AWAKENED

AWAKENED
Dua Puluh Satu : Insiden Berdarah



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Dukk!!



Suara tubuh terbanting ke tembok menggema di lorong antar dua rumah tersebut. Orang yang Vin tidak ketahui namanya itu berhasil ia persempit pergerakannya dengan menguncinya di tembok. Kedua tangannya menekan leher orang itu, membuatnya meringis karena kehabisan napas.



"Mau nyerang gue lo, ha?!" sentak Vin, masih dengan tatapan menghunus. "Orangnya Widji kan lo? HA?! JAWAB GUE!!"



"A-ampun, Mas!"



Vin semakin seperti orang kalut. Emosinya sudah tak terbendung. Ia mencekik leher orang itu lebih dari sebelumnya. "Kasih tau sama gue sekarang, dimana Widji?"



"N-nggak tau, M-mas. T-tolong lepasin," balas orang itu dengan susah payah.



Segera setelah itu Vin menarik dan menghempaskan orang itu ke tanah, untuk kemudian ia tindih dengan satu tangan mencengkeram kerah sementara tangan yang lain bersiap melayangkan pukulan. Gerakan pemuda itu sangat gesit, ia memang sudah ikut bela diri sedari kecil. Maka untuknya, mengatasi orang seperti ini, sangat gampang.



"KASIH TAU GUE SEKARANG, DIMANA WIDJI?!!"



"S-saya telepon sejak tadi pagi nggak diangkat, Mas. Ampun, Mas."



Tak menggubris permohonan orang tersebut, Vin mendaratkan bogem ke hidung orang itu dengan tak tanggung-tanggung, hingga berdarah. "BILANG KE GUE DIMANA DIA SEKARANG, BANGSAT!!"



"AAMPUUNN, MAS, AMPUUUN…" balas orang itu masih dengan dua telapak tangan yang disatukan sebagai pernohonan, karena ketidakberdayaannya. "R-rumahnya kosong, dia nggak di rumah, Mas."



"TERUS DIMANA?!!"



"Di ruang bawah tanah dekat pantai sana, Mas! Ampun, Mas!" balas orang itu dengan menunjuk arah utara.



Vin beranjak, namun tangannya masih tetap mencengkeram. Ia membanting lagi tubuh orang itu ke tembok seperti sebelumnya. Tatapannya makin menakutkan hingga didapatinya orang tersebut bahkan sampai tak berani menatap padanya.



"Antar gue kesana. Sekarang," ujar Vin lugas dan penuh penekanan. "Gue udah kehilangan sahabat gue, dan gue nggak akan segan buat bunuh lo kalau sampai lo nggak bisa bawa gue ke dia. NGERTI?!!"



Seolah terhipnotis cara bicara Vin yang menakutkan, orang itu mengangguk pasrah. Soal nanti ia akan dibunuh Widji, urusan belakang. Yang jelas, ia tak mau mati konyol disini. Apa yang dikatakan pemuda di depannya terlihat tak main-main. Apalagi, ia harus sesial ini sampai ada tali tergeletak tak jauh dari tempatnya dihajar sehingga kini tangannya tak bisa berkutik karena ditali erat.



Sebelum jalan, Vin memeriksa orang itu terlebih dahulu karena bisa saja ada benda tajam yang disembunyikan, yang tentu bisa mencelakainya kapan saja. Vin bukan orang bodoh yang dengan gampangnya percaya pada orang itu. Sebelum ia bisa melihat Kinara dengan mata kepalanya sendiri, ia tak akan melepaskan orang ini.



Sopir taksi yang Vin hentikan sesekali melihat ke bangku penumpang melalui spion yang ada di dalam. Vin yang paham maksudnya, langsung buka suara. "Nggak usah takut, Pak. Saya emang lagi ada urusan hidup dan mati sama nih orang," ujarnya lalu melirik orang yang masih ia cengkeram lengannya itu.



"Eh bajingan, dengar ya. Kalau sampai lo bawa gue ke tempat yang salah, gue benar-benar bakalan habisin lo," tukas Vin sekali lagi. Bahkan ia tak mempedulikan ada si sopir yang memandang ngeri melalui spion ketika mendengarkannya. "Ayah macam apa bos lo itu, ha? Gimana bisa dia culik anaknya sendiri?!"



"Dia bukan bos saya," balas orang itu.



"Oh iya? Terus yang tadi itu apa? Lo mau nyerang gue kan, ha? Segitunya lo ngelindungin Widji. Dikasih apa lo sama dia?!"



Mendengar ungkapan Vin, si sopir yang rahangnya mengeras berubah lunak sedikit demi sedikit. "Maaf, Mas. Nggak bermaksud ikut campur. Apa kita perlu mampir ke polisi?"



Vin menoleh, lalu melirik lagi dengan sinis pada orang di sebelahnya yang kini memandang memelas padanya. "Keenakan dia, Pak, kalau dipenjara. Bagusnya mati aja."



Cukup lama, taksi yang mereka naiki akhirnya berhenti atas aba-aba dari laki-laki di sebelah Vin. Dengan lengan yang masih dipegang erat, laki-laki itu turun dan berjalan beberapa centi lebih dulu ketimbang Vin. Mereka telah sampai di ruang bawah tanah yang dibuat oleh Widji, dan laki-laki itu pun segera mengaku bahwa ia memang ikut membantu mencarikan orang untuk membangunnya.



Vin merasa janggal karena dibawa ke tempat sepi dengan banyak pohon rindang. Meski begitu, ia tetap berjalan mengikuti langkah kaki di sebelahnya, tentu dengan mata yang selalu waspada. Mata Vin menangkap sesuatu seperti penutup besi seperti yang biasa ada di trotoar. Sesaat, ia pikir itu adalah jalan masuknya, namun laki-laki di sebelahnya malah duduk dan menyapu tanah yang seperti sudah ditandai dengan satu batang kayu.



"Pesembunyian yang bagus," sindir Vin ketika sebuah kotak terlihat. Tentu itu adalah jalan masuknya.



Setelah laki-laki itu membukanya, Vin segera memelotot dan mengodekan agar laki-laki tersebut masuk lebih dulu. Apapun nanti yang menunggunya di dalam, dan apa yang akan dilakukan Widji ketika melihatnya, Vin sudah siap. Yang ia yakini adalah, Kinara tak sama seperti ayahnya. Ia mengenal Kinara jauh lebih baik daripada ia mengenal siapapun, bahkan Salfa.



"Masuk!" ketus Vin dan laki-laki yang sejak tadi pasrah itu pun mengawali menuruni tangga kayu.



Mereka sampai pada akhir tangga. Tempatnya gelap, hanya diterangi lampu minyak di beberapa titik. Tak begitu luas, namun Vin menemukan banyak benda aneh disana, seperti: tulang belulang, menyan, bunga, dan kertas-kertas kusam serta boneka yang sudah jelas adalah media santet. Mata Vin mengerjap mendapati semua itu, dengan menahan rasa marah yang membuncah di benaknya.



"Dia tidak disini," ujar laki-laki itu. Meski cahayanya remang, Vin masih bisa menangkap raut yang tampak menduga sesuatu. "Berarti dia sudah mulai melakukannya," sambungnya dan kali ini sambil menoleh ke Vin.



"Melakukan apa? A-apa maksud lo? Sahabat gue diapain, ha?" balas Vin mulai panik, namun di sisi lain ia mencoba tidak berpikiran buruk karena mau bagaimanapun juga, Kinara tetap darah daging Widji. "Jawab!"



"Dia semedi, memulai kesepakatannya dengan iblis."



"Untuk apa?"



"Membunuh."



Belum juga usai dari rasa tercekat yang dirasakannya, fokus Vin beralih ketika menyadari satu suara lirih dari arah belakang. Baik dia maupun laki-laki yang bersamanya, saling bertukar pandang lalu mengikuti suara itu.



Dari balik tembok yang merupakan tanah asli, mata Vin memicing pada seseorang yang meringkuk memeluk lututnya. Wajahnya terbenam disana dengan punggung yang terguncang hebat, menangis. Sempat terpikir bahwa itu adalah bukan manusia, mengingat tempat yang ia datangi adalah tempat aneh, namun semakin Vin mendekat, ia semakin familiar dengan suaranya.



"Kinara?" panggilnya dengan mata membulat.



Gadis tersebut langsung mengangkat wajahnya, dan tentu saja terkejut karena mendapati Vin dengan mata kepalanya sendiri. "VIN?!!"



Vin langsung berlari mendekat ke jeruji besi itu. memukulkan tangannya kesana. "SIALAN!! AYAH MACAM APA DIA SAMPAI TEGA NGURUNG LO DISINI!! BAJINGAN!!"




Matanya menemukan sebuah linggis yang tergeletak di sudut ruangan. Segera ia mengambilnya dan kembali. Menghantamkan ujung linggis itu dengan keras bercampur frustasi. Derap langkah lalu menyahut di belakangnya, ia menoleh dan melihat laki-laki tadi lari karena memang sedang punya kesempatan.



"WOIII!!!" teriak Vin namun ketika dipikir-pikir, daripada mengejar orang itu, akan lebih baik segera mengeluarkan Kinara dari sini dan segera pergi.



Vin makin kuat menghantam gembok itu. Satu kali, dua kali, tiga kali, dan yang keempat kali besi gembok itu terbuka paksa. Suara kerincingan besi dengan besi terdengar, disusul decitan pintu yang dibuka. Disitu, Vin langsung berlari merengkuh Kinara yang juga baru saja beranjak. Tak disangka, air matanya menetes ketika dirinya sedang berada di dalam dekapan Kinara. Gadis yang menjadi muara rasa sayang dalam hati yang sudah dipendamnya bertahun-tahun.



"Ra, lo nggak apa, kan? Bajingan itu nggak ngapa-ngapain lo, kan?" tanya Vin yang baru saja melepaskan pelukan. Kini dua tangan gadis di hadapannya ia genggam dengan penuh pengertian.



Kinara hanya menggeleng, tangisnya kembali lepas. "Nggak ada orang di dunia ini yang bisa nyakitin gue lebih dari pada dia, Vin…" balasnya lalu kembali menghambur ke pelukan pemuda di depannya, terisak hebat. "Kenapa dia bisa sejahat itu, Vin…?"



"Ssstt, udah, Ra. Nggak usah lo jelasin apa-apa, gue udah tau semuanya. Jangan nangis, Ra. Kita keluar dari sini sekarang, ya? Ayo," ajaknya di akhir kalimat sambil menggandeng tangan Kinara. Dalam hatinya, ia berjanji tak akan pernah melepaskan tangan itu lagi, bahkan meski harus kehilangan nyawanya.



Jika benar yang laki-laki tadi bilang, bahwa permainan Widji yang sebenarnya sedang dimulai. Maka ini lah Vin, yang tak gentar sama sekali. Siap seratus persen menghadapi apa yang akan terjadi.



●●●●



Kegelapan telah menyapa. Rombongan yang hanya tersisa empat orang ini pun memutuskan untuk kembali ke rumah sewaan karena tak ingin sesuatu yang lain terjadi ketika mereka memaksakan diri untuk mencari lebih larut lagi. Salfa sejak tadi sudah berkali-kali bilang bahwa yang mengikuti mereka di belakang sana semakin banyak. Bukan hanya Gopal, bahkan Genta dan Novan yang semula tak mempercayai hal semacam itu, ikut-ikutan merinding mendengarnya.



Mobil berhenti di pekarangan depan rumah tua itu. Mereka akan membahas mengenai langkah pencarian selanjutnya di dalam, bahkan, sudah mantap untuk melapor ke polisi besok. Pihak kepolisian tak akan menolak lagi karena sudah dua kali dua puluh empat jam. Salfa turun dengan tak mengalihkan pandangan dari belakang. Sosok-sosok itu, banyak sekali. Namun tampaknya, ada satu yang mendominasi di antara mereka. Sosok tinggi besar dengan rupa menyeramkan, menyerupai kerbau, memiliki tanduk. Sosok mengerikan yang jarang Salfa lihat sejak mata batinnya terbuka secara sempurna.



Yang lebih membuat tercekat lagi, adalah mereka semua yang seperti mendekat bersamaan, dengan di pimpin sosok mengerikan tadi. Salfa langsung membulatkan mata, panik. "Guys…!" panggilnya dengan sedikit tercekat. Semuanya menoleh ke Salfa, langsung menatap tak mengerti.



"MASUUUUKK!!" teriak Salfa pada tiga pemuda yang bersamanya dan kesemuanya meski masih tak mengerti namun menurut. "MEREKA KESINIII!!"



Salfa berlari di paling belakang. Ia menyuruh semuanya masuk karena bisa menduga bahwa rumah itu seperti telah didoakan entah oleh siapa. Karena tak ada satupun hantu yang masuk ke rumah tersebut sejak mereka kembali dari hotel. Tepat setelah Salfa masuk, Genta langsung menutup pintu dengan keras, menguncinya dari dalam. Setelah beberapa detik, tampaknya tak ada apa-apa. Mereka pun akhirnya melega, namun juga bingung.



"Mana, nggak ada apa-apa?" heran Genta. Ia melirik Novan dan Gopal yang juga mengisyaratkan pemikiran yang sama dengannya. Kepalanya lantas menoleh, ke Salfa. "Ada apa sih, Sal, sebenarnya?"



Tak ada jawaban.



Salfa hanya diam. Menunduk. Rambut keritingnya menutupi muka. Sadar bahwa tak ada sahutan, Gopal yang posisinya paling dekat dengan Salfa, mengguncang bahu gadis itu. "Woi, ditanyain juga."



Masih tak ada jawaban.



Rupanya, perkiraan Salfa meleset. Sosok-sosok tadi berhasil masuk ke rumah ini. Bahkan, sosok mirip kerbau dengan tanduknya tadi telah berhasil menembus masuk ke tubuhnya. Dalam alam bawah sadarnya, ia masih mencoba mengontrol itu seperti yang pernah diajarkan Pak Aji, tapi sosok-sosok lain yang satu per satu ikut masuk, membuatnya kewalahan. Akhirnya, gadis itu, hilang kesadaran sepenuhnya.



"RRRAAAWWWRRR!!!" erang Salfa bersamaan dengan wajahnya yang terangkat.



Tiga pemuda dalam ruang tamu itu dibuat terkejut. Mereka buru-buru menjauh ketika menyadari bahwa wajah Salfa berubah menyeramkan dengan mata yang hitam sempurna. Sementara itu, gadis yang kerasukan itu pun berusaha menyerang mereka semua.



Salfa melompat ke Novan, menyebabkan pemuda itu tersungkur ke lantai. "SAAALL!! SADAR, SAL, INI GUE NOVAN!!" teriak Novan dengan berusaha meronta untuk bangun namun beban di atasnya seperti ratusan kilo beratnya, membuatnya tak berdaya melawan.



"PAL, BANTUIN, PAL!!" seru Genta sambil mengawali mendekat ke Novan, memegangi tubuh Salfa yang meronta hebat.



Belum sempat Gopal ikut memegangi, ia dikejutkan dengan Salfa yang menggigit tangan Genta hingga darah meluncur dari sana. Genta yang kesakitan pun mengaduh. "AAAARRGGGH!!"



Seketika itu Gopal langsung memiting kedua tangan Salfa ke belakang dengan susah payah. Namun kekuatan gadis itu berubah menjadi di luar kendalinya. Salfa mendorong Gopal sampai terjerembab dan menghantam meja. Ia memegangi pinggangnya yang sakit karena berbenturan langsung dengan ujung meja kayu tersebut. "Aduh..."



Novan yang punya kesempatan untuk membebaskan dirinya ketika Salfa mendorong Gopal pun buru-buru mengangkat tubuhnya menjauh. Ia membantu Genta berdiri namun sedetik kemudian, Salfa terlihat menyerang Gopal dengan kuku yang entah bagaimana bisa menjadi panjang seperti sekarang.



Gopal terus menghindar sampai dia kehabisan akses untuk berlari. Disitulah, Salfa yang bukan Salfa itu bersuara, suaranya seperti ganda. "Kamu yang mengajak teman-temanmu pergi dari sini, kan? Kamu hampir membuat rencana tuanku berantakan! Kamu tidak akan selamat kali ini karena yang terjadi pada kakimu itu belum cukup, hahahhaha!!"



"KELUAR LO DARI TUBUH SALFA!!" balas Gopal yang tengah merasakan takut dan berani secara bersamaan.



Dilihatnya, Salfa tersenyum menyinis. "Memangnya kamu siapa berani-beraninya menyuruh aku keluar dari tubuh yang sudah tuanku berikan untuk aku gunakan?!!"



Mendengar itu Genta langsung bereaksi. "SIAPA TUAN LO? ATAS HAK APA DIA KASIH TUBUH SALFA KE LO, HA?!"



Salfa menoleh pada Genta dan di saat yang sama, Gopal berusaha meloloskan diri. Namun sosok yang merasuki tubuh Salfa itu bisa membaca gerakan Gopal dan dengan segera menarik tangan pemuda tersebut. Matanya menangkap pisau yang berada di atas piring berisikan mangga di meja bagian pojok, dekat dengan posisi Gopal. Tangan Salfa langsung meraih pisau itu dan dengan cepat melesatkannya ke Gopal.



"PAL, AWAAAAASSS!!!"



Jleb.



Seketika, Gopal langsung melemah dan tersungkur ke lantai. Memegangi gagang pisau yang masih menancap di perutnya. Darah mengalir dengan deras bersama rintihan Gopal. Pemuda itu terkulai tak berdaya dengan pandangan mata yang perlahan mengabur hingga tak dapat melihat apa-apa lagi.



●●●●



Maafin aku, karena aku bikin alur yang menyakitkan untuk para GOPAL-LOVERS disini. Jangan pada sedih dong :"



Btw, gimana part ini? Kira-kira gimana kelanjutannya? Ada yang bisa tebak? Spam komen dong biar nggak sider^^



Terima kasih sudah setia mengikuti AWAKENED ya, teman-teman. Nggak nyangka deh bisa sampai di part ini dan tinggal beberapa part lagi, selesaiiii^^



Jangan lupa vote nya ya sebagai bentuk dukungan atas cerita ini. Bagikan ke teman dan saudara juga biar nggak deg-degan sendirian hehe^^



See you di part berikutnya, dua hari lagi. Harap bersabar yaaaaa!



neiskaindria