AWAKENED

AWAKENED
Empat : Jumpa Lagi



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Now playing : Nidji–Nelangsa



    



     Yang telah hilang           Datang lagi ke hidupku           Saat jauh-dekat           Semuanya sama           Ku selalu mencintaimu



Sore itu Salfa tampak sangat sibuk memasukkan satu per satu barang ke dalam sebuah koper besar. Mulutnya merapal nama barang-barang yang ia masukkan dengan sesekali matanya melirik ke secarik kertas di atas kasur dekat dirinya duduk saat itu. Apa lagi jika bukan daftar barang-barang yang harus ia bawa. Hari yang sudah ditunggu-tunggu dan direncanakan sejak hampir dua minggu jatuh pada hari ini.



Perlahan gadis itu menutup kopernya rapat, ia mengerjap-kerjapkan matanya dengan dahi berkerut, seperti mencoba mengingat sesuatu. Entah apa, tapi serasa ada yang mengganjal di benaknya. Sejak ia dan teman-temannya merencanakan liburan ini, siapa yang sangka bahwa dirinya akan berubah. Mata batin yang terbuka menjadikan dirinya sedikit ragu untuk pergi ke tempat yang jauh dari rumah. Terlebih, ibunya juga hampir tak memberi izin kalau saja bukan karena bujukan Kinara dan Vin.



"Apa lagi ya yang belum masuk?" gumamnya pelan, bertanya pada dirinya sendiri. Ia kemudian menoleh ke meja di sebelah tempat tidurnya. Yap! Itu dia. Salfa mengingatnya. Benda berbentuk segi empat berwarna hitam. Laptop kesayangannya yang tak pernah ketinggalan dibawa kemanapun dia hendak bepergian.



"Sal…?" panggil seseorang dari luar kamar gadis itu.



Salfa menoleh ke arah pintu yang sesaat setelahnya menampakkan sesosok gadis manis berlesung pipi. "Gila! Udah nyampai sini aja lo?" herannya.



"Oh, tentu saja, sahabat. Gue kan semangat banget, hehe," balas Kinara yang kini sudah duduk dengan menumpukan kaki kanan di atas kaki kirinya di sebelah Salfa.



"Semangat lo berlebihan."



"Ya biarin aja. Ini kan emang saat yang kita tunggu-tunggu. Kita liburannnnnn!" balas Kinara seraya merentangkan tangan, tersenyum lebar.



Sesuatu pun kemudian terbesit dalam benak Salfa. Iya juga, apa yang dikatakan Kinara benar. Sudah sejak lama mereka berdua mendambakan liburan ke pulau yang sekarang akan mereka tuju. Lalu ini kenapa? Kenapa dia tak bersemangat? Padahal, dirinya lah orang pertama yang setuju ketika Vin mencetuskan ide untuk ke Pulau K. Atau mungkin, perubahan yang terjadi pada dirinyalah yang membuatnya tak pernah merasa nyaman dimanapun itu?



Seseorang berambut pendek hitam dengan paduan warna putih yang masih jarang, mengintip ke dalam kamar putrinya. Mendapati dua gadis tengah bercengkrama. "Kinara semangat banget?"



Dua gadis dalam kamar menoleh. "Ibuk…?" balas Salfa dengan senyum simpul di sudut bibir.



"Eh, Tante Nilam. Jelas dong. Harus semangat, kan mau liburan," kini Kinara mengepalkan satu tangannya ke atas seraya tersenyum lebar, lagi. Itu membuat Salfa menggeleng pelan memikirkan apakah Kinara tidak capek, senyum seperti itu terus?



Nilam berjalan mendekat, duduk di sebelah Salfa. Memperhatikan gadis yang tengah sibuk mengecek lagi barang bawaannya itu. Ibu dua anak itu tahu bahwa Salfa sengaja menyibukkan diri ketika dirinya datang. Nilam menghela pelan, mencoba percaya akan janji putrinya yang akan dapat mengontrol diri sendiri di tempat yang jauh dari rumah.



"Kalian hati-hati ya disana. Jaga diri baik-baik. Selalu jaga sopan santun dimanapun. Stay safe dan semoga liburan kalian menyenangkan," tutur Nilam. "Terus, Ra. Tante titip Salfa, ya? Kalau ada yang aneh sama dia langsung di tegur. Pokoknya waktu jalan kemanapun kalian jangan misah, ya?"



Kinara mengangguk dengan tersenyum. "Siap, Tan. Tenang aja. Ada cowok-cowok juga, kan. Nanti Kinara akan bilang ke mereka."



"Sama satu lagi, kalau sekiranya ada apa-apa langsung telepon Pak Aji ya. Tante sudah kasih nomor beliau ke kamu, kan?"



"Iya, udah, Tante. Jadi baik aku, Salfa, ataupun Vin, kita bertiga punya nomornya Pak Aji."



Salfa hanya diam, memilih tak ikut dalam percakapan. Meskipun tatapan ibunya tidak berpaling dari dirinya sejak tadi, dan ia pun sadar bahwa ibunya berat melepaskannya pergi, tapi ia juga merasa membutuhkan hiburan sejenak. Tapi Tuhan, kenapa hati rasanya makin tidak karuan?



Rasanya seolah-olah akan ada sesuatu yang menyambut Salfa di pulau yang akan ia datangi bersama teman-temannya tersebut. Apapun itu, semoga bukan hal buruk.



●●●●



Kinara menyingkap sedikit lengan bajunya, mendapati jarum pendek jam tangannya sudah berada di antara angka empat dan lima. Berkali-kali ia menatap sinis pada Salfa yang berada di sebelahnya.



"Kita telat, nih. Semua gara-gara lo. Dari kemarin lo tuh ngapain aja, sih, sampai baru packing hari ini?" gerutu Kinara dengan sangat cepat dalam satu tarikan napas.



"Lo tuh kenapa, deh? Biasanya juga yang panikan gue. Ini bukan lo banget tau, Ra?" heran Salfa. "Ngomel mulu, buru-buru terus. Lagian kita juga nggak bakalan ditinggal kali."



"Ya… Lo kan tau kalau gue nggak sabaran," balas Kinara dengan ragu, hingga tak berani menoleh ke Salfa.



"Sejak kapan, Ra, ha? Sejak kapan lo nggak sabaran?" Salfa menekankan kalimatnya. Jangan dikira ia tidak tahu alasan mengapa seorang Kinara Agatha bisa sampai segugup ini. Kemarin malam saja dirinya dibuat hampir tidak tidur karena tiap jam, Kinara meneleponnya hanya untuk membahas baju apa yang akan dipakai. Hal yang sungguh berbanding terbalik jika dibandingkan dengan keseharian sahabatnya itu yang pembawaannya tenang dan santai. Ingat prinsip Kinara: mengalir.



Perhatian Salfa pun lantas beralih. "Santai aja, Pak, nyetirnya. Nggak usah buru-buru. Nggak usah peduliin teman saya," ucapnya pada sopir taksi online yang kini tengah mengantarkannya ke rumah Gopal.



Waktu tempuh dari rumah Salfa ke tempat tujuannya hanya sekitar dua belas menit dengan mobil. Sang sopir taksi dengan sigap membantu mengeluarkan koper dua penumpangnya itu.



Terdapat dua pemuda sedang asyik berbincang santai di depan rumah. Menyadari kedatangan Salfa dan Kinara, mereka langsung menyambut dengan senyuman aneh yang dibarengi dengan celotehan julid.



"Wah, Bu Insinyur udah nyampai, nih," seru Gopal. "Bu Psikolog juga," sambungnya.



"Hei, Bu Insinyur? Bangunin saya rumah makan sepuluh lantai dong!" sahut seorang lainnya yang dengan sigap mengambil alih koper dari tangan Salfa. Membawanya ke mobil pajero putih yang terparkir di halaman luas itu. Siapa lagi kalau bukan Vin, yang memang sudah stay di rumah Gopal sejak pagi tadi untuk mengecek sekali lagi mobil yang akan dipakai. Memastikan semuanya baik. Dua pemuda itu memang suka segala hal berbau mobil.



"Bu Psikolog bawa sendiri ya, nanti saya kasih klien deh buat Anda. Tuh, yang duduk disana gila," ujar Vin lagi sambil menunjuk Gopal.



Kinara hanya menyorot tajam. Satu tangannya memegangi trolley handle koper, sementara tangan yang lain mengelus dada pelan. Pandangannya kemudian turun ke koper merahnya yang besar dengan tatapan memelas.



"Iya! Gue kan strong!" sindir Kinara dengan penekanan di setiap katanya yang ditujukan pada Vin. Bahkan ia melirik sinis pada Gopal yang tak berempati sama sekali, malah tetap duduk santai seraya mengepulkan asap rokok ke udara. Sengaja Kinara mengeraskan suaranya. Itu membuat semua yang ada disitu tertawa makin kencang. "Bisa bawa koper sendiri kok gu—"



Kalimat Kinara menggantung setelah seseorang menenteng koper miliknya dengan sangat tiba-tiba. Seseorang itu kini berjalan mendekat ke arah bagasi mobil menyusul Salfa dan Vin. Satu lagi anggota rombongan datang. Itu Novan.



"Heran gue sama cewek, Vin. Koper segede gini di isi apa aja coba?" sindir Novan kemudian menatap sebentar ke arah Kinara. Gadis itu hanya mematung tak bicara sepatah kata pun. Melihat ekspresi orang yang disindir, Novan menahan untuk tidak tertawa dan memilih menghampiri Gopal di teras.



Sama halnya dengan Salfa, ia merasa sangat ingin menertawai ekspresi sahabatnya. Jarang ia melihat Kinara se-kikuk itu. Perhatiannya kemudian beralih ketika Vin beranjak. "Gue kesana dulu," pamit pemuda itu kembali menuju teras.



"Kalau mau lompat-lompat kegirangan jangan disini, malu ntar dilihat mereka," goda Salfa yang kini tengah tertawa pelan. Tentu saja ia paham apa yang ada di pikiran Kinara. Novan adalah seorang pemuda tampan dengan perawakan tinggi tegap. Tubuhnya proporsional dan cukup atletis. Tidak beda jauh dengan… Ah, jangan sebut nama itu, Sal!




"Saya tidak akan melarang kamu kesana… Yang Kuasa memang sedang menunjukkan jalan…" suara ringkih itu membuat kegelisahan kembali memenuhi wajah Salfa yang hanya menatapnya tak mengerti. "Jangan sesekali kamu takut… Kamu jauh lebih sempurna dari kami…"



Dalam jarak yang sangat dekat, Salfa menatap nenek itu dengan perasaan yang menyeruak ke dadanya. Nenek itu tampak sangat sedih, tanpa Salfa tahu apa yang dibicarakan. Baru ketika hendak bertanya, tangannya ditarik oleh Kinara yang menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. "Sal?"



"Ada yang nunggu gue disana, Ra," bisik Salfa dengan yakin. Perasaan tidak enaknya terjawab melalui nenek yang sudah menghilang entah kemana itu.



"Maksud lo?" balas Kinara sama berbisik.



"Kalian bisik-bisik apa sih? Ghibah terus ya cewek tuh?" celetuk Vin. Sementara Salfa dan Kinara hanya saling pandang. Tapi tak bisa dipungkiri, rasa penasaran Kinara memuncak. Ia pun langsung menarik tangan Salfa dan beralibi, "Pal, numpang ke kamar mandi dong."



"Oh iya, lewat samping, Ra. Tuh ntar lo masuk dapur, di sebelahnya kamar mandi."



Sepeninggal dua gadis tersebut, tiga pemuda di teras rumah mewah itu kembali berbincang-bincang. Kali ini bukan lagi perbincangan santai. Wajah ketiganya tampak sama-sama serius.



"Vin, lo yakin nggak mau ngasih tau Salfa sekarang?" Gopal mulai was-was. Baginya itu adalah momen yang pas untuk bertanya, mumpung yang dibicarakan tidak sedang berada di antara mereka.



"Iya, Vin. Masih ada waktu," sambung Novan.



Vin menggeleng mantap. "Nggak." Sekali lagi cowok tinggi kurus itu menunjukkan keras kepalanya. "Biarin ini jadi kejutan. Gue penasaran gimana reaksi Salfa," tambahnya lalu terkekeh.



"Gini, Bro. Kita kan sama-sama nggak tau selama dua tahun ini keadaannya kayak gimana. Kit—"



"Van, udah deh. Nggak bakalan kenapa-napa kok. Dua tahun rasanya udah cukup bikin Salfa makin dewasa. Pasti dia ngerti lah kalau kita teman dekat tuh orang. Nggak mungkin juga dong, kalau kita liburan nggak ajak dia?" terang Vin panjang lebar setelah menyambar kalimat Novan.



Melihat dua temannya hanya diam, Vin memperbaiki posisi duduknya, menghela pelan. "Oke. Biarin Salfa tau sendiri waktu orang itu datang nanti. Kalau pun ada apa-apa, itu urusan gue."



Salfa dan Kinara menghampiri tiga cowok yang masih santai duduk di teras rumah Gopal, dan keadaan canggung itu terbaca oleh keduanya. Mereka dapat melihat, dari ketiganya, ekspresi Vin adalah yang paling cerah. Berbeda dengan Gopal maupun Novan yang pucat pasi entah karena apa. Salfa dan Kinara bertukar pandangan, mengisyaratkan pertanyaan yang sama. Namun, juga sedikit heran dengan apa yang para pemuda itu perbincangkan sampai-sampai sudah pukul lima namun belum persiapan berangkat juga.



"Nunggu apa lagi sih ini?" tanya Salfa.



"Bentar… Santai dulu," jawab Vin enteng dengan tersenyum. Senyuman penuh isyarat menurut Salfa. Sedangkan bagi Kinara, senyum itu serupa ejekan.



Tepat setelah itu, sebuah motor gede warna hitam memasuki halaman rumah Gopal. Semua menoleh secara spontan. Salfa menyipitkan mata, seolah-olah menerka sesuatu. Secara tiba-tiba, entah kenapa jantungnya terpacu lebih cepat meski berusaha ia tepis.



Pemuda berjaket hitam dengan helm full face abu-abu itu baru saja turun dari motornya. Salfa punya dugaan sesaat, tapi sebagian dari dirinya mengelak dan mengatakan 'tidak mungkin'. Dengan gugup ia melirik pada tiga teman laki-lakinya, menatap mereka satu persatu. Entahlah itu memang hanya perasaan Salfa saja atau tidak, tapi ia merasa baik Vin, Gopal, dan Novan sengaja tidak membalas tatapannya, mengalihkan pandangan ke arah lain serta membuang muka.



"D-dia siapa, Sal?" bisik Kinara juga memiliki dugaan. Tubuhnya mematung, apalagi Salfa.



Yang ditanyai hanya diam tak menjawab. Memfokuskan pandangannya ke depan, menatap pemuda tinggi yang baru saja melepas jaketnya. Dugaan Salfa semakin kuat saja. Gadis itu melirik ke tiga teman laki-lakinya untuk kesekian kali. Spontan pikirannya tertuju pada masa lalu bahwa: Sejak SMA, 'mereka' selalu berempat. Vin, Gopal, Novan, dan…



Pemuda itu membuka helmnya, Salfa menatapnya lekat. Mulutnya yang semula terbungkam rapat, kini mulai terbuka. Kedua bola matanya basah seketika itu juga. Hatinya? Jangan ditanya!



Enam manusia dalam satu waktu dan ruang itu kini sama-sama saling diam. Suara angin berembus sampai jelas terdengar. Rasanya keheningan itu tak hanya di antara mereka, tapi juga di hati Salfa. Itu 'dia'. Ya Tuhan itu 'dia'.



Pemuda itu kini menampakkan wajahnya yang rupawan. Lekat menatap mata Salfa yang berkaca-kaca. Tetap diam. Mereka sama-sama tidak tersenyum. Hanya saling menatap. Dengan hati masing-masing yang bergejolak.



"Sal…?" lirih Kinara yang sudah tak bisa mengucap apapun selain nama Salfa detik itu.



Setelah tersadar, Salfa masuk begitu saja ke dalam rumah Gopal. Rumah besar yang sudah cukup familiar baginya. Ia tak peduli, ia terus masuk sampai ke ruang tengah dan keluar lewat pintu samping menuju taman. Salfa merutuki dirinya sendiri saat tangannya dengan kasar menyeka air mata yang keluar membasahi pipinya yang kemerahan. Terdapat sebuah bangku panjang disana, Salfa memilih duduk dan menengkan dirinya. Menghela napas panjang berkali-kali.



Sementara suasana di teras semakin memanas. Kinara langsung mendekat ke tiga pemuda yang sudah ia yakini salah satunya adalah sumber dari semua ini. "Siapa yang tanggung jawab atas ini? Siapa yang ajak Genta?" suara Kinara walaupun setengah berbisik namun serupa dengan bentakan.



Kinara memindai wajah mereka satu persatu. Hal itu membuat Gopal dan Novan tak berani berkutik, terlebih mereka berdua memang tidak begitu mengenal Kinara. Satu-satunya yang buka suara adalah Vin. "Kenapa sih, Ra? Santai aja lagi. Genta juga teman kita, masa nggak diajak?"



Melihat senyuman enteng dari Vin membuat Kinara nyaris meneriakinya, kalau saja tak ingat bahwa ada pemuda lain yang masih berdiri di sebelah motornya. Langkahnya mendekat ke Vin, tatapannya menyipit menahan kemarahannya. "Lo pikir ini lucu, ha? Lo pikir ini hiburan?! Dengar ya, Vin, kalau sampai liburan ini nggak bisa bikin kita semua have fun, itu semua karena lo!" tajam Kinara kemudian segera menyusul Salfa.



Gopal menunduk dengan mulut yang terkunci rapat. Merasa ngeri melihat Kinara berbicara sampai menunjuk tepat di depan wajah Vin. Novan pun hanya bisa memandang dengan gusar. Sejak teman dekatnya, Vin, memutuskan untuk mengajak Genta diam-diam, ia sudah tak setuju. Ia tahu kedekatan antara Salfa dan Genta. Bahkan bisa dibilang, dari mereka semua Novan lah yang paling dekat dengan Genta. Ternyata benar kan, sekarang semuanya malah makin runyam.



"Lo nggak bilang dia kalau gue ikut?" tanya Genta yang langsung angkat bicara tanpa basa-basi ketika menemui tiga teman dekatnya. Jelas yang dilempari pertanyaan adalah Vin yang memang merupakan seseorang yang mengajaknya.



"Ya biar jadi kejutan aja, kalian kan lama nggak ketemu," jawab Vin santai.



Gopal dan Novan hanya saling tatap. Tak tahu harus memberi respon bagaimana. Mereka sudah mengingatkan Vin berkali-kali tapi apa daya, pemuda itu sangat keras kepala.



Dua gadis yang entah kemana tadi pun kini sudah keluar dari dalam rumah Gopal. Si empunya rumah mendekat secara spontan, mencemaskan Salfa. Namun yang ia lihat, gadis itu tampak baik-baik saja saat ini. Memang di taman samping tadi telah terjadi kesepakatan bahwa Salfa akan tetap ikut. Ia tak ingin mengacaukan apa yang sudah teman-temannya siapkan. Meski perasaan itu masih membuncah dalam dadanya, tapi Salfa juga ingin menunjukkan bahwa tanpa Genta selama ini pun, ia tetap akan baik-baik saja.



Semua orang diam menyumbangkan keheningan lagi, sama seperti beberapa saat lalu. Salfa yang merasa semua orang memperhatikannya seolah bertanya dari mana saja dirinya, membuka suara. "Sorry, gue abis dari toilet."



Jawaban Salfa membuat semua orang mengangguk pelan sebab pertanyaan tak tersirat mereka telah terjawab. Namun tetap saja, dalam kepala masing-masing masih berkeliaran berbagai pertanyaan tentang apa yang dirasakan Salfa.



"Oke, kita berangkat sekarang? Yuk," kata Vin memecah keheningan, bak tiada dosa.



●●●●



Halo selamat malam, guys? Iya tau kok part ini nggak begitu horror. Karena memang memfokuskan titik masalah Salfa selain sama ayahnya. Meski begitu aku harap kalian tetap menikmati^^



Perlu diingat ya, bagi orang yang punya kemampuan kayak Salfa, bukan berarti mereka nggak punya kehidupan normal. Mereka juga manusia yang punya masalah dalam kehidupan nyatanya :)



So, apapun itu terima kasih sudah mampir. Jangan lupa votenya. Komentar juga yang banyak biar nggak sider^^



neiskaindria