
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Ketika di ruang tamu tengah ramai dengan canda tawa empat pemuda yang asyik bermain playstation, Salfa dan Kinara baru saja keluar dari kamar. Rumah itu, sangat panjang ke belakang, dan kamar para gadis berada di bagian tengah. Di kamar depan dipakai Vin dan Gopal, sementara di kamar belakang dipakai Genta dan Novan.
Salfa, sesekali menundukkan pandangannya. Seringkali berhenti mendadak dan menyisakan Kinara berjalan sendirian beberapa langkah lebih dulu dari dirinya, hingga kemudian ia mempercepat langkah dan menyejajarkan posisinya lagi, tentu saja tanpa sepengetahuan Kinara. Tiap kali ia berhenti mendadak, hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu apa yang dia lihat. Sesuatu dari tabir yang lain, berpapasan dengannya sehingga ia tidak mau saling bertabrakan. Rasanya seperti beban, yang benar-benar ia tanggung sendirian.
"Ra, kalau mau ke sisi manapun di rumah ini, jangan lupa izin dalam hati sama mereka ya," pinta Salfa.
Kinara melotot, "Ha? Kenapa, Sal? Disini banyak ya?"
Salfa memilih tak menjawab. Bukan karena mereka berdua telah sampai di ruang tamu, tapi karena ia tak tega mengatakannya pada Kinara. Tidak mungkin dia bilang bahwa rumah ini seperti tempat wisata. Ramai, riuh, tapi yang sangat aneh, adalah tatapan mereka. Sengit. Seperti tidak terima tempat yang mereka tempati, di datangi tamu.
Tercekat dengan napas yang tertahan beberapa detik, Salfa berusaha sebisa mungkin menahan dirinya ketika sosok laki-laki memelotot tepat di sebelahnya. "Kami tidak pernah menerima tamu. Kalian tidak seharusnya disini."
Mendengar itu, Salfa menoleh. Mengamati lamat-lamat laki-laki dengan hidung yang mengeluarkan darah itu. Ia hanya membatin dalam hati untuk menjawab sosok tersebut. "Apa maksudnya?"
"SAL?!!" panggilan Gopal yang nyaring membuat Salfa lebih terkejut dibandingkan kejadian barusan. Merasa telah mengganggu Salfa yang entah sedang apa, Gopal menggigit bibir bawahnya dan terdiam.
"Kenapa? Lo lihat apa lagi?" sahut Novan dengan gaya bicaranya yang khas jika menyangkut soal hal yang demikian. Salfa hanya membalas dengan menghela pelan, sehingga Novan kembali buka suara. "Ada apa aja disini? Genderuwo? Kuntilanak? Pocong? Atau jangan-jangan tuyul? Biar gue amanin duit gue kalau gitu."
Gopal mengernyit mendengar itu. "Lo nggak bisa menghargai dia dikit gitu, Nyet?"
Genta yang semulanya tak habis pikir pada Novan, tiba-tiba beralih fokus ke Gopal. Satu hal yang membuatnya merasa bangga, adalah pemuda itu yang sekali ini menunjukkan tanda-tanda kewarasan. Sesaat kemudian, fokus Genta beralih lagi ketika melihat satu tangan Salfa yang disembunyikan ke belakang. Mengepal.
Mata Salfa menyorot tajam ke Novan.
"Karena lo tanya, gue jawab," ujar gadis itu dengan suara memberat. "Yang barusan itu, laki-laki yang dari hidungnya keluar banyak banget darah. Kalau lo nggak keberatan, gue mau ngomong sama dia sekarang. Untuk bikin tidur lo nggak nyenyak malam ini."
Semua mata tertegun menatap Salfa. Sama-sama menyadari ancaman yang diberikan adalah tidak main-main dilihat dari caranya bicara. Beda dengan teman-temannya, Novan malah bersandar merentangkan tangan di sofa, lengkap dengan wajah santainya. "Wah, gue takut banget..."
Menggeram tanpa suara, lalu kemudian Salfa melesat keluar rumah. Tidak tahan satu atap lebih lama dengan Novan dalam situasi yang demikian. Mengapa pemuda itu sebegitunya memperlakukannya seolah-olah dirinya adalah orang paling aneh sedunia? Ia mengenal Novan sejak SMA, namun yang berbanding terbalik dengan sekarang. Novan dulu sangat pengertian dan sangat mendukung dirinya dan...
Ah, Sal! Kenapa bisa sampai kesana?!
Jedug! Salfa menendang batu yang ada di depannya sebagai bentuk pelampiasan amarah. Semak-semak di sebelahnya bergoyang, membuatnya waspada dan menjauh sedikit.
Tercekat dengan mulut yang nyaris terbuka, Salfa melihat sosok itu. Sangat mengagumkan. Kecantikan dan parasnya, senyumnya yang menawan, cara berdirinya yang anggun. Itu adalah sosok yang ia lihat ketika sampai di pelabuhan.
"Kamu... Siapa?" tanyanya pelan.
Sosok itu masih tersenyum. Beda sekali dengan yang pernah ia lihat. Terlebih, semua yang ada di rumah tua itu yang memandangnya tak suka, kali ini lain.
"Ta?" suara berat seseorang terdengar menggema. Tanpa Salfa menoleh pun ia tahu pemilik suara itu siapa.
Genta. Ia menyusul keluar, membawakan jaket untuk Salfa. "Dingin di luar. Pakai ini," ujarnya sambil mengulurkan jaket itu.
"Berani-beraninya ya lo main ambil aja di koper gue?!"
Pemuda itu menghela pelan. "Kinara yang ambilin. Jangan nuduh-nuduh."
Salfa menoleh ke balik semak. Sosok itu hilang. Belum juga sempat ia menanyai. Seketika, ia memutar kepalanya sembilan puluh derajat ke Genta, menatap jengkel padanya. Tapi, hendak marah-marah juga tidak bisa. Tentu ia tahu, selain Novan, Genta juga seorang yang logis meski ia berasal dari keluarga yang masih menjunjung tinggi adat Jawa.
Gadis itu kembali membuang muka, kali ini tangannya ia lipat di depan dada. Tak mempedulikan Genta yang tangannya masih terulur dengan jaket yang dibawa. Tapi, lama-lama tak tahan juga. Maka Salfa memilih buka suara.
"Gue nggak kedinginan. Udah lo masuk sana!"
Genta menggeleng. "Nggak. Gue nggak akan masuk sampai lo masuk."
"Peduli apa lo?!"
"Bukannya tadi Vin sama Kinara bilang, kalau lo itu sering dapat gangguan?"
Cih! Salfa meringis sinis. "Nggak usah sok care sama gue. Gue tau lo nggak percaya gituan."
"Gue percaya, Sal. Lo bukan orang yang suka drama sejauh yang gue kenal."
Salfa tertegun sebentar. "Jadi lo ngerasa kenal gue?" tanyanya dengan nada mengintimidasi, lalu menggeleng. "Lo nggak kenal sama gue. Gue bukan Salfa yang dulu lagi."
Disitu, Genta tersenyum. Salfa dapat melihat tatapan pemuda yang berubah dalam. "Lo nggak pernah berubah, Sal. Nggak dimata gue."
Dengan menurunkan tangan dari posisi bersidekapnya, Salfa berusaha menatap biasa saja ke Genta. Namun, lagi dan lagi, Salfa kalah. Rasanya, tatapan itu makin lama diperhatikan, makin dalam menjebaknya ke dalam harapan-harapan yang ingin ia buang.
Diakui atau tidak, Genta melihat Salfa salah tingkah. Gadis itu segera meraih jaket berwarna krem itu dari tangannya. Tentu saja dengan ekspresi galak.
"Ya, oke! Bagus lo bawain jaket gue. Kalau lo nggak mau masuk, ya gue yang pergi!"
Baru beberapa langkah berjalan menjauh dari rumah itu, suara tawa membuat kakinya terhenti. Disitu, Genta berujar, "Itu secara nggak langsung, lo pengen jalan-jalan sama gue. Iya, kan?"
Meski enggan, Salfa tetap memutar badannya. "Ge-er banget lo jadi orang! Lo pikir lo siapa sampai gue pengen lo jalan sama gue?"
Setelah mengatakan itu, Salfa melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, seraya mengenakan jaket. Rambut keritingnya yang panjang ia sampirkan ke bahu kanan, dengan terus berjalan tanpa menengok ke belakang. Sementara Genta yang tertegun mendengar jawaban Salfa, menatap nanar.
●●●●
Saat anak kecil tengah menikmati es krim dengan rasa kesukaannya lalu es krim tersebut jatuh menyatu dengan tanah, perasaan anak kecil itu mungkin bercampur aduk antara sedih karena es krimnya tak bisa ia makan lagi, dan menyesal karena tak bisa membawanya dengan hati-hati. Jujur, bisa dibilang begitulah yang Novan rasakan sekarang.
Dari sofa yang berseberangan dengan sofa tempat ia duduk, Kinara menatap tak suka padanya. Tentu saja, itu karena dirinya telah menyinggung perasaan sahabat gadis itu. Novan sudah tidak mood main lagi. Ia hanya memperhatikan Gopal dan Vin yang heboh sambil sesekali melirik Kinara, yang ekspresinya tetap sama.
"Gue mau tidur ah, capek," ujarnya sambil beranjak.
"Lo emang kayaknya lebih baik tidur, Van, Van..." balas Vin tanpa memalingkan pandangannya dari layar. Memang, bisa dibilang ia lah yang paling bersemangat bermain. Bagaimanapun, ide membawa playstation kemari adalah berasal darinya.
Novan hanya melirik sekilas ke Kinara ketika melewatinya. Segera ia berjalan menuju kamar. Benar-benar ingin tidur. Kepalanya sangat pening. Entah memang karena murni lelah, atau penyesalan atas ucapannya turut andil membuatnya seperti itu.
Pemuda itu melepaskan sandal yang dikenakannya. Merebahkan tubuh dalam kasur yang rasanya cukup keras. "Nggak enak gini tempat tidurnya? Padahal kamarnya udah bagus gini," gumamnya seraya kembali ke posisi duduk guna menata bantal.
Baru ketika ia hendak terpejam, ada sesuatu yang menyentuh indera penciumannya. Awalnya samar-samar, sehingga ia tak menganggapnya serius. Sampai, aroma itu, makin lama makin nyata. Seperti bau bangkai. Segera pemuda itu membuka mata. Ketika itu, sebuah bayangan seperti melesat cepat di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Siapa?" panggilnya.
Karena tak ada jawaban, Novan pun langsung bangun dan memeriksa. Lorong rumah menyisakan sepi. Suara ramai teman-temannya masih terdengar dari depan sana. Pemuda itu lalu menoleh ke arah lainnya, jalan menuju dapur. Tanpa pikir panjang pun ia langsung kesana. Tanpa ia sadari seorang nenek-nenek yang sangat tua mengikuti di belakangnya. Memandang tidak suka.
Sesaat kemudian, Novan segera berbalik meninggalkan dapur, kembali ke kamar lagi.
Kadang, kesombongan seseorang memang membuat orang tersebut tak menyadari gerak-geriknya sendiri. Meskipun sudah jelas, bahwa umpatan yang keluar dari mulut Novan tadi adalah bentuk dari ekspresi rasa takut, namun karena ia tetap teguh memegang keyakinan bahwa tak mempercayai hantu dan semacamnya, maka ia pun tak akan menyadari akan hal tersebut.
●●●●
Salfa memang tak mengenakan jam tangannya kali ini. Tapi seingatnya, ketika keluar dari kamar tadi, saat ia terakhir kali melihat jam dinding, jam menunjukkan pukul sembilan lebih lima menit. Jika dikira-kira, saat ia berjalan ketika itu, mungkin jam sembilan lebih lima belas menit?
Suasana malam di pulau itu masih ramai, hampir sama dengan Jakarta. Hanya yang membedakan, ketika di tempatnya tinggal, keramaiannya adalah berupa hiruk-pikuk modernisasi, disini lebih ke tradisional. Beberapa orang masih saling bercengkerama dengan menyeruput kopi hitamnya. Pemandagan yang jarang Salfa temui dimana orang-orang bisa dengan asyik berkumpul tanpa fokus ke ponsel masing-masing. Sangat damai menyaksikan kehangatan tersebut.
Gadis dengan jaket krem itu berhenti, merasakan sesuatu. Seperti ada yang memperhatikannya. Ia mencoba merasakan lebih dalam, hingga saat yakin, ia menoleh.
"Itu kan dia?" gumamnya.
Sosok cantik itu. Tengah menatapnya. Salfa kemudian melihat sosok itu berbalik dan berjalan masuk di antara dua rumah yang tampak seperti gang kecil. Segera ia mempercepat langkahnya. Tak tahu kenapa ia merasa sangat tertarik dengan sosok itu. Pertanyaan-pertanyaan yang ia simpan sejak siang sudah siap ia utarakan.
"Tunggu!" panggilnya.
Rupanya, sosok cantik itu berhenti. Lantas berbalik, masih lengkap dengan senyumnya. Salfa balas tersenyum, lalu segera mendekat. Kini mereka berhadap-hadapan.
"Halo?" sapanya gugup karena saking cantiknya sosok itu. "T-tadi... Kamu belum jawab pertanyaanku?"
"Aku Suri..." balas sosok itu dengan tepat, seperti langsung paham apa yang dimaksud Salfa.
Salfa mengangguk. "Hai, Suri... Aku Salfa..."
Suri hanya tersenyum.
"Kamu... Memang tinggal disini?" tanya Salfa kemudian.
Suri mengangguk kecil.
"Lalu kenapa kamu mengikuti aku dan teman-temanku sejak di pelabuhan?"
"Untuk menyambut kalian..." jawab Suri. Suaranya sangat halus. Sangat lirih. Salfa tak merasa takut sama sekali dengannya, malah, ia merasa nyaman. Sepertinya Suri sangat baik.
"Selamat datang, Salfa..." ujar Suri lagi, dibalas anggukan dengan senyum yang mengembang oleh Salfa.
Sesuatu kemudian terbesit di kepala gadis itu. Tunggu, Suri ini, mengapa tampak biasa saja dengan kedatangannya. Tak seperti hantu lain yang ia temui di berbagai perjuru, yang memperingatkannya untuk tak pergi ke pulau ini. "E, Suri..."
"Pasti kamu ingin bertanya mengapa aku tidak seperti mereka semua?"
Terkejut, Suri seperti membaca pikiran Salfa. "Gimana kamu bisa tau?"
"Aku tidak khawatir, karena aku yang ditugaskan menjaga kamu selama kamu disini..."
Salfa makin terbelalak. Namun ia masih memberi kesempatan Suri untuk bicara. Setelah hantu itu bisa menebak apa yang dipikirkannya sesaat tadi, tentulah tanpa menunggu Salfa mengajukan pertanyaan selanjutnya, Suri bisa menjelaskannya.
"Kamu pikir siapa yang membuat laki-laki tampan itu bisa dengan mudah membuka pintu toilet ketika di kapal itu kalau bukan aku?"
Laki-laki tampan? Maksudnya Genta? Cih!
"Menurutmu siapa yang menyalakan lagi kapal itu kalau bukan aku, Salfa?"
Hanya diam dengan tatapan tak percaya, senyum Salfa merekah sebagai bentuk kelegaan, juga merasa sama sekali tak menyangka bahwa Suri sudah menjaganya sejak sebelum dirinya sampai ke pulau. Barangkali, ia baru menyadari karena energi mereka baru terkoneksi ketika meninggalkan pelabuhan kala itu.
Salfa tersenyum lega. "Pak Aji baik banget ya udah kirim kamu. Terima kasih, Suri."
Setelah mengangguk sambil tersenyum, sosok Suri perlahan hilang. Sudah tidak aneh bagi Salfa melihat itu. Sekarang, rasanya ia sudah agak tenang. Beban pikirannya mulai meninggalkan kepalanya satu per satu. Meski sebenarnya, ada satu pertanyaan lagi. Ia berniat menanyakan sosok rambut pendek yang mengikuti Genta pada Suri, namun Suri sudah hilang duluan.
Beberapa saat kemudian, setelah Salfa sadar dari pikirannya, ia segera bergegas kembali sebelum teman-temannya panik. Apalagi, ia tidak membawa ponsel karena memang sedang di-charge di kamar.
Berjalan santai hendak keluar dari lorong antar dua rumah itu, Salfa lantas dikejutkan dengan kehadiran sesuatu. Sungguh penampakan yang amat sangat ia benci setengah mati. Berciri khas putih dengan lima tali yang melilit tubuhnya. Sosok pocong itu berdiri tepat menghadap ke arahnya. Hanya diam disana, menampakkan wajah gosongnya.
Salfa sudah beberapa kali melihat sosok pocong, namun yang kali ini berbeda. Wajahnya hitam legam, Ya Tuhan. Bulu kuduk gadis itu berdiri semua, bersatu padu dengan jantung yang berdebar tak karuan.
"Lo ngapain sih disana, Cong..." lirihnya setengah menangis. "Terus gue baliknya lewat mana..."
Sesaat kemudian Salfa menangis. Benar-benar menangis. Demi apapun ia sangat benci sekaligus takut melihat sosok pocong itu. Pikirannya bahkan tak bekerja lagi. Dengan cepat ia melupakan bahwa ia punya Suri yang menjaganya selama disini. Jalan satu-satunya yang terlintas di kepala hanya berbalik lagi, meneruskan berjalan sampai keluar dari lorong itu, lalu mencari jalan lainnya.
Ketika berbalik, Salfa tersentak.
"Aaa!!" kagetnya, nyaris berteriak. Tubuhnya bertabrakan.
1
2
3
"Sal?" suara Genta langsung menyahut, ekspresinya nampak bingung melihat Salfa yang ketakukan. Bahkan tangan gadis itu bergetar. "Sal, lo kenapa?"
Setelah memperhatikan dengan seksama beberapa detik tadi, dan memastikan bahwa itu adalah benar Genta Megantara, Salfa tanpa pikir panjang langsung merengkuhnya. Meringis dengan pipi yang bersandar di bahu Genta. Tak peduli kali ini ia menangis di hadapan pemuda yang ia benci sekaligus ia sayangi itu. Ia hanya ingin menangis.
"Sal, tenang, Sal. Gue disini, gue disini," ujar Genta dengan penuh pengertian, mengusap kepala Salfa. Tak ia pungkiri, rasa bahagia itu membuncah. Salfa memang tak berubah. Semua rasanya masih sama. Bahkan setelah dua tahun, hangatnya masih terasa sama. "Jangan takut, Sal. Gue disini."
Masih dalam pelukan Genta, Salfa tak sengaja melihat Suri yang berdiri dari jarak yang jauh. Meski begitu, ia dapat melihat Suri tersenyum padanya. Senyum yang mengingatkannya bahwa ia tak akan kenapa-kenapa karena Suri menjaganya.
Gue pengen nyesel udah peluk lo, Ta. Tapi hati gue nggak izinin gue untuk ngelepasin. Hati gue tetap sama, Ta. Selalu sama sejak empat tahun lalu gue kenal lo.
●●●●
Huwaaa baper baper ngeri gitulah intinya waktu nulis ini. Semoga suka dan feel-nya dapat ya, teman-teman^^
Terima kasih sudah setia nungguin update an AWAKENED. Makasih dukungan berupa vote dan komentarnya. Aku sayang kalian!
Jangan lupa tambahkan AWAKENED ke reading list kalau baru gabung. Bagikan juga ke teman dan keluarga biar makin rame^^
neiskaindria