
"Ketika kerinduan diuji, disitulah titik awal segala sesuatu terasa berantakan."—Salfa
Malam ini, sesuai apa yang Gopal kabarkan melalui grup khusus gengnya: Kadal Squad, semua anggota grup yaitu Vin, Kinara, Novan, Salfa, dan Genta, berkumpul untuk berembuk mengenai apa yang akhir-akhir ini terjadi di rumahnya. Sebetulnya, Gopal hanya meminta Salfa dan Genta yang datang karena ingin berkonsultasi, namun yang lain ikut-ikutan penasaran. Jadilah kesemuanya sekarang duduk melingkar di ruang tamu rumah besar itu.
Salfa mencoba mencermati tiap-tiap detail dari cerita Gopal, yang menjelaskan titik permasalahan dari awal hingga akhir. Beberapa hari lalu, pemuda itu mengantarkan sang pacar ke luar kota, ke rumah nenek pacarnya. Karena tak dapat menahan panggilan alam ketika di perjalanan, Gopal menghentikan mobil dan dengan sembarangan buang air kecil di balik pohon pinggir jalanan yang sepi tersebut.
Sebuah pukulan mendarat di kepala Gopal dengan sempurna. Adalah bantal sofa yang dihantamkan oleh Novan karena geram dengan ulah temannya yang lebih sering dikatai 'Toa Masjid' itu. "Lo juga gitu sih, bego ... sembarangan banget!"
"Ya gimana sih, Nyet?! Hukum alam! Ya nggak mungkin gue tahan lama-lama, ntar kena kencing batu lagi, atau lebih parahnya ... gagal ginjal?! Emang lo mau tanggung jawab?"
"Aamiinin, nggak?" sahut Vin sambil mengeluarkan rokok dari sakunya, yang langsung disorot tajam oleh Salfa. Membuatnya mengurungkan niat. "Ya deh, nggak jadi."
Ya, jangan lupa. Salfa sangat benci asap rokok. Terlebih ia punya sensitifitas yang tinggi di tenggorokannya jika cukup lama terkena asap rokok yang membuatnya bisa langsung terbatuk-batuk bahkan bisa sampai radang jika batuknya sampai berlarut-larut. Pikiran gadis itu sesaat kemudian kembali ke permasalahan Gopal. Jika temannya yang satu itu bilang bahwa banyak gangguan di rumah ini seperti bingkai foto yang terjatuh sendiri, bercak darah misterius di rumah, dan penampakan sekilas seperti orang yang melesat cepat, itu benar.
Genta, yang berada di sebelah Salfa, sejak tadi sudah terus melirik ke sisi pintu dimana disana berdiri perempuan dengan rambut sangat panjang hingga ke lantai, sedang memperhatikan mereka berenam karena sadar bahwa sedang dibicarakan. Salfa juga sudah tahu itu, jadi ia bisa langsung menyimpulkan bahwa hantu itu mengikuti Gopal ke rumah.
"Lo harus balik kesana lagi, pulangin dia," kata Genta seraya menunjuk dengan dagu ke arah pintu, membuat semuanya langsung menoleh dan memasang ancang-ancang waspada.
"Iya, bener," ujar Salfa menimpali.
"Dilihatin lo, Pal. Merah banget matanya tuh," lanjut Genta. "Hiii ... Nggak ikut-ikut gue."
Mata Gopal langsung membulat dan beranjak melompat ke atas sofa. Posisinya semula adalah duduk di karpet. Ia duduk menyebelahi Novan, yang justru langsung menjauh seperti orang tak ingin didekati. "Hus, hus! Jangan dekat-dekat gue lo. Bawa apes lagi ntar."
Kinara terkekeh. "Jadi, orang paling logis udah kedoktrin mitos nih?" sindirnya pada Novan.
Pemuda yang mengenakan hoodie abu-abu itu pun hanya memandang tanpa mengatakan apapun karena mendadak lidahnya kelu. Sudah sebulan sejak kejadian di Pulau K, namun ia masih belum juga berhasil menyingkirkan gadis bernama Kinara itu dalam hatinya. Untuk kalian semua ketahui, bahwa Novan sudah suka dengan Kinara sejak masih berada di semester tiga, ketika sedang sering-seringnya ikut Vin nongkrong di kafe langganan mereka bersama Kinara juga.
Rencana liburan yang Novan ketahui bahwa Kinara pun ikut, membuatnya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut juga. Ia berangkat dengan niat ingin menciptakan momen-momen dimana itu akan jadi hal indah guna mendekatkan mereka berdua. Namun, ya, sisanya alias apa yang terjadi, sudah sama-sama kita ketahui. Yang kemudian membuat Novan tak pernah menghubungi Kinara dan makin jarang mengobrol meski hanya basa-basi.
"Woi, bengong lagi?!"
Suara Gopal membuyarkan lamunan Novan. Nada yang heboh seperti biasanya, berhasil membuat Novan terhenyak karena merasakan telinganya sakit hingga berdenging. "Bener kalau lo dipanggil toa masjid, gila!" sungutnya.
"Udah udah udah! Kembali ke topik. Terus Gopal harus gimana, Ta, Sal?" sahut Vin yang paling netral dalam geng tersebut kali ini.
"By the way, sosoknya kayak gimana?" sahut Kinara, yang langsung dihunus oleh tatapan pacarnya karena mengalihkan topik lagi dan Kinara langsung sadar. "Hehe, iya maaf...."
Tak ada balasan dari Vin, ia hanya mengacak puncak kepala Kinara dengan lembut sambil tersenyum kecil. Hal yang membuat Novan yang tengah minum, ketika menyaksikannya, langsung tersedak. "Uhukk!!"
"Aduh aduh para Hamba Allah, kasihan satu-satunya jomblo disini nih, uwuphobia dia," sahut Gopal sambil cengar-cengir. Kejulidannya dimulai. Itu membuat Salfa dan Genta pun ikut tertawa.
Novan hanya terdiam sungkan, tak membalas Gopal karena malas. Ia melirik ke Genta yang menatap penuh teka-teki namun anehnya, ia paham apa maksudnya. Genta pasti heran, atau barangkali, prihatin? Ya, nggak semua cinta bisa terbalas. Nyatanya, realita nggak seindah FTV.
"Jadi gini ya, Pal. Lo balik ke pohon itu, ntar dia otomatis ngikut. Trus lo tinggalin tanda penghormatan dan minta maaf dari hati, mohon agar dia maafin lo, dan jangan ikut lo lagi. Udah, selesai."
Gopal memicingkan matanya ke Genta yang barusan mengatakan itu. "Otomatis ngikut itu yang ngeri, anjir. Santai banget lo kalau ngomong," gerutunya.
"Ya gimana, Pal? Emang harus gitu," sahut Salfa.
Tak ada sahutan dari semuanya, membuat suasana jadi krik-krik untuk beberapa saat. Menyisakan suara angin malam yang masuk ke ruang tamu. Gopal yang menyadarinya, langsung menyorot teman-temannya penuh tanda tanya. Hingga ketika beralih pandang ke Novan, ia kembali mendapatkan bantal sofa mendarat di mukanya.
"JIJIK!"
Dan selepas itu, semua normal kembali. Namun Salfa dan Genta dikagetkan dengan melesatnya sosok perempuan yang mengikuti Gopal itu ke dalan rumah, yang dengan sengaja menjatuhkan vas bunga dari atas nakas. Prakkk.
Kinara langsung beranjak karena kaget. Begitupun Vin yang vasnya jatuh tepat di belakang punggungnya. Sosok itu terlihat marah. Salfa dapat menangkap hal itu dari caranya menganggu.
"Lo harus segera lakuin yang Genta bilang tadi, Pal. Gue serius."
Gopal yang sesaat lalu rautnya masih tegang, pelan-pelan kembali biasa lagi. Keningnya mengernyit. "Maksudnya tanda penghormatan itu apa, Sal?"
"Sajen. Disini bukan bermaksud musyrik, ya. Tapi buat menghormati mereka yang kenyataannya, hidup berdampingan dengan kita. Kalau kita percaya adanya mereka, maka kita harus menghormatinya, kan?"
Gopal pun mengangguk mantap. "Oke, gue balik besok," balasnya sambil kemudian menepuk pundak Novan. "Temenin, ya. Ya? Ya? Ya?" sambungnya memelas.
"Ishh! Ya deh, tapi cariin gue cewek!" balas Novan meski ogah-ogahan.
"Segitunya jomblo," sahut Kinara sambil terkekeh karena tak habis pikir.
Lo aja yang nggak tau, Ra. Gue gini karena lo. Dasar. Novan hanya membatin dengan tatapan tak terdefinisikan ke gadis berkacamata tersebut.
"Kalau lo nggak benar-benar berangkat besok, lo bisa bahayain satu rumah, Pal. Gue beneran nggak main-main, ya," ujar Salfa lagi. "Selagi masih ada kesempatan buat menjaga orang-orang yang lo sayang, jangan disia-siain kesempatannya."
Salfa merasakan dadanya sedikit sesak karena kembali mengingat sang ayah ketika mengatakan itu. Bukan hanya dirinya, bahkan Kinara pun sama. Sejak menerima kabar meninggalnya Widji—ayahnya, ia tak pernah kembali ke Pulau K dan menyambangi makam sang ayah. Meski rasa benci itu kembali menggebu-gebu tiap diingat, tak dipungkiri bahwa rindu itu masih tetap setia bersemayam di hatinya.
"Jangan sampai ada di antara kalian yang kayak gue. Kadang rasanya rindu banget sama mantan suami Nyokap, tapi ya gitu, bencinya masih nggak ada obat," ujar Kinara dengan raut yang biasa saja meski Salfa tahu dibaliknya penuh luka.
Salfa menghela pelan, menarik satu tangan Kinara dan mengusap punggung tangan sahabatnya itu. "Ketika kerinduan diuji, disitulah titik awal segala sesuatu terasa berantakan. Tapi gue tau, lo kuat. Jangan bohongi diri lo sendiri, Ra. Bilang ya, kalau sewaktu-waktu lo pengen ke sana. Gue akan temenin."
"Gue juga," sahut Vin lengkap dengan senyuman tulusnya pada Kinara—gadis yang amat ia sayangi.
Genta pun ikut menyunggingkan senyum. "Gue juga."
"GUE JUGA!!" sahut Gopal penuh semangat, tak ingin kalah dengan teman-temannya.
Dan Novan, yang rasanya ingin sekali menggenggam tangan Kinara saat itu namun tentu saja tak dilakukan, ikut menimpali. "Gue juga, Ra."
Ya, adanya perasaan tidak membuat Novan curang. Ia tetap sportif. Jika Kinara memilih Vin, maka ia akan menerimanya. Ia bahkan ikhlas, tapi bagaimana pun untuk membuang perasaan itu tidak bisa instan. Ini hanya soal waktu.
Kinara tersenyum, matanya sudah berkaca-kaca. Gadis itu menghambur ke pelukan Salfa. Vin dan Genta menyusul ke sisi pacar mereka masing-masing. Lalu Gopal, dan Novan pun jadi yang paling akhir merengkuh teman-temannya. Persahabatan mereka, kian indah. Hal-hal pahit di belakang, memberikan akhir manis dalam hubungan antara mereka berenam.
●●●●
Halooo part bonus balik lagi. Gimana, kangen nggak sama mereka? Ayo dong spam komen, masa sepi banget?
Btw, cerita soal Wira enaknya di posting kapan ya?