AWAKENED

AWAKENED
Lima : Sosok Dibalik Punggung



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Disinilah keenam mahasiswa semester lima itu sekarang. Dalam mobil, melakukan perjalanan ke tempat wisata tujuan mereka. Gopal menyetir dengan Salfa disampingnya. Gadis itu memilih di depan saja, mencari tempat dimana dia tidak harus dekat dengan siapa-siapa terutama Vin. Tanpa Kinara katakan pun, ia sudah yakin betul, pemuda itu pastilah dalang semua keterkejutan ini. Setidaknya jika di depan, dia tidak perlu melihat wajah Vin sementara waktu sampai emosinya benar-benar mereda.



Semua bercengkrama dalam mobil. Bercakap-cakap santai seraya bersenda gurau. Dari semua manusia yang ada dalam mobil itu, suara Kinara dan Vin tentulah yang paling mendominasi. Mereka memang selalu begitu, meributkan hal-hal yang sebenarnya bisa dibilang tidak penting. Terlebih, Kinara juga tidak bisa menahan kekesalannya soal ulah Vin yang menyebabkan ketegangan antara semua orang.



Gopal melirik ke arah kiri, tempat dimana Salfa duduk manis berdiam diri. Ia dapat menangkap raut muka Salfa yang tak bersemangat sama sekali, menyadari bahwa teman perempuannya itu sedang butuh ketenangan sejenak. "Sssstt…. Kalian berdua berisik banget, deh," ujar Gopal.



"Suruh nih orang pindah aja, Pal. Gue males tau nggak deket-deket dia!"



"Ya udah oke, biar Genta yang disini kalau gitu?" balas Vin sengaja.



Kinara menoleh ke belakang, ke tempat dimana orang yang disebutkan Vin barusan duduk tenang. "Apalagi dia, makin males!" tukas Kinara tak bersahabat sama sekali.



Genta hanya diam dengan perasaan yang berkecambuk. Sejak tadi, matanya hanya lurus ke arah bangku paling depan. Memandangi Salfa meski gadis itu tak pernah sekalipun menoleh ke belakang. Andai gadis itu tahu, bahwa alasannya ikut bukan hanya karena memang menyukai liburan, tapi juga karena adanya Salfa. Ketika itu, senggolan pelan didapat oleh Genta. Ia menoleh mendapati Novan yang menatapnya seolah mengerti apa yang ia rasakan.



Bagi Salfa, perjalanan ini terasa anomali. Setelah dua tahun lamanya ia tak bertemu dengan Genta—yang sampai saat ini pun tak bisa ia usir dari dalam hatinya, tetap ada rasa senang. Namun, di sisi lainnya, ketika mengingat semua lukanya, gadis itu kembali larut dalam kekecewaan.



Dalam lamunannya, Salfa langsung tersentak dari posisinya yang menopang dagu dengan satu tangan. Sontak mengagetkan bukan hanya Gopal yang tengah menyetir, tapi semua orang. "PAL AWAS!!" serunya.



Tentu saja Gopal langsung menghentikan mobil. Langsung ia melirik spion, untung saja tidak ada kendaraan yang tepat di belakangnya, semuanya masih dalam jarak aman. Seketika itu, Salfa langsung melepas sabuk pengaman dan melesat turun dari mobil. Buru-buru ia berlari kecil, berjongkok, dan mengintip ke bawah.



Kinara, Vin, Gopal, ikut turun disusul Genta dan Novan. Mereka sama-sama penasaran dengan apa yang terjadi.



"Kenapa, Sal?" tanya Kinara dengan menunduk karena Salfa masih dalam posisi berjongkok. Gadis itu menyampirkan rambut lurusnya ke belakang telinga sambil kembali bertanya, "Ada apa, Sal?"



Entahlah, wajah Salfa terlihat gelisah. Pikirannya makin tak karuan. Apa lagi ini? Apa lagi yang terjadi? Tetap dalam posisi berjongkoknya, ia menatap aneh ke semua orang. Genta kemudian mengambil inisiatif untuk ikut berjongkok dan mengintip.



"Pal?" kagetnya, sama seperti Salfa. "Lo nabrak kucing, Pal."



Kaget bukan main, Gopal membulatkan mata. Padahal ia sejak tadi tidak melihat ada kucing yang menyeberang jalan. Sedari tadi ia juga tidak bicara sehingga fokusnya tak terbagi pada apapun selain menyetir.



"Bercanda lo?" balas Gopal yang langsung ikut mengintip. Tepat di bawah mobilnya, seekor kucing hitam terlindas hingga isi perutnya keluar. Lututnya langsung melemas, tak ada kekuatan untuk kembali berdiri. Mungkin itu juga yang dirasakan Salfa sehingga gadis itu sampai tak bisa berkata-kata.



Siapapun tentu tahu, dan keenam orang itupun tahu. Bahwa, menabrak kucing adalah pertanda yang buruk. Namun meski begitu, di antara mereka, ada Genta dan Novan yang masih berusaha berpikir logis dan tak ingin tersugesti lebih dalam oleh mitos-mitos yang ada. Novan segera masuk mengambil alih kemudi bersiap menepikan mobil agar tak ada pengguna jalan yang terganggu. Ia hanya tinggal menunggu instruksi dari temannya setelah kucing itu diambil.



Menggunakan kantong kresek yang berserakan di tepi jalan, Genta dengan cepat memindahkan kucing itu dengan mata yang sedikit menyipit, meringis menahan mual karena aroma darah yang amis. Langkah cepatnya segera menyusul Vin yang tengah menggali tanah untuk menguburkan kucing tersebut.



"Eh, Pal? Ngapain lo?" heran Vin ketika melihat Gopal melepaskan kaos yang dikenakannya. "Mau pamer perut sixpack lo? Ah elah, sixpack-an juga Si Genta.”



Vin ini, bahkan disaat seperti ini masih bisa-bisanya bercanda. Itu membuat Kinara menyorot tajam padanya. "Iya iya ampun, Bu Psikolog. Gue diem deh."



Segaris senyuman samar tampak di wajah Kinara. Tak peduli seberapa jengkelnya dia pada Vin, itu tetap tak bisa mengalahkan apa yang ia rasa ke pemuda itu. Tapi rupanya, yang tersenyum bukan hanya Kinara. Salfa yang berada di sebelahnya dan menyadari semua itu, juga tersenyum tipis.



Dan Genta, ikut tersenyum. Bukan karena menyadari Kinara yang menyimpan rasa ke Vin, tapi karena melihat senyuman Salfa.



Salfa yang tengah berdiri bersidekap itu kemudian menyadari ada yang menatapnya. Sedetik kemudian, ia mengganti arah pandang kemana saja asalkan tidak ke mata Genta. Sorotnya, terasa lebih horror dari semua hantu yang Salfa lihat. Getar-getar itu, anehnya masih tetap sama. Bahkan setelah dua tahun lamanya.



"Kata orang, kalau kita nabrak kucing, nguburinnya harus dibungkus sama pakaian yang kita pakai, Nyet!" ujar Gopal kemudian.



"Emang iya, Sal?" balas Vin malah melempari Salfa pertanyaan, dan dibalas dengan anggukan singkat. "Ya udah, sini kaos lo."



Kemudian, usai sudah drama perkuburan kucing yang naas tadi. Meski masih diliputi rasa cemas, enam orang itu kembali melanjutkan perjalanan. Gopal sudah tidak mau lagi menyetir karena trauma. Kini Novan yang menggantikannya. Sang sopir pengganti itu menyadari keheningan yang terjadi dalam mobil. Tak ada satu pun yang bersuara, meski hanya percakapan kecil antar dua orang.



"Sepi amat?" ujarnya. "Kenapa sih lo pada? Masih kepikiran soal kucing tadi? Udahlah, kan kita semua udah nguburin kucing itu secara layak. Gopal juga nggak sengaja, kali. Nggak ada yang bisa disalahin."



Salfa menoleh menatap Novan yang sepertinya sangat santai seperti tak ada yang terjadi. "Gopal emang nggak salah. Kucing itu juga nggak tau darimana asalnya, tiba-tiba muncul aja di tengah jalan, Van."



Akhirnya, setelah beberapa jam Salfa bungkam, kini ia memilih untuk mengatakannya. Ia memang melihat kucing itu tiba-tiba sudah ada di jalan, dan itu jelas sekali. Rasanya, seperti ada saja yang terjadi. Pikirannya kembali mengingat nenek-nenek berkebaya di rumah Gopal tadi, yang seperti memberi isyarat terjadinya suatu hal namun tetap meyakinkannya untuk pergi. Aneh sekali, kan?



"Serius lo, Sal?" nada pertanyaan Kinara terdengar antusias karena keterkejutannya. Bisa dibilang, nada bicaranya terdengar sangat heboh, dan tak biasa.



"Kok Kinara jadi seheboh itu? Ada apa sih, Vin?" bisik Genta di belakang yang dibalas tatapan aneh oleh Vin yang memang berpindah ke belakang.



Merasa tak berhak mengatakan, Vin memilih mengalihkan topik pembicaraan. "Tau ah, emang gitu dia mah. Mau tidur gue, Ta. Ngantuk abis."



Genta melirik jam tangannya, baru menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia kenal Vin dari SMA, dan tak mungkin seorang Vin mengeluh ngantuk di jam yang masih belum terlalu larut. Makin merasa ada yang aneh, tapi Genta tak mengutarakan pertanyaan lagi. Sudah tentu ada satu hal yang ia tak tahu yang Vin saja tak berani memberitahu.



Maka Genta menyatukan logikanya, pasti apa yang ia ingin tahu berkaitan dengan Salfa.



●●●●



Enam muda-mudi itu sampai di kota destinasi mereka untuk menyeberang ke Pulau K pukul setengah tiga dini hari karena cukup seringnya berhenti untuk bergantian yang menyetir mobil. Atas permintaan Kinara yang sudah tak sanggup menahan laparnya, Gopal membuka ponsel dan mencari tempat makan terdekat yang buka dua puluh empat jam. Rupanya, tak jauh dari pelabuhan, mereka menemukannya. Mobil pun berhenti disana, dan segera mereka memesan apa yang ingin mereka pesan.



Salfa mendapati dirinya disambut oleh banyak sosok. Yang aneh, semuanya menatap pada dirinya dengan sedih. Sungguh, jika hanya ada Kinara atau Vin yang bersamanya, sudah dipastikan ia akan menanyai salah satu dari sosok itu.



"Jangan ngelamun, Sal!" pinta Kinara pelan yang sesaat sebelumnya menepuk pelan tangan Salfa yang kemudian menoleh. "Please. Hati-hati. Jangan sampai ada yang masuk."



Tak Kinara sangka, Salfa malah menangkis tangannya. Ia bisa melihat sahabatnya itu seperti orang frustasi. "Kenapa sih, Sal? Lo lihat apa?" tanyanya masih dengan suara yang pelan.



Genta, yang sejak tadi memperhatikan dua gadis itu, makin merasa ada yang aneh. Sedikit terkejut juga ketika melihat mata Salfa yang berkaca-kaca, namun ia tak bisa menanyakan apa-apa karena tak tahu apa yang mereka bicarakan, mengingat bahwa keduanya bebisik maka tentu itu sangat privasi.



Suara benda terjatuh membuat semuanya menoleh ke Salfa yang menyebabkan suara itu tercipta. Sendoknya jatuh, gadis itu pun membungkuk hendak mengambilnya. "Aaa!!" pekik Salfa namun mulutnya langsung ia bekap sendiri dengan telapak tangan. Meringis, karena merutuki dirinya yang tak bisa menahan suara.



Semua orang tentu panik. "Sal? Kenapa, Sal?" tanya Gopal.



"E-e, n-nggak apa, Pal. Ini kaki gue kayaknya digigit semut merah deh," alibinya, seraya melirik Kinara dan sepertinya gadis di sebelahnya itu langsung paham, ada sesuatu.



Salfa membungkuk lagi, hendak mengambil sendok yang belum sempat ia ambil tadi. Anak kecil itu masih di bawah meja. Memandangnya ngeri. Padahal, seharusnya Salfa lah yang ngeri melihat anak itu. Wajahnya rusak, bahkan bisa dibilang, seperti tidak utuh. Bentuk kepalanya aneh, dan sepertinya Salfa tahu bahwa anak itu korban kecelakaan yang entah terlindas apa.




Dibuat tertegun, Salfa tidak paham artinya. Tapi ia tahu, itu Bahasa Jawa. Meski ayah dan ibunya adalah asli orang Jawa, namun Salfa lahir dan besar di Jakarta. Ibunya hanya mengajarkan beberapa kosakata yang umum. Dari yang anak kecil itu sebutkan, ia hanya bisa memahami kata 'ojok' yang berarti 'jangan'. Jangan? Jangan apa?



Gadis itu meletakkan sendok yang jatuh tadi di sebelah piring, sementara tangan Kinara sudah memberikan sendok yang baru padanya. "Thanks," ucapnya singkat.



"Lo kenapa, Sal? Kok aneh gitu sih?" kini Novan ganti bertanya. Rupanya selain Genta, Novan juga mengendus sesuatu yang janggal pada semua orang, terutama Salfa.



"Nggak apa. G-gue nggak pengen makan deh, guys, kayaknya."



Bukan karena melihat anak tadi, ia sudah biasa melihat wujud demikian selama hampir satu bulan ini. Namun, perasaan tak enak itu menyeruak lagi, dan Salfa sama sekali tidak tahu kenapa. Ia melirik satu sosok lagi yang membuat otaknya mengolah pertanyaan lebih banyak. Sosok itu juga memelas padanya, berdiri di belakang Genta dan berujar, "Jangan pergi…"



DEG! Kalimat yang sama lagi.



"Kenapa? Ntar lo lapar, lho?" balas Vin.



"Nggak tau kenapa perut gue rasanya begah aja, gitu. Ya siapa gitu kek, tolong habisin. Orang belum gue makan juga," balas Salfa terus beralibi.



"Lo masuk angin?" tanya Genta tiba-tiba, itu cukup mengagetkan Salfa karena tak menyangka dirinya akan ditanyai.



"Nggak," balasnya ketus lantas bersidekap membuang muka.



Tak hanya Salfa, bahkan semuanya bisa mendengar helaan berat dari Genta. Dua orang yang tak bertemu selama dua tahun lamanya itu, kini menciptakan ketegangan yang membuat semuanya ikut mati kutu, tak tahu harus berbuat apa. Mendamaikan? Rasanya, keduanya pun sudah dewasa dan bisa mengatasinya sendiri tanpa campur tangan orang lain.



"Eh, Vin," panggil Salfa yang berusaha sebisa mungkin mengatur raut wajahnya agar nampak santai-santai saja. "Lo tau artinya 'mangkat' nggak?"



Vin mengernyit, meski sudah cukup melega karena Salfa sudah mau menanyainya, namun rasanya pertanyaan itu aneh. "Mangkat? Apaan dah, nggak ngerti gue?"



"Kalimatnya gimana?" sahut Genta yang cukup familiar dengan kata itu. Ia masih berusaha mencairkan suasana antara dirinya dan Salfa, bahkan ketika gadis itu tak memberikan respon baik padanya.



Sedangkan Salfa? Terus menghindar dan masih berharap ada temannya yang lain yang bisa menjawab.



"Kalimatnya gimana, Sal?" tanya Novan mengulangi kalimat Genta, karena merasa prihatin. "Si Genta tanya karena mungkin dia tau, dia delapan tahun di Surabaya sebelum pindah ke Jakarta."



Menyerah, karena tak ada juga yang menyahut, Salfa pun menjawab. Tentu dengan nada jutek. "Ojok mangkat."



Beberapa detik terdiam, Genta kemudian menjawab. "Oh. Itu artinya jangan berangkat, atau bisa juga dibilang..." ia menggantungkan kalimatnya, menatap Salfa lekat dan gadis itu menyadarinya. "…jangan pergi."



Mendengar cara pengucapan Genta yang terdengar lain, ditambah caranya menatap intens ke Salfa, Kinara seolah melunak. Ya, emosinya pada Genta seperti pelan-pelan lenyap. Dia tidak salah lihat, kan? Genta tampak sangat tulus mengucapkannya. Ia lalu melirik ke Salfa yang menatap pemuda itu.



Kinara tahu, dalam diamnya Salfa itu, ada perasaan yang merebak. Rasa yang tak pernah hilang.



●●●●



Setelah berjam-jam menunggu pagi, dengan tidur sejenak dalam mobil yang sudah berada di area pelabuhan, enam muda-mudi itu menyambut fajar dengan wajah yang sama cerahnya. Tinggal menyeberang, dan mereka sampai ke tempat tujuan.



Mobil Gopal sudah diparkirkan di penitipan. Katanya, pemuda itu sudah berembuk dengan Vin untuk menitipkannya saja. Mereka memutuskan untuk menyewa mobil sesampainya di Pulau K. Itu berdasarkan saran Vin, yang memang sudah diwanti-wanti orang tua Salfa untuk seperti itu, berjaga-jaga kalau ada apa-apa.



Dan Vin, menuruti. Daripada Salfa tidak dapat izin?



"Mau kapal cepat, apa kapal ferri nih?" tanya Vin pada kesemua temannya.



"Lah, kok pakai tanya? Nggak dirundingin dulu dari sebelum berangkat?" heran Genta, keningnya mengernyit. Ia memang tidak tahu apa-apa, hanya diajak oleh Vin dan ia langsung mengiyakan tanpa pikir panjang.



"Enggak. Kita semua mah nekat-nekatan, Ta. Kayak nggak tau aja," balas Vin enteng. Itu membuat Salfa dan Kinara menyinis padanya. Padahal ada waktu dua minggu, tapi pemuda itu tak pernah mempersiapkannya. Memang dasar pemalas dari lahir, kalau kata ibunya Vin.



Sesaat kemudian, Vin menoleh ke Gopal. "Gimana, Pal?"



"Emang bedanya apaan, Nyet?"



Seketika, Novan langsung memukul bahu Gopal dengan jaket yang semula ia sampirkan di pundak. "Dari namanya aja udah kelihatan, njir. Kalau kapal cepat ya berarti kita cepet sampainya. Dua jam-an udah nyampe."



"Kalau kapal ferri?" tanya Salfa.



"Lima sampai enam jam-an," sahut Genta.



Salfa hanya menoleh sebentar, lalu berpaling lagi. Sama sekali tak berharap pemuda itu yang menjawabnya. Sudah jelas-jelas pertanyaannya ditujukan ke Novan.



Genta lantas mengernyit, namun tak mengartikan kebingungan, melainkan mengerti sesuatu. "Kayaknya kita nggak bisa naik kapal ferri, guys," ujarnya lalu melanjutkan sambil menoleh ke Salfa, "rombongan kita ada yang nggak bisa lama-lama di laut."



Semuanya langsung paham bahwa yang dimaksud Genta barusan tak lain adalah Salfa. Genta memang tahu betul, Salfa tidak berani terlalu lama dekat-dekat dengan pantai, apalagi laut. Waktu terus bergulir, namun apa-apa yang ada pada gadis itu tak pernah berubah.



Merasa disindir, Salfa kemudian menyorot sinis ke Genta, meski dalam hatinya membenarkan itu. Sampai sekarang, ia sendiri tidak tahu mengapa berani pergi ke pulau itu yang notabene adalah pulau yang dikelilingi pantai. Ia menginginkan kesana, sebenarnya hanya karena jatuh cinta pada satu novel yang pernah ia baca. Sama sekali tak membayangkan untuk benar-benar kesana. Barangkali beratnya beban dan masalah yang ia pikul membuatnya hilang akal hingga menyetujui ide liburan ini.



"Kata siapa gue takut?" sungutnya sambil bersidekap. "Ya udah ayo, kapal ferri juga nggak apa kok."



Kinara hanya geleng-geleng kecil menyaksikan sahabatnya yang menantang ucapan Genta. Padahal selain Genta, Kinara pun tahu bahwa yang dikatakan pemuda itu adalah benar. Sejak kecil, tiap diajak ke pantai, Salfa tak pernah berani mendekat ke air.



Sekali lagi, Salfa menyadari teman perempuannya mengulum senyum. Itu membuatnya menginjak kaki Kinara dengan tatapan mata yang melotot, seperti memberi peringatan untuk tak membocorkan rahasianya.



Sesaat kemudian, ada sesuatu yang mencuri fokus Salfa. Ia lalu memperhatikan saja. Terus menatap ke sosok itu. Sosok dibalik punggung. Pertanyaan demi pertanyaan itu masih ia simpan, hingga nanti ada waktu yang pas untuk menanyakannya. Siapa sosok itu?



●●●●



Double part hari ini, karena kemarin nggak update hehe, maaf. Semoga suka ya, walaupun masih teka-teki. Di part selanjutnya, kehorroran yang sebenarnya akan dimulai^^



Jangan lupa vote, komen, dan tambahkan AWAKENED ke reading list kalian, biar selalu terima update an nya sekalian bantu aku naikin rank^^



Thank you semuanya. Salam sayang.



neiskaindria