantas memilih membiarkan saja, toh, ia juga sudah menang telak. Salfa tak bisa mengatasi ketakutannya hanya demi menunjukkan bahwa dirinya berani.
Novan, melihat senyum pemuda di sebelahnya masih mengembang. Diperhatikannya Genta menatap lurus ke laut yang biru, dengan mata menyipit karena mengatur intensitas cahaya yang masuk.
"Apa yang lo pikirin, Ta?"
Genta menoleh sekilas, lalu menghela pelan. "Nggak tau deh, Van. Cuma kok rasanya aneh aja, setelah dua tahun, semuanya berubah."
"Heh!" balas Novan, tersenyum jahat. "Emang lo berharap dapat perlakuan kayak gimana, Ta? Setelah lo ninggalin Salfa gitu aja buat ngejar cinta pertama lo, lo berharap dia baik-baik aja sama lo?"
Helaan berat kini terdengar jelas dari Genta. "Tapi sekarang, harusnya dia bisa lebih dewasa, Van. Lo lihat aja gimana dia, apalagi temennya, Kinara. Kelihatan gedek banget gitu sama gue."
"Salfa. Dia orang yang selalu ada buat lo. Ngelakuin apa aja yang dia bisa untuk nemenin lo berjuang buat kehidupan lo. Dia bahkan nggak pergi ketika lo curhat-curhat ke dia soal Liana. Karena apa? Karena dia percaya lo akan bisa ngelupain cewek yang sia-siain lo bertahun-tahun, Ta. Sambil berharap lo bisa lihat dia, walaupun sekali aja," ujar Novan panjang lebar, seakan-akan ia menumpahkan segala uneg-unegnya tentang keegoisan Genta.
"Lo ngasih dia pintu untuk dia masukin, Ta. Kita sama-sama tau kalau dia nggak berharap dengan sia-sia. Dia emang punya rasa memiliki atas lo, dan lo sendiri yang ngasih itu ke dia," lanjut Novan. Pemuda itu sejenak menghela pelan. "Come on lah, Ta. Jangan ngerasa diri lo korban disini. Yang korban perasaan tuh Salfa."
Genta masih diam dan terus diam, tak menyahuti satu kata pun. Pemuda itu hanya mengusap wajahnya yang nampak letih dengan semuanya. Penyesalan itu kembali. Memenuhi rongga dadanya hingga terasa sesak.
"Terus lo kenapa kayak gini sekarang? Darimana asalnya lo nyadarin perasaan lo ke Salfa?" tanya Novan lagi, mengundang tatapan penuh arti dari Genta.
"Karena gue sadar, sama siapapun gue, rasanya nggak seutuh kayak ketika gue sama Salfa."
Mata Genta lalu berganti memindai sekitaran. Dilihatnya Vin, Gopal, dan Kinara sedang berfoto-foto di sisi lain kapal.
Sementara itu, Salfa diam sendiri di bangku. Sok-sok menyibukkan diri dengan ponselnya, ketika satu sosok mendekat ke arahnya dan berdiri tepat di depannya. Salfa mendongak, tentu dengan menyinis. Jika kalian pernah tahu anak kecil yang matanya memelotot pada anak lain, seperti itulah Salfa sekarang.
Seorang ibu-ibu menatap aneh ke Salfa, untungnya, gadis itu langsung menyadari hal tersebut. Sontak ia berdehem dan tak lagi mendongak, menurunkan wajahnya, sedikit menunduk. Matanya kemudian menyaksikan teman-temannya yang berpencar, maka saat itu juga ia berdiri, berinisiatif untuk berpindah ke toilet.
Benar dugaannya, sosok itu mengikutinya. Peka juga dia bahwa maksud Salfa ke toilet adalah mencari tempat yang hening untuk menanyakan sesuatu.
"Tumben lo jauh-jauh dari Genta, nyamperin gue lagi. Mau apa lo?" sungutnya. "Sejak kemarin Genta datang, gue lihat lo nggak pernah pergi dari balik punggungnya."
Sosok berambut pendek dengan muka pucat itu masih diam. Salfa menunggu ia mengatakan sesuatu namun nyatanya nihil. Tentu itu membuatnya kesal. "Mau lo apa, ha?"
Selepas itu, sosok berambut pendek itu melesat keluar menembus pintu. Hal yang sama sekali tak dimengerti oleh Salfa. Ia bahkan belum sempat menanyakan mengapa dia terus berada di belakang Genta. Apa mungkin penjaganya? Tapi, sosok itu kelihatannya masih sangat muda, malahan, seperti beberapa tahun di bawah Salfa. Kalau itu manusia, Salfa berpikir sosok itu seumuran Wira.
Merasa jengkel setengah mati dengan kelakuan setan yang tidak jelas macam itu, membuat Salfa memutuskan untuk mencuci mukanya. Toilet kapal rupanya sangat sempit, membuatnya tak leluasa bergerak. Sekarang saja, setelah sosok itu pergi, ia baru menyadari bahwa aroma toilet sangat tidak bersahabat.
Mungkin kedengarannya klise, tapi Salfa baru kali ini merasakan sendiri. Air dari keran warnanya merah, kental, seperti darah. Nyaris dia berteriak namun ia urungkan. Pelan-pelan, ia buka lagi keran yang tadi langsung ia tutup itu. Dan, airnya normal.
"Apa-apaan nih? Kerjaan siapa nih, woi, siapa lo?" tanya Salfa ragu-ragu. Sementara ia menyadari, sosok tadi, datang lagi. Berdiri di belakangnya. "Mau lo apa sih?"
"Kalian nggak boleh kesana. Aku nggak akan biarin itu."
Kaget, Salfa tertegun sejenak mendengar jawaban itu. "K-kenapa sih? Kenapa semua hantu yang gue temuin pada bilang kayak gitu? Dan-dan lo siapa?"
"Aku nggak akan biarin kalian kesana."
"Ya tapi kenapa?!"
"Kalian nggak boleh kesana. Aku akan menghentikan kapal ini."
Kening Salfa mengernyit. "Ha? Maksud lo? Eh, tunggu. Mau apa lo, hei?!"
Salfa tak dapat menghentikan sosok rambut pendek itu. Sosok itu melesat lagi seperti tadi. Sambil masih mencermati apa yang dibilang olehnya, Salfa bergegas keluar dari toilet. Namun, pintunya, terkunci.
Seperti di kunci dari luar.
"Hei, tolong! Siapa yang di luar?! Siapa yang kunci ini? HEI?"
Dok dok dok dok dok!! Salfa terus menggebrak toilet namun yang ia heran, seperti tak ada yang mendengarnya sama sekali. Apa ini ulah sosok itu? Mengapa dia melakukan ini? mengapa sampai segitunya tidak mengizinkan Salfa dan teman-temannya kesana?
Segera gadis itu merogoh saku celananya. Meraih apalagi jika bukan ponsel. Ia berniat menghubungi Kinara atau Vin. Namun sial sekali, ponselnya tak menyala. Berkali-kali ia coba nyalakan namun tidak bisa. Padahal sebelum ke toilet, ponselnya baik-baik saja. Makin panik, Salfa kembali menggedor pintu, kali ini lebih kuat lagi.
Sementara di tepian kapal, Kinara merasa tidak enak meninggalkan Salfa sendirian. Ia memilih untuk kembali. "Udah ah gue mau ke Salfa, disini lama-lama panas juga," ujarnya pada Vin dan Gopal.
Mata Kinara terbelalak menyadari ketiadaan sahabat perempuannya. Hanya ada koper dan jaket Salfa di bangku. Entah kenapa, Kinara kena serangan panik seketika itu juga. Untuk menanyakan ke beberapa orang yang ada disekitar pun rasanya tak terpikirkan di kepalanya. Segera ia berlari menuju Genta dan Novan yang paling dekat dari bangku-bangku.
Dengan napas terengah-engah Kinara bertanya tanpa ba-bi-bu. "Kalian lihat Salfa?"
Langsung tertohok, Genta memutar badannya seratus delapan puluh derajat menghadap Kinara. Ia lantas melirik bangku dimana ada Salfa disana tadi, dan benar tidak ada. "Lah, tadi dia disana?!"
Kinara langsung berlari lagi menuju Vin dan Gopal, tak peduli beberapa orang memperhatikan dan menatap skeptis padanya. "Pal, Vin, Salfa nggak ada!"
"Ha?" kaget Vin. "Kemana, udah lo cari?"
"Ke toilet kali?" sahut Gopal.
Genta, yang juga terpikirkan satu tempat dimana kemungkinan Salfa berada, langsung pergi ke toilet. Sementara Novan naik ke atas, siapa tahu gadis itu kesana. Ya, meski itu terdengar aneh mengingat Salfa yang takut laut seperti yang dibilang Genta. Kemudian, Vin, Gopal, dan Kinara pun berpencar. Hendak menyusuri sudut-sudut kapal.
Beberapa anak buah kapal terlihat berlarian, pasti hendak mengecek mesin. Disitu, Gopal menghentikan salah satunya. "Ini kenapa kapalnya, Mas?"
"Mesinnya mendadak mogok, Mas. Jadi kapalnya berhenti," jawab si anak buah kapal yang segera berlalu menyusul yang lain.
Pengumuman kemudian terdengar dari speaker yang ada di kapal itu. "Untuk semua penumpang, harap tenang. Para petugas akan segera menangani masalah yang ada. Harap untuk tetap diam di tempat dan tidak menciptakan gerakan berlebih sampai bantuan datang. Terima kasih."
Saat itu juga Kinara langsung meringis menepuk keningnya. Semua orang diminta diam sampai bantuan datang? Yang benar saja! Lalu bagaimana dirinya akan mencari Salfa? Memang, sahabatnya itu tidak mungkin kemana-mana selain dalam lingkup kapal. Tapi Salfa bukan Salfa yang dulu lagi. Salfa sekarang rentan akan gangguan-gangguan yang orang lain mungkin akan menganggap itu tak masuk akal.
●●●●
Jika semua orang diminta untuk tetap diam di tempat, maaf, Genta tidak bisa mengikuti itu. Ia harus menemukan Salfa. Pemuda itu terus mengikuti arah yang dipasang guna menuju toilet. Sampai disana, ia mengetuk pintu pelan.
"Sal? Salfa? Lo disini, kan?" tanya Genta dengan penuh harap, namun tak ada sahutan.
Hanya ada satu bilik yang tertutup dan Genta yakin Salfa ada disitu. Maka, tak peduli apapun, pemuda itu meyakinkan diri menerima segala konsekuensi ketika ia membukanya. Dengan mudah pintu itu terbuka, namun seperti ada yang mengganjal di belakangnya.
Genta memasukkan kepalanya ke balik pintu, mengintip. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati Salfa tak sadarkan diri. Segera ia masuk dengan hati-hati agar tak terlalu menekan tubuh Salfa. Langsung ia membopong gadis itu, membawanya ke tempat dimana teman-temannya berada.
"Salfa?!" teriak Kinara yang kemudian mendekat. Sangat ingin ia berlari namun tatapan orang-orang seperti menghentikannya sebelum melakukan itu.
Tak peduli apa, Vin, Gopal, dan Novan pun yang sudah kembali turun, menyusul. Salfa yang masih tak sadarkan diri berusaha dibangunkan pelan-pelan. Masih dengan posisi kepala yang ditaruh di pangkuan Genta, Kinara terus memanggil dengan menepuk pelan pipi sahabatnya itu.
"Salfa, bangun, Sal," pintanya setengah menangis. "Minyak kayu putih. Tolong ambilin di saku jaket gue, Pal."
Gopal mengangguk singkat. Segera ia berbalik dan meraih jaket parka maroon milik Kinara yang diletakkan di atas koper. "Nih, Ra."
Suara sahut-menyahut dari orang-orang yang menyaksikan hal itu pun terdengar riuh. Jika ada alat yang bisa menerjemahkan pikiran orang dan menunjukkannya di atas kepala masing-masing, pasti akan didapati pernyataan yang sama. Adalah seputar apa yang terjadi pada gadis yang dibopong itu. Juga pasti mereka menyayangkan kejadian tersebut terjadi sehingga menambah kepanikan.
Dengan tangan bergetar, Kinara mengusapkan minyak kayu putih ke hidung Salfa, sambil terus menepuk pelan pipi dan memanggilnya. Beberapa orang rupanya mengesampingkan permintaan untuk tetap di tempat, entah itu wujud kepedulian atau hanya penasaran semata.
"Tolong kasih ruang buat teman saya!!" sentak Kinara pada mereka semua tak peduli dirinya akan dinilai bagaimana. "Sal, ayo bangun, Sal..."
Novan dapat melihat bagaimana pedulinya Kinara pada sahabatnya. Benar-benar sangat care dan tidak ada topeng sama sekali. Ia merasa cukup salut dengan pertemanan yang dijunjung tinggi oleh gadis berkacamata itu.
Pelan-pelan, terdapat perubahan raut muka pada wajah Salfa. Keningnya mengernyit, disusul mata yang mulai terbuka meski tak langsung melebar. Gadis itu mengerjap. "Ra..." lirihnya.
"Ya Tuhan, syukurlah..." ujar Kinara melega, disusul ungkapan kelegaan dari teman-temannya yang lain. "Sal, lo kenapa bisa gini? Ada yang gangguin lo?"
Ketika mulai mendapat kesadaran, Salfa cukup terkejut bahwa dirinya dipangku oleh Genta. Buru-buru ia bangun, masih dengan mengerjap. Setelah sadar sepenuhnya, matanya terbelalak. "Kapalnya? Kapalnya berhenti ya, Ra?!" paniknya setengah mati.
Vin langsung ikut berjongkok, menenangkan Salfa. "Sal, Sal, tenang. Jangan bikin semua orang makin panik," pintanya karena menyadari mereka berenam jadi pusat perhatian.
"Sal, lo belum jawab pertanyaan gue. Siapa yang ganggu lo?" tanya Kinara tak sabar, mengulang kalimatnya sebab merasa masih panik karena Salfa menggenggam tangannya sangat erat nyaris seperti meremas.
"Nggak ada," jawab Salfa singkat, berbohong. Meski memang ada yang menganggunya, tapi alasan ia sampai pingsan adalah murni karena panik. Jangan lupa, Salfa takut dengan laut. Terkunci dalam kamar mandi ketika kapal terkena kendala, terlebih tak ada yang bisa mendengar, siapa yang akan tahan dengan keadaan semacam itu?
"Ini terus gimana, Ra? Kalau kapalnya karam gimana?" lirih Salfa pelan dengan air mata di sudut kelopak.
"Tenang, Sal. Bantuan akan datang kok," sahut Genta yang posisinya dibelakangi oleh Salfa.
Salfa menoleh sesaat, menyadari bahwa tak ada lagi sosok rambut pendek itu di belakang Genta. Ini semua pasti ulahnya. Sosok itu berkata akan menghentikan kapal ini, agar ia dan teman-temannya tidak jadi ke pulau itu. Salfa makin dibuat geram, memangnya kenapa kalau mereka kesana? Apa masalahnya dengan sosok itu? Salfa hanya menggeram tanpa suara dengan satu tangan terkepal menahan kekesalan. Maksud lo apa sih ngelakuin ini?
"Sal, lo serius nggak ada yang ganggu lo? Gue takut banget, Sal. Kita balik aja, yuk?"
Setelah Kinara mengatakan itu, kesemua temannya menyorotnya. Novan langsung merespon. "Udah sampai sini, lho. Yakin mau balik?"
"Emangnya kenapa sih? Kok lo dari tadi tanya ada yang gangguin Salfa atau enggak, emang siapa yang bisa gangguin dia?" sahut Genta yang otaknya masih tak bisa mencerna apa yang terjadi.
"Tapi Kinara ada benarnya," komentar Gopal kemudian. "Sejak kejadian kucing hitam itu, gue terus kepikiran. Lihat sekarang, kapalnya malah berhenti di tengah-tengah laut. Ini udah hal yang nggak lazim."
"Come on lah, Pal. Jangan terlalu serius sama mitos-mitos. Kendala kapal kan hal yang wajar?" balas Novan.
Sementara itu, mata Salfa fokus ke satu arah dimana sosok berambut pendek itu muncul. Tiba-tiba sudah berdiri di jarak yang lumayan dekat dengan mereka semua, sekitar sepuluh meter. Bahkan dari jarak itu, Salfa seperti bisa mendengar sosok itu bicara, semacam telepati.
"Kalau sudah aku buat begini, apa kamu masih akan pergi?"
Kata-kata nenek bungkuk di rumah Gopal kembali terngiang di kepala Salfa. Meski nenek itu seperti berat membiarkannya pergi, namun nenek itu bilang Tuhan sedang menunjukkan jalan. Sesuatu memang benar-benar menunggunya di pulau itu. Sesuatu yang ia belum tahu itu apa. Maka, satu-satunya cara untuk mendapatkan jawabannya, adalah datang kesana.
Setelah menatap tajam ke sosok itu, fokus Salfa beralih, memindai teman-temannya. "Gue pingsan bukan karena gangguan apa-apa. Itu murni karena gue panik soal kapal yang mogok ini. Kita udah sampai sini, guys."
Vin yang sejak tadi diam karena memikirkan tragedi di kapal ini, kini membalas. "Jadi gimana? Kita lanjut?"
Salfa melirik sinis pada sosok rambut pendek itu, kemudian baru ia menjawab. "Lanjut."
●●●●
Halo semuanya, balik lagi sama AWAKENED. Gimana part ini? Seru nggak? Emang sih nggak begitu panjang, tapi semoga feel nya dapat^^
Bagikan cerita ini ke teman dan saudara kalian dong hehe, biar nggak tegang sendirian. Dibagi tegangnya wkwk. Jangan lupa vote dan komen juga^^
Spam komen kalau perlu, biar nggak sider.
Dan terima kasih banyak ya buat kalian yang udah mampir dan membaca cerita ini. Semoga terhibur, dan makin tertarik untuk baca lagi, lagi, dan lagi^^
neiskaindria