
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Setelah kejadian Kinara, para laki-laki di rombongan liburan ini sepakat untuk tidur bergantian. Jika kalian menilai ini berlebihan, maka tidak bagi mereka. Di tempat yang jauh dari rumah, mereka sebagai laki-laki tentunya harus bisa bertanggung jawab atas teman-teman perempuan yang bersama mereka.
Gopal, sempat mencetuskan rencana untuk pulang. Namun Salfa, yang masih dengan ekspresi terkejut setelah Genta menerjemahkan percakapannya dengan nenek-nenek itu, menolak. Meski kedengarannya egois, tapi ia ingin menyelesaikan apa saja yang ia mulai. Ia harus tahu sebenarnya apa yang dimaksudkan hantu-hantu itu. Bagaimana caranya, masih ia pikirkan. Yang jelas apapun itu, ia tak akan melibatkan teman-temannya.
Maka malam itu, dalam kamar. Salfa memejamkan mata namun tidak tidur. Ia memanggil Suri, untuk ia tanyai banyak hal. Sebenarnya sempat terbesit pikiran untuk menanyai sosok rambut pendek yang sampai sekarang masih mengikuti Genta, namun setelah dipikir lagi, akan lebih mudah untuk menanyai Suri yang memang ia sudah kenal.
"Suri… Aku mau kamu datang… Aku butuh kamu, Suri…"
Tepat setelah itu, botol air minum yang berada di nakas terjatuh. Salfa langsung membuka kembali matanya dan mendapati nenek-nenek yang tadi memasuki Kinara memelototinya tajam.
"Kowe iki kok isih ora ngerti to, Nduk?!!" (Kamu ini kok masih tidak mengerti, Nak?!!)
Belum sampai si nenek melanjutkan, hadirnya Suri membuatnya menghilang seketika. Tanpa disadari Kinara yang memang sudah tertidur, Suri mendekat ke Salfa. "Lebih baik kamu sekarang tidur, Salfa. Besok ikutlah denganku, akan aku ceritakan semuanya. Aku harap kamu tidak terbujuk mereka yang ada disini, terlebih nenek itu."
Salfa mengernyit. "Maksud kamu terbujuk?'
"Tidak semua dari bangsa kami bisa kamu percayai perkataannya, Salfa. Mereka hanya tidak menyukai rumah mereka dipakai olehmu dan teman-temanmu."
Segera, Salfa teringat kata-kata Pak Aji. Sesuai dengan yang Suri katakan, bahwa tidak semua makhluk halus dapat dipercayai. Jujur, Salfa sedikit bisa tenang setelah Suri memberinya janji untuk menceritakan semuanya besok. Maka, setelah sosok cantik itu pergi, ia segera membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Tak mempedulikan beberapa dari mereka yang berusaha mengajaknya berkomunikasi.
Namun lama-lama, tidak tahan juga mendengar suara sahut-menyahut itu. Salfa kembali membuka mata dan melihat ke atas nakas dimana disana tergeletak headphone yang dipinjamkan padanya oleh seseorang. Ya, siapa lagi kalau bukan Genta.
"Nih, lo pakai aja dulu. Kayaknya lo lebih butuh tidur nyenyak malam ini." Kalimat itu terngiang di kepala Salfa.
Meski sebenarnya enggan, tapi ia tidak munafik untuk mengakui bahwa dirinya membutuhkan itu. Setelah telinganya menangkap suara-suara yang memanggil dirinya lagi, yang ia pikir adalah suruhan dari si nenek karena malam ini tak seramai malam kemarin, Salfa pun mengambil headphone itu.
Ia memasangnya di telinga, headphone itu langsung terhubung dengan ipod hitam milik Genta. Gadis itu menekan tombol di ipod dan lagu mulai terputar. Namun, ada yang janggal. Rasa hangat itu, merebak memenuhi dada Salfa. Tapi kali ini ia segera menepisnya, meyakinkan bahwa itu adalah kebetulan. Lagu 1000X yang dibawakan Jarryd James tersebut pasti hanyalah kebetulan semata menjadi lagu yang pertama menyambut indera pendengarannya.
Namun, seperti menikmati, hingga saat lagu tersebut selesai pun, Salfa masih tetap belum tidur. Hingga lagu berikutnya terdengar. Berjudul We Are Young yang di bawakan oleh The Mayries menyapa telinganya.
Lagu kesukaan Salfa lagi.
Karena merasa penasaran, dengan iseng Salfa menekan tombol skip ke lagu berikutnya. Tak tahu ia harus mengumpat atau berteriak senang, karena semuanya adalah lagu-lagu yang ia suka. Langsung seketika itu ia mengingat bahwa dulu ketika SMA, ponselnya pernah terbawa oleh Genta. Apa mungkin dari situ lah awal mulanya playlist ini bisa sama persis?
"Kenapa sih, Ta? Kenapa? Kenapa lo bikin gue gila" gumamnya.
Namun meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa ada rasa bahagia yang menghinggapinya. Bahkan sadar atau tidak, segaris senyum membentuk lengkungan bulat sabit di bibir Salfa.
●●●●
"Jadi, hari ini kemana?" tanya Vin sembari menyeruput kopinya. Lima orang di teras hanya saling tatap, rasanya tak ada semangat untuk melanjutkan liburan ini. "Pada nggak semangat kayaknya?"
"Serius kita masih akan disini?" tanya Gopal dengan mukanya yang tampak sangat gelisah.
"Ya gimana?" balas Vin.
Satu tangan Gopal ia letakkan di dagu, menatap kosong sembari menyiapkan diri untuk mengatakan. Lantas, ia menoleh ke Vin lagi. "Semalam gue udah telpon Pak Beni. Katanya kapal untuk penyebrangan dari sini ke Pelabuhan K nggak selalu ada setiap hari. Apalagi setelah dua hari lalu kejadian kapal mogok di tengah laut, pihaknya lagi ngadain pengecekan menyeluruh. Jadi…"
"Jadi?" sahut Genta karena Gopal menggantungkan kalimatnya.
Meneguk salivanya dengan susah payah, kemudian Gopal baru menjawab. "Nggak ada kapal sampai tiga hari kedepan."
Kinara yang ketika itu masih tak habis pikir dengan kejadian yang menimpa dirinya kemarin, hanya mendengus sebal. Rencana liburan ini yang semula empat hari, jadi harus mundur. Padahal, ia sudah sangat ingin pulang saja di hari ketiga ini. Gadis itu tampak menunduk dengan kedua tangan menutupi wajah. "Semalam aja pas Nyokap gue telepon, gue nggak bisa jujur tentang apa yang terjadi. Ini sekarang malah kita terjebak disini."
Salfa yang sejak tadi diam, mengusap punggung Kinara penuh penguatan. Berharap dengan itu, ia bisa memberikan energi positif berupa dukungan tanpa harus diutarakan oleh lisan. "Gue telepon Pak Aji deh, minta saran kita harus gimana."
Gadis berambut keriting itu kemudian mengambil ponselnya. Segera mencari satu nomor di kontaknya, namun, ketika baru saja hendak menekan tombol hijau, ia menyadari bahwa sinyal yang terpampang di pojok kanan atas itu hilang, melambangkan tanda X.
"Buruan telepon," pinta Novan tak sabar setelah mendapati Salfa tak kunjung memulai sambungan.
Salfa menoleh. "Nggak ada sinyal."
"Ha? Masa? Barusan ada kok," balas Novan lagi, kini sembari mengeluarkan ponselnya. Sesaat kemudian, matanya terbelalak membenarkan apa yang dikatakan Salfa. "Beneran, Njing! Nggak ada sinyal!"
Yang lain pun kemudian menyusul untuk mengecek ponsel. Dengan operator yang berbeda-beda pun, sinyal benar-benar tidak ada. Di antara semuanya, yang paling panik adalah Salfa. "Gimana kalau Nyokap gue telepon? Panik setengah mati ntar dia. Sampai rumah malah kena marah lagi nih besok."
Genta tersenyum kecil melihat ekspresi Salfa yang kalang kabut. Lama ia tak melihat gadis itu sebebas demikian dalam berekspresi. Terlebih, selama di depannya, Salfa hanya menunjukkan muka jutek dan judesnya. Salfa… Salfa… Kenapa gue harus sebodoh itu sih?
"Biasa aja kali, Ta, ngelihatinnya. Sampai nggak kedip. Ati-ati ntar kemasukan laron," cibir Gopal dengan cengar-cengir karena berhasil membuyarkan lamunan Genta yang kini malah tampak gelagapan seperti maling yang tertangkap basah.
Meski tak bicara apapun, Salfa sepertinya peka apa yang dimaksud Gopal. Ia hanya melirik sekilas, tatapannya bertemu seper sekian detik dengan Genta. Spontan saja gadis itu memperbaiki posisi duduknya, seperti bagaimanapun ia menempatkan diri, rasanya tak pernah sesuai.
Disana lah Kinara lantas berbisik. "Mulut lo bisa bilang kalau lo nggak bisa. Tapi hati lo, coba ditanya."
Sontak Salfa menyikut Kinara, membuat gadis di sebelahnya itu mengaduh pelan sambil tertawa. Tak lama, Salfa melihat Suri yang sedang berdiri dari balik pohon kelapa, menatapnya dengan tatapan seperti memanggil, dan ia pun langsung mengerti. Ingat bahwa ada janji untuk ikut dengan Suri.
"Eh, guys, rencana mau kemana sekarang?"
"Tau nih, masa disini aja?" sambung Vin seraya memindai semua temannya.
Gopal yang semula ogah-ogahan, mau tak mau harus menerima juga bahwa ia masih harus tetap disini. "Ya udah, ayo ke pulau kecil di timur. Naik kapal boat. Ada penangkaran satwa disana. Ntar bisa diving juga," ujarnya lalu menoleh ke Salfa, "tapi Si Salfa ntar gimana?"
Merasa mendapatkan kesempatan emas dari rencana Gopal, Salfa langsung mengiyakan. Bagaimanapun, ia harus punya waktu sendiri untuk bicara dengan Suri. Disaat teman-temannya menyelam, ia bisa dengan leluasa melakukan itu. "Santai aja, udah ayo."
●●●●
Waktu setengah jam lebih telah di tempuh. Enam muda-mudi itu akhirnya sudah naik di kapal untuk menyeberang ke pulau yang tak begitu jauh jarak tempuhnya, setelah Gopal mengurus pembiayaan untuk naik ke kapal. Disana, Salfa nampaknya sudah mulai bisa mengatasi rasa takutnya. Gadis itu menengok ke bawah, pada air yang amat jernih nyaris seperti kaca yang tembus pandang. Dari tempatnya duduk ia dapat melihat berbagai terumbu karang yang memang sepertinya tak begitu jauh sebab airnya yang dangkal.
Pemandangannya sungguh sangat menakjubkan. Menikmati angin semilir, Salfa memejam. Merasakan semesta yang sedang menyapanya dengan keindahan luar biasa. Matahari pun sangat bersahabat, tak terlalu terik. Sungguh damai. Andai di kepalanya tak berisi banyak pertanyaan yang berlarian kesana-kemari mencari jawaban, sudah bisa dipastikan bahwa ia akan sangat menikmati ini semua.
"Sekarang, gue cuma tau dua ketakutan yang belum bisa lo atasi, Sal." Suara itu, milik Genta. Karena saking terpesonanya Salfa pada pemandangan yang mengelilinginya, ia sampai tak menyadari Genta yang duduk di sebelahnya, dengan tangan yang menumpu di kedua lutut.
"Lo tau apa tentang gue? Jangan sok tau."
Mendengar nama hewan satu itu saja, Salfa langsung melotot. Memang, jika hanya untuk melihat hewan tersebut, gadis itu biasa saja. Asal jangan mendekat atau mengenai dirinya saja. Jika itu sampai terjadi, jangan tanya apa yang Salfa lakukan. Bahkan di posisinya saat ini pun, ketika ada cicak yang menjatuhinya, atau hanya lewat dekat sekali dengannya, bisa dipastikan gadis itu akan langsung lompat ke air, bahkan tanpa mempedulikan mesin kapal yang menyala.
"Tuh kan, lo masih sama," kata Genta lagi.
Ya Tuhan, dia ini manusia atau apa? Entah Salfa sadari atau tidak, kalimat yang ia batin barusan adalah kalimat yang sangat familiar untuk dirinya sendiri jika dikaitkan dengan Genta, sejak mereka saling mengenal empat tahun lalu.
"Ya oke, yang pertama bener. Terus yang kedua?" balas Salfa yang sama sekali tak dibayangkan oleh Genta bahwa gadis itu akan menanggapinya.
"Percaya."
Tatapan mata itu, terasa dalam. Berhasil membuat Salfa terjebak dalam tatapan tersebut beberapa saat. Merasakan dadanya yang kembali sesak. Dalam hati membenarkan apa yang Genta bilang.
"SAMPAAAAAIIIII!!" seru Gopal yang membuat Salfa dan Genta terhenyak. Mereka pun menoleh ke tempat dimana pemuda yang suaranya nyaring tersebut usai berfoto-foto dengan Vin, Kinara, dan Novan.
Anjir, Pal, lo anjir banget. Batin Genta.
Semuanya pun turun. Sejenak menyapa pengemudi kapal yang mereka naiki. Sampai di pulau itu, Salfa sudah langsung mendapati Suri. Seperti memberikan kode agar Salfa mengikutinya.
"Gimana? Langsung sewa alat sama cari Buddy Diver?" tanya Gopal, diangguki oleh Vin dengan semangat.
Kinara kemudian rautnya berubah tak yakin. "Gue nggak ikut deh, takut. Gue kan belum pernah."
"Lo snorkelling aja kalau gitu. Sama Novan tuh," balas Genta sambil menunjuk Novan menggunakan dagu.
"Apa bedanya?" bingung Kinara.
Novan menghela pelan. "Diving itu menyelam, yang kedalamannya bisa sampai tiga ratus meter. Kalau snorkelling, cuma satu sampai tiga meteran. Jadi lebih aman."
"Okedeh gue mau!" balas Kinara, kembali antusias. "Lo juga ikut kan, Sal? Lo kan bisa berenang juga?"
Tak langsung menjawab karena bingung mencari alasan. Harusnya Salfa tidak takut, apalagi sebenarnya ia juga ingin melihat dasar laut secara langsung, tapi ada yang harus ia lakukan. "Lo kan tau gue takut laut," alibinya.
"Lah, kirain udah biasa?" sahut Genta yang langsung disorot tajam oleh Salfa.
"Udah, kalian berangkat aja. Jangan cuma gara-gara gue, terus jadi nggak menikmati. Gue nggak apa kok disini," ujar Salfa yang sedetik kemudian melambaikan tangan menjauh. "Daaa. Gue di penangkaran ya!"
Kinara kembali menimang-nimang keputusannya. "Gue nggak jadi ikut deh."
Genta, menyadari raut Novan berubah seketika itu. Tatapnya lantas berpaling ke Kinara. "Udah, lo ikut aja, Ra."
"Terus yang nemenin Salfa siapa?"
"Gue," jawab Genta dengan tegas.
Sementara teman-temannya tengah bersiap naik kapal lagi yang akan membawa mereka ke lokasi menyelam, Salfa mengikuti Suri yang masih terus berjalan. Itu tentu membuat Genta terus bertanya-tanya karena dirinya tak paham bagaimana bisa Salfa melewati pintu masuk penangkaran. Berjalan entah menuju kemana.
Ya, sesuai apa yang ia bilang, bahwa ia akan menemani Salfa. Soal gadis itu bersedia atau tidak, tak jadi masalah buatnya.
Salfa sampai pada tepian pulau yang tentu saja tampak seperti pantai. Gadis itu seolah tak sadar berdiri di air. Ia hanya fokus menatap Suri. Menunggu sosok cantik itu bicara lebih dulu. Namun nihil. Suri hanya diam dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu bukannya mau ceritain semuanya?" tanya Salfa kemudian karena sudah tidak sabar.
Genta, dari balik tembok batas penangkaran, menatap kaget karena dilihatnya, Salfa bicara sendiri. Hal baru yang ia lihat pada gadis itu. Genta mengusap peluhnya yang mengalih di pelipis, sambil tak mengubah arah pandangnya.
"Suri, kenapa kamu diam saja?"
Dari posisinya yang berada tepat di kiri Suri, Salfa bisa melihat jelas sosok itu tersenyum. "Kadang, ada beberapa hal yang akan lebih baik kalau kamu tidak tau, Salfa…"
Suri menoleh, tetap dengan senyumnya. Ia mengulurkan tangan pada Salfa. Meski pertanyaan-pertanyaan itu masih memenuhi kepala gadis itu, tapi ia tetap meraih tangan putih itu. "Lepas jaketmu, ikut aku menikmati indahnya tempat ini…"
"Tapi Suri, aku takut…"
"Tidak usah takut selama aku bersamamu, Salfa…"
Merasa tenang mendengar balasan Suri, Salfa tersenyum dan mengangguk kecil. Setelah kembali ke darat meletakkan jaket, ia pun kembali mengikuti gandengan tangan Suri yang mengajaknya ke tengah. Pelan-pelan, rasanya disapu air yang jernih membuat Salfa terpikat. Ia mulai merasakan nyaman dengan apa yang ia lakukan. Segar sekali rasanya. Ternyata dekat dengan laut tak seburuk yang ia pikir selama ini. Apalagi, angin sepoi-sepoi seperti membawanya hanyut dalam keindahan sekitar.
"Aku berani! Aku berani, Suri!" teriak Salfa antusias karena sangat senang. Bahkan gadis itu mengangkat satu tangannya sebagai selebrasi. Kegembiraan itu terasa nyata. Sampai-sampai Salfa melupakan niat awalnya untuk bertemu dengan Suri hari ini.
Masih dalam posisi yang sama, Genta melihat seseorang berpakaian serba hitam berjalan sendirian di lokasi tak jauh dari Salfa berdiri. Seolah-olah keterkejutannya melihat Salfa berjalan lebih jauh ke air masih belum cukup, ia mendapati orang misterius itu mengambil jaket Salfa. Genta langsung tersentak, apalagi ketika dilihatnya, orang itu merogoh saku jaket warna krem tersebut.
"Woyy!!" serunya karena dalam otaknya hanya terdapat satu kata yaitu 'pencuri'. Ponsel Salfa pasti disana, kan. Apalagi niat orang itu kalau bukan mencuri. "PENCURI!!"
Mendengar suara familiar di telinganya, Salfa langsung menghentikan langkah. Menoleh ke belakang, mendapati Genta yang berlari menuju satu titik. Mata gadis itu lalu berpindah pada seseorang dengan pakaian serba hitam berlari setelah sempat menjatuhkan jaketnya.
Segera ia berbalik meninggalkan Suri, tapi tiba-tiba, kakinya serasa ada yang menyeret. "AAAAAAAA!!" teriaknya sebelum sesaat kemudian seluruh tubuhnya masuk ke air, lebih jauh. Dalam air, Salfa melihat tangan hitam legam dengan jari-jari panjang beserta kuku yang seperti bercampur darah, menyeretnya. Meski pandangannya mengabur karena panik, namun jernihnya air membuatnya bisa melihat semua itu. Sayangnya, tidak jelas itu siapa.
Genta segera berlari meninggalkan begitu saja orang misterius tadi ketika mendengar jeritan Salfa. Dengan sangat kencang ia menyusul gadis yang disayanginya itu. "SAAALLL?!!"
"G-GEN-T-TA!!" dalam merontanya ketika sempat mencapai permukaan air, Salfa masih berusaha berteriak.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke Salfa, Genta segera merengkuhnya meskipun dapat jelas ia rasakan bahwa berat gadis itu seperti berlipat-lipat dibanding normalnya. Dari situ, Genta tahu, Salfa diseret oleh sesuatu yang tak terlihat.
Beberapa orang dari dalam penangkaran rupanya mendengarkan teriakan-teriakan barusan, dan karena tembok pembatasnya tidak begitu tinggi, mereka akhirnya mengetahui bahwa ada yang membutuhkan pertolongan. Para petugas yang berjaga disana pun langsung keluar dan membantu.
Salfa pun, akhirnya, berhasil keluar dari air. Meski tak sampai pingsan karena nyaris kehabisan oksigen, gadis itu dengan sadarnya yang tak seberapa, merengkuh Genta dan menangis di bahunya. Tentu dengan napas yang terengah-engah. "Jangan tinggalin gue, Ta. Jangan."
●●●●
Halo, maaf banget baru bisa update hari ini. Pagi-pagi lagi. Nggak seru sebenarnya untuk cerita horror di post pagi, tapi mau gimana lagi. Mau di post semalam, tapi udah malem banget, percuma nggak ada yang ramein dong ntar^^
Btw, makasih banget banget banget buat yang setia nungguin kelanjutannya AWAKENED ya. Jangan lupa vote, komentar, dan bagikan agar lebih banyak yang baca^^
See you di part berikutnya!
neiskaindria