
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Di abad ini, manusia sudah bisa menjangkau apapun dengan adanya teknologi yang terus-menerus berkembang, termasuk dapat dengan mudah menemukan alamat dan tempat-tempat yang hendak dituju.
Dalam sebuah rumah sederhana dengan dinding kayu, Salfa dan Kinara menikmati teh jahe buatan tuan rumah.
Mata seorang wanita terus memandang dengan bertanya-tanya, apa yang membuat dua gadis datang ke rumahnya jauh-jauh. Di antara mereka, ada satu gadis lagi. Seragam putih abu-abu yang dijemur di halaman rumah, cukup menjelaskan kisaran usianya. Anehnya, tatapan gadis itu tampak tak bersahabat pada dua tamu tak diundangnya.
"Langsung aja, mau minta sumbangan?" ketus gadis itu, membuat Salfa dan Kinara tertohok. "Nggak lihat apa, kami teu orang miskin? Masih juga dimintai sumbangan?"
"Fina!" sentak sang ibu yang kemudian mengarahkan senyum sungkannya pada Salfa dan Kinara. "Maaf, Teteh-Teteh. Anak saya teu memang suka asal ngomong."
"Jadi, ada apa ya?" sambung ibu itu lagi.
Disini lah dilema besar memenuhi hati Salfa maupun Kinara. Keduanya sama-sama tidak tega menjelaskan maksud kedatangan mereka. Keriput di wajah si ibu menambah kegelisahan keduanya. Namun, bagaimanapun, sudah sejauh ini. Se-spontan ini. Tidak mungkin untuk kembali tanpa memenuhi tujuan mereka.
"Bu, maaf. Maaf sekali. Sebelumnya saya mau tanya. Apa di Jakarta, selain suami, ibu punya saudara atau kerabat lain?" tanya Salfa dengan tega tidak tega. "Kenapa—kenapa saya yang diamanati, Bu? K-kalau saya yang diminta memberitahu kalian, bukannya itu berarti bahwa polisi nggak bisa nemuin siapapun dari kalian?"
Menyadari kalimatnya sangat berantakan, Salfa memejam dengan tangan mengepal. Ia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Dadanya, serasa ditikam pisau bertubi-tubi. Sakit, sesak, semuanya menjadi satu kesatuan yang membuatnya ingin berteriak kencang.
Disitu, kemudian Kinara memegang tangan Salfa yang masih mengepal kuat. Berharap itu dapat memberikan kekuatan tak terlihat berupa dukungan atas semuanya. Matanya beralih pandang ke si ibu yang mengernyit bingung. Kinara tahu, dengan beliau memegang dadanya, pasti sudah mulai paham ada sesuatu yang tidak biasa.
"Teteh maksudnya apa sih? Ngomongnya nggak jelas pisan!" sahut putri Pak Karni dengan nada tak enak.
"Gini, Dek, Bu. Kami sendiri nggak ngerti, gimana bisa kalian sampai sekarang nggak tau apa-apa. Tapi yang jelas, datangnya kami kesini…" Kinara menunduk menggantungkan kalimatnya. "K-kami, membawa kabar soal Pak Karni."
Entahlah itu perasaan Salfa saja atau memang hal tersebut adalah hal yang seperti sudah di duga oleh si ibu. Reaksinya seperti orang yang belum mendengar apapun, tapi sudah pasrah. Salfa hanya melihat ibu yang sampai detik itu belum ia ketahui namanya.
"Setiap malam saya mimpiin suami saya. Dia nggak ngomong apa-apa. Cuma berdiri, diam, tersenyum ke saya. Tapi saya bisa lihat, suami saya sedih," kata si ibu, matanya sudah berkaca-kaca. "Suami saya kenapa, Teh?"
Mendengar itu, Salfa menitikkan air matanya. Ia benar-benar tak kuasa menahan tangisnya lagi. Kinara yang duduk di sebelahnya juga mengusap air mata sesaat sebelum menoleh ke Fina, anak Pak Karni. Ekspresinya kaget usai mendengar penuturan sang ibu. "Bapak kenapa?"
Dengan pelan penuh ketidakyakinan, Kinara menjawab, "Pak Karni meninggal, Dek. Enam hari lalu."
Fina mematung seketika itu. Setengah dari dirinya ingin marah saat itu juga, namun hatinya seakan melarang. Alasan dirinya terkejut mendengar bahwa ibunya memimpikan sang bapak setiap hari, adalah karena dirinya juga mengalami hal yang sama. "Nggak mungkin. Teteh bohong, kan?"
Baik Salfa maupun Kinara menggeleng, tangisnya masih berlanjut.
"Saya sama ibu saya nggak tau kalian siapa! Datang-datang ngasih kabar buruk, kalian berharap kami percaya?!"
Baru saja hendak menjelaskan, Salfa mendapati hadirnya Pak Karni di satu sisi rumah. Pelan-pelan, beliau mendekat. Makin dekat, makin dekat. Hingga, beberapa detik kemudian, tubuh Salfa tersentak. Spontan Kinara, istri Pak Karni, dan Fina memandang terkejut.
Salfa hanya diam menunduk, merasakan bahwa dirinya bukan lagi seorang Salfa. Sesaat lalu, Pak Karni melesat seperti menabraknya. Kini, rasanya ia mendapat pandangan yang merupakan jawaban atas semua pertanyaannya. Apa yang dirasakannya seperti orang yang menyaksikan sebuah video dokumenter.
Ia melihat Pak Karni sedang berjalan, berdagang seperti tiap harinya, dan tanpa disadari dompet beliau terjatuh. Semua kartu penting baik itu KTP ataupun SIM, ada di dompet tersebut. Hal itu terjadi beberapa hari saja sebelum kejadian naas itu menimpa Pak Karni. Kemudian, Salfa melihat bagaimana pemilik kontrakan mengusir Pak Karni suatu hari, membuatnya tidur di salah satu rumah makan yang kalau malam, beliau bekerja cuci piring dan diberi izin tinggal disana sebagai bayaran.
"Sal? Salfa?" sesekali ia mendengar suara Kinara dengan samar-samar. "Salfa?"
Sesaat kemudian, dengan cepat pandangannya berlanjut. Ia melihat bahwa Pak Karni tak pernah memberi jawaban pasti dimana ia tinggal tiap kali ditanya orang. Sikapnya yang pendiam, membuatnya selalu menjawab sekenanya, yaitu 'ngontrak', begitupun ketika sudah tidak mengontrak lagi, jawabannya selalu sama.
"Hahh!!" erang Salfa ketika dirinya sudah kembali membuka mata. Sesaat lalu, serasa ada yang berembus keluar dari dirinya. Setelah melihat Pak Karni yang tiba-tiba sudah berada di depannya, Salfa baru menyadari, bahwa tadi, Pak Karni yang masuk ke dalam dirinya. Berbeda dengan saat di rumah Pak Aji tempo hari ketika dirinya kesurupan. Yang sekarang, dirinya seperti bisa mengontrol, apalagi, Pak Karni tak berniat mengambil alih raganya, melainkan hanya sebatas singgah.
Hal yang demikian, disebut mediumisasi.
"Sal? Lo nggak papa, kan?" panik Kinara yang wajahnya sudah berubah pucat.
"Ini kenapa sih si Teteh sebenarnya? Pertanyaan saya aja belum dijawab malah nggak jelas gini!" sungut Fina karena merasa sudah sangat muak.
Pandangan Salfa kemudian bergantian memindai Fina dan ibunya. "Dompet Pak Karni hilang, Bu. KTP dan semua kartu penting ikut hilang. Itu sekitar tiga hari sebelum kejadian. Itu sebabnya polisi nggak bisa melacak keluarganya untuk memberi kabar."
Istri Pak Karni dan Fina saling pandang, Salfa paham arti tatapan mereka yang penuh tanya. "Gimana Teteh bisa tau? Udah saya teu udah muak. Mendingan sekarang Teteh pergi aja! PERGI!" usir Fina dengan sentakannya. "JANGAN BALIK KESINI LAGI!"
Salfa dan Kinara yang sudah berdiri masih enggan untuk keluar dari rumah itu. Bahkan sekarang Salfa menatap memohon pada istri pak Karni yang sejak tadi diam saja.
"Barusan Pak Karni kasih lihat ke saya, Bu! Beliau tinggal di rumah makan karena diusir dari kontrakan. Nggak ada yang tau dimana Pak Karni tinggal, dan orang-orang di lingkungan kontrakannya dulu nggak ada yang tau lagi Pak Karni ada dimana! Demi Tuhan, saya nggak bohong! Percaya sama saya!"
Si ibu yang sepertinya termakan omongan putrinya, ketika logikanya mengalahkan firasat hati yang semula mempercayai apa yang dua gadis di hadapannya itu katakan, kemudian angkat bicara. "Mana mungkin suami saya teu tinggal di rumah makan dan diusir dari kontrakan? Suami saya kerja di kantor ya, Teh! Kalau keadaannya seperti yang Teteh bilang, nggak mungkin suami saya kirim uang tiap bulan."
Kali ini bukan hanya Salfa, tapi Kinara juga ikut menggeleng, menandakan bahwa apa yang di bilang istri Pak Karni adalah salah besar.
"Pak Karni, di Jakarta bukan kerja kantoran, Bu. Mohon maaf, tapi beliau pedagang asongan…" ujar Kinara.
"Dan tiap malam kerja di rumah makan tempatnya tinggal dengan separuh gaji, karena separuhnya adalah beliau diizinkan tinggal di rumah makan itu," sahut Salfa. Ingatannya kemudian membawanya pada apa yang dikatakan kakek-kakek yang memberikan alamat Pak Karni itu. "Pak Karni disana rela cuma makan nasi putih, supaya bisa kirim uang kesini. Pak Karni nggak pernah bisa jujur, barangkali karena nggak mau kalian kecewa."
Tangis kemudian pecah. Fina langsung menghambur ke pelukan ibunya. Percaya tidak percaya, namun rasanya hati kecil mereka meyakini semua yang Salfa dan Kinara katakan, karena mimpi yang setiap hari mereka alami.
"Dua puluh tahun, Fin… Dua puluh tahun Bapak maksain hidup disana…" ujar si ibu dalam tangisnya. "Gimana bisa ibu nggak tau semua itu selama dua puluh tahun lamanya, Fin…?"
"Bapak…" lirih Fina dengan isakan dalam peluk ibunya.
Salfa melihat Pak Karni ikut menangis, memeluk anak dan istrinya tanpa mereka bisa merasakan. Hal itu adalah puncak rasa sakit yang Salfa rasakan ketika menyaksikan semua ini. Ia jelas dapat merasakan betapa menyesalnya Pak Karni telah menyimpan kebohongan selama dua puluh tahun.
Kinara yang juga masih menangis lantas merangkul Salfa. Disitulah, yang dirangkul melihat Pak Karni mendekat padanya, dan berkata, "Andai saya tau kapan saya mati, saya akan memilih pulang kemari. Menghembuskan napas terakhir saya di samping anak dan istri. Saya hanya menyesal. Ambisi saya yang tidak ingin pulang sebagai orang yang gagal membuat saya berbohong sebegitu lamanya. Terima kasih, Neng. Terima kasih untuk semuanya. Sekarang saya bisa pergi."
●●●●
Dalam ruang tamu dengan cat dinding warna biru itu, berkumpul satu keluarga dengan ketegangan yang sangat kentara. Bahkan, Vin yang belum tahu apa-apa pun bisa menilai bahwa ini masalah serius. Wajah laki-laki yang akrab ia sapa Om Dody itu tampak gelisah dengan rahang yang menegang, begitupun wanita yang ia panggil Tante Nilam.
Bisa dibilang keluarga Salfa, Kinara, maupun Vin sudah saling kenal karena adalah tetangga satu RT. Keakraban ketiganya membuat tiga keluarga masing-masing ikut akrab juga. Sehingga, ketika Salfa seolah tengah disidang, tak ada masalah meskipun Kinara dan Vin juga ada disitu.
"Gimana bisa, Sal? Gimana bisa?!" tanya Dody dengan nada yang meninggi. Disitu, Salfa tahu, ketika sang ayah memanggilnya dengan nama, itu menandakan bahwa ayahnya sedang marah. Biasanya, ayahnya selalu memanggilnya 'Kak'. "Gimana bisa ke Bandung nggak pamit sama orang tua?!"
"Ini kenapa berlebihan banget sih, Yah? Biasanya aku main ke luar kota sama teman-teman juga dibolehin?" balas Salfa.
Nilam menghela pelan. "Tapi sekarang situasinya kan beda, Kak. Kamu bukan kamu yang dulu bisa seenaknya pergi kemana-mana."
"Kalau nggak terpaksa Salfa juga nggak akan pergi mendadak, Buk."
"Tapi kan bisa bilang waktu di jalan, Sal," balas Dody.
"Yah, aku udah gede ya. Buktinya sekarang aku bisa sampai rumah, baik-baik aja. Aku bisa jaga diri, Yah."
Mendengar itu, emosi Dody agak menurun. Ia membenarkan apa yang Salfa katakan. Barangkali memang dirinya yang overprotective kali ini. Salfa selama ini juga selalu datang ke rumah Pak Aji setiap hari sesuai apa yang ia minta, untuk meminta bimbingan atas bakat yang putrinya dapat. Tapi, namanya juga orang tua. Apalagi seorang ayah, mencemaskan putrinya adalah hal yang lumrah.
"Ya sudah, mungkin kali ini Ayah memang berlebihan. Tapi lain kali, jangan gitu lagi, Kak. Paling tidak kasih tau lah kalau mau pergi kemana aja. Jangan pas udah pulang baru bilang. Kamu kan biasanya nggak pernah kayak gitu, makanya—"
"Makanya harusnya Ayah bisa memahami kalau aku bener-bener terpaksa ngelakuin itu. Coba deh kalau misalkan aku bilang, kalian pasti akan lebih kepikiran dan aku pun juga nggak akan tenang." Salfa rasanya sudah bosan mendengarkan ayahnya bicara panjang lebar. Sekilas ia melirik Wira yang menatapnya tak enak. Ia paham bahwa sikapnya ke ayahnya memang tidak sopan. "Maaf, Yah. Maaf, Buk."
Dody masih lekat menatap Salfa, kali ini dengan senyum tipis yang mengisyaratkan bahwa amarahnya sudah hilang. "Kamu itu tanggung jawab Ayah, Kak. Sudah tentu Ayah takut kalau kamu kenapa-napa, sedangkan Ayah nggak tau kamu ada dimana."
Mungkin memang tampak sangat berdosa, namun bagi Salfa, melihat ayahnya bicara tulus seperti demikian, malah membuatnya makin muak. "Ayah tenang aja. Sejauh ini belum pernah ada yang nyakitin aku lebih daripa—"
Ucapan Salfa menggantung ketika sang ibu memegang tangannya. Gerakan spontan dari Nilam membuat Salfa langsung menoleh dan paham isyarat yang diberikan. Disitu, Kinara yang sejak tadi diam, ikut mengerti. Begitu juga Vin. Bahkan, Dody pun tahu bahwa lanjutan kalimat putrinya yang terhenti tadi adalah kata 'Ayah'. Sekali lagi, Dody mendapatkan tamparan atas kesalahan di masa lalunya.
Tak lama kemudian, Dody memilih beranjak hendak meninggalkan ruang tamu. Ketika itu, raut wajahnya dibuat sebiasa mungkin. "Ya sudah, kalian bertiga pada nongkrong sana di teras kayak biasanya. Nanti Tante Nilam bikinin cokelat panas kesukaan kalian. Om mau ke kamar lanjutin kerjaan kantor yang belum beres."
Salfa masih diam. Tatapan ibunya membuatnya mati kutu. Tapi Nilam memilih untuk tak berkomentar. Meskipun barusan putrinya juga mengingatkannya akan luka lama, ia tidak bisa marah. Bagaimanapun, ia mengerti apa yang dirasakan Salfa ketika kecil dulu sangatlah berat. Tapi Nilam percaya, akan datang masanya dimana Salfa bisa memaafkan Dody.
"Ya udah, Tante bikinin minuman dulu ya. Ada bolu juga, tadi siang Tante bikin dibantu Wira. Ya kan, Wir?" ujar Nilam dengan senyuman yang mengembang.
Dan Salfa tahu, senyuman ibunya, terpaksa.
Berjalan dengan hentakan yang tak biasa menuju teras, Salfa lantas mengawali duduk di bangku yang paling dekat dengan pintu. Merasakan sesak itu datang lagi ke dadanya. Hampir. Hampir saja ia mengungkapkan kalimat yang tak seharusnya ia ucapkan tak peduli seberapapun besarnya kesalahan yang ayahnya buat. Sungguh, jika tidak ada Kinara dan Vin di dekatnya, sudah dipastikan Salfa akan menangis.
Mengetahui apa yang tengah dipikirkan Salfa, Kinara berinisiatif mencairkan suasana. "Eh gila, tadi gue rasanya tertampar pas Om Dody bilang jangan pas udah pulang baru bilang," ucapnya heboh.
Vin langsung menyahut. "Padahal kalau lo mah mau ke Afrika Selatan nggak bilang juga Nyokap lo biasa aja, ya kan?"
"Iya sih. Eh, Sal. Lo tau nggak—"
"NGGAK!" sergah Salfa sebelum Kinara sempat menyelesaikan kalimatnya. Suasana hatinya sedang tidak baik sama sekali sekarang.
"Ih, serius! Bu Afifah sama Fina sejak sampai di kost-an nggak berhenti nangis sampai gue tinggal kesini. Nyokap gue yang berusaha nenangin mereka. Gue nggak tega, sumpah."
Ya, Bu Afifah adalah istri pak Karni. Beliau dan anaknya, Fina, langsung ikut Salfa dan Kinara ke Jakarta untuk datang ke makam suaminya. Bu Afifah juga meminta tolong ke penjaga makam untuk memberikan nama di batu nisan yang tertancap di tanah kuburan Pak Karni. Setelah dari sana, mereka diberi tempat menginap di kost-kostan milik ibunya Kinara, sebelum kembali lagi ke Bandung besok. Sementara Kinara, langsung menyusul ke rumah Salfa untuk menjelaskan mengenai perjalanan tanpa pamit mereka.
Di sela-sela menikmati minuman cokelat dan bolu yang tersaji di meja teras, tiba-tiba Vin mencetuskan sebuah ide. Hal itu terpikirkan di kepalanya karena tidak tega melihat Salfa murung dan gelisah seperti sekarang.
"Eh, guys! Gue ada ide, nih. Kayaknya, kita semua butuh liburan deh. Banyak banget yang terjadi akhir-akhir ini, ya kan? Pulau K yuk, gas!"
Kinara yang ketika itu tengah mengunyah bolu langsung tersedak. "Uhuk, uhuk! Udah gila lo ya? Baru aja si Salfa dimarahin gara-gara pergi ke Bandung, ini lo malah mau ngibarin bendera perang ke Om Dody dengan ngajak ke Pulau K yang jauh banget disono?"
Lain dengan Kinara, Salfa justru menanggapinya dengan tatapan yang berbinar ke Vin. "Lo bener, Vin. Ini gue beneran hampir gila. Gue bener-bener butuh hiburan," ujar Salfa antusias.
Vin langsung menunjuk Salfa dengan dua jari. "Nah kan, sepemikiran kita, Sal!" balasnya, lantas beralih ke Kinara. "Emangnya, lo nggak mau, Ra?"
Tak langsung menjawab, Kinara menggigit bibir bawahnya, memasang muka polos. "Ya… Mau sih. Hayuk lah gas!"
Sontak Vin segera menarik hidung Kinara, membuat posisi kacamata gadis itu jadi tak sesuai. Namun, tak Kinara pungkiri. Desiran aneh muncul di benaknya. Rasanya hangat sekali diperlakukan demikian oleh Vin. Tapi, ketika logikanya mencoba mengingatk bahwa mereka adalah sahabat sejak kecil, ia memilih untuk berusaha biasa saja.
Salfa melirik menahan senyum melihat ekspresi Kinara yang menurutnya aneh. Meski begitu ia memilih diam, seperti biasanya.
"Tapi, kalian yang bilang ke Nyokap Bokap gue ya? Yakinin mereka. Gue yakin pasti boleh kok," ujar Salfa kemudian. "Lagian, mereka kayaknya juga tau deh kalau gue pengen banget kesana."
"Semoga beneran boleh ya. Ke pulau itu tuh impian kita sejak lama, please. Senin depan kan UAS, habis itu free. Waktunya pas banget ini, kapan lagi?" balas Kinara yang kini berubah antusias, seolah lupa bahwa tadi ia sempat memaki Vin atas idenya.
Hal sederhana seperti ini lah yang membuat Salfa selalu mampu bertahan. Tingkah lucu sahabat-sahabatnya tak pernah gagal membuatnya melupakan gundah-gulananya. Tercetusnya ide liburan tersebut rasanya seperti jalan keluar untuk semua yang Salfa rasa.
●●●●
Halo semuanya, double update lagi hari ini yeay!! Gimana part ini? Semoga suka ya, teman-teman. Terus beri dukungan untuk AWAKENED dengan vote dan komentar^^
Ayoooo jangan jadi pembaca yang sider hehe, spam komen laaah biar rank nya naik terus huhu. Btw makasih sudah mampir, sehat selalu^^
neiskaindria