
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
"Lo tau, Ra? Apa yang pernah dia bilang ke gue tentang ulang tahun?" Salfa tak menatap lawan bicaranya. Pandangannya hanya lurus ke depan, menatap hamparan sawah dengan langit biru sepanjang mata memandang. Pagi yang indah, namun percakapan ini sepertinya akan sangat tak menyenangkan.
"Gue sangat tidak suka ulang tahun, katanya," lanjut Salfa kemudian menghela pelan. "Karena ulang tahun menurut dia adalah peringatan kalau seseorang makin dekat sama ajal, sedangkan orang itu masih jadi pribadi yang gitu-gitu aja."
Kinara sebenarnya tidak tahan mendengarkan Salfa mengoceh dengan sia-sia seperti sekarang. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia juga merasa kasihan pada sahabatnya. Hari-hari berat bagi Salfa telah ia saksikan dengan nyata. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia memilih jadi pendengar. Terlebih, kuliah di jurusan psikologi membuat Kinara tahu cara mainnya. Ketimbang menyerang dan menyudutkan Salfa, ia memilih untuk diam dan mendengar. Atau sahabat terdekatnya itu akan makin merasa terluka.
"Dia nggak pernah ngucapin selamat ulang tahun ke orang yang dia sayang, Ra. Katanya itu sama aja kayak ngejek diri dia sendiri, karena ketika orang yang dia sayang bertambah umurnya, dia sama sadarnya kalau lebih dekat untuk kehilangan orang itu," sambung Salfa lagi masih tak berhenti. "Dia nggak pernah ngucapin, tapi-"
"Tapi dia nggak keberatan untuk ikut ngerayain, kan?" sambar Kinara bagai petir, suaranya menggeram, "karena bagi diaaaa... Perayaan itu nggak lebih dari ungkapan rasa syukur, karena seseorang udah dilahirkan ke bumi, iya kan?"
Kinara memang sudah hafal di luar kepala soal apa yang diceritakan Salfa. Tapi demi apapun, kali ini ia sudah jenuh. Sahabatnya masih juga belum bisa melupakan 'dia' yang mereka sebut-sebut.
"Itu sebabnya kan, lo nolak perayaan ulang tahun lo untuk ketiga kalinya? Karena lo nggak mau menoleransi hal yang dia setujui?!" ketus Kinara yang sudah lelah. "Mau sampai kapan lo gini, ha? Gue sedih lihat lo gini, Sal, demi Tuhan. Ingat, berkali-kali gue bilang. Bahagia jalurnya bisa dari mana aja, bukan cuman dari dia."
Salfa diam seribu bahasa setelah apa yang Kinara bilang. Ia sendiri juga paham, pasti gadis di sebelahnya itu juga sudah sangat lelah. Salfa merutuki dirinya sendiri dalam hati, tidak tahu darimana asalnya ia menceritakan cerita itu lagi, setelah lama sekali ia tak membuka perbincangan soal satu orang itu.
"Udah deh, Sal. Daripada lo makin ngelantur kemana-mana, akan lebih baik kalau lo balik ke rumah sekarang, ikut Bokap sama Nyokap lo ke kenalan mereka yang bisa bantuin masalah lo. Gue aja yang cuman dengerin apa yang lo bilang dini hari tadi, tiap ingat masih merinding. Ini sekarang apa? Lo malah bahas dia, nggak guna, Sal, please!"
"Gue udah bilang kan, Ra. Gue sama sekali nggak tau kalau Bokap gue punya kenalan orang pinter. Dan gue sama sekali nggak percaya sama orang itu!" balas Salfa ketus kemudian beranjak dan berjalan lebih jauh ke sawah.
Kinara yang geram segera menyusul. "Lo bukan nggak percaya sama tuh orang. Lo tuh nggak percayanya sama Bokap lo!" sungutnya setengah berteriak karena Salfa berada sudah cukup jauh. "Cepet amat tuh anak jalannya. Nggak takut kepeleset apa, becek gini! Sal, Tunggu! Sal?"
Tak menghiraukan panggilan Kinara, Salfa terus saja berjalan menyusuri batas sawah. Tak tahu juga darimana asalnya, dari arah yang tidak ia duga, seorang anak kecil menabraknya, membuatnya memegangi pinggangnya yang nyeri. "Aduh, hati-hati dong, Dek. Jangan lari-larian disini nanti jatuh."
Anak laki-laki itu hanya tersenyum kemudian kembali berlari meninggalkan Salfa dan gadis itu membiarkannya. Hanya membatin, itu anak siapa, bagaimana bisa ada di sawah seluas ini sendirian, sedari tadi ia tak melihat ada siapapun. Lalu kemana orang tua anak itu.
Sementara di belakang, dada Kinara berdebar tak karuan karena merasa aneh dengan apa yang ia lihat. Ia melihat Salfa di depan sana bicara sendirian sambil menunduk. Segera ia menyusul. Baru saja hendak melemparkan pertanyaan, Salfa malah menyergah.
"Ngapain sih ngikutin gue?!"
"S-Sal..."
"Apa lagi? Masih mau bahas soal Bokap gue? Ra, dengar ya, gue udah terlanjur nggak bisa percaya sama dia termasuk untuk masalah yang satu ini."
Seperti mendapatkan pengalihan isu, Kinara pun terpancing untuk menanggapi. "Lo nggak bisa terus-terusan benci sama Bokap lo atas apa yang udah terjadi di masa lalu, Sal! Itu nggak adil buat dia!"
Kaki Salfa maju selangkah, gadis itu sedikit mengangkat dagunya. "Emangnya lo nggak benci sama Bokap lo? Ninggalin lo, Nyokap lo, dan adik-adik lo. Itu juga terjadi di masa lalu, tapi apa lo nggak benci?" tanya Salfa dengan intonasi yang mengintimidasi. "Apa tiap kali lo ketemu sama Bokap lo, rasa sakitnya nggak terasa lagi, Ra, ha?"
Kinara tertegun bukan main dengan apa yang dikatakan Salfa. Seakan-akan sahabatnya sendiri mengorek luka lamanya. Setelah beberapa saat diam, ia pun buka suara. "Situasi kita beda, Sal. Orang tua gue udah cerai. Sedangkan orang tua lo enggak! Keluarga lo masih bisa diperbaiki. Lihat aja sekarang, Bokap lo udah jadi orang yang jauh lebih baik. Apa lagi yang lo mau???"
Air mata itu setetes demi setetes membasahi pipi Salfa. Bodohnya dia. Mengapa ia tak bisa menahan lidahnya. Pasti sakit diingatkan pada luka yang tak bisa diobati. Tentu menyedihkan melihat keluarga yang tak bisa lagi dipertahankan. Barangkali dirinya dan Kinara bisa bersahabat bukan hanya karena mereka adalah teman main sejak kecil, tapi kehidupan keluarga yang nyaris sama berantakannya, membuat mereka bisa tetap selalu saling menguatkan satu sama lain.
"M-maafin gue, Ra. Gue ngingetin lo sama luka lama lo. G-gue..."
Satu tangan Kinara mengusap bahu Salfa. "Bokap lo emang pernah ngelakuin kesalahan, Sal. Gue tau lo nggak bisa maafin dia karena nggak terima atas sakit hati yang Nyokap lo rasain waktu suaminya punya wanita simpanan. Tapi lihat, dia berusaha perbaikin semua itu."
"Nggak, Ra. Dia nggak perbaikin apapun."
"Itu karena lo yang nggak bisa lihat semua itu... Please, kali ini percaya aja sama dia. Siapa lagi yang bisa bantu lo, Sal?"
Dalam diamnya, Salfa membenarkan apa yang Kinara katakan. Mungkin kali ini memang itu yang harus dilakukan. Ia sadar keras kepalanya tak akan dapat membantu. "Oke, I'll go. Tapi gue mau lo ikut."
●●●●
Rumah dengan nuansa tradisional itu tampak remang-remang cahayanya. Pohon-pohon rindang di sekeliling rumah membuat cahaya matahari susah menembus masuk. Dody, ayah Salfa, telah menjelaskan semuanya pada Pak Aji, teman orang tuanya ketika di Mojokerto dulu. Pak Aji pindah ke Jakarta delapan bulan lalu ketika memulai bisnis rumah makan disini. Laki-laki yang sudah lumayan berumur itu sedari tadi terus memperhatikan Salfa, hingga tak jarang membuat gadis itu merasa tak nyaman.
"Kenapa kamu terus memperhatikan sisi kiri saya?" tanya Pak Aji pada Salfa yang justru membuat gadis itu merasa gelagapan. Bingung harus menjawab bagaimana karena takut apa yang dilihatnya adalah halusinasi semata.
"E-e... I-itu..."
"Kamu nggak sedang halu. Harimau yang kamu lihat itu memang ada. Itu penjaga saya."
Tak hanya Salfa, bahkan kedua orang tuanya, juga Kinara dibuat tertohok mendengar itu. Pandangan Pak Aji kemudian beralih ke Dody. Orang itu seperti menyiapkan diri sejenak sebelum mengatakan kesimpulan apa yang ia dapat.
"Anak kamu mata batinnya terbuka, Dod. Nggak butuh waktu lama untuk menyimpulkan itu. Dia memang sudah terlahir peka, tapi butuh waktu untuk terbuka sepenuhnya seperti sekarang."
"Apa? G-gimana bisa? M-mata batin saya terbuka?" balas Salfa dengan pertanyaan bertubi-tubi dengan tatapan tak percaya.
"Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, Nak. Tapi yang paling utama adalah, jiwa kamu terbangkit. Jiwa terbangkit sendiri ada banyak penyebabnya. Bisa dari beratnya masalah yang kamu alami untuk waktu yang tidak sebentar, bisa dari kamu yang sengaja mempelajari tentang bab spiritual," jawab Pak Aji, sesaat kemudian orang itu mengganti posisi duduknya. "Ketika jiwa seseorang terbangkit, itu akan membuka banyak bakat dalam diri. Itulah yang kamu alami sekarang. Penglihatan yang tidak terbatas atas ruang, materi, waktu, dan dimensi. Pendengaran yang tidak terbatas atas ruang dan dimensi."
Semua orang dalam ruang tamu antik itu hanya saling pandang dengan ekspresi yang sukar dijelaskan. Nilam spontan meraih tangan putrinya yang hanya menunduk, tak mengatakan sepatah kata pun lagi. Lahir dalam keluarga yang menjunjung tinggi kepercayaan Jawa, Nilam mempercayai apa yang dikatakan Pak Aji sepenuhnya. Salfa juga sejak kecil sudah sering bicara dan bermain seolah ada lawannya. Dan jika sekarang, dikatakan bahwa putrinya itu bisa melihat 'mereka', ia percaya.
"Saya yakin, bahwa diri kamu sendiri sebenarnya menyadari apa yang kadangkala kamu lihat itu bukan dari golongan kita. Kamu percaya dan yakin bahwa mereka memang ada. Tapi mungkin..." Pak Aji menggantungkan kalimatnya, "setelah malam tadi, dengan terbukanya mata batin kamu secara sempurna, kamu akan melihat bukan hanya kadangkala lagi, tapi di setiap saat, di setiap tempat. Dan itu terjadi, entah kamu sadar atau tidak. Karena pada dasarnya, kita hidup berdampingan dengan mereka. Merekapun, membaur dengan kita sehari-harinya."
Salfa pun mengingat sesuatu. Soal di sawah tadi. Anak kecil itu terngiang di pikirannya saat ini. Sesaat kemudian, ia menoleh ke Kinara. "Apa di sawah tadi lo lihat gue ngomong sendiri?"
Ragu, namun untuk menjawabnya juga tidak susah, Kinara pun mengangguk. Hal itu langsung membuat Salfa menunduk lagi. "Benar, Pak. Kadang saya nggak bisa membedakan beberapa yang tampilannya sama dengan umumnya manusia..."
"Mungkin bisa, Dod. Tapi kalau dasarnya memang sudah terbuka sendiri, ya mau di tutup pun, di waktu lain akan kembali lagi setahu saya," jawab Pak Aji yang kemudian beralih pandang ke Salfa. "Sekarang tinggal kamunya, Nak. Ikhlas, apa tidak. Kalau saran saya ya, ikhlas aja, walaupun saya tahu itu sama sekali nggak gampang. Tapi satu yang perlu kamu tau. Bahwa Yang Kuasa nggak mungkin ngasih kita sesuatu tanpa ada tujuannya. Barangkali, orang-orang terpilih seperti itu, diberikan tugas yang lebih oleh Yang Kuasa untuk menjaga tatanan dunia yang sudah tua ini. Percaya saja, pasti ada gunanya."
Setelah mendengar itu, dilema luar biasa kini menghujani Salfa. Ia sadar diri bahwa dirinya adalah orang yang cukup penakut, meski pada beberapa situasi ia bisa menjadi seseorang yang sangat berani. Tapi jika sudah begini, ia bisa apa selain melatih dirinya sendiri menghadapi semuanya? Kadang, kita sebagai manusia memang tidak tahu apa mau Tuhan. Tapi seorang Salfa meyakini, sesuatu yang dititipkan ke dirinya, tak mungkin sia-sia saja. Hanya masalah waktu, sampai ia tahu, maksud Tuhan yang sebenar-benarnya.
"Jadi aku bisa melihat mereka?" gumam Salfa ketika baru saja keluar dari rumah Pak Aji usai berpamitan. Ia berdiri tepat di depan rumah. Di tiap-tiap pohon rindang yang berdiri kokoh di sekeliling, Salfa melihat banyak sekali dari mereka, mengintip.
Gadis itu, memejam. Merasakan segalanya dalam hati. Keresahan, kegundahan, dan ketidakmengertiannya. Tumpah ruah menjadi satu. Dan ketika kembali membuka mata, tahu-tahu ia sudah berada di dalam kamar. Tak tahu apa yang terjadi, bangun-bangun ia seperti orang kebingungan.
Satu per satu orang dalam kamarnya, ia pindai. Ada ayah dan ibunya, Wira, Kinara, juga Vin. Ya, adanya Vin langsung mengundang pandangan penuh tanya dari Salfa, dan langsung dimengerti pemuda itu.
"Tadi Kinara ngabarin gue soal apa yang terjadi sama lo, makanya gue kesini," ujar Vin.
Rupanya, ketika di rumah Pak Aji tadi, ada yang masuk ke dalam dirinya, atau orang awam menyebutnya dengan kesurupan. Mengapa Salfa sampai tidak sadar, adalah karena gadis itu belum bisa menguasai dirinya dan mengontrol apapun itu yang menggantikan jiwanya. Setelah mendengar cerita itu, Salfa baru mengingat sekelebat yang terjadi.
"Tadi Salfa lihat Pak Aji nemuin Salfa, Buk. Pak Aji marah sama entah siapa. Terus Salfa bangun. Jadi itu bukan mimpi?" ujarnya pada Nilam yang duduk paling dekat dengannya.
"Iya, itu Pak Aji yang bawa kamu balik..." balas Nilam dengan mengusap rambut putrinya, karena merasa kasihan. "Pasti berat ya, Kak?"
Melihat satu titik air menetes di pipi ibunya, Salfa langsung menghapusnya dengan cepat. "Jangan sedih, Buk. Salfa akan terbiasa kok. Salfa akan lebih hati-hati lagi," ujarnya dengan halus, berusaha menenangkan sang ibu.
"Gini aja, besok Ayah antar kamu lagi ke Pak Aji ya. Kamu minta dibimbing, biar nggak kayak tadi lagi kejadiannya," sahut Dody kemudian, yang berdiri di sebelah ranjang.
Tanpa pikir panjang, Salfa langsung menanggapi. "Aku bisa kesana sendiri kok. Atau biar sama Kinara, kalau perlu Vin juga. A-yah nggak usah."
Tentu sudah bukan hal yang mengejutkan bagi Dody mendapatkan respon demikian dari putrinya. Sampai sekarang pun, ia tahu, Salfa masih belum bisa memaafkannya. Memang, kejadian yang terjadi sudah sebelas tahun lalu itu memang tidak bisa diterima, namun andai saja putrinya tahu, bahwa dirinya tak melakukan kesalahan apapun selain mencintai. Logikanya memang lebih memilih untuk mempertahankan rumah tangga demi Salfa dan Wira, namun apa daya jika sampai detik ini pun, hatinya juga tidak bisa dibohongi. Meski ia mencintai Nilam, namun hatinya telah terbagi hingga ia pun bisa mencintai Mayang juga.
Setelah mengangguk singkat, Dody undur diri dari kamar Salfa. Menuju ke tempat dimana ia selalu bisa melakukan hal sesukanya tanpa ada yang melihat. Di ayunan belakang rumah, tertutup pohon mangga, pada pekarangan yang cukup luas itu. Disanalah, seorang ayah menangis, menumpahkan seluruh luka dan kesedihan atas kebencian dari putrinya sendiri untuknya. Putri yang sangat ia kasihi, yang tak lagi memandangannya dengan penuh cinta seperti dulu karena rasa percayanya sudah direnggut darinya. Dan Dody pun sadar, dirinya sendirilah yang merenggut semua itu dari Salfa.
●●●●
Gelap gulita yang menyapa, tetap tak dapat dikalahkan oleh pijar lampu yang menyala. Di atas sana, bulan dan bintang saling berdampingan. Dari tempatnya duduk, Salfa menatap kesana dengan nanar. Perasaan itu kembali muncul, dimana ia merasa buntu dan tak tahu harus memulai mencari keluarga bapak-bapak itu darimana. Apa iya dirinya harus menanyai satu per satu pedagang di sepanjang jalan itu seperti orang aneh?
Di sela-sela lamunannya, Salfa dikejutkan dengan hadirnya Wira di teras. Adik laki-lakinya itu duduk di bangku yang berbatasan dengan meja lingkaran di sisi kanan Salfa. Gadis itu kembali menatap lurus ke depan, tak berniat membuka percakapan karena masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Boleh gue tanya sesuatu? Ini serius," kata Wira, berhasil membuat wajah Salfa berpaling padanya. Menyadari kakaknya sedang menatapnya dengan isyarat menunggu apa yang akan dia katakan, Wira pun kembali berujar. "Setan cowok ada yang seganteng Brad Pitt nggak?"
Ah, dasar Wira. Tawanya kini berhasil mengundang raut kesal Salfa. "Apaan sih, jayus banget. Abis mimpi apa lo, tumben ngelawak? Ya... walaupun nggak lucu sih," balas Salfa.
Bukan tanpa alasan gadis dengan gaya rambut mermaid curl itu berkata demikian. Adiknya memang memiliki kebiasaan selalu mendekam dalam kamar, keluar dari sana hanya kalau ada butuhnya saja. Sampai-sampai, bagi Salfa, tak ada manusia nolep melebihi Wira. Bicara saja sangat irit, apalagi menciptakan jokes seperti tadi. Jelas itu hal yang langka untuk seorang Wiratama Adidana.
"Oke kali ini serius," Wira menghentikan tawanya. Tatapannya kini malah intens pada Salfa. "Lo apa nggak bisa memperbaiki sikap lo ke Ayah, Kak?"
Detik itu juga, Salfa tertegun. "Maksud lo?"
"Lo lebih tau apa yang gue maksud."
Melihat kakaknya hanya diam dengan menunduk, Wira makin dibuat gelisah karena saking tidak mengertinya mengenai situasi ini. Salfa pun tahu kebingungan dari sorot mata yang kini tidak berani ia pandang itu. Sebelas tahun. Wira yang masih duduk di bangku TK dulu memang tidak mengerti apa-apa. Yang dimengerti adiknya hanyalah bermain dengan teman sebayanya sampai lupa waktu. Dan Salfa sendiri, yang saat itu terpaut empat tahun, sudah cukup mengerti situasi apa yang menimpa ibunya. Dia memang dipaksa dewasa sebelum waktunya setelah semua itu.
"Ayah aja nggak permasalahin, kenapa lo nggak terima?" balas Salfa kemudian.
"Kata siapa? Apa lo tau kalau Ayah nggak pernah baik-baik aja?" kini nada bicara Wira kedengarannya sudah tidak enak. "Lo tau nggak, kalau-"
"Gue nggak tau, dan nggak mau tau, Dek," sambar Salfa dengan cepat.
Tapi, bukan Wira namanya kalau menyerah dan berhenti begitu saja sebelum mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
"Ayah nangis." Kalimat tersebut membuat kakaknya kembali menoleh. "Bukan cuman sekali gue lihat Ayah nangis. Tapi tiap kali dia nerima perlakuan kayak gitu dari lo, dia selalu pergi ke taman belakang, duduk di ayunan, dan nangis."
Melihat mata adiknya berkaca-kaca, hati Salfa rasanya seperti teriris. Mata yang tak pernah ia bayangkan akan menangis, terlebih di hadapannya. Tapi ia masih diam, memilih tak mengucapkan sepatah kata pun dan membiarkan Wira mengungkapkan semuanya.
"Apa nggak bisa, kalian kayak seorang ayah dan anak perempuan pada umumnya? Apa hati lo udah sekeras itu sampai ayah nggak bisa berbuat apa-apa lagi selain nangis diam-diam?"
Pertahanan Salfa runtuh. Kini ia menoleh ke arah mana saja agar air mata yang jatuh itu tak langsung berhadapan dengan tatapan Wira. Seperti terkena angin kencang, seisi dada Salfa porak poranda. Tapi dia tidak bisa bilang. Atau nanti hati adiknya lah yang akan terluka, bahkan bisa jadi melebihi luka yang ia rasa.
"Kak, gue nggak tau ya, ada masalah apa antara lo sama Ayah. Nggak tau apa yang tersembunyi di keluarga ini yang gue nggak pernah ngerti. Tapi, gue nggak tega lihat Ayah kayak gitu, Kak. Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya, kan?"
Salfa usai menghapus air matanya sebelum menoleh ke Wira. Menatap cowok dengan alis tebal yang adalah adik kandungnya dengan tatapan yang seolah mengisyaratkan "Andai lo tau, Wir". Gadis itu pun kemudian memilih untuk pergi, menuju ke tempat yang tak pernah ia kunjungi karena letaknya yang keluar cukup jauh dari rumah.
Ya, Salfa menuju ke ayunan itu. Duduk menutupi wajahnya dengan punggung yang terguncang hebat karena menangis. Dan bukan sekedar mitos, bahwa orang yang sedih akan mengundang makhluk dari dimensi lain untuk mendekat. Dalam tangisnya pun, Salfa merasakan itu. Mereka semua mengelilinginya. Jika tidak dalam kondisi seperti ini, mungkin ia akan ketakutan karena belum terbiasa. Namun kini, apapun itu, ia merasa mereka menjadi teman yang menemani sedihnya. Meratapi kepercayaannya yang hilang.
●●●●
Tuh kan beneran dua part huhu semoga kalian suka yaaa. Semoga feel-nya dapat dan bikin kalian makin tertarik^^
Ditunggu part selanjutnya. Akan lebih banyak lagi yang makin menegangkan kedepannya. Makin seru juga pasti^^
Komentar lah biar nggak sider. Biar rank cerita ini makin naik jugaaaa. Vote juga selalu ditunggu. Pokoknya makasih banyak banget sudah berkenan mampir. Semoga selalu sehat! See you!
neiskaindria