
Jika hari libur biasanya digunakan untuk bersantai di rumah dari segala kepenatan duniawi, maka kali ini Retha tidak bisa melakukan itu. Sengaja ia mengajak Ical dan Fadhil untuk nongkrong di kafe langganan mereka, karena ada yang ingin ia tanyakan soal Wira. Masih jelas ia ingat bahwa cowok dingin itu menolak ketika ia mengulurkan tangan mengajak berkenalan. Bisa-bisanya Wira begitu, padahal dengan bersalaman dengannya, tangan cowok itu juga tak akan rabies.
Masih mencari momen yang tepat, Retha memilih menikmati dulu cokelat panasnya sambil membaca novel, karena Ical dan Fadhil sudah bertitah tak ingin diganggu dulu sebab mereka sedang mabar game online. Daripada tak mendapatkan apa yang ia mau, maka Retha memilih untuk menurut. Gadis itu sesekali menyinis pada dua temannya. Ia bahkan sudah dapat setengah novel, namun dua manusia menyebalkan itu masih tak selesai-selesai.
“YUHUUU!! VICTORY!!” seru Fadhil, mengundang pandangan orang-orang di kafe tersebut. Sementara Ical malah terkekeh karena ekspresi Retha yang terlihat menahan malu.
Ya, memang benar. Retha memang mati-matian menahan kekesalan. Seolah kesabarannya menunggu Ical dan Fadhil masih belum cukup, ia harus mendapatkan momen awkward macam itu. Kadang ia menyesalkan mengapa harus kenal dengan dua cowok tersebut. Meskipun mereka berbeda kelas, tapi karena ada di dalam ekstrakulikuler yang sama, jadi pertemanan mereka makin dekat.
Baiklah, Retha merasa sekarang saatnya bertanya. Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman. “Eee … by the way, yang kemarin itu … teman kalian?”
“Yang mana, Beb?” balas Fadhil sengaja menggoda.
“Apaan, sih, Bab Beb Bab Beb!”
“Iya iyaaaa marah-marah mulu. Yang manaaa?”
“Yang di perpus kemarin. Wira atau siapa itu lah namanya, lupa gue,” balas Retha berpura-pura. Gadis itu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Giliran Ical yang menyahut. “Iya sekelas gue itu mah. Kenapa lo tanya?”
“Nggak apa sih. Cuma kaget aja. Nggak pernah lihat soalnya.” Retha kembali menyeruput minumannya, belagak santai seolah tak ada apa-apa. Padahal, tiap menyebut nama Wira, hatinya bergetar hebat yang ia sendiri tak mengerti itu perasaan apa.
“Dia emang jarang banget keluar kelas. Aneh emang tuh anak. Masa iya kalau gue ajakin keluar alasannya selalu sama. Takut cewek-cewek naksir sama dia, katanya. Beeuuhhh. Padahal mah cakepan gue kemana-mana. Hahaha,” ujar Fadhil membanggakan diri.
“Sakit jiwa lo ya!” hanya itu kalimat yang sanggup Retha ucapkan sebelum akhirnya kembali membaca novel. Ical pun hanya geleng-geleng tak habis pikir. Fadhil memang manusia paling percaya diri sedunia. Jika diukur dari nilai 1-10, tingkat kepercayadirian Fadhil adalah 17. Tapi, sejujurnya ingin sekali Retha menyanggah ucapan Fadhil. Bahwa Wira jelas lebih ganteng darinya, dan masuk akal kalau Wira bilang seperti itu. Retha akui Wira lebih berpotensi digandrungi cewek-cewek daripada Fadhil.
Wira. Wira. Wira. Entahlah, nama itu melekat di pikiran Retha. Cowok jutek yang baginya sangat misterius. Saat itu juga Retha meraih ponsel, mengesampingkan chat-chat Whatsapp yang masuk yang di antaranya adalah chat dari Pak Taufan, mengabari perihal anak-anak yang sudah pindah ke panti asuhan. Padahal ia tak ingin tahu juga. Justru, Wira lah yang membuatnya kagum karena berani speak-up kemarin. Segera melupakan itu semua, Retha lantas membuka media sosial. Langsung saja ia menuju ke pencarian.
“Wiratama siapa ya namanya?” gumamnya pelan tanpa diketahui Ical dan Fadhil. Ia lupa nama belakang Wira.
Namun tampaknya otaknya bekerja dengan sempurna. Ia justru membuka profil Ical. Berpikir bahwa pasti ada di daftar yang diikuti. Dengan lincah jemarinya menuliskan nama ‘Wiratama’ dan langsung saja, muncul satu-satunya akun: @wiratm.adidana
Profil pun terbuka. Benar-benar cowok yang tertutup rupanya. Hanya ada satu postingan saja disana. Itupun ekspresinya datar tanpa senyuman. “Nih orang emang nggak bisa senyum apa gimana ya?” gumamnya lagi yang tanpa sadar didengar oleh dua temannya.
Cukup lama Retha memandangi foto tersebut. Meski tanpa senyuman, Wira tetap memperlihatkan wibawanya. Posenya memang biasa saja. Kaku. Namun tetap terlihat keren dan rupawan. Seulas senyuman kemudian Retha tampakkan. Segeralah ketika itu, Ical yang memang paling dekat posisinya dari Retha, menoyor bahu gadis itu hingga terhenyak kaget.
“Kenapa lo senyum-senyum?”
“Ha? Siapa yang senyum-senyum, enggak kok.”
Fadhil pelan-pelan pindah tempat duduk, menyebelahi Retha. Sedikit mengintip namun untung saja Retha segera sadar lalu langsung memasukkan ponselnya ke tas. “Apa sih lo?!” sungutnya.
Kemudian Fadhil memicingkan mata, ekspresinya campuran antara meledek dan mengintimidasi. “Oh, lo stalking cowok ya pasti? Ya, kan? Ngaku lo!”
“Apa sih nggak jelas banget lo!” balas Retha sewot. Makin memperkuat dugaan Fadhil yang kini sudah lempar tatapan dengan Ical, mencurigai satu hal.
●●●●
Di siang yang terik, seorang cowok baru saja keluar dari sebuah panti asuhan, bersama dengan laki-laki berkemaja rapi. Keduanya sama-sama melega, karena apa yang diusahakan sejak kemarin mendapat titik terang hari ini. Dua anak malang yang ditinggalkan ibu mereka, telah mendapatkan apa yang layak mereka dapat. Pak Taufan telah menyelesaikan tugasnya dalam mengemban tanggung jawab atas yang dilakukannya.
Ketika hendak berpisah jalan dengan sang guru, Wira menghentikan motornya di depan gerbang panti asuhan itu karena merasakan sesuatu. Cowok itu menoleh, mendapati hantu ibu-ibu yang rupanya mengikutinya.
“Terima kasih, Nak. Kamu orang baik,” kata si ibu.
Wira mengangguk sebagai balasan. Lantas melihat wujud hantu itu pelan-pelan memudar lalu hilang, menyatu dengan angin yang membawanya pergi dari alam dunia karena tak ada lagi yang memberatkan langkahnya.
Ya, satu hal telah Wira selesaikan. Kini gilirannya memastikan soal kejanggalan meninggalnya Franda. Sengaja ia tak langsung kembali ke rumah, malah menuju kompleks tempat tinggal gadis yang ia suka. Seperti umumnya suasana rumah orang-orang kaya. Sepi. Cengkerama antar tetangga jelas tak berlaku di situ. Yang ada hanya saling berlomba menampakkan rumah siapa yang paling megah. Wira melewati beberapa tukang yang merenovasi satu rumah. Lalu, jarak beberapa rumah lagi, terdapat kegiatan yang sama. Itu sebabnya, ia menilai bahwa orang-orang kaya ini sedang berlomba.
Rumah yang sudah tak ramai lagi—tidak seperti dua hari lalu, tampak nanar di tatapan Wira. Rumah Franda. Siapa sangka, takdir membawanya ke sana setelah perkenalan singkat di lapangan upacara waktu itu. Sayangnya, ketika ia datang, hal yang menyambutnya bukan kesukacitaan. Hanya tangis.
“Kuatkan hatimu, Nak.”
Sebuah suara mengejutkan Wira, membuatnya langsung menoleh. “B-Bapak siapa?”
“Saya? Sesuatu yang tak dianggap ada,” balas si bapak.
Barangkali karena sedang bersedih, Wira tak menyadari bahwa di bawah hidung laki-laki tua itu tak terdapat garis khas yang dimiliki manusia. Mendengar jawaban si bapak, baru lah ia tahu siapa si bapak, setelah sempat menoleh juga ke bawah dan mendapati kaki beliau tak menapak tanah.
“Maaf, Pak. Kalau saya boleh bertanya—“
“Pulanglah!” sambar si bapak seketika, belum juga sempat Wira menyelesaikan kalimat.
“Saya bilang pulang, PULANG!” Lagi-lagi hantu laki-laki itu menyergah kalimat Wira. “Jangan cari masalah. Lupakan soal semua ini, dan hiduplah dengan aman!”
Tepat setelah mengatakan itu, si bapak langsung menghilang. Tentu Wira kaget karena itu sangat tiba-tiba. Cowok itu menoleh ke kanan kiri dan makin tak mengerti. Si bapak benar-benar lenyap, tak mau menampakkan diri lagi. “Kemana dia?”
Cuaca yang semula terik, langsung berubah. Awan yang cerah nan menyilaukan ketika dipandang mata, berganti kelabu. Wira juga merasakan angin yang berubah di sekitarnya. Hawa yang tak enak. Keadaan hening makin mendominasi, namun suara angin terdengar makin jelas di telinga; lirih dan ngeri. Bulu di belakang leher cowok itu berdiri, dan pelan-pelan ia menoleh ke rumah Franda.
Sosok hitam besar mengerikan itu, berdiri tak jauh dari tempat Wira. Wajahnya yang menakutkan terlihat kental akan kemarahan. Segera Wira melompat ke motornya, tancap gas untuk pergi dari sana dengan dada berdebar hebat. Seumur-umur, baru kali ini ia melihat makhluk semengerikan itu. Meski sudah akrab dengan dimensi lain, rasa takut masih menjadi hal yang manusiawi untuk ia rasa.
Karena kalut dan tak dapat fokus ke depan sebab ia tahu sosok itu mengerjar di belakang, di persimpangan Wira tak bisa menghindari tabrakan dengan motor lain. Langsung saja ia banting setir dan terjatuh di trotoar, sementara motornya menabrak pagar sebuah rumah. Wira lebih fokus ke rasa takutnya ketimbang rasa sakit akibat terjatuh itu. Keringat bercucuran dengan mata yang terpejam, cukup menjelaskan bagaimana takutnya dia. Dada cowok itu sampai kembang kempis tak beraturan.
Yang aneh, beberapa saat kemudian, keadaan sekitar seperti kembali normal. Pelan-pelan, cowok yang menunduk dengan kedua tangan melindungi kepala itu, membuka matanya. Menyaksikan tatapan para tukang yang kebingungan melihat dirinya. Lagi-lagi ia menoleh kesana kemari, namun, sosok menyeramkan itu, sudah tak ada lagi.
●●●●
Tatap mata saling lirik di ruang tamu, membuat Wira merasa terpojok. Pembantu rumah tangga di rumah Ical baru saja memberinya orange juice yang segar yang seharusnya membuatnya merasa lebih baik, namun tiga orang lainnya membuat ia tak bisa berkutik.
“Cepat jelasin, gimana bisa lo jatuh?” tanya Ical sambil bersidekap. Ia duduk tepat di hadapan Wira, berseberangan dipisahkan oleh meja.
“Ntar dulu kenapa sih kalau tanya-tanya! Nggak lihat keadaannya?” tukas Retha karena tak tega melihat Wira. Lutut dan siku cowok itu berdarah, lukanya cukup parah. Ketika mengobati Wira barusan, ia sendiri saja sampai tak bisa membedakan tangannya bergetar hebat karena ngeri atau karena grogi.
Retha memang sangat panik ketika mendapat kabar soal yang terjadi. Ketika di kafe tadi, ponsel Ical berdering. Telepon dari Wira yang mengatakan bahwa cowok itu jatuh di kompleks tak jauh dari rumah Ical. Membuat Ical dan Fadhil cukup kaget, tidak tahu mengapa Wira bisa ada di sana.
“Lagian lo tumben banget mau main tapi nggak ngabarin?” tanya Ical lagi. “Tapi … lo ngapain juga pakai lewat jalan situ? Itu muter jauh dari rumah gue kali.”
Pertanyaan-pertanyaan itu makin membuat Wira pusing. Tidak mungkin rasanya untuk mengatakan bahwa ia baru saja dari rumah Franda. Yang teman-temannya tahu, ia tak mengenal Franda sama sekali. Dan soal ia jatuh, bahkan Wira sendiri masih tak tahu bagaimana menjelaskannya. Ia juga masih bingung karena saat ditolong para tukang itu, baru ia sadari bahwa ia jatuh sendiri. Tak ada motor lain yang jatuh bersamanya. Padahal jelas-jelas ada motor yang membuatnya sampai banting setir.
Dari analisanya pribadi, bisa disimpulkan bahwa yang tadi adalah kejadian tak biasa. Mengingat betapa anehnya dirinya dimata para tukang tadi, membuat Wira tak ingin menampakkan diri di depan mereka semua lagi. Tentu saja ia malu. Kalau-kalau perlu ke rumah Franda, Wira sampai siap untuk mencari jalan lain.
“Eh, nih anak malah bengong,” sahut Fadhil kemudian.
Dari semuanya, bisa dibilang Retha lah yang paling bisa membaca gelagat Wira. Cowok itu, memiliki sesuatu yang disembunyikan, Retha tahu itu. Tapi apa?
Sementara itu, Ical dan Fadhil yang sudah lelah bertanya namun tak ada jawaban juga dari Wira, memilih untuk menyerah. Lalu sesuai apa yang mereka katakan beberapa saat sebelum menginterogasi Wira, bahwa mereka akan keluar membeli makanan untuk keempatnya, maka mereka pun bergegas keluar lagi. Mie ayam depan pintu masuk kompleks itu sangat enak, dan sudah jadi langganan. Membayangkannya saja, sudah membuat mereka makin keroncongan.
“Retha pedas, kan?” tanya Ical sebelum keluar. Gadis yang ditanyai pun mengangguk. “Lo, Wir?”
“Nggak gue.”
“Lah, kenapa?” sahut Fadhil. Bisa-bisanya Wira menolak mie ayam seenak itu, pikirnya.
“Males,” jawab Wira sekenanya. Pikirannya masih dirundung kekacauan tak tersudahkan.
Ruang tamu itu kini hanya menyisakan Retha dan Wira. Tak ada percakapan apapun, membuat Retha makin tak nyaman. Ia ingin memulai obrolan, namun tak tahu apa yang harus ia bahas. Padahal, seorang penulis sepertinya seharusnya bisa dengan mudah merangkai kata dan mencari topik. Tak biasanya Retha seperti itu. Tapi, gadis itu merasa tak bisa menyia-nyiakan kesempatan. Ini momen pas untuk berkenalan.
“Oh iya, gue … belum sempat ucapin terima kasih karena lo udah nolongin gue kemarin di perpus,” ujar Retha memulai basa-basinya.
Wira tak menoleh, hanya melirik tanpa mengatakan apapun. Gadis bernama Retha itu, mengapa percaya diri sekali? Siapa juga yang membantunya? Wira hanya sedang mencari Pak Taufan dan kebetulan guru tersebut melakukan hal yang salah pada gadis itu. Kalau saja Pak Taufan tidak melewati batas ketika itu, sudah dapat dipastikan hadirnya Retha tak akan dianggap apa-apa oleh Wira.
“Eee … Ical sama Fadhil udah cerita tentang gimana lo tahu soal kejadian tabrak lari itu. So, gue salut sama lo karena berani speak-up,” ujar Retha lagi masih tak menyerah.
Bagi Wira, Retha dan kedua temannya sama sekali tak tahu yang sebenarnya, jadi ia tak merasa perlu menanggapi. Andai saja ia bisa bilang ‘cukup’ agar Retha mau berhenti bicara, karena ia sedang memikirkan soal sosok hitam besar itu. Namun, ia juga sadar bahwa itu akan tampak tidak sopan.
Ketika melihat Wira hanya diam, Retha yang makin kikuk tak sengaja menangkap darah segar mengalir di pelipis cowok itu yang luput dari pengamatannya ketika mengobati tadi. “Eh, itu—”
Dengan gerakan secepat kilat, Wira langsung menyergah gerakan tangan Retha yang baru saja beranjak mendekat padanya. “Gue nggak suka disentuh,” tukasnya dingin. Amat dingin.
Tubuh Retha tertahan, dengan tangan yang dicekal Wira. Tatapan mata mereka bertemu karena jarak wajah yang tak begitu jauh. Debar-debar itu, makin terasa nyata memenuhi dada Retha. Untuk meneguk saliva saja, gadis itu kesusahan. “E-eh … i-itu mau ngelap … lo b-berd-darah,” ujarnya terbata-bata sambil menjauh.
Satu hal yang Wira sadari seketika itu. Retha sangat gugup sampai tak berani menatap matanya lagi. Jarak yang dekat tadi, cukup untuknya dapat mendengarkan detak jantung gadis itu yang memburu. Tak bisa ia biarkan. Mulai sekarang, sepertinya ia harus menjaga jarak dengan Retha sebelum mereka lebih kenal lagi. Sama seperti yang ia lakukan ke Feni—teman sekelasnya. Seketika, Wira merasakan kehadiran Retha membuatnya risih. Jika ia tidak salah, gadis itu mulai punya rasa yang tak seharusnya padanya, maka itu bisa mendatangkan bencana.
Ya, bencana. Mengingat Wira sedang dalam misi mengusut perihal Franda—gadis yang ia cinta, dan tak ada waktu meladeni hal lainnya termasuk Retha.
●●●●
AWW UWU BANGET NGGAK SIH COWOK YANG PUNYA JULUKAN KULKAS BERJALAN DITEMUIN SAMA CEWEK YANH CEREWETNYA MINTA AMPUN?
KUY DITUNGGU KEDATANGAN KALIAN DI INNOVEL, DI CERITA WIRA "FROM 30 SECOND" SEE UUUUU!