
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Bersama dengan Si Mbah yang tak berkenan memberitahukan namanya tersebut, tiga anak muda itu kembali ke rumah tua yang mereka tinggalkan. Bahkan, untuk sekadar memikirkan Novan apalagi Gopal rasanya tak sempat. Memang kedengarannya jahat, namun otak ketiganya sudah terlanjur larut dalam emosi atas ketidaksadaran mereka mengenai semua yang terjadi. Mereka telah lengah.
Terburu-buru, Genta mengawali masuk dan ketika menoleh ke belakang, rupanya Si Mbah masih diam di ruang tamu mengamati ke setiap sisi. Genta mengernyit, tak tahu apalagi yang harus ditunggu sementara jeritan-jeritan dari dalam sana sudah tidak tahan untuk didengarkan lebih lama.
"Nunggu apa, Mbah?" tanya Vin yang menyadari tatapan penuh tanya dari temannya sehingga ia mewakili untuk bertanya.
Si Mbah matanya masih mengeliling kemana-mana. "Memang handal dia. Bahkan seisi rumah ini telah dikerangkeng olehnya agar tak mengganggu rencananya."
Kinara sungguh ingin menangis. 'Dia' yang dimaksud oleh Si Mbah sudah tentu adalah Widji, ayahnya. Namun gadis itu juga sadar, tidak saatnya untuk menangis sekarang. Bukan waktu yang tepat untuk menjadi lemah saat ini. Ia harus tetap kuat apapun yang terjadi. Dua temannya tengah mempertaruhkan nyawa. Dalam hati, ia hanya bersumpah. Tak akan pernah memaafkan Widji seumur hidupnya. Menurutnya, itu adalah bentuk hukuman atas semua yang telah Widji lakukan.
Si Mbah terlihat komat-kamit, seperti merapalkan sesuatu yang Genta dan Vin serta Kinara sama sekali tidak tahu. Si Mbah keluar dari rumah lagi, membuat mereka mau tak mau jadi mengikuti. Mengesampingkan dulu suara Salfa yang menjerit-jerit dibarengi gubrakan dari barang-barang yang seperti dibanting.
Tangan Si Mbah naik satu ke atas. Awalnya terbuka, namun pelan-pelan berubah menjadi kepalan. Sebelum kemudian beliau membungkuk dan berjongkok dengan kepalan itu yang ditumbukkan ke tanah. Tangan Si Mbah kembali terbuka, mengais tanah disana kemudian membawanya masuk. Genta, Vin, dan Kinara masuk lagi. Dilihatnya Si Mbah membuang sedikit demi sedikit pasir tersebut ke hampir setiap penjuru rumah, tetap dengan mulut yang membaca doa.
"Dia sudah dibawa ke alam lain," ujar Si Mbah ketika berhenti di depan pintu kamar yang penuh dengan papan tersebut.
Vin mengernyit ketika menyadari pintu tersebut sampai nyaris retak. Melihat itu saja hatinya sudah tidak tenang membayangkan bagaimana keadaan Salfa di dalam sana. Ia melirik Genta yang kelihatan sayu. Satu tangan pemuda itu bertumpu di dinding. Vin tahu Genta sangat takut bukan main, mencemaskan Salfa.
"Mbah tau dari mana kalau dia dibawa ke alam lain?" tanya Vin kemudian, karena jujur, ia masih susah menerima pernyataan tersebut. Terlebih ketika melihat Genta diam tanpa sepatah katapun seperti sekarang. "Mbah kan belum lihat langsung?"
"Tuhan memang bermurah hati pada saya," balas Si Mbah yang Kinara mengerti apa maksudnya. Ada unsur penekanan disana menurutnya, mungkin karena Si Mbah merasa telah diremehkan.
"Eh, Vin. Lo apaan sih?" bisik Kinara kemudian berpindah menatap Si Mbah. "Saya percaya Anda, Mbah. Tolong bantu sahabat saya, atau nanti saya nggak akan memaafkan diri saya sendiri. Kalau dia kenapa-napa gimana saya akan kasih tau ibunya? Gimana saya akan jelasin ke ayahnya?"
Melihat gadis berkacamata itu memohon dengan amat tulus, membuat Si Mbah merasa makin tidak tega untuk mengatakannya. Namun, tiga orang ini berhak tahu bagaimanapun juga.
"Begini, Nduk…" ujar Si Mbah mengawali penjelasan. FYI, 'Nduk' adalah panggilan untuk anak perempuan, sama dengan 'Le' yang adalah panggilan untuk anak laki-laki dalam Jawa.
"Bahkan santet ini bukan hanya ditujukan ke gadis di dalam sana, tapi juga pada ayahnya. Sekarang, ayahnya sendiri sedang dibawa pergi jauh, dan nyaris tidak mungkin untuk kembali," lanjut Si Mbah. "Sementara gadis itu, karena masih bisa mengontrol untuk tak dibawa terlalu jauh, dia meloloskan diri dan terjebak di suatu tempat yang masih bisa dijangkau."
Genta yang sejak tadi menunduk, mengangkat kembali kepalanya. Ia berjalan mendekat ke Si Mbah dengan tatapan tak terdefinisikan yang Si Mbah sangat paham apa maksudnya. Andai saja tidak begitu kenyataannya, namun sayang sekali, Si Mbah mengatakan yang sebernarnya. Memberitahukan apa yang ia tahu.
"Tugas saya sekarang, hanya membawa dia kembali. Kemudian baru lah kalian bisa segera kembali Jakarta, karena ayah gadis itu membutuhkan putrinya," jelas Si Mbah lagi. "Gadis di dalam ini, mata batinnya terbuka. Saya benar, kan?"
Tiga anak muda itu kemudian mengangguk dengan serempak. Itu membuat Si Mbah mengangguk singkat. Memang Si Mbah merasa bahwa ayah gadis itu sepertinya sengaja menyerahkan dirinya, namun lagi-lagi disayangkan, bahwa si pengirim santet adalah orang serakah yang tak menepati janjinya.
"Ayahmu itu, mendatangi ayah temanmu. Bukan secara langsung, namun lewat mimpinya. Ayahmu sudah memperingatkan bahwa dia akan menghancurkan ayah temanmu, dengan mencelakai putrinya. Itu lah sebabnya, si ayah menawarkan diri untuk menggantikan temanmu, dengan menyerahkan raganya secara sukarela untuk jin yang bersekutu dengan ayahmu… Namun, ayahmu tetap tidak mau melepaskan temanmu..."
Kinara langsung menggeleng, air matanya sudah meluncur lancar di pipi. "Dia bukan ayah saya, Mbah…" lirihnya kemudian menyeka air mata, berusaha untuk meredam kesedihannya.
Vin yang melihat itu tidak tega, dan langsung mengambil Kinara ke dalam dekapannya. Menyumbangkan sisa-sisa kekuatannya untuk gadis yang ia sayang lebih daripada sahabat. "Gue tau lo nggak sama kayak dia, Ra."
Segera Kinara melepaskan pelukan Vin, tak ingin lebih terhanyut lagi karena ini bukan saatnya untuk fokus menguatkan dirinya sendiri. Salfa lebih penting, dan itu sudah pasti. "Kita harus gimana sekarang, Mbah?" tanyanya kemudian.
"Setelah pintu terbuka, kalian berdua, langsung pegangi dia dan tali dia di kursi untuk membatasi geraknya. Tapi yang terpenting, saya butuh satu orang yang akan menjemputnya ke dimensi lain," kata Si Mbah.
"Memang, Mbah nggak bisa?" tanya Vin kemudian.
"Saya harus jaga portal."
Si Mbah tampak menghela pelan. "Tapi, nggak sembarang orang bisa pergi kesana. Hanya orang yang mata batinnya terbuka lah yang bisa," lanjut beliau lagi.
Genta, Vin, dan Kinara saling pandang. Meskipun Si Mbah tidak mengatakan secara langsung, namun mereka sama-sama mengerti. Karena tak ada orang disini yang bisa membantu mereka, maka sudah tentu yang dimintai tolong adalah mereka sendiri. Salah satu dari mereka harus bersedia di buka mata batinnya.
"Saya saja, Mbah," balas Kinara dengan mantap. "Dengan ini, biarkan saya menebus apa yang orang itu lakuin ke Salfa."
"Nggak!" tolak Genta cepat. Ia maju ke Kinara, menatapnya tajam, namun kemudian berubah melunak. "Lo nggak perlu buktiin apa-apa lagi. Gue percaya lo orang baik. Lo nggak kayak Bokap lo. Biar ini jadi tanggung jawab gue, Ra."
Si Mbah tersenyum tipis karena salut. Terlebih, memang itu yang beliau harapkan. Ada sesuatu yang lain yang memang harus Genta lihat dan ketahui. Dan jalannya hanya melalui ini. Si Mbah sebenarnya hanya bertindak sebagai perantara sekaligus mencoba menolong sebisanya.
"Siapapun yang menjemput kesana tidak akan bisa kembali pulang, kecuali dia ditemani oleh entitas yang sama dengan mereka. Yang bukan manusia," ujar Si Mbah lagi.
Itu tentu membuat Vin bergidik ngeri namun bagaimanapun juga ia tahu ia tak akan bisa mencegah Genta. Apalagi sahabatnya juga sedang membutuhkan pertolongan. Lihat saja bantingan-bantingan dari dalam kamar, terdengar sangat mencekam di malam yang dingin ini. Vin rasanya ingin memejam, kemudian ketika membuka mata lagi, semuanya sudah selesai. Tapi itu hanya andai-andai, tentu saja.
"Berarti selain mata batin saya harus dibuka, saya juga harus ditemani satu dari mereka?" tanya Genta memastikan pendengarannya benar.
Si Mbah mengangguk. Kemudian dimulai lah semuanya. Prosesi dibukanya mata batin Genta, segera dilakukan. Si Mbah meminta Genta menelungkupkan kedua tangannya di dada secara bersilang dan memejamkan mata. Beliau menutupnya dengan kain hitam panjang yang sudah dibawa dari rumahnya. Si Mbah mendekatkan satu tangannya tepat di antara alis pemuda itu.
"Satu hal lagi…" ujar Si Mbah mengawali. "Apa yang sudah dibuka tidak akan bisa ditutup lagi. Kamu akan melihat segalanya, dan itu berlaku selamanya. Kamu juga akan merasakan kehadiran mereka, mencium aroma mereka, serta mendengar suara mereka. Bisa setiap saat, di setiap tempat… Apa kamu siap?"
"SIAP," jawab Genta mantap. Sudah tidak lagi ia pakai logikanya karena ia sudah siap terhadap segala sesuatu setelah ini. Ia tak mau tahu, ia harus menolong Salfa dan membawa gadis itu kembali.
Si Mbah mengangguk, puas dengan jawaban Genta. Beliau kemudian memejam, merapalkan sesuatu untuk dapat membuka mata ketiga pemuda tersebut. Sementara Genta, merasakan seperti ada sebuah cahaya putih yang amat terang, yang kemudian berubah menjadi cahaya berwarna lembayung muda sebelum kemudian ia merasakan ada yang lain di dirinya, yang ia tidak tahu apa.
Mereka semua, banyak. Banyak sekali. Persis seperti apa yang Salfa bilang tempo hari bahwa disini ramai layaknya pasar malam. Namun tatapan semuanya seperti biasa saja, tenang. Ia bahkan tak terasa terintimidasi di tempat ia berdiri saat ini. Pemuda itu menoleh ke Si Mbah.
"Inilah pemandangan yang akan kamu lihat mulai sekarang," ujar Si Mbah, mengerti maksud tatapan Genta.
Kinara berjengit mendengar itu. Berarti, di sekitarnya banyak. Tanpa sadar tangannya sudah terkait dengan tangan Vin karena merasa merinding mendadak. Vin yang tahu, segera menenangkannya.
"Siapa dari mereka yang akan membantu saya, Mbah?" tanya Genta.
"Ada."
Hanya itu jawaban dari Si Mbah. Beliau tak ingin menjawab apa-apa karena Genta akan lebih baik tahu sendiri. Memang mendadak rumah ini jadi ada isinya lagi adalah karena tadi, Si Mbah telah mengeluarkan mereka semua dari kerangkeng dengan kemampuannya. Meski sudah sangat tua, beliau masih punya cukup kekuatan untuk itu.
"Siapa?" tanya Genta lagi. Matanya sudah memindai satu per satu dengan keberanian yang berasal dari tekat kuatnya untuk menjemput gadis yang ia sayangi. "Yang mana?"
"Masuk saja dulu ke portal, nanti kamu bisa ketemu dia," jawab Si Mbah dengan nada yang seolah tak ingin dilempari pertanyaan lagi.
Pelan-pelan, kayu-kayu yang dipaku rapat tersebut dilepas oleh Genta dan Vin. Barangkali, karena mendengarkan suara-suara dari luar yang merupakan kayu-kayu yang dibanting, Salfa yang sejak tadi sibuk menggaruk-garuk lantai, menoleh.
Wajah gadis itu berubah sungguh mengerikan. Rambutnya berantakan, dengan banyak darah karena sosok yang merasukinya membuat gerakan-gerakan yang menyebabkan gadis itu terluka. Ia memanjat tembok, membanting apa saja yang ia ingin, juga berteriak menantang siapa saja.
Sekarang, sosok yang merasuki Salfa tersebut tengah menunggu tepat di depan pintu. "KALIAN MAU MENGELUARKAN AKU, HA?" teriaknya dari dalam dengan suara menggelegar, mengagetkan tiga orang yang berada di luar.
"Jangan takut, kita jauh lebih kuat dari mereka," ujar Si Mbah memperingati. "Selama saya disini, saya akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian. Apalagi para penunggu rumah ini yang sesaat tadi saya bebaskan, mereka ingin membantu. Karena, sejak awal mereka bukannya tidak suka dengan kalian, tapi pada apa yang mengikuti kalian."
"GADIS INI TIDAK BISA KEMBALI! JANGAN TERLALU BERHARAP BISA MEMBAWANYA, HAHAHAHAHAHA!"
"TUBUH INI AKAN JADI MILIKKU!! TUANKU SENDIRI YANG MEMBERIKANNYA!! KALIAN PIKIR KALIAN SIAPA, HA?"
"MANA MAMPU KALIAN MELAWAN AKUUU?!!!"
Si Mbah mencari ancang-ancang. Tatapnya seperti memasang hitungan agar dua pemuda itu bersiap melesat cepat dan mencekal gadis yang tengah kerasukan tersebut.
"Ketika saya buka pintunya, langsung pegangi."
"Siap, Mbah."
Kinara telah diminta menjauh, dan gadis itu menurut. Mundur beberapa langkah dari tempatnya semula, dengan debar-debar luar biasa yang seumur-umur baru kali ini terasa sangat ngeri. Ia hanya bisa berdoa, semoga semuanya baik-baik saja. Semoga dengan dibukanya mata ketiga Genta, pemuda itu benar-benar berhasil menolong Salfa.
Pintu dibuka. Sesuai apa yang Si Mbah bilang, Genta dan Vin segera melompat cepat, bahkan tak memberikan kesempatan Salfa untuk melawan. Gadis itu jelas langsung meronta meminta dilepaskan dengan suara nyaringnya yang memekakkan telinga.
"LEPAAAASSS!! BERANI-BERANINYA KALIAN!!"
"Jangan ada yang lihat matanya!" tegur Si Mbah dengan tegas kemudian menarik kursi yang tadi dibawa dari ruang tamu, masuk ke kamar.
Di dalam situ sudah berantakan. Sangat berantakan. Seluruh barang yang ada disana porak-poranda seperti sebuah kota yang diterjang tornado. Vin sampai geleng-geleng dibuatnya. Ia dengan tenaga penuh mendudukkan Salfa sementara Genta langsung menalinya menggunakan tali yang mereka temukan di dapur. Tangan, kaki, dan tubuh Salfa dililit tali, menyebabkannya tak bisa bebas bergerak dan makin marah.
Sungguh demi apapun, Genta tidak tega melihat keadaan Salfa yang seperti itu. Sekarang, dia hanya ingin segera menjemputnya dan membawa gadis itu pulang. Ya Tuhan, bantu aku.
Ritual pun dimulai. Genta diminta duduk di bawah, bersila. Dengan mata yang terpejam tentunya. Si Mbah juga memegangi tangan Genta, karena memang itu caranya. Merapalkan doa lagi, Si Mbah yang memejam membantu Genta menembus dimensi. Hal demikian kini populer dengan sebutan Astral Projection.
"Buka mata kamu," ujar Si Mbah pada Genta.
Pemuda itu pun membuka matanya. Merasa aneh karena hawa maupun aura yang terpancar dari rumah itu jauh berbeda. Pemuda itu kemudian bangun, dan betapa terkejutnya ia ketika bisa melihat dirinya sendiri, tengah duduk bersila dengan mata yang masih terpejam. Disana ada Si Mbah juga, namun tetap duduk, menatapnya.
"Saya akan menunggu kamu disini. Temukan gadis itu," kata Si Mbah.
Genta mengangguk, namun kemudian memindai kemana-mana, tak tahu kemana harus melangkahkan kakinya. Ia menatap penuh tanya pada Si Mbah, namun tatapan beliau yang seperti tertuju pada satu titik, membuatnya spontan menoleh.
Entah, sepertinya Genta salah lihat. Namun setelah memicingkan mata dan melihat seorang gadis berambut pendek itu semakin mendekat, ia merasa kaget. Kenapa gadis tersebut bisa disini? Bukankah ia sedang ada di dimensi lain?
Mata Genta berubah mengerjap, menoleh ke Si Mbah lagi, namun beliau hanya menatapnya tenang. Sukar dijabarkan arti dari cara Si Mbah memandangnya saat ini. Pemuda itu lantas berbalik, mendekat ke si gadis.
"Diandra? Kok kamu disini?”
●●●●
Ada yang bisa nebak nggak siapa Diandra ini? Gimana, suka nggak? Semoga terhibur ya. Makasih udah baca AWAKENED!
Jangan jadi sider dong. Ayo vote dan komentar yang banyak. Dukung cerita ini dengan itu semua. Bagikan juga ke teman dan keluarga biar lebih banyak yang baca, kalau memang kalian menyukainya^^
Tetap ikuti kelanjutannya, ya. Makin seru dan mencekam wkwk. Sampai jumpa di part selanjutnya, teman-teman!
neiskaindria