
"Aku mau kamu jaga sesuatu yang jadi hal paling berharga buat aku."—Genta
Matahari sudah mulai bersembunyi. Langit jingga terlukis indah dipandang mata. Masih di atas rumput basah bekas siraman hujan tadi siang, Salfa duduk memeluk lututnya. Taman pinggir kota itu memang selalu jadi tempat favorit untuknya. Penat merasakan kuliah dan segala bebannya, membuatnya nekat pergi sendiri ke taman itu, mencari ketenangan sejenak.
Andai hal-hal indah yang terlewat bisa diputar, ya. Kesini berdua sama Ayah, dan aku naik mobil-mobilan sambil celemotan makan es krim. Lanjut nonton topeng monyet di dekat air mancur. Sayangnya, semua cuma abadi di ingatan. Kenyataannya, Ayah udah pergi, dan aku bukan yang dulu lagi.
Menjadi Salfa yang berbeda selama dua bulan ini, adalah beban. Memang, setelah kejadian waktu itu—yang mengubah cara pandangnya terhadap sang ayah, juga kepada apa yang Tuhan berikan padanya. Namun, dalam menjalaninya, Salfa kehilangan banyak. Kehilangan teman-teman yang semula selalu ada untuknya karena ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri, kehilangan kewarasan akibat beratnya pikiran sehingga nilainya merosot dalam mata kuliah, juga kehilangan satu hal penting dalam hidupnya. Wira.
"Jadi, pergi sendiri nggak ajak aku, karena kamu mau nangis disini?"
Suara familiar di telinga Salfa memecah kesedihan Salfa yang khusyuk. Sekilas gadis itu menoleh, lantas segera menyeka air matanya. Dilihatnya, Genta sudah menyusul duduk di sebelahnya. "Tau dari mana aku disini?"
Genta meringis, sambil menyodorkan kantong plastik kecil yang cukup transparan sehingga tampak terdapat es krim cokelat di dalamnya. Salfa menerimanya dengan senyum simpul. Sambil membuka bungkus es krim, ia berbicara lagi, tanpa menatap ke kekasihnya.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Ta."
"Yang mana?" balas Genta sengaja.
"Ih ... Ya itu, tau dari mana aku di sini?"
Pemuda yang menikmati soda dalam kaleng yang digenggamnya itu, melirik ke Salfa. Tersenyum. Bukan karena yang lihat adalah gadis paling ia sayang di bumi, namun karena kebiasaan yang sejak dulu tak pernah hilang. "Makan es krim tuh pakai mulut, Sal, bukan hidung," ujarnya sambil mencolek ujung hidung Salfa dan menunjukkan es krim yang berlepotan disana.
"Dari ibu kamu, lah, dari siapa lagi emang?" lanjut Genta kemudian, menjawab pertanyaan Salfa. "Wira masih tetap kayak gitu, Sal?"
Salfa mengangguk. "Iya. Aku benar-benar nggak cuma kehilangan ayah, Ta. Aku juga kehilangan Wira. Kebahagiaannya, senyumnya, bercandanya yang garing, semuanya. Dia selalu di dalam kamar. Nggak mau makan satu meja di ruang makan, dan milih makan sendirian di kamar. Rasanya, rumah itu ... udah nggak hidup lagi, Ta."
"Kasih dia waktu, Sal. Kejadian sebulan lalu itu, membekas banget buat dia."
"Apa dia pikir kejadian itu nggak membekas juga di aku?" balas Salfa dengan intonasi yang menekan tiap-tiap katanya.
"Berhitung sampai sepuluh!" seru Genta ketika menyadari raut Salfa berubah marah.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Salfa mengikuti instruksi Genta, berhitung dalam hati. Bukan hanya sekadar berhitung biasa, melainkan dengan penuh perasaan. Memberi jeda pada dadanya untuk tenang dan ketegangan yang ia rasa melunak.
"Gimana, udah lumayan tenang?" tanya Genta kemudian, dibalas anggukan oleh Salfa.
Pemuda itu tersenyum tulus, kemudian merentangkan satu tangannya ke belakang Salfa, merengkuhnya. Kekasihnya itupun menyandarkan kepala di bahu Genta. "Berat banget tau nggak sih, Ta ... Aku capek banget, nggak tau lagi...."
"Kamu itu, cewek paling kuat yang aku tau, Sal. Percaya nggak, kalau Tuhan kasih kamu cobaan hidup serumit ini, itu tandanya kamu didesain lebih kuat dari orang lain?" tanya Genta masih dalam posisi yang sama. Tangannya mengusap pelan rambut Salfa.
"Pengennya sih percaya. Tapi kok, Tuhan jahat banget sih, Ta, sama aku? Kok segininya banget gitu lho...."
"Kalau kamu udah tahu soal kesalahan ayah kamu, Wira enggak, Sal. Yang dia kenal selama ini adalah ayah kalian yang nggak pernah ngelakuin kesalahan fatal. Itu sebabnya, ketika semua terbongkar, dia jadi orang yang paling terluka. Itu wajar. Dia cuma butuh waktu."
Genta meletakkan kaleng sodanya, lantas melepaskan pula rengkuhannya pada Salfa. Ia baru mengingat sesuatu. Ada satu benda yang ingin ia berikan ke Salfa. Maka dirogohlah saku jaketnya, menemukan apa yang ia cari disana. Salfa hanya menatap bingung dengan sang kekasih, yang justru menatapnya penuh teka-teki. Genta tahu arti tatapan Salfa, dan ia pun tak ingin berlama-lama atau berbasa-basi lagi, segera menyerahkan benda berbentuk lingkaran tersebut.
Mata Salfa mengerjap ketika menerima pemberian Genta. Sebuah cermin lipat kecil seukuran bedak. Namun, bukan cermin biasa, melainkan bagian punggung cermin alias bagian luarnya sangat antik. Terbuat dari kayu, dengan ukiran detail di permukaan nya. Mata gadis itu memicing dengan kening berkerut, mencoba memperhatikan lebih dalam, lantas senyum tersungging darinya.
"Everything is ok in the end. If it's not ok, then it's not the end."
Segera Genta menggeleng. "Nggak. Aku nggak kasih itu ke kamu. Aku mempercayakannya ke kamu."
Salfa tidak mengerti, ia masih diam mendengarkan. Disitu, Genta melanjutkan. "Ada yang sangat berharga di dalamnya, Sal. Aku mau kamu jaga sesuatu yang jadi hal paling berharga buat aku," ujar Genta. "Jaga baik-baik, oke?"
Mata Salfa sekali lagi tertuju ke cermin, mengjungkir-balikkannya, mencari celah-celah lain yang sekiranya bisa menjadi jawaban atas pertanyaan yang belum ia utarakan. Namun, akhirnya gadis itu menyerah. Kembali menatap ke Genta sekilas.
"Emang apa isinya? Bukannya cermin doang?" tanyanya sambil masih memperhatikan cermin tersebut.
Genta tak menjawab lagi, hanya memandang Salfa penuh arti, dengan tangan yang tergerak mengarahkan cermin hingga tepat memantulkan bayangan Salfa di dalamnya. "Itu."
Hati Salfa, jangan ditanya bagaimana rasanya. Apa yang dilakukan Genta sudah cukup menjadi jawaban untuknya. Melihat dirinya sendiri di cermin, membuat Salfa langsung paham. Untuk menjaga dirinya sendiri. Dirinya lah yang dimaksud, merupakan hal paling berharga untuk Genta. Empat tahun sudah terlewati, dan selama itu pula perasaan Salfa ke Genta masih sama. Namun, getar-getar itu, rasanya tak pernah hilang meski berkali-kali musim telah berganti, dan meninggalkan susah senang di belakang.
"Kok diam sih, Sayang? Gimana, mau jaga kan?" tanya Genta membuyarkan euforia di diri Salfa. "Nggak usah salting gitu, makin cantik nanti."
"Yeeee gombal mulu! Lagian bagus dong kalau makin cantik, gimana sih?"
"Nggak bagus sama sekali. Yang suka sama kamu tuh ntar nambah."
Salfa tersenyum, itu membuat Genta sebal tentu saja. Namun, baru saja ia hendak bicara lagi, Salfa sudah lebih dulu menyambar. "Ta ... Ta ... Kan kamu suruh aku jaga diri aku. Hati aku, termasuk di diri aku juga kan? Jadi ngapain kamu khawatir, kan kamu ada di hati aku?"
Menyadari kalimatnya sangat aneh menurut dirinya sendiri, Salfa segera menunduk sungkan. "Ngomong apa sih aku?!"
"Aneh ya, kalau kamu yang ngegombal?" goda Genta, meski tak bisa ia pungkiri bahwa hatinya porak-poranda saat ini. Dipenuhi rasa bahagia.
Sebuah angin berembus di sekitar mereka berdua. Angin yang dirasa lain dari biasanya. Hawa itu, makin lama makin terasa. Hingga pada satu titik, baik Salfa maupun Genta melihat ada sesuatu di balik pohon mangga taman itu. Pemandangan yang miris. Salfa seperti mengenalnya. Itu adalah tetangganya. Namun, melihat kaki yang tak lagi menapak tanah, membuatnya yakin bahwa sosok perempuan itu, bukan manusia.
"Tolong aku...." lirih sosok itu.
Salfa dan Genta saling tatap. Sepertinya, keduanya yang sudah terbiasa, sudah tidak kaget lagi. Sekarang, tugas baru untuk keduanya, menyelidiki soal sosok itu. Sekali lagi, menjadi penghubung. Antara yang mati, dan yang hidup. Hidup dalam dua dimensi yang tidak mudah, berdampingan dengan yang bernyawa dan tidak, mereka lalui berdua. Bersama.
Keduanya membalas dengan serempak. "Bagaimana kamu mati?"
●●●●
Halo balik lagi, jumpa lagiiiii huhu kangen kalian semua. Karena satu keadaan, aku cukup lama nggak buka wattpad. Ya, tau sendiri lah, 2020 emang berat banget kan. Jenuh itu pasti dirasakan semua orang^^
By the way, gimana part bonusnya? Semoga suka ya. Kan dari kalian lumayan banyak yang minta dibikinin cetita Salfa–Genta, tapi ternyata votingnya lebih banyak ke Wira, jadi ini gantinyaaa^^
Ditunggu ya cerita Wiranya. Segera kok, sabar dulu. Dan tolong jangan sider. Spam komentar di part ini bisa kali hehe. Luvv!
HAPPY NEW YEAR!
SEMOGA 2021 MAKIN BAIK AAMIIN!
neiskaindria