AWAKENED

AWAKENED
Dua Puluh : Petunjuk Demi Petunjuk



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Karena tak mendapatkan apapun di pesisir, lima orang dalam mobil itu kini berganti haluan menuju ke tempat-tempat yang belum mereka datangi. Ketika itulah, Vin berpura-pura memasang wajah resah. Pemuda itu menendang-nendangkan kaki di bangkunya, membuat semua temannya saling pandang tak mengerti.



"Berhenti, Ta!" ujar Vin sebelum salah satu dari mereka sempat melemparinya pertanyaan.



Genta menurut karena dirasa, Vin memang sedang sangat suntuk. Tepat ketika mobil menepi dan mesinnya dimatikan, Vin segera keluar dari sana. Disusul yang lain dengan segera. Masih memandang bingung pada pemuda yang kini menendang kerikil-kerikil tak berdosa di tepi jalan.



"Vin, lo kenapa sih?" tanya Novan tanpa menunggu lagi.



Vin menoleh, tetap dengan memasang muka gelisahnya. "Gue turun disini, kalian jalan aja."



"HA?" kaget Salfa, Genta, Novan, dan Gopal secara serempak.



Terdengar Vin berdecak pada mereka semua. "Gue serius. Kepala gue serasa mau pecah tau nggak?! Gue butuh waktu sendiri!"



Mendengar itu, tentu saja tak terdengar suara karena semua masih mencoba mencerna yang barusan dibilang Vin. Yang benar saja? Kinara saja masih belum ketemu, ini Vin malah ingin pergi sendirian?



"Kalau ada apa-apa sama lo gimana, Vin?" tanya Salfa kemudian. "Kayak kata Pak Beni, belajar dari yang sudah-sudah. Lo nggak bisa pergi sendirian."



"Gue nggak apa-apa, Sal. Malu sama tattoo gue nih kalau gue nggak bisa jaga diri," balas Vin sambil tangannya menepuk dada. Semua temannya pun sudah tahu bahwa disana terdapat tattoo.



Genta melihat raut Vin yang tampak meyakinkan, sepertinya temannya yang satu itu memang benar bisa jaga diri. Ia melirik ke Novan dan Gopal yang masih diam. Mereka sama-sama dapat melihat raut Vin yang tak sedang main-main. Sudah jelas bahwa yang jayus di rombongan ini hanya Gopal, tak ada duanya.



"Lo yakin kan tapi?" tanya Gopal pada akhirnya, memastikan sekali lagi.



"Yakin. Jaman udah canggih kali, gampang ngasih kabar mah. Gue juga tau jalan balik kok," balas Vin masih mencoba meyakinkan. Ia benar-benar butuh waktu sendirian untuk memecahkan teka-teki kamar hotel.



Setelah menimang-nimang, tiga pemuda itu pun pasrah melepaskan Vin sesuai dengan kemauan temannya tersebut. Berbeda dengan Salfa yang masih tampak tak rela Vin pisah dengan mereka kali ini. Rautnya jelas sangat berat hati, dan Vin mengerti itu. Segera ia mendekat dan menarik hidung gadis itu.



"Gue bisa jaga diri, Nyet. Nggak usah khawatir."



Raut Salfa berubah jadi cemberut setelah merasakan hidungnya sakit. "Apaan sih. yaudah, yaudah, sana. Tapi ingat, jaga diri beneran. Kalau ada apa-apa langsung hubungin kita-kita. Ngerti?"



Vin menghela pelan dengan tersenyum singkat. Ekspresi Salfa yang seperti itu sudah jadi makanan sehari-hari untuknya. Sementara itu, suara Novan memecah suasana. "Lo tuh apaan sih, Vin. Pake narik-narik hidung si Salfa lagi? Nggak lihat Genta udah jadi batu di sebelah lo?"



Mendengar itu pun, secara otomatis Vin langsung memutar kepalanya sembilan puluh derajat menghadap Genta. "Ampun, Ta! Nggak maksud deh sumpah!"



Genta hanya melirik dengan ekspresi dinginnya. "Lebay, siapa yang cemburu?"



"Emang siapa yang bilang lo cemburu?" sahut Gopal mulai jayus. "Nggak ada yang bilang kok disini. Lo sendiri yang bawa-bawa kata cemburu."



Terdiam, Genta pun merasa jadi orang paling bodoh di dunia ini. Ia lantas beralih pandang ke Salfa yang menyorot dirinya juga dengan tak enak. "Kalian tuh apaan sih, malah banyak omong disini. Kinara tuh belum ketemu!" tukas Salfa.



Tanpa basa-basi lagi, Salfa segera berjalan masuk ke mobil. Setelah menutup pintunya, ia mengatur posisi agar wajahnya tak terlihat oleh empat pemuda yang masih berada di luar. Senyuman kecil tersungging, namun segera ia tahan. Rasanya tidak adil jika dia merasa senang disaat Kinara sedang tak tahu ada dimana.



Genta, Gopal, dan Novan pun menyusul. Kini mereka hanya tinggal berempat. Novan langsung duduk di bangku depan bersebelahan dengan Genta, sedangkan Gopal kembali ke bangku semula yaitu di sebelah Salfa. Sebelum menjalankan mobil, mereka sempat melambai ke Vin yang membalas lambaian tangan mereka. Pemuda itu tampak tersenyum sebagai sapaan sekaligus sebagai bentuk meyakinkan teman-temannya bahwa ia akan menjaga diri dengan baik, sampai nanti kembali ke mereka.



"Gue nggak bakal balik sebelum nemuin Kinara, guys," gumam Vin sambil melihat mobil yang makin menjauh.



●●●●



Pemuda berpostur tinggi itu turun di depan pintu masuk sebuah hotel, karena yang bisa turun di depan lobby hanya kendaraan pribadi. Taksi yang barusan ia tumpangi melengang pergi tepat setelah pintu tertutup lagi. Baru dua langkah Vin berjalan, namun ponsel di sakunya berdering, membuatnya tertahan.



Di layar, nama Wira terpampang. Membuat Vin sedikit heran karena tak biasanya anak itu meneleponnya. "Halo, Wir?"



"Halo, Bang Vin? Lo sama Kakak gue nggak?"



Vin mengernyit. "Si Salfa?" tanyanya bodoh. Apa namanya kalau tidak bodoh? Sudah mengerti jawabannya tapi masih melempari pertanyaan. Sesaat, Vin merasa sangat tak masuk akal.



"Ya iya, siapa lagi?" balas Wira dari seberang sana dengan nada sewot yang dapat ditangkap jelas oleh Vin. Itu membuatnya meringis. Wira kembali bersuara. "Dia sama lo kan?"



Bagaimana menjawabnya? Vin merasa bingung, karena posisi sekarang tidak sedang bersama teman-temannya. Namun, untuk mencari alasan lebih lama lagi, pemuda itu juga sadar bahwa ada seseorang di seberang telepon yang menunggu jawabannya.



Benar saja, Wira kembali menyahut. "Halo, Bang?"



Vin pun berdehem, membersihkan tenggorokannya sekaligus mengawali kalimat. "Iya, iya, halo? Gue nggak sama anak-anak, Wir. Mereka jalan sendiri, gue di rumah sewaan nih."



"Bohong."



Seketika, Vin langsung tertegun. Wira ini, tahu dari mana? Segera ia mengalihkan pandangan, menerawang ke sekitar. Sejak tadi ia sedang telepon sambil berjalan menuju lobby hotel, bisa dibilang sudah cukup jauh dari jalan raya. Tapi, kenapa kebohongannya masih terbaca?



"Jadi, lo nggak sama Kakak gue nih, Bang?" tanya Wira lagi.



"E-enggak. Gue sendiri," balas Vin sedikit gugup karena masih heran.



"Oke, oke. Ntar kasih tau dia ya buat telepon gue? Thanks, Bang."



Vin hanya menjawab dengan deheman singkat, dan Wira mematikan sambungan. Segera mengingat tujuan awalnya kesini, Vin memasukkan lagi ponselnya ke saku. Mempercepat langkah agar segera dapat memecahkan semuanya. Berharap benar-benar menemukan sesuatu di kamar 037 tersebut.



Ketika masuk, Vin langsung menuju ke resepsionis yang menyambutnya dengan ramah. Ingatannya mengingat kejadian hari itu, dan sekarang ia tahu, ini resepsionis yang berbeda. Pemuda itu menduga pasti resepsionis itu tidak tahu bahwa dirinya pernah membuat ketidaknyamanan di hotel ini.



"Ada yang bisa dibantu, Pak?"



Pak? Yang bener aja? Vin hanya membatin dalam hati. Kalau saja yang dipanggil begitu Gopal, sudah habis orang di depannya itu kena sembur dengan omelan Gopal yang khas. Untung ini dirinya.



"Kamar 037, kosong nggak ya, Mas?" tanyanya.



"Oh, sudah pernah kesini sebelumnya?"



"Sudah."



"Sebentar, saya cek."



Sembari menunggu, jemari Vin bermain di atas meja tinggi yang sekaligus merupakan pembatas antara pengunjung dan resepsionis. Ia melirik laki-laki di depannya yang tengah sibuk memeriksa entah apa. Yang Vin lihat, orang itu mengernyit. Sesaat setelahnya berpindah ke bagian kunci kamar.



Reseptionis itu kembali menghadap Vin. "Mohon maaf, Mas. Ini di komputer, tulisannya masih dalam renovasi, tapi kok kuncinya ada. Datanya rancu. Saya tanyakan dulu, ya?"



"Ha? Renovasi?" kaget Vin. Bukankah yang seharusnya direnovasi itu kamar yang ia gunakan dengan Gopal? Ada apa dengan kamar itu memangnya?



"Iya, Mas. Kalau tidak salah, kemarin ada seseorang masuk kesana. Mengacak-acak kamar, entah mencari apa. Barang di hotel sih nggak ada yang hilang, ya. Tapi berantakan semua."



Vin makin dibuat tak mengerti. Tapi ia tak punya dugaan lain selain orang misterius itu. Barangkali memang benar-benar ada barangnya yang tertinggal disana. Sialan, ia tertinggal satu langkah. Ia kecolongan.



"Shit!" umpatnya pelan.



"Jadinya gimana ya, Mas? Masih tetap mau kamar itu? kalau iya, biar saya tanyakan."



"Tolong ditanyain, ya."




"Mas Sofyan, tak tinggal dhisik yo? Aku arep takon Pak Bambang soal kamar sing direnovasi iku lho, wes rampung opo durung." (Mas, aku tinggal dulu ya? Aku mau tanya ke Pak Bambang soal kamar yang direnovasi itu, sudah selesai apa belum.)



Rekannya tersebut langsung menoleh heran. "Lho, opo’o emang? Kamar 037 iku ta?" (Lho, kenapa memangnya? Kamar 037 itu kah?)



"Iyo, Mas. Wes dhisik yo, iku lo Mas-mas’e ngenteni." (Iya, Mas. Sudah ya duluan, itu Mas-mas nya lagi nunggu.)



Fokus seseorang bernama Mas Sofyan itu pun beralih mengintip ke depan, benar, ada seorang pemuda tengah menunggu. Tidak asing baginya, ia masih sangat ingat. Itu kan rombongan malam itu, batinnya. Buru-buru ia ke depan, menemui pemuda tersebut.



"Maaf, Mas. Mas ini, rombongan yang waktu itu kan?" tanyanya tanpa basa-basi. Doanya terkabul. Ia memang berharap bertemu salah satu dari enam orang waktu itu karena ada hal penting yang harus ia beritahukan. "Alhamdulillah, Gusti… Saya bisa bertemu salah satunya."



Bingung, Vin pun menjawab sekenanya. "Maksudnya?"



"Mas sama teman-teman Mas yang bermasalah itu, kan? Yang pergi dari sini setelah membayar ganti rugi?"



"Iya, benar. Kenapa?"



Mas Sofyan kembali ke ruang belakang. Merogoh tas kecilnya dan bergegas menemui pemuda tadi. Ia menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan berwarna hitam yang ia temukan pada malam saat rombongan pemuda di depannya itu ke hotel ini. Dirinya memang kebetulan ikut membantu beres-beres disana karena kurangnya tenaga housekeeping sebab pengunjung sedang penuh, hal rutin yang dilakukan ketika kamar usai dipakai. Ketika itu, ia tak sengaja menemukannya di dekat pot bunga di balkon.



"Saya menemukan ini, Mas. Saya pikir, ini punya rombongan sampeyan yang menempati kamar itu. Makanya saya berharap, ketemu salah satu dari kalian."



Vin menerimanya dengan perasaan bercampur aduk karena praduga-praduganya menyatu dengan kebingungan. "Kami nyewa tiga kamar. Ini di kamar yang mana?"



"037."



DEG! Vin tercekat. Otaknya seperti sedang menyatukan puzzle saat ini. Jika ini ditemukan di kamar itu, sementara resepsionis yang satunya tadi bilang bahwa kamar usai dimasuki penyusup, maka besar kemungkinan ini milik orang misterius itu. Berarti benar, penyusup itu tak lain adalah si W.



"Tepat kemarin, ada penyusup masuk kamar itu," ujar Mas Sofyan lagi. "Tapi anehnya, Mas, waktu dilihat di CCTV, penyusup itu tampilannya sama dengan orang misterius yang datang ke kamar itu bersamaan dengan rombongan sampeyan datang."



"Jadi dia datang dua kali?" tanya Vin, dibalas anggukan. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil petunjuk tersebut. Kepalanya menunduk, mengeja tulisan disitu sekali lagi setelah tadi sempat membacanya. "Komunitas Ragam Jiwa."



"Mas," panggil Mas Sofyan kemudian. Sebenarnya ia ragu untuk mengatakannya, tapi kapan lagi ia akan melepas beban itu kalau tidak sekarang. "Hati-hati."



Tak mengerti, Vin menatap penuh tanya. "Maksudnya?"



"Waktu kalian berenam meninggalkan hotel ini, saya lihat ada sesuatu mengikuti kalian. Terserah Mas mau percaya atau tidak, tapi hantu itu, mukanya rata. Dia berjalan di belakang kalian, terus mengikuti."



"Mas ini… indigo?" tanya Vin penuh selidik, dan dibalas anggukan. Vin pun kemudian mengulurkan tangannya ramah. "Saya Vin, dari Jakarta."



"Saya Sofyan," balas resepsionis itu memperkenalkan dirinya.



Sementara itu, resepsionis yang lain telah kembali. Membawakan kabar bahwa kamar belum selesai direnovasi. Pergerakannya kemudian dengan gesit mengambil kunci yang ada untuk dipindahkan ke tempat khusus sebagai pembeda. Disitulah, Vin kemudian memutuskan untuk pasrah saja dengan apa yang ia dapatkan. Barangkali ini cara Tuhan membantunya. Karena tak memungkinkan masuk kesana, petunjuk itu diberikan melalui Mas Sofyan.



●●●●



Taksi kedua yang Vin naiki menurunkannya di sebuah tempat yang ia dapatkan di internet. Ketika keluar dari hotel tadi, ia langsung menuliskan nama komunitas itu. Kini, ia telah sampai ke langkah selanjutnya dari tujuannya. Berharap bisa menemukan si W itu.



Empat bapak-bapak tengah duduk disana, dengan kaos yang sama. Sepertinya usai ada pertemuan di tempat itu. Vin menduga mungkin adalah acara kumpul komunitas.



"Permisi, Pak."



"Ya, Mas?" balas salah satunya. "Ada perlu apa ya?"



"Duduk, duduk, Mas," sahut yang lainnya sambil mendekatkan bangku ke Vin. Pemuda itu pun mengangguk dan duduk.



Sempat Vin melirik jam tangannya. Sudah sore. Ia tak bisa berlama-lama karena sebentar lagi malam. Kegelapan, jelas akan mempersulit dirinya dalam pencarian yang kemana arahnya masih belum jelas.



"Bapak-bapak, saya mau menanyakan sesuatu. Disini, ada anggota komunitas yang inisialnya W nggak, ya?"



Menyadari pertanyaannya yang tampak konyol, Vin menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal karena sungkan. Hal yang paling tidak mampu pemuda itu lakukan adalah merangkai kata. Apalagi mendapati tatapan aneh dari empat orang itu, membuatnya makin gelagapan.



"Kenapa memangnya, Mas? W mah banyak disini, ya?" balas salah satunya sambil terkekeh. Tampak sama sekali tak berpikir macam-macam atas pertanyaan Vin. "Ada Wisono, Wibowo, Waluyo, Wafda, ayo siapa lagi, absen!"



Yang lain malah ikut tertawa, seakan-akan yang barusan itu adalah hal yang lucu. Melihat semuanya seperti itu, Vin memaksakan dirinya untuk ikut tertawa. "Hahahahaha."



Satu orang lagi keluar dari rumah yang dipasangi banner nama komunitas di bagian depannya. Vin mendapati orang tersebut menatap tak enak, malahan, bersidekap dengan tak ada salam sapa sama sekali. Beda dengan empat Bapak-bapak yang bersamanya saat ini.



Vin mengacak rambutnya frustasi, ia memilih mengeluarkan saja kunci itu dari sakunya, lengkap dengan gelang perak. "Mohon maaf, Pak. Jadi begini, saya lagi jalan-jalan di pantai. Nah, nemu ini," ujarnya sambil menunjukkan dua barang itu pada salah satunya.



"Gelangnya kok inisialnya W, makanya saya tanya gitu tadi," sambungnya.



Syukurlah, otak Vin sedang encer merangkai alibi. Kalau sudah kepepet, logika bisa bekerja maksimal. Ia masih menunggu Bapak-bapak itu mengamatinya.



"Lho, apa jangan-jangan ini kunci rumahnya Widji? Kemarin dia datang nanyain ini, tho?" ujar salah satunya.



"Iya kayaknya. Widji juga bilang kalau kunci rumahnya dikasih gantungan kunci komunitas," sahut yang lainnya.



Setelah dirasa yakin, Bapak-bapak itu mengubah fokusnya yang semula ke gelang dan kunci tersebut, jadi ke Vin. "Ini kayaknya punyanya Widji, Mas. Dia anggota baru di komunitas ini. Gabungnya belum ada sebulan kan, ya?" ujarnya kemudian bertanya ke yang lain, dan dibalas anggukan serempak.



Sejak satu nama yang familiar itu disebutkan, dada Vin entah kenapa rasanya sesak. Meski begitu, ia tetap mencoba untuk tak berpikiran ke arah sana, karena bagaimana pun, orang bernama Widji di dunia ini bukan hanya ayahnya Kinara, kan?



"Bisa saya minta alamatnya?" tanya Vin kemudian.



"Tinggalkan disini saja, Mas. Nanti kami berikan ke orangnya."



"Nggak apa, Pak. Gimana pun juga kan saya yang menemukan. Biar saya saja yang berikan."



Salah satunya kemudian mengangguk, lantas masuk sebentar mengambilkan map berisikan data semua anggota komunitas. Setelah mendapatkan apa yang dicari, bapak itu memberikannya ke Vin. Demi apapun, rasanya dada Vin seperti dihujam habis-habisan. Nama dan foto yang terpajang di halaman yang saat ini dilihatnya adalah benar ayah Kinara. Ya Tuhan.



"Mas, kok bengong?" suara itu menyadarkan Vin, setelah itu dengan cepat ia memfoto alamat tersebut, berusaha menelan perasaan marah dan kaget yang luar biasa itu bulat-bulat.



Mata pemuda itu kemudian menangkap gerak-gerik mencurigakan dari orang yang semula bersidekap itu. sejak awal, orang itu sudah menatapnya tajam, terlebih, makin menusuk lagi ketika ia mengeluarkan dua benda dari sakunya tadi. Kegemarannya menonton film-film detektif, membuatnya cukup lihai membawa diri. Meski tampaknya ia tidak sedang memperhatikan orang itu, namun setiap pergerakannya, bisa ia amati melalui sudut mata. Orang itu pelan-pelan menjauh, dan ketika dirasa jarak untuk membuntuti sudah cukup aman, Vin mengikuti.



"Ya sudah, Bapak-bapak, terima kasih banyak," ujarnya sebelum pergi dan menjabat tangan mereka satu per satu.



Langkah Vin pelan-pelan mengikuti ke arah mana orang tadi pergi. Dan dari satu sudut persimpangan antar rumah, orang itu berbelok. Vin segera berlari kecil dengan mengatur suara langkah kakinya sedemikian rupa. Ketika sampai di persimpangan, terdengar suara pukulan.



Dukk!!



●●●●



Dahlah Vin emang keren banget nggak ada obat. Teka-tekinya dia pecahin sendiri dong. Pasti kalian punya idola baru sekarang, iya kan? Ngaku! Wkwk



Kira-kira Vin diapain ya? Jangan lupa tinggalkan komentar yang banyak dong, vote nya juga. Apalagi saran dan kritik, paling ditungguuuuu^^



See you di part berikutnya!



neiskaindria