AWAKENED

AWAKENED
Prolog



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



"Selama dua puluh satu tahun lo hidup, kapan lo merasa benar-benar hidup?"



Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di kepala dan langsung gadis itu utarakan pada gadis lain di sebelahnya. Yang diajak bicara melirik sekilas, membenarkan posisi kacamata silindernya sambil menyeruput cappuccino kesukaannya. Belum ada jawaban. Hanya angin sore yang memecah kesunyian, mengisyaratkan dua gadis itu agar segera pulang karena sebentar lagi turun hujan.



Ketika beranjak dari bangku pinggir jalan raya hendak menuju ke motor yang terpakir, baru lah gadis berkacamata itu menjawab pertanyaan teman dekatnya. "Emm, waktu lahir ya keluar gitu aja, habis itu gatau lagi gue hidup apa enggak."



"Gue pernah satu kali ngerasa hidup. Setelah masanya selesai, gue kehilangan diri gue sendiri," balas Salfa dengan lemah, mengundang perhatian Kinara yang membuatnya batal mengenakan helm.



Kinara menghela pelan. "Andai gue bisa milih, gue juga nggak pengen ada di dunia ini, Sal. Ribet banget tau nggak. Tapi ya udah lah ya, prinsip gue mah hidup mengalir aja. Ntar juga terlewati semuanya."



Gemuruh terdengar menyuarakan kegagahannya di atas langit abu-abu. Sebuah perasaan menyeruak bersamaan dengan itu. Salfa memegangi dadanya, entah pertanda apa lagi yang ia terima hari ini. Entah sudah untuk keberapa kalinya kegelisahan itu merebak memenuhi benaknya. Gadis itu nampak tertegun, dengan tak memindahkan posisi tangan yang memegang dada itu, ia bersuara.



"Ra, jangan lewat jalan yang tadi kita lewati waktu kesini ya?" pinta Salfa begitu saja tanpa ia tahu darimana asalnya.



Kinara hanya mengerutkan kening, baru saja memasang pengunci helm-nya. "Terus mau lewat mana? Yang dekat kan itu… Lo nggak lihat bentar lagi hujan? Gue nggak mau ya kehujanan!" mulai lah Kinara mengomel, "yang ada ntar gue dimarahin Nyokap, Sal… Nih motor baru aja dicuciin tadi pagi."



Salfa hanya menatap Kinara yang sudah duduk di motor, menyalakannya bersiap untuk tancap gas. "Feeling gue nggak enak, Ra."



Tapi tidak tahu kenapa, Kinara yang selama ini selalu memilih mengalah daripada berdebat, tak mempedulikan Salfa yang wajahnya makin gelisah. Beberapa waktu belakangan, ia memang tidak kaget lagi atau bisa dibilang sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Salfa yang seperti itu. Ia tahu, sahabatnya tersebut memang sedang peka-pekanya terhadap segala sesuatu. Susah untuk menjelaskannya, tapi rasanya, Kinara pun tahu perubahan yang terjadi pada Salfa tak akan berhenti disitu.



Kinara memang tidak banyak tahu tentang hal-hal semacam itu, dimana intuisi semakin tajam, dan indra-indra yang ada semakin terasah. Tapi, ia percaya, bahwa memang ada beberapa orang yang diberikan kelebihan semacam itu oleh Tuhan. Sayangnya, toleransinya saat ini terhadap Salfa tidak bisa bekerja. Ia benar-benar sedang banyak pikiran mengenai tugas kuliahnya, sehingga tidak berminat untuk basa-basi dan ingin segera pulang.



"Udah ayo, ah."



Salfa berdecak, kemudian pasrah saja menyusul duduk di belakang Kinara. "Ati-ati nyetirnya ya."



"Tuh kan, udah gerimis!" balas Kinara yang mulai panik ketika titik-titik air jatuh mengenai punggung tangannya yang sudah berada di stir motor.



Tidak usah tanya, sudah jelas bagaimana perasaan Salfa seketika itu. Makin gugup ketika Kinara mengemudikan motor dengan kecepatan yang lumayan. Sampai di persimpangan jalan, tepat ketika motor berbelok ke kiri, sebuah bayangan terlintas di pikiran Salfa. Seolah, ada layer yang terpasang di kepalanya, dapat dirasakan dengan jelas dari pandangan yang ia lihat.



Salfa mencengkeram jaket Kinara dengan rasa pening luar biasa yang seketika membuat kepalanya terasa berat. "Ra…" lirihnya.



Wajah itu, batin Salfa. Dari jarak sekitar dua puluh meter, ia melihat orang dengan wajah sama seperti bayangan yang barusan terlintas. "RA, STOP!!!"



Teriakan Salfa membuat Kinara terkejut dan membanting stir spontan. Kedua gadis itu terjatuh dari motor, terduduk di tepian jalan. Kening Kinara bahkan membentur trotoar, tapi berkat tangannya yang cekatan menahan, lukanya tidak fatal. Sedangkan Salfa kakinya tertindih motor. Baru saja Kinara hendak berdiri menolong Salfa, tapi suara gubrakan yang keras membuatnya langsung menoleh.



"AAAAAAAAAAA!!!"



Teriakan orang-orang di sekitar mengiringi sebuah motor gede bertabrakan dengan mobil van putih dari arah yang berlawanan, sebelum akhirnya motor tersebut terpental dan menghantam pedangan asongan yang tepat berada di sebelah tabrakan.



Ya, pedangan asongan tersebut. Orang itu. Pemilik wajah itu.



Salfa yang tadi juga ikut berteriak, makin histeris. Hingga kini tidak tahu darimana ia mendapat kekuatan untuk menarik kakinya dari motor. Ia langsung berlari mendekat. Melewati sebuah mobil yang spontan berhenti karena ada kecelakaan di depannya. Melihat pemandangan menyedihkan dengan mata kepalanya sendiri, Salfa terduduk kaku. Kinara yang menyusulnya ikut duduk menenangkan sahabatnya.



"Bapak-bapak itu muncul di kepala gue, Ra! GUE INI KENAPA, RA??!!!" ujar Salfa histeris, tak mempedulikan kebingungan orang-orang yang tengah shock dengan kecelakaan yang terjadi. "APA YANG SALAH DARI DIRI GUE, RA??!!"



Kinara sendiri masih bingung dan tak bisa berkata-kata. Kecelakaan yang terjadi tepat di dekatnya. Andai motornya tetap melaju lima meter saja, pasti dirinya dan Salfa lah yang dihantam motor tersebut. Beberapa detik kemudian, orang-orang mulai membantu mereka, menepi. Seorang pemilik warteg disana memberikan air putih untuk Salfa dan Kinara.



"Neng, syukurlah nggak kenapa-kenapa ya. Saya lihat tadi kalian jatuh duluan tepat sebelum kejadian," ujar ibu-ibu berambut keriting, si pemilik warteg.



Kinara sudah cukup bisa menguasai dirinya. Tapi tidak dengan Salfa. Gadis itu masih tampak shock, persis seperti orang linglung. Kinara hanya bisa memberi pengertian karena tak tahu harus bagaimana. "Sal, tenangin diri lo. Gue tau gue nggak ada di posisi lo tapi setidaknya, please, gue mohon banget… Jangan kehilangan diri lo…"



"Lo nggak akan ngerti, Ra." Hanya itu yang bisa Salfa ucapkan.



Sama sekali tak terbayangkan bagi Kinara bahwa seorang Salfa akan mengucapkan kalimat tersebut. Ia sangat tahu kalau sahabatnya itu tidak suka saat seseorang mengucapkan kalimat barusan. Lo nggak akan ngerti itu bagi Salfa adalah boomerang. Ucapan dari seseorang yang sedang berusaha mengerti dan memahami situasi orang lain, malah dibalas dengan kalimat skakmat macam itu yang seolah menyerang serta menentang pengertian orang lain habis-habisan.



Gerimis kini telah menjadi rintik hujan yang lebat. Mengiringi kepulangan seorang laki-laki yang bekerja untuk menyambung hidup dengan seadanya. Tangan yang patah itu, darah yang mengalir deras dari telinga bersatu bersama air hujan itu, menjadi pemandangan mengerikan untuk setiap orang yang menyaksikan. Doa-doa mulai melayang ke langit yang juga menangis, membersamai teririsnya hati yang melihat kenaasan yang menimpa lelaki renta yang wajahnya sayu itu.



●●●●



Jam bergulir, waktu terus berlanjut. Sejak pukul sebelas malam tadi, Kinara sudah dihebohkan dengan kedatangan dua teman laki-laki di rumahnya. Kinara sendiri sebenarnya tidak yakin, kejutan ulang tahun ini akan membuat sahabatnya senang, mengingat insiden mengerikan yang terjadi sore tadi masih juga terngiang di ingatan.



"Katanya sahabat? Ini sahabat lo mau ultah, nggak semangat banget lo?" celetuk Gopal begitu saja.



"Sok kenal banget lo, Pal!" sahut Vin sambil geleng-geleng, seraya menyalakan sebatang rokok. "Sebat dulu sini mendingan daripada modusin anak orang."



Vin. Vinandi Ahmad Baskoro. Nama depannya adalah alasan mengapa dirinya lebih suka dipanggil 'Vin' saja. Meskipun hampir semua temannya tetap memanggilnya Vina dengan maksud mengejek yang tidak lupa ditambahkan embel-embel 'Mbak' di depannya. Dan pemuda lainnya yang menyusul duduk di sebelahnya saat ini, adalah Naufal Akmalul Hisyam. Gopal adalah nama sapaannya. Namun jangan dibayangkan Gopal disini layaknya karakter dalam kartun Boboiboy. Mereka berbeda.



Gopal sengaja datang lebih awal karena dirinyalah yang diberi mandat oleh Vin untuk menyiapkan kue ulang tahun karena kakak perempuan Gopal punya toko kue yang terkenal seantero Jakarta. Sedangkan Vin dan Kinara menyiapkan segala kebutuhan dekorasi kecil-kecilan untuk dipasang di rumah Salfa nanti. Kini tinggal setengah jam lagi, sehingga mereka memutuskan untuk berangkat ke rumah Salfa saja.



"Baru juga duduk, anying… Dia malah berdiri!" tukas Gopal kesal karena Vin yang tadi menawarkan rokok, begitu disusul duduk malah beranjak. "Nih temen lo kenapa sih, Vin? Kusut banget gitu mukanya gue lihat dari tadi?"



Kinara menyinis. "Siapa juga yang suruh lihat gue?"



"Udah-udah. Lo jangan gangguin dia terus lo, Pal! Abis beneran lo ntar sama gue!" ujar Vin tak mau berlama-lama.



Satu-satunya gadis disitu tertegun sejenak mendengar ucapan Vin. Debar-debar kecil yang menghanyutkan itu kembali. Meski berkali-kali ia sudah bilang pada dirinya sendiri bahwa mereka bersahabat sejak kecil dan hal yang lebih tak akan terjadi, tetap saja disaat tenggelam dalam perasaan seperti sekarang, seseorang akan melupakan apa yang pernah dikatakannya pada diri sendiri.



"Udah ah, ayo," sahut Kinara yang memilih berjalan lebih dulu.



Tak perlu waktu lama karena memang rumah Kinara berjarak lima rumah saja dari rumah Salfa. Ketiga orang itu rupanya telah ditunggu oleh ibunya Salfa, Nilam. Sejak kemarin, Kinara sudah meminta izin sekaligus meminta dibantu. Dengan cekatan, mereka pun menyiapkan dekorasi. Bahkan adik laki-laki Salfa yang kini duduk di bangku SMA juga ikut membantu karena memang belum tidur. Sedangkan sang kepala keluarga yang tak lain adalah ayah Salfa, beristirahat di kamarnya.



Dari sisi lain dinding yang menjadi pemisah antar ruang, seseorang berbaring miring dengan air mata yang berlinang jatuh membasahi bantalnya. Mendengarkan sayup-sayup suara orang-orang di ruang tamu. Ia melirik jam dinding berbentuk segi empat di atas pintu kamar, kemudian beranjak seraya mengusap air mata dan merapikan rambut keritingnya.




"Yahh, nggak jadi kejutan, njir!” gerutu Gopal dengan volume suara yang mengundang tangan Vin untuk membekapnya.



"Dirumah ini ada yang tidur, Nyet!" geram Vin. "Suara lo bisa nggak, nggak usah kayak emak-emak kos-kosan?"



Semuanya saling pandang tanpa perkataan dengan isi kepala masing-masing entah itu menyayangkan Salfa datang ke ruang tamu sebelum dibangunkan, ataupun karena ekspresi gadis itu yang aneh dan tak terdefinisikan. Jam besar di ruang tamu tersebut kemudian berdenting meski tak begitu nyaring. Hari telah berganti. Nilam seketika itu langsung melangkah mendekati anak sulungnya.



Salfa hanya menatap datar pada ibunya. Sudah tidak perlu ditebak lagi apa yang akan dikatakan.



"Selamat ulang tahun. Sekarang sudah dua puluh satu tahun. Semoga usia kamu membawa keberkahan ya, Kak," ujar Nilam dan memeluk Salfa sebentar.



"Selamat ulang tahun, Kak," sambung Wira, adiknya.



Kinara menyerahkan kue ulang tahun ke Vin karena merasa ada yang tidak beres dengan Salfa. Vin pun tanpa berpikir aneh-aneh langsung menerima saja kue tart cokelat itu. "Happy birthday, Sal. Cepean berdoa, kita aminin," ujarnya.



Melihat Salfa yang masih diam, membuat Nilam merasa bahwa mungkin putrinya tidak bisa bebas berekspresi ketika ada dirinya. "Ya udah, ini sih sebenarnya urusan anak muda ya. Tante mah mau balik ke kamar aja," ujarnya kemudian melanjutkan kalimatnya kepada Salfa, "nanti kalau teman-teman pulang jangan lupa di kunci pintunya ya, Kak?"



"Sisain kue tart-nya buat gue, Kak…!" ujar Wira ketika sudah hampir masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Salfa.



Kini, menyisakan empat orang yang kikuk karena tak ada kata perbincangan sama sekali.



"Ayo, Sal, berdoa!" sahut Gopal kemudian memulai percakapan. "Ntar kalau kelamaan gue yang doain lho, pakai surat yasiin. Mau?"



"Hus! Mulut apa mercon tahun baru sih? Asal nyeploooos aja!" sahut Kinara. Perhatian gadis itu kemudian beralih ke Salfa yang masih diam. Mata mereka bertemu, dan sepertinya, Kinara tahu maksud tatapan dingin itu.



"Siapa yang suruh ngerayain ini?" tanya Salfa ketus dan menusuk. Suaranya bergetar. Sebenarnya bukan karena pikirannya sedang kacau soal tadi sore. Ia sudah bisa menguasai dirinya lagi. Tapi ini, soal hal lain. Hal yang hanya Kinara yang tahu. Alasan mengapa seorang Salfania Adistha sangat membenci ulang tahun.



"Tolong kalian pulang," sambung Salfa lagi yang sesaat kemudian berbalik namun tangannya ditahan oleh Vin. "Lepasin! Pulang sekarang. Nggak ada yang perlu dirayain!"



Dan begitulah akhirnya perayaan yang gagal sedari awal itu berakhir. Tanpa pikir panjang, Salfa langsung saja masuk ke kamar. Bahkan tak mengindahkan apa yang ibunya bilang, untuk mengunci pintu jika sudah selesai. Namun bagaimana mau mengunci pintu? Ruang tamu itu saja masih menyisakan tatapan saling pandang dari satu orang ke yang lainnya.



Kinara menghela pelan. "Gue udah bilang dari awal kalian punya ide ini. Salfa nggak akan mau nerima," ujarnya sambil mengusap wajah.



"Udah tiga kali ulang tahun, Ra. Gue pikir dia nggak akan gitu lagi. Dia tuh kenapa sih?" balas Vin yang tak bisa lagi menahan kekesalannya.



Sementara, untuk pertama kalinya, seorang Gopal menunjukkan tanda-tanda kewarasan. "Ssttt! Tadi nyuruh gue buat nggak bicara keras-keras. Udah-udah, ini yang punya rumah pada istirahat. Udah balik aja deh ke rumah Kinara, yuk. Jangan bicarain disini."



●●●●



Udara dingin menembus masuk, ikut menyeruak ke dalam dada Salfa dini hari ini. Sudah pukul dua, tapi ia masih juga belum memejamkan matanya. Banyak sekali yang ia pikirkan, termasuk perasaan yang sudah tidak asing lagi ia rasa. Ya, merasakan kamarnya penuh sesak, seolah sekumpulan massa tengah memadati ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut.



"Gue tau kalian ada disini walaupun gue cuma bisa ngerasain. Tapi tolong, pergi. Kali ini aja. Gue pengen sendiri," ujar Salfa dengan mata sembab karena banyak menangis.



Sudah tidak aneh bagi sebagian orang untuk menangisi apapun yang terjadi di dunia ini. Satu hal saja bisa membawa hal-hal lain yang sudah terlewat untuk kembali ke masa sekarang. Penyesalan, kegagalan, kehilangan, semuanya. Tidak ada yang benar-benar mengerti bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Lihat saja, dunia yang tak pernah lepas dari masalah ini, tetap mereka hadapi sehari-harinya. Belajar, bekerja, bersosial. Semuanya tetap dijalankan tak peduli seberapa berat rasa sakit yang mereka pegang.



Semuanya hanya untuk satu hal. Kebahagian. Satu kata yang berarti macam-macam dari berbagai sudut pandang. Ada yang bahagianya seseorang adalah kekayaan. Ada pula yang bahagianya adalah kedamaian hati meskipun hidupnya serba kekurangan. Ada juga yang bahagianya tentang cinta dan rasa memiliki. Ada yang bahagianya berupa koneksi khusus dengan Yang Maha Kuasa. Takaran kebahagiaan berbeda pada setiap orang. Dan bagi Salfa, kebahagiaannya sudah hilang. Kebahagian bagi Salfa adalah, kepercayaan.



Tok tok tok…



Suara ketukan mengejutkan gadis yang tengah menopang dagu di meja belajarnya itu. Ketika ia menoleh, tak ada suara lagi. Semua hening. Untuk beberapa saat, hanya angin malam yang terdengar di telinga Salfa. Sadar bahwa kamarnya tak lagi penuh sesak, gadis itu berdiri tepat di tengah-tengah ruangan. Memutar tubuhnya ke arah mana saja, merasakan lagi bahwa memang benar kehampaan itu nyata. Kemana mereka yang tidak bisa aku lihat? Kemana perginya?



Tok tok tok…



Lagi, perhatian Salfa teralih ke sumber suara: jendela kamarnya. Sedetik kemudian seperti terdengar batu yang dilemparkan ke titik yang sama hingga hampir membuatnya menjerit. "S-siapa disana?"



"Saya…"



DEG! Demi apapun, suara ringkih nan lemah itu menyahut dan seketika membuat bulu di belakang leher dan tangan Salfa berdiri. Gadis itu menutup mulutnya dengan satu telapak tangan karena nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Itu bukan suara ayahnya, bukan pula suara kakeknya, atau adik laki-lakinya. Suara itu, adalah suara asing yang belum pernah ia dengar.



Butuh waktu bagi Salfa untuk mengumpulkan keberanian hingga mendekat ke jendela kamarnya seperti sekarang. Pelan-pelan, ia membukanya. Seolah bersiap atas segala konsekuensi yang akan terjadi.



Lagi, gadis itu membuka mulutnya lebar-lebar karena seorang bapak-bapak berdiri tepat di hadapannya. "B-bapak siapa? K-kenapa ada di rumah saya?" tanya Salfa terbata-bata.



"Tolong saya…" ucap bapak yang sama sekali tak di kenal Salfa tersebut. "Beri tahu keluarga saya…"



"B-beritahu apa? Bapak siapa?!" balas Salfa kali ini dengan nada yang sedikit meninggi karena tidak tahu lagi apa yang terjadi dan siapa orang dengan kaos hijau sederhana itu. Bapak-bapak itu, bisa dibilang sudah berumur, rambutnya nyaris putih secara keseluruhan.



Karena takut bahwa itu adalah orang yang akan macam-macam di rumahnya, Salfa segera berinisiatif menutup jendela. "Maaf, Pak. Bapak bikin saya takut," jujur Salfa kemudian menutup jendela kayu yang punya dua daun tersebut. Menguncinya rapat-rapat dan teliti.



Tepat ketika membalikkan badan dan berjalan satu langkah, sebuah ingatan seolah kembali ke dalam kepalanya. Wajah yang sama sekali tidak ia pikir bahwa pernah ia lihat, mendadak jadi wajah yang tak asing. Iya, sekarang Salfa mengingatnya. Tapi justru itu membuat dadanya seolah ditekan hingga tubuhnya melemah dan nyaris ambruk ke lantai. Ia berpegangan pada meja belajar yang tepat berada di sebelah jendela.



Mata Salfa sempat memejam merasakan rasa kaget yang luar biasa. Dengan di dorong tekad yang bulat untuk memastikan apa yang ia ingat, dengan cekatan gadis itu kembali berbalik dan segera membuka jendela. Ternyata bapak-bapak itu masih ada disana, tersenyum. Namun, wajah laki-laki renta itu berubah pucat, dan lama-kelamaan menjadi putih. Di susul darah yang tiba-tiba mengucur deras dari pelipis dan hidungnya. Kemudian salah satu tangannya membengkok dan berayun-ayun dari pangkal siku.



Tidak salah lagi. Itu korban kecelakaan tadi sore. Si bapak yang seharian kemarin menggentayangi pikirannya. Si pedagang asongan yang naas itu.



"AAAAAAAAAAAAA…!!!!"



●●●●



Halo semuanya, selamat siang, selamat beraktivitas! Semoga prolog ini sudah bisa menarik perhatian dan minat kalian ya. Hari ini akan diposting dua part sekaligus, karena masih awal hehe^^



So, jangan ketinggalan kelanjutannya ya. Tambahkan AWAKENED ke reading list kalian biar selalu dapat notifikasi. Komen dong biar nggak sider^^



Votenya selalu ditunggu. Bagikan juga AWAKENED ke teman/sahabat/keluarga untuk ikut merasakan sensasi horror yang relate sama kehidupan sehari-hari juga. See you^^



neiskaindria