
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Membiarkan bangku di mobil basah kuyup, Gopal berkendara dengan kecepatan semaksimal yang ia bisa agar cepat sampai ke rumah. Di bangku tengah, Salfa sudah menggigil hebat. Sebenarnya itu dirasa aneh oleh semua orang. Perairan di pulau itu hangat, tidak sampai membuat seseorang menggigil harusnya. Namun barangkali karena rasa panik luar biasa lah yang membuat Salfa jadi demikian.
Novan yang memang berada di bangku depan dengan Gopal segera turun, meraih kunci dalam sakunya dan membukakan pintu untuk yang lain. Kinara dan Genta menuntun Salfa masuk. Disitulah, Vin melihat beberapa orang yang sedang lewat memandang aneh, bahkan bisa dibilang, memandang seperti ngeri.
"Pal?!" panggilnya pada Gopal yang hendak menyusul masuk. Alhasil, pemuda itu tertahan dengan Vin. "Lihat deh orang-orang. Pada berhenti di depan, ngapain banget?"
Gopal tak begitu menanggapi serius pandangan orang-orang itu karena ia hanya menoleh dan melihat ke mereka sekilas. "Ah, ya mungkin lihat kondisi Salfa jadi pada nontonin."
Vin berusaha berpikiran biasa saja seperti temannya. Tak lama kemudian, ia pun menyusul Gopal yang sudah berjalan masuk lebih dulu. Di ruang tamu, Salfa duduk tetap dengan kondisi menggigil. Pandangannya kosong, gadis itu hanya diam tanpa suara. Sementara, dari dalam, Kinara berlarian mengambilkan selimut.
"Salfa biar ganti dulu kali, percuma dikasih selimut kalau pakaiannya aja masih basah gitu," tegur Vin, dan Kinara langsung menepuk keningnya karena merasa bodoh.
"Iya bener, ayo, Sal. Ganti dulu ya," ajak Kinara yang lantas menarik Salfa untuk berdiri dengan pelan-pelan. Sungguh ia tidak tega melihat kondisi Salfa. Pertama kali Salfa ngeri akan sesuatu yaitu tentang Pak Karni, tak sampai seperti sekarang. "Ayo, Sal. Ganti ya, gue ambilin baju lo."
Empat pemuda yang salah satunya masih dalam keadaan basah sama seperti Salfa, menunggu di lorong tengah. Tepatnya, di depan pintu kamar para gadis. Lengkap dengan isi kepala masing-masing yang tak tahu menahu, karena belum juga memulai kegiatan menyelamnya, mereka dikejutkan oleh kejadian tenggelamnya Salfa.
Sekitar lima menit kemudian, setelah Salfa berbaring di atas tempat tidur dengan selimut berlapis-lapis, Kinara menuju ke depan. Rasanya ia sudah tidak bisa menahan lagi untuk mengeluarkan emosi yang sejak tadi ia tahan dalam mobil.
Brakkkk!! Pintu kamar ditutup kasar oleh Kinara. Didapatinya empat pemuda yang merupakan teman-teman rombongan liburannya itu berdiri di depan kamar. Mata Kinara langsung tertuju pada satu orang. Dihampiri orang itu dengan wajah yang mendongak.
"Kenapa bisa sampai kayak gitu? Lo yang sama dia, harusnya lo bisa jagain dia, Ta!" sentak Kinara dengan muka yang merah padam. Gadis itu maju selangkah. "Lo punya penjelasan yang baik untuk ini? Ha?"
Vin segera maju menengahi, memberikan jarak antara Kinara dan Genta yang masih diam seribu bahasa. Ia paham bagaimana paniknya teman perempuannya tersebut, tapi di sisi lain, ia sangat memahami Genta. Vin tahu Genta bahkan tak akan memberikan kesempatan terjadinya hal-hal demikian, apalagi menyangkut soal Salfa.
"Ra, Ra, Ra. Tenang, Ra. Yang penting Salfa udah disini sama kita. Dia udah di kamar, istirahat. Jangan ribut disini," ujar Vin sangat halus, bahkan nyaris seperti berbisik. "Genta juga nggak mungkin biarin itu. Semuanya di luar kendali dia, Ra."
Memang hanya Vin yang selalu bisa menenangkan seorang Kinara selain Salfa. Gadis itu kini terdiam dengan mengusap mukanya. Tentu saja ia takut sesuatu terjadi pada sahabatnya. Dalam hidup, hanya mereka berdua yang benar-benar menjadi teman. Sisanya, hanya sekadar memenuhi syarat manusia sebagai makhluk sosial saja.
Kepala Kinara jatuh di bahu Vin. Tangannya naik, melingkar di belakang leher pemuda itu. Tangisannya keluar pada akhirnya, meski tanpa suara. Hanya menyembunyikan wajahnya di bahu ternyaman yang ia tahu. "Gue takut Salfa kenapa-napa, Vin…"
Vin yang membalas pelukan Kinara, menjawab. "Nggak akan, Ra."
Melihat itu, pikiran Genta yang semula hanya tertuju pada Salfa, langsung berpindah fokus ke cowok yang menunduk di sebelahnya. Novan, undur diri dari kerumunan tersebut. Segera lah Genta menyusulnya.
"Van?" panggil pemuda itu ketika Novan sampai di teras.
Seperti sudah mengerti apa yang akan temannya bahas, Novan mendengus. "Apa lagi, Ta?" nadanya terdengar sangat berat.
"Lo mau langsung nyerah?"
Novan diam. Tak tahu harus menjawab apa. Pemuda itu lantas memilih pergi saja, berjalan-jalan di sekitaran. Berharap udara luar akan sedikit menjernihkan pikirannya. Namun rupanya, Genta tetap juga mengejarnya. "Apa sih, Ta?!" sungutnya.
"Lo kalau galau kayak Si Salfa pas PMS, Njing," balas Genta menatap ngeri sambil terus berjalan. Seolah tak peduli pakaiannya masih setengah kering.
Novan menyikut pemuda di sebelahnya. "Lo masih mending, Ta. Kalian berdua punya rasa yang sama. Lihat cewek yang gue suka. Dia sukanya sama cowok yang nggak pernah peka sama dia."
Genta meringis. Hal yang paling di benci Novan atas pemuda itu karena ia tahu, jika ekspresi Genta sudah demikian, pemuda itu pasti punya alasan kuat dibaliknya, seperti uneg-uneg dan pemikiran dari seorang Genta yang bisa dibilang aneh.
"Gue berharap kata-kata lo masih mending itu lenyap dari muka bumi," ujar Genta kemudian.
Ya, tebakan Novan tepat sasaran. "Kenapa?"
"Karena hidup bukan untuk saling mendahului. Hidup bukan perlombaan dimana manusia-manusianya bersaing seakan jadi orang paling menyedihkan di dunia."
Mendengar perkataan temannya yang lebih mirip nasehat, Novan menunduk sungkan. Barangkali, alasan mengapa ia bisa sedekat itu dengan Genta adalah karena temannya yang satu itu merupakan orang yang tak suka basa-basi dalam apapun. Selama bertahun-tahun mereka kenal, satu-satunya hal yang tak disetujui Novan mengenai Genta hanyalah ketika pemuda itu mengejar cinta pertamanya dan meninggalkan Salfa—yang menurut Novan adalah gadis paling setia seantero tata surya.
"Ssstttt!! Ssstttt!"
Baru saja Novan hampir menanggapi Genta, namun suara yang seperti orang memanggil tersebut membuat dua pemuda itu menoleh. Adalah seorang ibu-ibu dengan kerudung yang dua ujungnya ditalikan di belakang leher. Memanggil mereka dari balik tanaman rimbun di jalan yang mereka lalui.
Genta dan Novan memindai ibu-ibu itu dari atas sampai bawah. Ibu-ibu yang bisa dibilang setengah baya tersebut menutupi wajahnya dengan kain selendang warna oranye terang yang disampirkan di pundak. Tangannya melambai pada Genta dan Novan lalu menjatuhkan sebuah amplop di tempatnya berdiri sebelum akhirnya ibu tersebut terbirit-birit lari.
"Apaan tuh, Ta? Amplop bukan sih?" tanya Novan dengan mata yang menyipit.
"Kayaknya iya," balas Genta.
Segera mereka mengambil amplop itu. Tak langsung membukanya karena masih menimang-nimang apa maksud dari ibu-ibu tersebut. Mau dikejar juga sudah jauh. Genta memilih untuk membuka amplop itu bersama teman-temannya yang lain. Ia menyerahkan benda tipis itu ke Novan untuk dimasukkan ke saku.
Sampai di rumah yang disewakan tersebut, dua pemuda itu dikejutkan dengan hadirnya orang-orang yang sudah bisa ditebak adalah warga lokal. Berdiri di depan rumah itu sambil berbisik-bisik.
"Maaf, ini ada apa ya, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu?" tanya Novan tanpa basa-basi karena amat heran.
Seperti terkejut, semuanya saling lirik satu sama lain tanpa Genta dan Novan tahu apa maksudnya. Malahan, ada satu ibu-ibu yang menarik ibu-ibu yang lain untuk mundur dan kemudian pergi. Disusul yang lain, tanpa ada satupun dari mereka menjawab pertanyaan Novan. Makin merasa aneh dengan semuanya, Genta segera masuk dan mendapati rumah sepi.
"Kemana semuanya?" tanyanya pada Novan yang sudah menyusul.
"Di kamar Salfa kali?" tebak Novan.
Dengan langkah cepat keduanya sampai di depan pintu kamar tengah. Dan, benar. Empat orang dalam kamar langsung menoleh menyadari ada yang datang. Ketika itu, Gopal segera buru-buru memberikan ponselnya ke Genta. Dari ekspresinya seperti sudah terbaca bahwa telah terjadi sesuatu. Gelisah, suntuk, ditambah cemas. Setidaknya itulah yang bisa Genta tangkap raut muka temannya.
"Gue rekam karena kita semua nggak ada yang paham, Ta!" ujar Gopal yang masih berusaha mengatur napasnya.
Genta menyernyit tak mengerti. "Maksudnya?"
"Salfa barusan kerasukan. Teriak-teriak."
Ponsel sudah berada di tangan Genta. Setelah sempat melirik sekilas ke Salfa yang diberi minum oleh Kinara, ia memutar rekaman suara yang ditunjukkan oleh Gopal. Mengeraskan volumenya.
"Piye? Ijek ora ngandel omonganku?" (Bagaimana? Masih tidak percaya omonganku?)
"Bocah iki wes ciloko, kowe kabeh ijek moh mere tekan kene?" (Anak ini sudah celaka, kalian semua masih tidak mau pergi dari sini?)
"Aku pancen ora seneng omahku ditekani tamu. Tapi sak iso-isone aku tetep njogo awakmu kabeh. Jowo iku ngurmati tamune senajan ora seneng. Jowo iku ngerti adab dan unggah-ungguh." (Aku memang tidak suka rumahku didatangi tamu. Tapi sebisa mungkin aku tetap menjawa kalian semua. Jawa itu menghormati tamunya walaupun tidak suka. Jawa itu mengerti adab dan tata karma.)
"Delok’en kae! Wong-wong podo teko mrene mergo weruh onok sing gak beres. Tapi gak onok sing wani ngandani awakmu kabeh!" (Lihatlah sana! Orang-orang datang kesini karena tahu ada yang tidak beres. Tapi tidak ada yang berani memberitahu kalian semua!)
Tak langsung berkata sesuatu sebagai terjemahan atas yang ia dengar, Genta memilih diam lebih dulu. Mengatur napasnya yang terasa sesak, seakan-akan oksigen di sekitarnya menipis. Novan sendiri yang juga mendengar, namun tak paham, bisa mengerti bahwa apapun itu yang dimengerti Genta, tidaklah baik.
"Ta, Gimana, Ta?" tanya Vin yang semula duduk di atas kasur, kini beranjak menyusul ke tempat Genta berdiri.
Setelah bisa menguasai dirinya lagi, Genta pun menceritakan semuanya sebagaimana seorang translator. Semua yang berada di dalam kamar mendengarkan secara seksama termasuk Salfa yang bahkan untuk sejenak tidur untuk mengistirahatkan badannya yang masih shock pun, tak sempat.
"Apa semuanya ada kaitannya sama sosok yang narik gue tadi?" pada akhirnya, gadis berambut keriting itu buka suara. Diamnya tadi sebenarnya adalah mencoba menahan apa yang ia tahu untuk tak ia ungkapkan, agar teman-temannya tidak merasa lebih takut lagi. Tentu mendengar ungkapannya barusan, semua mata menyorot padanya. "Tadi gue lihat, meskipun samar-samar, ada yang narik gue dan itu serem banget. Itu yang bikin gue sampai nggak bisa berkata-kata."
Kinara langsung berdiri dari posisi duduknya. Kedua tangannya mengusap rambut dari pangkal ke belakang. Helaan berat lalu terdengar.
Genta menatap intens ke Salfa, menyambung apa yang dikatakan gadis itu. "Yang gue rasain, waktu narik lo dari air, itu lo berat banget. Berkali-kali lipat dari normalnya."
"Serius, Ta?" sahut Gopal dengan wajah yang jelas tercengang.
Genta mengangguk. "Tadi itu, rasanya… K-kayak gue adu tarik sama sesuatu yang lain. G-gue sendiri aja masih nggak ngerti sampai sekarang."
Pasang mata saling beradu dalam ruangan yang tak begitu luas tersebut. Alih-alih melanjutkan pembahasan mengenai semua ini, mereka malah saling diam tanpa sepatah kata pun hingga satu per satu kemudian keluar dari kamar. Tentu, dengan gejolak masing-masing dalam kepala.
●●●●
"Gimana, udah siap semua?"
Gopal, sore tadi sudah memutuskan agar semua temannya menyiapkan barang-barang. Mereka akan pergi dari rumah itu. Mencari hotel yang lebih dekat dengan pelabuhan, yang tentu disana suasana sekitarnya lebih ramai, bukan seperti disini. Semua koper sudah dimasukkan ke dalam mobil dengan tenaga para kaum laki-laki.
Salfa dan Kinara menunggu di teras. Sama-sama mereka merasakan keanehan, seperti bau kabel yang terbakar. Awalnya tipis, namun lama-kelamaan menyengat. Tanpa perlu mengatakannya, Salfa paham itu apa. Biasanya jika terdapat bau seperti itu, maka ada sesuatu dari tabir alam lain yang menunjukkan eksistensinya. Gadis itu menoleh, dan benar, di balik pohon manga sebelah rumah, sesuatu yang besar tinggi dan hitam melihatnya. Genderuwo.
Merasa tak nyaman, Salfa memilih untuk menyusul mendekat ke mobil. Ia menggandeng tangan Kinara untuk ikut dengannya. Ketika itu, Genta baru saja menutup pintu belakang mobil. Pemuda itu memandang ke Salfa, dan yang ditatap tak tahu harus merespon bagaimana. Salfa hanya berlalu ke depan, menemui Gopal dan Vin.
"Ini keputusan yang bener, Pal. Semoga dengan kita pindah dari sini, gangguan-gangguan itu hilang," ujar Vin dengan raut serius yang jarang sekali terlihat dari pemuda itu.
Gopal mengangguk mantap. Ia sendiri merasa bersyukur bisa kenal dengan Pak Beni—orang yang menyewakan mobil padanya. Hanya bercakap lewat telepon, ia bisa langsung mendapat pengarahan harus menempuh jalan mana dan hotel mana yang sebaiknya mereka datangi. Pak Beni merekomendasikan dua hotel, dan hasil rundingan dengan teman-temannya, Gopal memilih hotel yang agak besar karena tentu perawatan dan keamanan disana lebih baik.
Salfa dan Kinara bertukar pandangan. Memiliki teman-teman yang murah hati seperti empat pemuda yang merupakan satu geng tersebut, sangat menenangkan bagi mereka. Sejak awal, keduanya hanya menurut saja karena apa-apanya sudah disiapkan. Bahkan bisa dibilang, mereka lah yang mengeluarkan uang paling sedikit karena tak pernah diizinkan untuk turut menyumbang.
"Ya udah, ayo pada masuk semua. Kita jalan," ujar Vin memberikan instruksi.
Terlihat Genta dan Novan yang masuk lebih dulu karena mereka duduk di belakang. Kemudian, barulah Salfa dan Kinara menyusul, duduk di tengah. Tepat sebelum masuk, Kinara menyadari beberapa orang berdiri memperhatikan mereka semua di jalanan depan sana. Sepertinya sedang menonton sesuatu yang menarik, hanya saja ekspresi mereka seperti susah dijelaskan. Kinara menangkapnya antara takut dan ngeri.
Gadis itu kemudian menutup pintu mobil, langsung melirik ke Salfa. "Lihat deh, orang-orang itu ngelihatin kita kayak nggak biasa banget."
Vin, Gopal, Genta, dan Novan yang juga mendengar itu langsung menyorot ke depan. Benar saja, orang-orang itu masih disana. Gopal yang kemudian tidak tahan karena ketidakmengertiannya sudah mencapai level teratas, segera menginjak gas. Mobil menyibak orang-orang itu yang menyingkir dari jalan memberikan akses mobil untuk lewat.
Dilihat dari spion, Gopal mendapati mereka bahkan masih memperhatikan mobil hingga dari jauh. Genta dan Novan yang juga memandang ke belakang, menyadari hal yang sama dengan Gopal. Sebelum sesaat kemudian, Novan mengingat soal amplop tadi siang.
"Ta, amplopnya!" ujarnya pelan dengan mata terbelalak.
Sama terbelalaknya, Genta juga baru mengigat akan hal itu. Segera ia meminta Novan mengeluarkannya. Juga meminta Gopal menepi sejenak serta menyalakan lampu di dalam mobil. Meskipun belum sepenuhnya paham, Gopal memilih untuk menuruti dua temannya.
Dua orang di bangku depan, ditambah dua orang di bangku tengah, memutar badannya ke belakang, menunggu penjelasan dari Genta dan Novan yang masih tampak saling pandang mengodekan sesuatu antara mau memberitahu atau tidak.
"Buruan, kenapa?" tanya Vin tak sabar.
Genta berdehem, amplop itu sudah ada di tangannya. "Pas gue keluar rumah sama Novan tadi, ada ibu-ibu yang manggil kita dan jatuhin ini," ujarnya pada akhirnya sambil menunjukkan amplop cokelat tersebut.
Salfa mengernyit, kemudian tangannya meraih amplop itu. Sembari membukanya, gadis itu bertanya. "Ibu-ibu? Siapa?"
"Kita berdua nggak tau. Wajahnya ditutupi kain. Terus, dia pergi gitu aja," jawab Novan.
Bersama Kinara, Salfa menunduk, melihat isi dari surat tersebut. Membacanya secara serempak dengan volume yang cukup agar seisi mobil bisa mendengarnya.
"Mata kalian di tutup sesuatu yang tak terlihat. Salah satu dari kalian sedang diintai. Saya melihat setiap hari ada orang mondar-mandir di rumah yang kalian tempati. Hati-hati. Jaga diri kalian baik-baik."
Setelah membelalakkan mata menyadari apa yang mereka baca, Salfa dan Kinara memindai teman-temannya satu per satu. Siapa yang tidak kaget tiba-tiba diberi surat berisi peringatan yang demikian. Apalagi, tak ada satupun dari mereka yang paham maksudnya.
"Nggak tertera siapa yang nulis?" tanya Vin yang juga tampak kaget bukan main.
Salfa membalik kertas kusam itu. Memperhatikan baik-baik tiap sisinya. Sementara Kinara mengecek bagian amplop, berharap ada yang tertinggal di dalamnya namun kosong. Surat tanpa nama. Begitulah mereka menyebutnya. Karena pening sudah menguasai masing-masing orang dalam mobil, Gopal memilih melanjutkan perjalanan. Berharap segera sampai di hotel dan mengistirahatkan pikirannya.
●●●●
Serem-serem gimana gitu ngepost tengah malam gini. Tapi pasti sepi banget ya karena udah pada istirahat. Gapapa deh, yang penting bisa ngusahain posting setiap hari^^
Beri aku dukungan dengan spam komen dan vote yaa, guys! Makasih udah ngikutin AWAKENED. Kritik dan saran kalian sangat berarti buat aku^^
Sampai jumpa di part berikutnya, diusahakan besok!
neiskaindria