
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Tatap mata yang saling bertukar pandang membuat seisi kamar jadi makin tidak kondusif. Disitulah, Salfa yang paham arti dari pertanyaan tak tersirat teman-temannya tersebut, segera menjelaskan.
"Suri itu hantu, yang jagain gue. Gue akan panggil dia, untuk gue tanyain tentang semua ini."
Dari semuanya, yang ditatap berbeda oleh Salfa adalah Novan. Pemuda yang sebelumnya sangat menentangnya soal masalah seperti ini, tapi kali ini, dengan mata kepalanya sendiri telah melihat tabir lain yang Salfa percayai adanya. Novan yang paham maksud Salfa pun menunduk sungkan, merasa bersalah atas sikapnya beberapa hari kemarin.
Gadis berambut keriting itu kemudian mengajak teman-temannya duduk melingkar, saling berhadapan satu sama lainnya. Ketika itulah, Salfa meminta semuanya untuk fokus dan memejamkan mata. Meski seharusnya ia bisa memanggil Suri secara pribadi, namun kali ini berbeda. Apa yang akan ia tanyakan menyangkut teman-temannya juga. Sehingga akan lebih baik jika semua menjadi saksi percakapan Salfa dengan Suri.
Vin yang sudah memejam, membuka kembali matanya. "Sal, ini aman kan?" tanyanya ragu-ragu.
Meskipun Salfa belum pernah mempraktekkan ini secara langsung, hanya mengetahui dari buku yang pernah Pak Aji berikan padanya, ia yakin akan berhasil. "Aman. Pokoknya kalian tutup mata aja. Apapun yang akan kalian dengar, jangan bikin kalian buka mata. Tetap fokus. Oke?"
Kembali memejamkan mata, enam orang tersebut memulai pemanggilan sesuai intruksi Salfa. "Suri… Suri… Suri… Aku mau kamu datang kesini… Bukan hanya untuk aku, tapi juga untuk teman-temanku…"
Semuanya berusaha tetap fokus meski berada dalam kondisi dimana detak jantung bekerja lebih cepat, tak seperti seharusnya. Tak lupa Salfa juga mengingatkan pada teman-temannya bahwa untuk bisa berbicara dengan Suri, harus ada satu orang yang dimasuki sebagai mediumisasi.
"Suri… Suri… Suri… Aku mau kamu datang…" panggil Salfa lagi. Pelan, lirih, penuh dengan perasaan.
Dug dug dug dug dug! Suara barang-barang bergetar saling bersahutan. Enam orang itupun saling menguatkan pegangan tangan mereka. Terlebih, lima orang yang baru pertama kali ini melakukan hal seperti sekarang. Sungguh, rasanya campur aduk antara takut dan tegang.
"Tetap fokus!" pinta Salfa tegas. Ia merasakan kehadiran satu sosok namun itu bukan Suri. Sosok yang menyorot dirinya penuh amarah entah sebab apa. Siapa lagi kalau bukan sosok berambut pendek itu. Ia membanting barang-barang dalam kamar yang ditempati oleh Gopal dan Vin tersebut. "Jangan ikut campur!" ketus Salfa masih dalam kondisinya terpejam.
"Suri… Cepat datang, Suri…!" ujarnya lagi, hingga tak lama kemudian keramaian barang-barang yang dibanting tadi berganti menjadi senyap. Disitulah, Suri datang.
Sosok cantik itu mendekat ke Salfa, dan memindai lima orang di dekat gadis itu mulai dari Kinara, Novan, Genta, Vin, dan Gopal. Berselang beberapa detik, dengan cepat Suri melesat dan salah satu dari mereka tersentak.
Adalah Kinara, yang dipilih oleh Suri sebagai tubuh yang dimasukinya. Novan yang berpegangan tangan dengan Kinara pun ikut kaget. Dirasakannya tangan gadis itu berubah dingin. Sangat dingin. Seperti tahu bahwa Novan merasa terkejut, Salfa segera mengingatkannya untuk tidak membuka mata.
"Jadi, apa yang ingin kalian tanyakan?"
Suara itu berasal dari Kinara, namun, berubah menjadi lebih halus dan lirih. Saat itu juga semua orang dalam kamar itu sadar bahwa Kinara lah yang dimasuki. Mereka pun berusaha sebisa mungkin mengontrol diri, apalagi, mendengar suara yang tak semenyeramkan nenek-nenek di rumah sewaan itu, membuat semuanya sedikit lebih berani.
"Suri, siapa hantu yang mereror kami disini? Apa kamu tau?" tanya Salfa, tetap dalam posisinya memejamkan mata. Meski begitu, ia dapat melihat sosok Suri di tubuh Kinara menggunakan batinnya.
"Bukankah sudah kubilang bahwa aku menjagamu, Salfa? Percayalah, di rumah itu bahkan lebih aman daripada disini," jawab Suri dengan nada yang terdengar seperti kecewa. Itu tentu membuat Salfa merasa tak enak karena melupakan semua itu.
"Aku tidak akan menjawab apa-apa lagi. Lebih baik kalian kembali kesana sampai kapal siap dipergunakan lagi."
Tak lama, pijar lampu yang semula redup dan remang-remang di kamar itu sejak hadirnya Suri, kembali terang benderang. Bahkan dengan posisi mata yang terpejam, semuanya dapat merasakan silau cahaya yang menyorot menggantikan kegelapan. Tanpa menunggu aba-aba dari Salfa, semuanya membuka mata. Tentu langsung menyorot Kinara dan memindainya dari atas sampai bawah. Gadis itu sendiri masih linglung karena tak tahu apa yang terjadi. Hal itu dikarenakan dirinya yang tidak bisa mengendalikan apa yang masuk sehingga tak memiliki kesadaran bahkan ingatan tentang yang keluar dari mulutnya barusan.
"Minum dulu, Ra." Salfa menyodorkan air mineral pada Kinara yang langsung diterima dan dihabiskan sampai tinggal setengah. "Gimana perasaan lo? Nggak apa, kan?"
Kinara menggeleng. "Nggak apa," jawabnya singkat. Tangan gadis itu lantas membuat gerakan mengipas untuk mendapatkan kesegaran. "Tapi kok rasanya panas banget gitu ya sekujur badan gue?"
Mendengar itu, Salfa bahkan membatalkan menelan saliva karena tercekat. Padahal tangan Kinara sangat dingin, tapi mengapa yang dirasakannya demikian? Apa mungkin efek karena pertama kalinya melakukan mediumisasi?
"Kok, bisa gi—tu?" heran Novan sampai sempat memberi jeda panjang pada akhir kalimatnya. Ia menyadari Salfa yang sama bingungnya.
Sementara itu, Vin dan Genta yang sudah beranjak menyaksikan pemandangan mencengangkan di sekitarnya hanya geleng-geleng tak percaya. Semua barang porak-poranda, dan semua ini jauh dapat terpikirkan oleh akal sehat bahwa bukan manusia yang melakukannya.
"Kacau nih, pihak hotel bisa-bisa blacklist nama kita. Sampai seumur hidup nggak bakal bisa kita ke hotel ini," ujar Genta seraya mengumpulkan pecahan vas bunga.
Vin melirik. "Kalo gue sih nggak berharap balik kesini lagi. Udah cukup sekali ini aja, deh."
"Eh, iya juga ya?" balas Genta dengan sedikit cengiran, merasakan otaknya yang tak bisa bekerja dengan normal. Pemuda itu segera berdiri lagi dan menghampiri Salfa. "Jadi gimana? Kita balik ke rumah itu?"
Salfa yang sebenarnya masih sedang berpikir, mencoba mempertimbangkan semuanya, memilih mengangguk singkat saja sebagai jawaban. Berbagai pertanyaan itu masih berputar memenuhi kepalanya. Sesekali ia melirik ke Kinara, yang masih melakukan hal yang sama yaitu mencari kesejukan. Suasana tegang memang membuat tubuh jadi gerah, namun dinginnya AC di kamar ini seharusnya masih bisa mengatasinya. Namun, Kinara mengapa sampai seperti itu?
Salfa mengingat satu hal: apa yang dibawa satu sosok menggambarkan energinya.
"Ya udah ayo buruan kita beresin ini sebagai bentuk dari tanggung jawab kita. Setelah itu kita lapor ke resepsionis untuk ngatur ganti ruginya. Buruan, gue nggak tahan lama-lama disini," ujar Vin.
Gopal yang sejak tadi diam karena merasakan kakinya yang sakit, beranjak dari lantai dan duduk di atas tempat tidur. Ia membuka bagian yang sakit dan betapa terkejutnya, lukanya keluar darah bercampur nanah. "GUYYYSSS??" paniknya ketika melihat itu.
Semuanya langsung berbalik dari arah masing-masing. Panggilan Gopal dibalas dengan memelotot oleh teman-temannya. Salfa langsung berlari meletakkan figura yang pecah. Kinara berhenti dari kegiatannya kipas-kipas. Genta yang memasang ulang gorden pun mendekat. Begitupun Vin dan Novan yang memunguti pecahan-pecahan di lantai.
"Pal, astaga kok bisa gitu?" tanya Salfa sambil mengerjap karena tak tega melihat luka Gopal. "Ada kotak P3K nggak ya disini?"
Gadis itu segera membuka nakas. Nasib baik karena langsung menemukan apa yang ia cari disana. Buru-buru ia kembali dan membersihkan luka Gopal meski harus lumayan menahan napas karena aromanya sangat tidak bisa ditoleransi oleh indera penciuman.
"Tolong singkapin ini dong," pinta Salfa ke siapa saja, sambil memegangi bagian bawah celana Gopal, melipatnya, namun berkali-kali merosot ke bawah lagi.
Tak disangka, Genta lah yang tiba-tiba duduk di sebelah Salfa. Sempat menatap gadis itu sesaat sebelum fokus ke celana pemuda yang tengah merintih kesakitan itu. "P-pegangin ya," ujar Salfa tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Sebenarnya, pemandangan di hadapan Gopal itu dianggap sebuah hiburan untuknya. Tak disangka bahkan setelah dua tahun lamanya, teman perempuannya itu masih tak berubah. Perasaannya tetap sama pada Genta.
Bisa dibilang, selama ini Gopal memang banyak belajar dari Salfa soal kesetiaan. Hal yang kemudian membawanya pada gadis yang kini ia pertahankan sebagai pacar. Ya, dari enam orang di rombongan ini, Gopal memang satu-satunya yang memiliki pacar. Si toa masjid yang super heboh di mata kalian ini adalah orang yang 'bucin'.
●●●●
Usai sudah kesepakatan yang terjadi dengan pihak hotel dan segala ganti ruginya. Meskipun nama mereka tidak di blacklist oleh hotel, itu tak membuat mereka berminat kembali untuk kedua kalinya setelah apa yang terjadi.
Tepat ketika hampir keluar dari lobby, Salfa menoleh ke belakang, tepatnya pada si resepsionis. Sejak tadi ia menyadari tatapan laki-laki itu yang tampak aneh dan sukar dijelaskan. Bahkan, ketika ia menoleh pun, laki-laki itu masih terus memperhatikan rombongannya sampai masuk ke mobil. Sepertinya, malam ini memang malam yang menyebalkan, dimana pertanyaan satu belum terjawab, timbul pertanyaan lainnya di kepala Salfa.
Disitu, semuanya diam. Saling menyumbang keheningan dalam mobil. Memangnya siapa Suri itu sampai mereka harus mempercayainya. Selain Salfa, bukankah sosok Suri itu baru mereka tahu beberapa waktu lalu? Setidaknya demikianlah yang terlintas di pikiran masing-masing.
"Sal? Kok lo diam aja?" tanya Novan dari bangku belakang. "Gimana, kita balik lagi kesana?"
"Tunggu, tunggu," Genta membuka suara. Keningnya mengernyit karena apa yang akan dikatakannya bisa saja membuat Salfa tersinggung sehinga ia ragu hendak mengatakannya atau tidak. Namun, setelah menyadari semua orang dalam mobil menatap padanya, pemuda itu pun memutuskan bicara. "Gini, Suri itu—serius hantu yang jagain lo, Sal?"
Salfa yang masih tak mengerti maksud pertanyaan Genta pun menjawab tak santai. "Serius lah, lo pikir gue ngarang?"
"Bukan gitu, jangan salah paham dulu," balas Genta mencoba meredam emosi Salfa sebelum meledak layaknya bom Hiroshima. "Kalau dia baik, terus, yang berantakin kamar tadi siapa?"
Ya, Salfa langsung tertegun. Hendak mengatakannya juga seperti tidak mungkin. Yang ada teman-temannya akan menyalahkannya karena tak memberitahu sejak awal bahwa sosok itu pernah mencoba menghentikannya untuk pergi ke pulau ini.
"Nggak tau. Ada sosok lain yang datang. Tapi bukan Suri," alibinya. Bahkan saat mengatakan demikian, Salfa sebisa mungkin mengatur raut wajahnya agar tak terlihat meragukan.
"OOHHHH!!" seru Gopal yang berada di bangku depan. "Itu pasti setan yang gangguin kita, fix itu!"
Sok tau! batin Salfa. Diamnya gadis itu kemudian dianggap sebagai jawaban persetujuan atas yang Gopal bilang. Rasanya, pening itu datang. Membuatnya tak bisa terjaga lebih lama. Bukan hanya karena kurang tidur, tapi juga karena ada rasa yang mengganjal di benaknya entah apa itu. "Udah ah, gue tidur. Capek."
Dari semuanya, tentu sudah bisa ditebak siapa yang paling bisa membaca gelagat Salfa. Kinara, terus memperhatikan Salfa yang berusaha tidur namun badannya tak berhenti bergerak kesana-sini seperti tak nyaman di posisi bagaimanapun itu. Nanti saja, ketika waktunya tepat, ia akan menanyai sahabatnya. Bukan disini ketika ada empat pemuda yang Salfa coba tipu.
"Tapi gue ada satu pertanyaan lagi, Sal."
Suara Genta kembali membuat Salfa membuka mata, kali ini bukan oleh mereka ia dibuat gagal istirahat, tapi oleh pemuda yang ia benci setengah mati tersebut. "Apa lagi sih, Ta?!"
Genta merasa sedikit tidak enak, namun ia merasa perlu bertanya agar tak lagi menjadi beban pikiran untuknya. "Tentang Suri…" ujarnya ragu-ragu.
Salfa berdecak. "Kenapa lagi sama Suri?!"
"Lo bilang Suri itu hantu yang jagain lo. Tapi kalau dia emang bener jagain lo, gimana bisa lo hampir… tenggelam?"
DEG! Salfa sendiri merasa tertampar oleh pertanyaan Genta. Iya juga? Mengapa bisa demikian, padahal Suri tengah bersamanya ketika itu terjadi. Disitulah, ketika mendapati Salfa diam seribu bahasa, Genta kembali melanjutkan.
"Sebelum itu terjadi, gue lihat lo ngomong sendiri. Itu sama siapa, Sal?"
Salfa menunduk, wajahnya makin gelisah. "Suri…" jawabnya lirih, seperti kehabisan suara. Semua orang dalam mobil terutama Kinara yang berada tepat di sebelah Salfa, tak bisa mengartikan arti tatapan gadis berambut keriting itu.
"Jadi hantu yang jagain lo, dengan sengaja ngajak lo kesana, dan lo tenggelam. Itu kebetulan?" balas Genta dengan nada yang terkesan mengintimidasi. Sangat kentara unsur sindirannya di telinga Salfa.
Mobil sampai di rumah yang semula mereka pakai, namun Salfa masih diam tak menjawab Genta sama sekali. Semuanya seperti enggan untuk turun, apalagi menginjakkan kaki disana lagi. Sekitaran sudah sepi karena memang tengah malam. Menyisakan jalanan yang sunyi dengan lampu-lampu rumah yang mati. Rumah sewaan itu memang memiliki tanah yang luas sehingga membuatnya berjauhan dengan rumah di kanan dan kirinya.
"Kok rasanya ragu banget ya buat masuk kesana?" gumam Gopal.
Vin menoleh pada temannya itu. "Iya, njir. Kayak aneh aja gitu. Kita balik ke rumah yang kita tinggalin."
Disitulah, Novan seperti mendapatkan celah untuk mencairkan suasana. "Eh, apa lo bilang, Vin? Balik ke yang kita tinggalin? Kok kayak nggak asing ya?" ujarnya seraya melirik Genta.
Yang disindir tentu langsung merasa. Segeralah Genta menoyor bahu Novan sebagai balasan. "Udah ah, masa mau di mobil sampai pagi?"
Genta mengawali keluar dari mobil. Kemudian segera disusul teman-temannya. Sejak masih di hotel tadi, di sela-sela membersihkan kamar, mereka sempat bersepakat untuk tetap meninggalkan koper dalam mobil. Agar ketika sewaktu-waktu ada yang tidak beres, mereka bisa langsung beranjak pergi tanpa menyiapkan apa-apa lagi.
Baru saja hendak melangkah menuju ke rumah tua itu, suara sirine ambulance membuat keenamnya menoleh. Ambulance itu melaju cepat menuju ke utara, yaitu arah kanan jika dari rumah tersebut. Saling bertukar pandang, enam orang itu mengisyaratkan rasa penasaran yang sama.
"Ada apa tuh? Lihat, yok?!" seru Vin. Dan semua pun kembali masuk ke mobil. "Ngapain ambulance malam-malam kesini?"
Mobil terus melaju mengikuti jalan. Ambulance tadi sangat cepat melesat sehingga Vin hanya bisa mengikuti dengan melihat lampu merah yang menyala, yang masih cukup terlihat di jarak yang jauh. Vin menyadari ambulance tersebut tampak stuck di satu titik. Lampu merah yang ia perhatikan terlihat makin jelas dan dekat. Rupanya, tepat di sebelah warung lah ambulance itu berhenti.
Vin, Gopal, Salfa, Kinara, Genta, dan Novan, mendapati pemandangan di hadapannya. Terlihat beberapa orang berkerumun di samping sebuah warung. Dengan segera mereka keluar dan mendekat kesana. Genta yang paling akhir turun, namun berlari paling cepat sehingga mendahului teman-temannya.
Pemuda itu menyibak beberapa orang untuk melihat apa yang sedang mereka lihat. Ketika itu juga, tepat saat seseorang terpampang nyata di hadapannya, napas Genta seolah tercekat. Novan yang sudah menyusul dan berada tepat disebelahnya, juga sama kagetnya.
Seorang wanita tersungkur di tanah berpasir. Bersimbah darah dengan beberapa luka sayatan, lengkap dengan celurit di sampingnya. Selendang warna oranye terang yang tersampir di leher telah didominasi warna merah yang tak lain adalah darah. Sungguh pemandangan yang mengerikan.
"Ta…?" lirih Novan yang nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Ibu-ibu itu, Ta…"
Seorang laki-laki paruh baya menangis terisak di sebelah wanita yang sudah terbujur kaku itu. Dengan tidak sengaja, beliau menoleh ke sekitar. Tatapannya berhenti ketika sampai pada dua pemuda yang ia tahu. "KALIANNN!!!" seru bapak itu lantang, beranjak berdiri dan hampir menyerang Genta dan Novan namun segera dicegah orang-orang.
"MASIH BERANI KALIAN DISINI, HA? APA SURAT YANG ISTRI SAYA TULIS BELUM MEMBUAT KALIAN SADAR?" Bapak-bapak itu berteriak seperti orang kesetanan. "SAYA YANG MENGANTARKAN ISTRI SAYA BERTEMU KALIAN KEMARIN!! LIHAT SEKARANG, ISTRI SAYA DIBUNUH!!"
Salfa, Kinara, Gopal, dan Vin pun dibuat tercekat oleh apa yang didengar telinga mereka. Amarah si bapak benar-benar terbaca melalui matanya yang basah akan air mata. Salfa, menyadari Genta yang tertegun hebat, lantas menarik tangan pemuda itu untuk lebih mundur. Sementara bapak-bapak itu masih terus berusaha menyerang.
"BAPAK-BAPAK, IBU-IBU. ASAL KALIAN TAU, ISTRI SAYA MEMPERINGATKAN MEREKA SOAL RUMAH ITU, TAPI LIHAT!! MEREKA MASIH JUGA DISINI. SEOLAH-OLAH KEBAIKAN ISTRI SAYA MENGINGATKAN MEREKA HANYA SIA-SIA!!" ujar bapak itu lagi, kali ini lebih lantang. "SAYA TIDAK PEDULI KALAUPUN SETELAH INI SAYA YANG DIBUNUH KARENA MEMPERINGATKAN MEREKA!! SAYA SUDAH KEHILANGAN ISTRI SAYA!!"
"RUMAH ITU SUDAH PULUHAN TAHUN KOSONG!! KALIAN INI DI ALAP-ALAP!! SEMUA WARGA PUN TAHU AKAN HAL ITU TAPI MEREKA TIDAK SEBERANI ISTRI SAYA UNTUK MENCOBA MENGATAKANNYA!!"
●●●●
Wah mencengangkan banget huhuuu, pengen nangis kasihan sama si bapak apalagi istrinya. Tapi namanya juga takdir, nggak ada yang tau kapan nyawa manusia akan diambil:)
Jangan lupa vote dan komentarnya ya, teman-teman. Kritik dan saran selalu paling ditunggu. FOLLOW AUTHORNYA JUGA. Nah, ini nih yang agak maksa wkwk. Soalnya biar bisa terima update-an dan pemberitahuan seputar cerita-cerita yang aku tulis hehe^^
Luv u all, makasih sudah mampir. Tunggu part selanjutnya!
neiskaindria