
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Mobil yang berhenti di lobby hotel segera dipindahkan oleh petugas. Enam orang yang baru keluar berdiri berjajar menatap hotel besar tersebut. Salfa, langsung disuguhi pemandangan tak mengenakkan dari atas, dimana ada beberapa sosok wanita berbaju putih yang sudah melegenda di masyarakat. Kuntilanak. Mereka terbang kesana kemari.
Gopal mengawali masuk. Segera ke resepsionis guna mengatur kamar. Ia meminta tiga kamar yang bersebelahan, tapi sayangnya, karena hotel sedang ramai, mereka tak mendapatkan itu. Helaan berat terdengar dari Gopal yang sudah kembali dengan tiga kunci di tangannya. Menyerahkan itu ke Kinara dan Genta.
"Kamarnya mencar," kata Gopal yang langsung membuat semua temannya kaget.
"Ha? Kok bisa?" balas Vin.
"Penuh emangnya?" sahut Novan.
Semua pertanyaan tadi dijawab hanya dengan anggukan oleh Gopal. Disitulah, Salfa merasa parno sendiri karena ia tahu, bukan hanya dipenuhi pengunjung, namun disini juga sesak oleh hadirnya mereka yang tidak terlihat. "Kenapa nggak ke hotel satunya aja, Pal? Siapa tau nggak mencar-mencar gini?"
"Udah terlanjur, Sal. Sumpah ya gue capek banget saking nggak taunya lagi sama semua yang terjadi."
Mencoba mengerti karena memang apa yang dikatakan Gopal sudah mewakili kesemua temannya, enam orang itu pun lantas berpencar karena letak ruangan yang berbeda-beda penjuru. Para gadis berada di sisi selatan hotel, lantai dua. Genta dan Novan di sisi barat, lantai dua. Sementara Gopal dan Vin, berada di sisi barat, lantai tiga.
Kinara berjalan cepat menaiki tangga, sedikit kesal karena Salfa tidak mau diajak naik lift. Sahabatnya itu aneh, sangat aneh. Escalator, lift, bagi Salfa adalah hal yang harus dijauhi. Tiap kali ditanya alasannya, selalu menjawab tidak berani. Pernah satu kali Kinara memaksa Salfa naik escalator ketika di mall, yang ada tangannya malah pegal karena dipegang erat-erat oleh Salfa.
"Harusnya pikiran udah capek, badan jangan dibikin capek, Sal!" gerutu Kinara yang sesaat kemudian akhirnya menoleh ke belakang karena tak kunjung mendapat sahutan. "Lo ngapain masih di bawah?"
Salfa menatap sedih pada Kinara yang sudah setengah jalan. Di tangga, banyak dari mereka sedang duduk, dengan tatapan tidak suka, seperti pengusiran secara halus menurut Salfa. Sebelum ditanya lebih jauh oleh Kinara yang sudah menyorotnya heran, Salfa memilih untuk segera naik. Berjalan zig-zag karena tak ingin menabrak mereka.
Dari situlah Kinara akhirnya paham mengapa Salfa tak juga naik. Merinding itu kemudian terasa menjalari leher bagian belakangnya. Terlebih, hembusan angin tepat di telinganya, spontan membuat Kinara menoleh. Namun, tak mendapati siapapun. Di tangga itu hanya ada dirinya dan Salfa. Kinara makin merasa takut saja, mulai menduga, bahwa sepertinya malam ini akan panjang.
Dua gadis itu pun sampai di kamar nomor 037. Melega sebab ketika masuk, mereka disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Kamar hotelnya meski tak begitu luas, namun sangat rapi dan bersih. Tentu saja mewah karena memang hotel besar. Kinara buru-buru membanting tubuhnya di tempat tidur yang sangat empuk dengan sprei putih. Selimut bermotif kupu-kupu itu sangat lembut, membuat Kinara sangat nyaman mengusapnya.
"Cuci tangan cuci kaki dulu, Ra, sebelum tidur," ujar Salfa mengingatkan. Ia baru saja meletakkan kopernya di lemari. "Koper lo gue masukin sekalian ya?"
"Iya, makasih, Sal."
Salfa awalnya tak merasakan apapun, sampai, sebuah bayangan membuatnya menoleh. Dari balik tirai, seperti ada sesuatu di balkon kamar itu. Pandangannya sempat ia ubah ke Kinara sebelum berniat mengecek keluar. "Ayo, Ra. Buruan cuci tangan cuci kaki, abis itu gue."
Meski ogah-ogahan, tapi Kinara mengiyakan. "Iya, iya, bawel," balasnya sambil beranjak bangun.
Kinara membuka pintu kamar mandi. Disana juga sangat bersih. Sudah tersedia handuk, sabun, sikat gigi, sekalian pasta giginya. Kinara mencuci mukanya terlebih dahulu agar lebih segar sebelum mengistirahatkan badan. Gadis itu bangkit dari posisi menunduk. Masih dengan sabun yang memehuni wajahnya, secara samar, ia melihat perempuan berdiri di belakangnya. Kaget, tapi karena tidak bisa melihat dengan jelas, ia pikir itu Salfa.
Buru-buru ia membasuh wajahnya dengan air. Menoleh ke belakang, namun tak menemukan siapapun. Ia kembali mengingat pandangannya barusan. Perempuan dengan pakaian hitam. Segera setelah itu, Kinara mencuci kakinya dan keluar dari kamar mandi. Berharap bahwa Salfa benar-benar sudah berganti pakaian yang warnanya hitam. Meskipun ia tidak suka kalaupun tadi adalah benar bercandaan Salfa, tapi setidaknya itu membuatnya lega.
"Sal?" panggilnya heran ketika melihat pintu samping kamar yang menuju balkon terbuka. Dengan langkah pelan, Kinara menyusul. "Sal, lo ngapain disi-"
Tercekat, Kinara melihat orang yang ia kira adalah Salfa, dengan baju hitam, menoleh. Sayangnya, wajahnya kosong. Datar, tak ada apapun. "AAAAAAAAAAAAA!!" teriaknya dan langsung berbalik, ketika, sebuah tangan memegang bahunya dengan eskpresi terkejut.
"KINARA!! Hei, hei, k-kenapa, Ra?" tanya Salfa heran.
Kinara yang sudah sadar seratus persen dari keterkejutannya kemudian memeluk Salfa dengan tubuh yang bergetar hebat. "T-tadi, tadi, g-gue lihat..."
"Lihat apa?" tanya Salfa yang mengelus bahu Kinara untuk menenangkannya. Ia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi. Memang, tadi ia sampat melihat ke balkon namun tak ada siapa-siapa. Ia malah mendengar pintu kamar di ketuk dua kali sehingga membuatnya keluar, dan baru masuk lagi ketika mendengar Kinara menjerit.
"P-perempuan, kayak lo. T-tapi. Tapi," jawab Kinara terbata-bata. "Mukanya rata, Sal..." lirihnya kemudian, masih kompak dengan tangisnya.
●●●●
Gopal sudah membaringkan tubuhnya di kasur. Ia menoleh, melihat Vin yang sedang merokok ria di luar kamar, tepatnya di balkon. Rasanya, ia ingin menyusul. Namun, logikanya memaksa untuk tidur dan beristirahat, agar besok bisa mendapatkan kejernihan pikiran dan kebugaran badan. Pemuda itu memejam, berharap bisa tidur nyenyak.
Alam bawah sadar langsung membawa Gopal ke dalam mimpi. Seperti dirinya sedang berada di lorong hotel ini. Suasananya tampak sepi. Dilirik jam tangannya, menunjukkan pukul satu lebih dua puluh empat menit, dini hari. Ia hanya terus menyusuri jalan, ketika mendapati seorang perempuan berbaju hitam berdiri di dekat lift, menangis. Karena rasa tidak tega mendengar tangis sesenggukan dari perempuan itu, ditambah rasa penasaran yang tinggi, ia segera mendekat.
"Mbak?" panggilnya, namun tak ada jawaban. Barangkali karena larut dengan kesedihan, perempuan itu tak mendengarnya. Ia segera memanggil untuk kedua kali. "Mbak?"
Tetap tak ada sahutan. Sampai, Gopal memutuskan untuk memanggil lagi dengan volume yang lebih keras. "Mbak? Mbak kenapa?"
Sontak, Gopal dikejutkan dengan tangis yang mendadak berhenti. Pelan-pelan, perempuan di hadapannya itu memutar kepala. Yang aneh, badannya tak ikut serta. Kepala perempuan itu terus berputar, pelan-pelan, namun Gopal mendapati kepala perempuan itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Langsung tampak wajahnya yang kosong tanpa ada organ tubuh melekat disana.
"HWAAAAAA!!" teriaknya dan hendak berlari, namun perempuan itu lantas tersungkur, kemudian menarik kaki kiri Gopal dengan satu tangan.
Vin meletakkan rokoknya ketika mendengar Gopal berteriak. Ia mendapati temannya tersebut masih dalam kondisi berbaring dengan mata terpejam, namun wajahnya berkeringat luar biasa. "PALLLL?!! PAL!! SADAR, PAL!!"
Dan, ya. Gopal membuka matanya. Ia langsung memasang badan seperti waspada. Bangun dari posisinya dan duduk sambil menengok ke kanan dan kiri.
"Pal, lo kenapa?" tanya Vin yang masih belum sepenuhnya mengerti. "Mimpi buruk lo?"
Gopal menggeleng dengan napasnya yang masih coba ia atur. "Bukan cuma buruk. Serem gila, Njing!"
"K-kenapa? Ada apa? Ceritain."
Gopal mengatur napasnya sejenak. Lalu terpikirkan soal teman-temannya yang lain. Ia berinisiatif untuk meminta teman-temannya kesini, karena sepertinya yang baru saja ia alami bukanlah sekadar mimpi biasa. Setidaknya, ia bisa meminta saran Salfa yang memang mengerti akan hal-hal semacam itu.
"Mau kemana lo?" tanya Vin bingung.
Gopal tak menjawab. Namun, baru ketika hendak berdiri, ia merasakan nyeri yang teramat di bagian kakinya. Tak langsung ia lihat karena pikirannya tertuju pada satu hal. Pemuda itu seperti memiliki dugaan. Setelah kembali sadar dari lamunannya, Gopal langsung memasang kaki kirinya untuk menumpu di atas kaki kanan.
Vin mengernyit heran. Terkejut, saat Gopal langsung menunjukkan bagian dimana disana terdapat luka lebam yang memerah parah. Malahan, warnanya mulai menghitam di bagian tengah. Yang dilihat oleh Vin, Gopal seperti tak memindai terlebih dahulu mana yang sakit. Temannya tersebut langsung menuju ke satu titik, dan langsung tepat.
"Pal, itu kenapa?" Vin melayangkan pertanyaan sambil membulatkan mata. "Ngeri banget, Pal!"
Mata Gopal mengerjap tak tenang. "Gue mimpi sosok itu narik kaki gue. Tangannya tepat disini. Di bagian yang luka ini."
Untuk sekejap Gopal menatap penuh arti ke Vin. Berusaha menjelaskan lewat sinyal disana. Namun tetap saja, Vin masih memasang muka tak mengerti. Disitulah Gopal mendengus, sembari merintih kecil merasakan kakinya yang sakit.
"Sebelum gue mimpiin sosok itu, kaki gue baik-baik aja."
Terbelalak, Vin akhirnya paham apa yang dimaksud Gopal. Luka lebam di kaki temannya tersebut tentu adalah bawaan dari apa yang dimimpikan. Tapi, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi? Bagaimana bisa kenyataan merefleksikan apa yang terjadi di alam mimpi? Vin sungguh tidak mengerti.
"Panggil yang lain, Vin. Suruh kesini. Kita bahas bareng-bareng," pinta Gopal yang langsung diangguki setuju oleh Vin.
●●●●
Novan tengah menata ulang isi kopernya yang berantakan karena ia memasukkan pakaiannya asal. Suara-suara yang sejak tadi ia dengar, makin nyata. Pemuda itu beranjak, membuka tirai dan pintu menuju balkon, menelusur ke sekitar mencari darimana asalnya suara sahut-menyahut yang lebih seperti orang bertengkar itu.
Tak ada siapapun. Ia melihat ke sisi kanan, lalu kiri, juga ke bawah, tak tampak ada orang. Baru ia sadari sekarang bahwa hotel ini sangat sepi. Mungkin hanya lobby dan restoran saja yang ramai oleh pengunjung yang singgah. Tak mendapati apapun, Novan berbalik, memilih untuk masuk.
Kaget, ia mendapati seseorang berdiri membelakanginya. Perempuan, berbaju hitam. Dan entah bagaimana menjelaskannya, tapi detik itu juga, Novan tahu. Bahwa yang ada di depannya, bukan manusia. Lagipula petugas hotel mana yang akan masuk ke kamar orang malam-malam?
"Mau lo apa?" tanya Novan dengan tegas, seperti ketakutannya sudah kalah oleh rasa kesal karena harusnya, ia bisa beristirahat dengan nyaman disini. Tapi malah seperti ini.
Perempuan itu, berbalik, menampakkan wajahnya yang kosong. Hampir Novan ingin melemparnya dengan vas bunga yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang badannya, sosok itu menghilang. Itu adalah pertama kalinya seorang Novan melihat hantu dengan mata kepalanya sendiri.
Genta yang ketika itu baru keluar dari kamar mandi, tertegun melihat Novan yang bersiap melemparkan vas. "Ngapain lo?"
Keringat dingin bercucuran di pelipis Novan. Genta yang menyadari itu pun langsung paham bahwa sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Pemuda itu mendekat ke temannya yang masih mengusap muka dengan irama napas yang tak beraturan.
"TAAAAA!! VAAANNN!!" suara teriakan terdengar membuat dua pemuda dalam kamar menoleh ke pintu yang digedor keras. "BUKAAA!!!"
"Salfa?" gumam Genta yang langsung berjalan cepat menuju pintu.
"ADA HANTU!! MUKA RATA!!!" ujar Kinara yang sudah tidak sabar menunggu dipersilahkan masuk, sehingga begitu pintu terbuka ia langsung mengatakannya.
Salfa dan Kinara sendiri yang masih dikejutkan dengan insiden tadi, langsung berlari keluar kamar. Hanya kamar Genta dan Novan yang terpikirkan oleh mereka karena berada dalam satu lantai. Meskipun Salfa tidak tahu persis apa yang dilihat Kinara, ia yakin dan percaya bahwa sahabatnya tak mungkin berbohong. Kinara sampai pucat dan itu makin membuatnya panik.
"Tunggu, tunggu. Maksudnya apa?" tanya Genta sementara Novan masih terpaku tak bicara sepatah kata pun. "Hantu muka rata? Lo ngelihat hantu, Ra?"
Kinara mengangguk cepat. Apa yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri sungguh tidak bisa ia logika lagi. Gadis itu saja masih kesusahan mengatur napas. Salfa yang melihat sebotol air mineral di nakas samping tempat tidur, segera mengambil itu dan menyerahkannya ke Kinara. "Minum dulu, Ra."
Raut Genta langsung berubah gelisah. Ia mengusap wajahnya dan memijat-mijat pelipisnya karena rasa lelah yang luar biasa atas semuanya. Pemuda itu lantas meminta Salfa dan Kinara untuk duduk. Kemudian, menyadari tak ada sahutan sama sekali dari Novan.
Genta menoleh, dan di belakangnya, Novan masih diam termenung dengan pikirannya sendiri. "Van, ngomong sesuatu dong. Tadi kenapa?" tanyanya dengan nada cukup menggeram.
Pandangan Novan memindai dua gadis yang baru saja memasuki kamarnya. "Apapun yang lo lihat, Ra, gue juga lihat."
Mendengar itu Salfa dan Genta saling bertukar pandang, kaget. Seorang Novan berujar demikian adalah hal yang nyaris mustahil. "Serius?" tanya Salfa menanggapi apa yang Novan bilang.
Pemuda dengan kaos polo navy itu mengangguk. "Iya. Persis kayak yang Kinara bilang. Mukanya rata," jawabnya kemudian beralih pandang ke Genta. "Itu sebabnya gue mau lempar vas, Ta. Gue mau lempar ke dia, tapi dia tiba-tiba ngilang pas lo keluar dari kamar mandi."
Belum sempat Genta menanggapi apa yang dikatakan Novan, telepon berdering. Ia bergegas mengambil ponsel di atas nakas. Terpampang nama Vin di layar, dan tanpa pikir panjang Genta segera mengangkatnya.
"Halo, Vin?"
"Buruan kesini, semuanya! Ajak Salfa sama Kinara juga. Penting."
Tak langsung menjawab Vin, Genta malah melirik ke semua orang dalam kamarnya. "Iya, ini Salfa sama Kinara juga lagi di kamar gue. Ada sesuatu yang nggak beres, Vin."
"SHIIIIITTT!!" umpatan itu terdengar menggema di telinga Genta. Sepertinya memang sepenting itu sampai Vin tak bisa berkata-kata lagi. "Oke, kita semua kesana sekarang juga."
Sambungan terputus kemudian digantikan dengan tatapan penuh tanya dari Salfa, Kinara, dan Novan. Tanpa menunggu lagi, dan untuk menjelaskan juga akan makan waktu, Genta memilih mengajak mereka ke lantai tiga dengan buru-buru tanpa ketiga orang itu tahu apa alasannya.
Genta, yang tahu bahwa Salfa tak mau naik lift, langsung mengawali naik ke atas lewat tangga. Hal sederhana yang berhasil membuat Salfa tersenyum kecil di saat-saat genting seperti sekarang.
Vin rupanya sudah menunggu di depan pintu kamarnya. Semuanya pun segera masuk dan tentu saja terkejut melihat Gopal yang sedang mengobati lukanya dengan obat merah sebelum kemudian dibalut kain kasa.
"Lo kenapa, Pal?" kaget Salfa.
"Kok bisa sampai gitu?" sahut Kinara. "Itu sebabnya lo minta semuanya kesini?"
Disitu, Vin lantas meminta semuanya untuk duduk, dimanapun itu yang dirasa nyaman. Menjelaskan semuanya, yang dialami Gopal dari A sampai Z. Begitupun, Kinara dan Novan yang bergantian menceritakan apa yang terjadi. Dari semuanya, sudah jelas. Bisa disimpulkan bahwa ada sesuatu yang janggal. Mengingat yang diganggu bukan hanya satu orang seperti biasanya, tapi malah tiga orang sekaligus dengan waktu yang relatif sama.
"Ada yang janggal disini."
Salfa, mengatakan itu dengan keyakinan yang mantap. Detik itu juga ia mendapatkan ide untuk meminta tolong pada satu hantu yang ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Suri. Menurutnya, Suri pasti bisa membantu menjawab semua pertanyaan baik dari dirinya, maupun dari teman-temannya.
"Terus kita harus gimana?" tanya Novan dengan wajah yang masih terlihat gelisah.
Salfa menoleh pada pemuda itu. Menatapnya intens. "Gue akan tanya Suri."
●●●●
Yasshhh makin deg deg deg gitu pas nulis ini. Diusahakan update-an nya lancar kok hehe. Gimana, seru nggak part ini?
Dari sini teka-tekinya makin banyak ya hehe, ya maap, kalau nggak gitu ya nggak seru dong. Btw makasih ya untuk yang setia nungguin update-an AWAKENED!
Jangan lupa vote dan komentar yang banyak hehe. Jangan jadi sider dong, biar aku juga bisa mengevaluasi karyaku disukai orang-orang apa nggak:)
See you di part berikutnyaaaa!
neiskaindria