AWAKENED

AWAKENED
Dua Puluh Dua : Pencar



[[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Vin masih setia memegangi Kinara yang jalannya sempoyongan karena tak ada tenaga. Tangannya terus menggenggam, tak pernah ia lepas. Taksi yang mengantarkan mereka telah melengang jauh. Dengan langkah pelan-pelan karena menyeimbangi kecepatan Kinara berjalan, Vin dengan sabar menuntun gadis itu menuju rumah.



Sama-sama bertukar pandang sebelum mencapai teras, keduanya membulatkan mata dengan mulut yang terbuka saking tak percayanya. Betulkah ini rumah yang sama? Mengapa kotor dan kumuh sekali? Persis seperti rumah yang tak dihuni puluhan tahun. Yang benar saja, tadi ketika pergi meninggalkan rumah ini, Vin masih megingat jelas kondisinya. Tapi kenapa malah berubah drastis seperti ini?



"Ini bener rumahnya kan, Vin?" tanya Kinara yang masih berada dalam rangkulan pemuda di sebelahnya. Matanya memindai sekitar. Suasananya masih sama. Hanya yang membedakan adalah rumah ini. "Kok rumahnya jadi gini?"



Vin yang masih mencoba mencermati apa yang ia lihat pun tetap diam, tak menjawab Kinara sama sekali. Ia hanya berinisiatif untuk masuk, memastikan semuanya. Mobil sewaan ada di depan rumah, maka jelas teman-temannya ada di dalam, kan?



"Kita coba periksa ke dalam ya, Ra," ajaknya kemudian.



Kinara hanya pasrah mengikuti Vin yang menggandengnya. Ia seringkali melihat tangan yang tertaut itu di sepanjang perjalanan pulang tadi. Bahkan ketika di taksi, Vin terus merangkulnya. Kinara diminta menenangkann diri di tempat ternyaman yang ia tahu. Meskipun ya, ia mulai terbawa perasaan oleh perhatian-perhatian dari Novan selama disini, namun tetap saja, rasanya tak senyaman saat bersama Vin.



Pintu rupanya tak terkunci, makin membuat orang yang membukanya was-was. Vin pelan-pelan mengintip. Kepalanya masuk sedikit mencoba melihat ke balik pintu. Seketika, lututnya terasa lemas namun ia sebisa mungkin menahan, mengingat ada Kinara yang bagaimanapun perlu ia lindungi seperti janjinya pada diri sendiri.



"GUYS?!!" serunya ketika melihat tiga pemuda yang ia sangat kenal tengah tergeletak di lantai. Vin mengajak Kinara yang belum mengerti apa-apa untuk masuk.



Kinara langsung menutup mulutnya dengan tangan karena apa yang ia saksikan. Genta, Novan, dan Gopal tak sadarkan diri. Namun yang paling menyita perhatiannya, adalah darah yang mengalir di bawah Gopal. Lengkap dengan pisau yang masih tertancap di perutnya.



"PAALL?!!" Kinara histeris dengan suara bergetar. "Pal, bangun, Pal! PAL?!!"



Vin yang semula mencoba membangunkan Novan yang posisinya paling dekat, langsung menoleh ketika Kinara berteriak. Matanya mengerjap tak percaya melihat Gopal yang terluka parah. "PAL?!!"



Setelah sempat memperhatikan sekeliling yang tampak sangat asing karena semuanya berdebu, kotor, dan kumuh, Vin kemudian menyusul Kinara. Berusaha membangunkan Gopal dengan menepuk-nepuk pipi pemuda tersebut yang sudah pucat, pasti sudah kehabisan banyak darah. Fokusnya sudah beralih sepenuhnya, tak lagi menggubris rumah yang berubah dan tampak berbeda dengan sebelumnya.



"Pal, bangun, Nyet..." suara Vin makin lirih karena takut. Bayangan kehilangan itu makin nyata saja di kepalanya. "Pal?"



Posisi Gopal yang hampir tengkurap lantas dibalikkan oleh Vin, dibantu Kinara. Vin mengusap mukanya yang gelisah luar biasa. Tak tahu harus melakukan apa. Tak pernah berhadapan dengan hal semacam ini membuatnya kikuk. Melihat pisau yang masih tertancap itu, Vin sungguh tidak tega. Dengan menatap Kinara penuh arti, ia membuka suara.



"Gue cabut ya, Ra? Takutnya kalau kelamaan disana malah jadi infeksi."



"Tapi kalau malah kenapa-kenapa gimana? Mending kita panggil ambulance."



Ya, kenapa itu tak terpikirkan olehnya? Buru-buru Vin mengeluarkan ponsel. Sialnya, tak ada sinyal sedikitpun. Ia berlari keluar sebagai bentuk usahanya mendapatkan sinyal namun tak juga berhasil. "ANJING!" umpatnya kasar karena frustasinya telah memuncak.



"Nggak ada sinyal, Ra. Pasti gara-gara set-"



Belum sampai menyelesaikan kalimat ketika telah kembali ke ruang tamu, Vin tertohok ketika melihat Salfa berdiri tepat di pintu lorong dengan kepala yang menunduk. Tirai disana telah tergeletak di tanah dalam kondisi yang compang-camping. Kinara yang menyadari mata Vin tertuju pada satu titik pun menoleh ke belakang. Dan ketika itu, baru ia ingat bahwa sejak tadi tak ada Salfa.



"Sal?" panggil Kinara yang beranjak hendak mendekat, namun Vin segera mencegahnya.



"Jangan, Ra. Itu bukan Salfa."



Merasa ada yang tak beres karena kedua tangan Salfa berada di belakang tubuhnya seperti sengaja disembunyikan, Vin seperti dapat menduga sesuatu. Benar saja, tepat ketika kepala gadis itu terangkat, dan memunculkan wajah menyeramkan dengan darah yang memenuhi mulut, Vin langsung menarik Kinara dengan gesit ketika Salfa hendak menyerang.



"AAAAA!!" teriak Kinara kaget saat Salfa berjalan mendekati dirinya dan Vin dengan pisau yang menghunus. Sejak tadi Salfa memang tak ada di depan, sehingga Kinara berpikir itu pisau yang diambil dari dapur.



"Sal, kita teman-teman lo, Sal," ujar Vin masih dengan satu tangan yang mengodekan Salfa agar berhenti sementara tangan yang lain telentang melindungi Kinara. "Sadar, Sal. Gue Vin sahabat lo. Ini Kinara sahabat lo."



"GADIS INI SUDAH TIDAK ADA DALAM TUBUHNYA LAGI! HAHAHAHA! PERCUMA KAMU MEMANGGILNYA! DIA TIDAK AKAN DENGAR!"



Suara berat yang sudah jelas bukan suara Salfa itu terdengar nyaring sekaligus ngeri di telinga. Vin melangkah mundur pelan-pelan bersama Kinara yang meremas kaos bagian belakangnya karena takut. Ia berusaha untuk terus waspada pada setiap gerakan yang Salfa lakukan.



"RAAWWRRR!!" erang Salfa yang sudah diyakini bukan lagi seorang Salfa yang keduanya kenal. Vin berusaha menghidar ketika Salfa melayangkan pisau untuk melukainya dengan membabi buta. Bahkan, ia tidak segan mendorong Kinara untuk menjauh darinya agar lebih aman.



"TUANKU TIDAK SUKA PADA KALIAN SEMUA!!"



"Oh ya? Kasih tau tuan lo yang bangsat itu. Gue siap bunuh dia kapan aja!" balas Vin dengan berani, sambil terus menghindar. Mencari celah untuk dapat memegang tangan Salfa dan mengendalikannya.



Mendengar suara samar-samar, membuat Genta terbangun. Ia mencoba membuka matanya pelan-pelan. Kepalanya terasa sangat berat. Pening. Otaknya sedang memproses untuk mengingat-ingat apa yang terjadi. Tadi, setelah Gopal tertusuk, ia ingat bahwa dirinya dan Novan terhempas bersamaan dengan meja kursi yang ikut melayang. Dan itu yang membuatnya tak sadarkan diri.



Mulai bisa membawa dirinya lagi, dan mendengar suara-suara bising itu makin intens, Genta mengangkat kepalanya. Ia melihat Vin yang tengah berusaha melindungi diri dari Salfa yang masih dalam kondisi kerasukan. Ia juga melirik ke Kinara yang menutup mulutnya dengan tangan. Gadis itu seperti memohon agar ia melakukan sesuatu melalui tatapan mata dan Genta tahu itu. Pelan-pelan ia bangun. Melangkah dengan tanpa menimbulkan bunyi meskipun bandannya masih belum seimbang secara sempurna.



Segera ia memiting tangan Salfa, dan Vin langsung saja mengambil paksa pisau itu lalu segera menghempaskannya kemana saja. "Thanks, Ta," ucapnya dengan napas yang susah payah.



Genta hanya mengangguk singkat dan kembali fokus pada Salfa yang meronta hebat. "LEPAAAAAAASSS!! KURANG AJAR KALIAN SEMUA!!"



Vin segera membantu Genta mengendalikan Salfa. "Ta, kita bawa dia ke kamar. Kita kunci dan kita cari bantuan. Kalau nggak cepat, G-Gopal bisa nggak tertolong."



Di sela-sela memegangi Salfa yang tengah meracau kemana-mana entah bicara apa, Genta menoleh ke Gopal. Rasa prihatin itu menghujam dadanya. Segera ia mengikuti Vin dengan menyeret Salfa ke dalam, namun tetap dengan hati-hati karena bagaimanapun, raga itu adalah raga dari gadis yang ia sayangi.



"MAU KALIAN BAWA KEMANA AKU?!! LEPASKAN AKU, LEPAAASS!!"



"AKAN AKU BUNUH KALIAN SEMUA, LIHAT SAJA!!"



"TUANKU TAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN PERGI HIDUP-HIDUP!!"



Disitulah, Genta mengernyit. Bukan sekali dua kali iblis dalam tubuh Salfa tersebut menyebutkan kata 'tuanku'. Sebenarnya siapa tuannya?



"Tuan lo akan gue habisin sebelum dia sempat habisin kami semua!" tukas Vin yang tak tahan lagi.



Setelahnya, ketika sampai di kamar paling belakang, Vin segera mendorong tubuh Salfa dan Genta dengan sigap menutup pintu. Mereka mengunci rapat-rapat pintu tersebut. Terlihat di dapur, ada banyak kayu berserakan. Vin langsung menuju kesana mengambil beberapa untuk kemudian dipasang di pintu agar Salfa tak bisa keluar.



Genta hanya melongo tak percaya ketika melihat ke dapur. Matanya perlahan berganti ke posisinya saat ini. Juga kamar-kamar yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri. Rumah ini, kotor sekali. Mengapa tiba-tiba rumah ini jadi seperti ini?



"Vin, rumahnya," ujar Genta ketika Vin telah kembali dengan kayu-kayu itu.



Vin membanting kayu-kayu ke lantai berserta satu wadah paku yang berkarat yang ia temukan usai mengobrak-abrik dapur. Pandangannya membalas Genta. "Iya, gue tau."



"Ingat waktu Gopal nunjukin rekaman pas Salfa kerasukan tempo hari?" balas Genta, mengingat sesuatu yang kini ia yakini adalah benar. "Kita semua dialap-alap."



Mata Vin membulat. "Lo bener."



●●●●




Satu kali, mesin dinyalakan namun tak berhasil. Dua kali, tiga kali, tetap tak berhasil. Merasa aneh, Genta yang duduk di depan langsung turun dan membuka kap mobil. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati kabel-kabel disana putus semua, sangat berantakan. "SHIIIITTT!!"



"Kenapa, Ta?" Vin ikut turun dari mobil. Ia mendapati hal yang membuat Genta mengumpat barusan dan spontan menendang ban. "Nggak ada waktu, gue harus minta bantuan warga. Nggak peduli walaupun tengah malam. Teman gue harus selamat!"



Vin segera berlari menuju rumah terdekat. Mengetuk pintunya namun tak ada yang menjawab meski sudah ia lakukan berkali-kali. "Permisi? Pak? Buk? Tolongin saya. Teman saya sekarat!"



Kinara telah menyusulnya. Sadar bahwa tak ada sahutan, gadis itu ikut menggedor pintu bahkan lebih keras. "PAK? BUK? PERMISI!! TOLONG KAMI, KAMI MOHON...!!"



Rupanya, bukan karena tak ada orang. Warga sekitar rumah tua tadi ternyata mendengar erangan-erangan menakutkan yang membuat mereka meringkuk bersama-sama di ruang tamu dengan semua anggota di rumah masing-masing. Lampu sengaja mereka matikan semua karena tak ada dari mereka yang berani mengambil resiko membantu, mengingat apa yang telah terjadi pada wanita yang dibunuh tempo hari, yang berkaitan dengan enam anak muda ini.



Genta dan Novan pun ikut menggedor pintu rumah yang lain, namun sama saja. Tak ada sahutan. Sampai, mereka akhirnya menyadari ada yang ganjil karena kesemua lampunya tak ada yang menyala. Hanya lampu jalan yang menerangi, bersamaan dengan cahaya bulan.



"PAK, BUK, TOLONG. KALAU KALIAN MEMANG DI DALAM, TOLONG BANTU KAMI, KAMI MOHON. TEMAN KAMI SEKARAT!!" teriak Novan keras-keras lalu disusul hantaman di pintu. Tangannya yang terkepal ia pukulkan kesana karena frustasi.



Genta yang melihat itu pun tak tinggal diam. Ia masih terus menggedor pintu dengan harapan yang masih tersisa agar ada yang keluar. Setidaknya, ada suara yang menyahut agar mereka tahu alasan mengapa semua orang seperti ini. Genta dapat menduga bahwa ini tak mungkin kebetulan. Semuanya pasti sengaja.



"Pak, Buk..." suaranya melunak, merasakan seluruh rasa lelah bercampur bersalah karena tak bisa melindungi temannya. "...teman saya bisa mati kalau kalian nggak membantu kami..."



Mendengar suara lirih tersebut, pasangan suami istri yang meringkuk dibalik pintu pun merasa iba. Namun disana juga ada anak mereka yang tak bisa mereka bahayakan nyawanya. Warga disini memang masih sangat tradisional. Mereka mempercayai alam lain lebih daripada orang awam. Sang bapak pun akhirnya bersuara.



"Maaf, Mas. Bukan tidak mau membantu. Tapi kami tidak ingin berakhir seperti ibu-ibu itu."



●●●●



Novan yang tubuhnya paling jangkung, membopong Gopal sendirian dengan kedua tangannya. Ia diekori Vin, Genta dan Kinara berjalan menuju ke jalan raya untuk menghentikan kendaraan yang lewat agar membantu mereka. Jika marah-marah ke warga, rasanya tak akan adil karena rasa takut itu relatif.



Kinara rasanya sudah kehabisan air mata. Melihat Gopal yang tak sadarkan diri dengan muka pucat seperti itu menambah beban pikirannya yang juga sedang tertuju pada Salfa. Bagaimana nasib sahabatnya itu?



"Kalau sampai Salfa kenapa-napa, gue nggak akan maafin diri gue sendiri," ujar Kinara pada siapa saja.



"Nggak, Ra. Satu-satunya orang yang harus tanggung jawab cuma si bangsat itu!" ketus Vin.



Langkah Genta terhenti. Novan juga sebenarnya ingin berhenti namun ia harus menyelamatkan Gopal dengan segenap kemampuannya dan kekuatan yang tersisa. Ia meninggalkan Genta yang menghalau Vin dan Kinara.



"Maksudnya, lo tau siapa yang lakuin semua ini ke kita?" tanya Genta dengan nada yang mengintimidasi.



Tampak Kinara ingin menangis, namun air matanya tak mau keluar. Hal yang sangat menyebalkan karena dengan begitu, dadanya akan semakin sesak karena tak punya jalan untuk mengeluarkan emosi yang tersimpan. Genta masih menunggu jawaban. Tatapannya berubah tak biasa pada Vin dan Kinara.



Vin, yang jelas tak tega pada Kinara untuk mengatakannya, diam beberapa saat tak tahu harus menjawab apa. "Kita bawa Gopal ke rumah sakit dulu," ujarnya mengalihkan topik pembicaraan.



Genta langsung menghempas satu bahu Vin yang hendak berlalu dengan tangan yang menggandeng Kinara. "Gue percaya Novan bisa ngatasin itu. Sekarang jawab gue!"



"Ta-"



"JAWAB GUE, SIAPA YANG LAKUIN INI?!!"



"BOKAP GUE!" balas Kinara dengan membentak. Ia paham dan mengerti bahwa Vin tak akan mengatakannya karena kasihan pada dirinya. "BOKAP GUE, TA. PUAS LO?"



Tercekat, dengan desiran aneh yang merebak, Genta mengepalkan kedua tangannya. Namun karena merasa belum sepenuhnya paham, ia memilih menunggu lanjutan dari gadis berkacamata yang kini ia tatap tajam.



"Bokap gue punya dendam sama bokapnya Salfa, makanya dia ngelakuin semua ini. Dendam yang sebelas tahun dipendam, dan sekarang adalah puncak pembalasannya."



"Masih berani lo ya disini? Masih berani lo nemuin kita semua? Masih berani lo ngomong sama gue?" nada bicara Genta sangat menusuk.



Langsung saja Vin maju dan pasang badan melindungi Kinara. "Kinara nggak salah, Ta. Lo nggak lihat betapa malu dan sedihnya dia untuk ngomongin ini sama lo, ha? Bokapnya sendiri culik dia dan ngurung dia di ruang bawah tanah agar nggak ngacauin semua rencananya, DAN SEKARANG LO MAU HAKIMIN DIA?"



Tangan Genta terkepal makin kuat dengan wajah yang berubah merah padam. Selama disini, baru kali ini ia tak dapat membendung emosinya. Mulutnya menggeram tanpa suara, matanya berkaca-kaca.



"LIHAT APA YANG TERJADI, VIN! LO LIHAT SENDIRI GIMANA SALFA TADI! ENTAH LO PEDULI ATAU ENGGAK TAPI YANG SEKARAT NGGAK CUMA GOPAL! GUE BAHKAN SAMPAI RELA NINGGALIN SALFA DISANA SENDIRIAN CUMA BUAT MERJUANGIN NYAWA GOPAL! SEKARANG, LO BELAIN DIA?!"



"IYA GUE BELAIN DIA, KARENA GUE YANG JAUH LEBIH TAU DIA DARIPADA KALIAN SEMUA!!" balas Vin lantang. "APA MAKSUD LO NGOMONG ENTAH GUE PEDULI ATAU ENGGAK, HA? APA LO PIKIR SEMUA INI NGGAK BIKIN GUE GILA? APA LO PIKIR GUE NGGAK MIKIRIN SALFA JUGA?"



Wajah dua pemuda itu sama-sama menegang. Kinara kemudian memberanikan diri untuk menengahi mereka. Vin telah menghalaunya namun ia tetap kekeh menghadap lebih dekat ke Genta.



"Nggak ada gunanya lo berantem sama Vin, Ta. Yang salah gue, lo bener. GUE AJA YANG SALAH!"



"Ra-"



"DIEM DULU, VIN!" bentak Kinara menyergah ucapan pemuda di belakangnya. Matanya kembali menatap ke Genta. "Apa mau lo, Ta? Apa yang harus gue lakuin agar lo bisa percaya kalau gue nggak sama kayak Bokap gue?"



Genta melunak ketika mendapati cairan bening itu menembus mata Kinara. Ia memang tidak pernah tega melihat perempuan menangis. Sesaat, ia sempat berpikir bahwa dirinya sudah keterlaluan. Tapi emosinya telah mendominasi hingga sedikit saja akal sehat tak ada yang tersisa.



Pemuda itu lantas mengangguk-angguk kecil dengan mata yang masih intens menatap Kinara. "Pergi."



DEG! Kinara merasakan dadanya seperti ditusuk belati yang amat tajam. Seakan-akan secuil kesempatan tak ia dapatkan. Isakannya kini terlepas, itu membuat Vin berganti maju dan memindahkan gadis itu ke belakang.



"Pergi, jangan balik sampai nemuin bantuan. Kita harus mencar untuk cari orang yang bisa nyelamatin kita semua terkhususnya Salfa dari semua ini," ujar Genta lagi, sebelum Vin sempat mengucapkan sepatah kata.



Ya, Genta masih punya perasaan untuk mencoba mengerti. Ia memberikan kesempatan untuk Kinara membuktikan semua itu.



●●●●



Genta tuh kalo udah marah serem banget. Dari awal dia muncul di cerita ini, kalian semua mengenal Genta yang selalu tenang paling sabar. Sekarang kebalikannya wkwk^^



Gimana, suka nggak? Semoga betah ngikutin AWAKENED selalu ya. Tinggal beberapa part lagi ayooo bantu aku naikin rank cerita dengan vote dan spam komen!



MULAI SEKARANG UPDATE TIAP HARI BIAR AKU NGGAK DI PROTES KALIAN-KALIAN LAGI.



See you di part berikutnya. Lebih seru!



neiskaindria