
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Brakkk! Suara hentakan keras di atas meja tersebut disebabkan oleh Novan. Ia tidak tahan lagi dengan apa yang polisi di hadapannya bilang, bahwa jika belum dua kali dua puluh empat jam, mereka tidak akan mengambil tindakan. Padahal, Pak Beni sudah menjelaskan pada mereka secara panjang lebar, namun seperti tak menggubris apapun, polisi itu tetap dengan apa yang semula dikatakan.
Langkah cepat nan penuh kemarahan membawa pemuda itu keluar dari kantor polisi tersebut. Ia mengusap wajahnya yang frustasi. Vin menjadi yang pertama menyusulnya ke depan. Segera Novan meraih rokok dalam saku kemeja temannya itu. "Mana korek?" tanyanya pada Vin.
"Sejak kapan lo ngerokok?" sahut Genta yang datang bersama dengan Gopal. Pemuda itu mengernyit karena setahunya, Novan sama sepertinya. Tak merokok.
"Hari ini aja," jawab Novan cepat seraya menerima uluran korek dari tangan Vin. Segera ia menyalakan rokok itu kemudian menjauh sedikit. Bukan sengaja menyendiri, namun Novan tahu bahwa Salfa tidak menyukai asap rokok. Gadis itu punya sensitifitas lebih dengan tenggorokannya, sehingga ketika kena rokok, akan langsung terbatuk-batuk. Ia tahu itu dari Genta, waktu SMA.
Salfa hanya memandang Novan yang menjauh dengan raut kusut. Ia telah sampai di depan, bersamaan dengan Pak Beni. Gadis itu memilih untuk duduk di bangku yang terdapat tak jauh dari tempatnya berdiri. Pikirannya masih terus menyeracau kemana-mana, menyiksa dirinya sendiri. Keberadaan Kinara masih tak diketahui.
"Pak Beni bilang masyarakat disini udah akrab dengan mereka? Tapi kenapa tadi polisi itu kayak nggak percaya sama semua yang kita jelasin?" tanya Salfa dengan sewot. "Setidak-masuk-akal itu kah semua ini buat mereka?"
"Ya… Lo tau lah, Sal. Nggak semua orang percaya git—"
"Lo ngomongin diri lo sendiri?" sergah Salfa dengan cepat sebelum Genta menyelesaikan kalimatnya. "Kalau itu yang lo maksud, gue nggak tertarik buat dengerin!"
Salfa kemudian membuang muka dengan tangan yang bersidekap. Rasanya apapun itu yang Genta katakan tak akan membantu sama sekali, malah hanya membuatnya makin kesal saja. Ia tahu, jika sudah terbawa emosi, ia tak akan pernah menemukan ide untuk mengambil langkah selanjutnya dalam pencarian ini. Gadis itu sangat kecewa karena usahanya mengajak teman-temannya melapor kesini hanya sia-sia saja.
Pak Beni, yang semula berbincang dengan Gopal dan Vin lantas mendekat menepuk bahu Genta pelan. "Sudah, sudah. Nggak ada gunanya ribut. Sekarang kita harus mikir, kita harus gimana," ujarnya.
Genta masih tetap diam di posisinya. Meski Salfa selalu ketus seperti itu padanya, hal itu tak akan membuatnya menjauh barang sedikitpun. Ia hanya menatap intens ke gadis itu, mencoba mengerti kekhawatirannya. Bagaimanapun, berat ketika sahabat sendiri hilang entah kemana.
Sadar bahwa Genta masih juga diam di tempatnya, dengan menatapnya, Salfa memilih untuk pergi. Jika pemuda itu tak ingin menjauh maka dia yang akan menjauh, bahkan tanpa disuruh. Gadis itu melewati begitu saja Genta dan Pak Beni tanpa menoleh. Menuju ke Vin dan Gopal. "Ini gimana sekarang?"
Gopal hanya menghela pelan, menatap Salfa dengan tatapan yang sukar dimengerti. Pemuda itu melirik ke Genta sekilas lalu beralih ke Salfa lagi. "Tuh anak cuma pengen ada disamping lo waktu lo rapuh kayak gini. Masih aja keras kepala," ujarnya karena merasa kasihan pada Genta yang menatap nanar ke arah mereka.
Salfa mengernyit, menyorot Gopal dengan tak habis pikir. "Serius lo bahas hal itu sekarang?! Ini Kinara, Pal, Kinara hilang!"
"Ya gue tau kalau Kinara hilang. Yang pikirannya suntuk bukan lo doang, Sal!" balas Gopal setengah membentak. Sungguh, ia telah mencoba mengerti Salfa namun gadis itu egois juga. Seolah sakit di kakinya belum cukup, ia juga harus berhadapan dengan hal seperti ini. Siapa yang tahan?
Vin, segera menarik lengan Gopal dan menjauhkannya dari Salfa. Sejak tadi dia memang hanya diam memperhatikan satu gelang rantai yang ditemukannya di tempat terakhir Kinara berada, namun belum ia tunjukkan ke siapa-siapa. Ada yang mengganjal di benaknya tentang gelang itu. Setahunya, ia pernah melihatnya entah dimana. Gelang itu tak asing untuknya. Namun belum sampai ia mendapat jawaban, Gopal dan Salfa malah bertikai kecil.
●●●●
Sampai malam tiba, semuanya masih juga tak mendapatkan tanda-tanda keberadaan Kinara. Sudah hampir semua penjuru pulau ini mereka datangi, namun hasilnya nihil. Mereka banyak berjalan ke tempat-tempat dari jalan besar sampai jalan kecil. Dari yang ramai sampai yang sepi. Lengkap dengan ponsel masing-masing yang mereka tunjukkan ke orang-orang dengan foto Kinara yang terpajang.
Di dalam mobil, Salfa tidak henti menoleh ke samping. Biasanya disana ada Kinara yang sedang menikmati es teh atau camilan. Namun sekarang, malah berganti Gopal yang di sebelahnya. Sementara bangku depan diisi Pak Beni dengan Vin yang menyetir. Mata Salfa tak sengaja melihat sebuah dompet besar di bagian pojok bawah, dekat dengan kaki Gopal. Ia membungkuk mengambilnya. Dompet make-up Kinara. Melihatnya, rasa sakit itu makin menusuk dadanya.
"Kinara pasti ketemu kok, Sal. Gue yakin. Dia cewek yang berani," ujar Gopal dengan nada yang kembali melembut setelah sempat bersitegang dengan Salfa tadi siang.
Salfa menoleh dan membalas dengan senyum simpul. "Maafin gue ya, Pal. Soal tadi siang."
"Santai aja, kayak sama siapa, Sal… Sal…" balas Gopal enteng. Ia mengubah posisi duduknya, agar kakinya tak begitu tertekan. Rasa nyerinya tak kunjung hilang, namun sejak pencarian ia mengesampingkan itu. "Van, P3K nya Salfa lo bawa, kan?"
Novan yang berada di bangku belakang bersama Genta menjawab dengan deheman singkat dan segera menyerahkan itu ke Salfa. Gadis tersebut menerimanya dan segera memeriksa luka Gopal lagi. Perlahan ia membuka balutan perban di kaki yang tampak lebih menonjol tersebut. Terbelalak, Salfa segera beringsut menjauh.
"Kenapa, Sal?" tanya Genta langsung ketika menyadari pergerakan spontan Salfa.
"Arrrgghh," Gopal meringis karena geram. Bagaimana tidak? Belatung-belatung itu kembali lagi, tapi darimana asalnya? Sudah jelas kemarin lukanya sudah dibersihkan dan sekarang kembali seperti itu lagi?
Vin yang menyadari ada yang tidak beres di bangku belakangnya segera menepikan mobil. Pak Beni sendiri dibuat ternganga dengan apa yang dilihatnya. "Dibawa ke rumah sakit saja, ya? Nggak jauh disini ada, kok."
Gopal yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi hanya mengangguk sambil tangannya pelan-pelan menyapu belatung-belatung itu. Sementara Salfa masih dalam posisi menjauh sampai ke kaca mobil karena geli dengan belatung itu.
Mobil segera melaju cepat sesuai arahan dari Pak Beni. Dan benar, tak begitu lama terlihat bangunan bertingkat yang bertuliskan rumah sakit daerah setempat di bagian atas. Mobil berhenti di depan Unit Gawat Darurat. Salfa turun dengan segera ketika itu, agar dua orang di bangku belakang bisa cepat turun juga dan membantu Gopal.
"Gue nggak selemah itu," tukas Gopal ketika Genta dan Novan hendak membopongnya dibantu Vin.
Ketiganya saling pandang tak mengerti. Yang mereka lihat, Gopal malah berjalan sendiri meskipun tertatih karena rasa sakitnya. Pak Beni lah yang kemudian memegangi lengan Gopal untuk menjaga keseimbangan tubuh pemuda itu. Dan yang lain, menyusul di belakang.
Sejak mata batinnya terbuka, tempat yang Salfa benci selain pemakaman adalah rumah sakit. Keduanya merupakan muara dari kesedihan, sehingga banyak sekali energi yang terperangkap disana. Salfa hanya berjalan pelan, tak peduli walaupun cukup tertinggal. Ia berkali-kali menepi seperti menghindari sesuatu karena memang banyak dari mereka berlalu-lalang. Rumah sakit tak hanya dikunjungi manusia, namun juga hantu.
Jangan dikira karena merupakan rumah sakit daerah, maka akan ramai. Itu salah besar. Sebagian penduduk di pulau ini masih mengedepankan pengobatan herbal dan tradisional kalau kata Pak Beni. Tak banyak yang percaya dokter, sehingga jangan dibayangkan bahwa rumah sakit ini ramai. Sebaliknya, disini sangat sepi.
Gopal sedang ditangani oleh satu dokter dan dua perawat. Belatung-belatung tadi sudah dibersihkan sampai habis sebelum masuk ke rumah sakit. Takutnya, karena itu, yang menanganinya akan jijik dan tak total dalam memberikan penanganan.
Di depan ruangan, Pak Beni menunggu bersama tiga pemuda dan satu gadis yang menyewa mobilnya. Dengan bersidekap, beliau mendekat dan mencetuskan saran. "Gimana kalau kalian di rumah saya saja? Tidak mungkin untuk kembali ke rumah itu."
Meskipun inginnya hati begitu, tapi jika ada sesuatu yang terjadi nantinya, akan merepotkan keluarga Pak Beni. Mereka tak ingin hal itu terjadi. Tak ingin lebih merepotkan, terlebih membawa-bawa orang lain dan keluarganya. Pandangan yang saling bertukar itu mengisyaratkan hal yang sama dari semuanya.
"Kok pada diam?" tanya Pak Beni kemudian karena tak kunjung mendapat jawaban.
Genta menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "G-gini, Pak. Kayaknya Pak Beni sudah sangat membantu kami."
●●●●
Sekembalinya dari rumah sakit, Novan yang kini bergantian menyetir, menurunkan Pak Beni di depan rumahnya. Mobil pun kembali dijalankan, menuju rumah tua yang mereka sewa. Dari kaca spion, Novan dapat melihat laki-laki paruh baya itu masih menatap ke mereka semua bahkan sampai mobil menjauh.
"Sal, pindah ke depan sini," ujarnya kemudian setelah sempat menoleh sekilas. "Udah persis sopir aja gue."
"Ya udah, berhenti gih," balas Salfa.
Mobil di hentikan. Gopal segera menselonjorkan kakinya selepas Salfa turun. Ia sempat menoleh ke belakang dan rupanya, alasan mengapa Genta sangat senyap adalah karena pemuda itu tertidur. Barangkali karena saking lelahnya.
Disitu, Vin sedikit tercekat pada sesuatu yang ia lihat. Seorang gadis berambut pendek. Ia langsung ingat bahwa pernah melihatnya sekali ketika kembali dari mengejar ambulance waktu itu. Matanya memicing, mencoba memastikan. Gadis itu, masih disana, tak jauh dari mobil. Memandang lurus padanya. Pemuda itu kemudian melihat Salfa yang tak kunjung masuk ke mobil tapi malah menahan diri dengan pintu yang masih terbuka. Vin mengintip ke kaca mobil, kepala Salfa lurus pada apa yang juga sedang ia lihat. Detik itu juga, Vin tahu. Bahwa apa yang ia lihat, bukan manusia.
Rasanya, sekujur badannya merinding setelah menyadari hal tersebut. Ia mencoba mengingat lagi apa yang Salfa pernah bilang, bahwa orang yang tidak punya mata batin terbuka, dapat melihat hantu ketika hantu itu sendiri yang menampakkan dirinya.
"Buruan masuk, Sal. Nunggu apa lo?" tanya Novan heran.
Fokus Salfa secara otomatis langsung beralih, dan tanpa menjawab apa-apa, ia masuk ke mobil. Perasaannya makin tak karuan. Sosok berambut pendek itu. Mengapa masih terus mengikutinya? Mengapa tak kunjung pergi? Sungguh Salfa tidak tahu lagi. Apa belum cukup sosok itu membuatnya takut setengah mati karena menguncinya di toilet kapal? Hampir membuat semua orang celaka dengan menghentikan mesin kapal di tengah-tengah laut. Mengingat semua itu, Salfa kembali kesal luar biasa dan sebagai pelampiasannya, ia menendang pada apa saja.
"Lo kenapa deh?" tanya Novan heran, keningnya mengernyit melihat tingkah Salfa. "Kita bakal temuin Kinara, Sal. Pasti."
Salfa hanya menoleh sekilas dan membuang muka lagi. Apa yang terpikirkan di kepala Novan adalah salah. Gadis itu merasa makin buntu. Andai ia bisa mengatakan bahwa yang ia pikir bukan hanya soal Kinara, tapi ada banyak. Pertanyaan demi pertanyaan yang tak kunjung didapatkan jawabannya itu masih berkeliaran hebat di kepalanya.
Gadis berambut keriting itu pun memilih untuk menyandarkan kepala dan membenamkan wajahnya dalam jaket krem miliknya. Memejam dengan seluruh perasaannya. Menangis, tanpa ada satupun yang tahu karena ia berusaha untuk tak menimbulkan suara. Tuhan, rasanya lelah sekali. Tolong tunjukkan jalan.
Rasanya baru sesaat tadi terlelap tanpa sengaja, bahu Salfa diguncangkan oleh seseorang. "Bangun, Sal. Udah sampai."
Gadis itu segera menyingkap jaket dari wajahnya. Sedikit membuatnya terhenyak karena rupanya itu Genta. Segera ia tersadar secara sempurna, lantas bangun dan meninggalkan Genta begitu saja. Bukan karena rasa kesalnya, namun untuk menghindari kontak mata karena ia usai menangis. Salfa tahu seorang Genta tak akan bisa ia bohongi perihal yang satu itu. Entah bagaimana, meskipun orang lain tak menduga bahwa ia usai menangis, tapi Genta pasti tahu.
"Lo nangis?" tanya Genta yang sudah mencekal satu tangan Salfa.
Benar dugaan gadis itu, kan. Genta selalu tahu. "Enggak, apaan sih. Lepasin," balasnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Lihat ke gue kalau emang nggak."
Salfa memejam dengan bibir yang bergetar. Rasanya ia sudah kepalang basah. Tidak bisa menghindar lagi. Ia akhirnya memilih menoleh daripada membuang-buang energi lebih banyak lagi. Genta pun menatapnya dengan rasa kasihan, Salfa tahu itu.
"Gue nggak butuh rasa kasihan lo," ujar Salfa kemudian.
Genta menghela pelan. "Kita akan temuin Kinara, Sal."
"Kalian semua bilang kayak gitu, tapi nyatanya apa, Ta?"
Tanpa aba-aba, Genta langsung mengambil kedua tangan Salfa. Dirasakannya bahwa gadis itu menolak namun ia tak juga melepaskan. "Selalu ada harapan, Sal."
Sementara itu, di dalam rumah, Vin segera beranjak ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar lebih segar. Berharap dengan itu, pikirannya pun akan ikut jernih setelahnya. Seperti umumnya orang cuci muka, tentu wajah akan dibasuh dengan air terlebih dahulu, baru setelah itu sabun yang dioleskan ke seluruh bagian. Itu membuatnya melihat pantulan dirinya di cermin jadi samar-samar. Saat itulah, Vin menyadari ada seseorang berdiri di belakangnya.
Sosok yang tadi sempat Vin lihat, menatap padanya. Sontak ia segera membasuh asal sabun di wajahnya dan ketika itu, ia melihat lebih jelas sosok tadi. Diam, menatap dingin. Itu membuatnya ngeri dan tak kuasa untuk menengok ke belakang.
"Lo… Lo s-siapa?" tanya Vin gugup karena ketakutannya. Pemuda macho macam dia pun ternyata lemah juga ketika berhadapan dengan hantu. Terlebih, ini adalah pertama kalinya.
Karena sosok itu hanya diam, Vin pun berinisiatif untuk segera menoleh ke belakang dengan seluruh keberanian yang ia kumpulkan. Dan, tak ada siapapun di belakangnya. Ia kini membelakangi kaca. Menatap waspada pada sisi manapun di depannya. Mulai menduga bahwa itu hanya gangguan biasa, Vin pun mencoba merilekskan kembali otot-otot wajahnya yang menegang. Ia berbalik ke kaca lagi untuk membersihkan sisa sabun yang masih menempel di wajahnya.
DEG! Matanya langsung terbelalak ketika menyadari terdapat tulisan disana. Di tulis menggunakan lipstick yang ia duga adalah milik Kinara yang tertinggal. Bertuliskan: 037.
Vin mengeja angka itu dengan rasa terkejut bercampur bingung karena sama sekali tak mengerti. Buru-buru ia mencuci mukanya untuk terakhir kali sebelum keluar. Segera ia menemui teman-temannya di ruang tamu, yang menatap tak mengerti padanya.
"Lo kenapa?" tanya Gopal. Namun, yang ditanya merasakan lidahnya seolah kelu. Apalagi melihat Salfa diam termenung memandangi foto Kinara, membuatnya tak tega untuk mengatakan yang barusan. Rasanya, ia tak ingin menambah kepanikan di antara teman-temannya lagi.
Segera Vin merasa kikuk setelahnya, lalu, beralibi. "Enggak apa, sih. Itu—eh sabun muka gue ketinggalan di kamar mandi."
Sedetik kemudian, Vin melesat lagi kesana. Bukan untuk mengambil sabun muka yang memang ketinggalan. Tapi bertujuan menghapus tulisan yang ada di kaca itu. Tisu yang ada disana ia ambil untuk mengelap lipstick tersebut. Melihat bahwa hanya dirinya lah yang sepertinya diperingati oleh hantu itu, sepertinya kali ini, ia harus mengais jejak keberadaan Kinara sendiri.
Meski, ya. Vin pun tahu tak seharusnya percaya pada hantu yang ia tak tahu asal usulnya. Seperti yang pernah terjadi ke Salfa mengenai Suri yang ternyata menipu mereka. Tapi, entah mengapa hatinya merasa yakin. Namun bukan tanpa alasan. Inisial W di gelang yang ia temukan itu lah yang membuatnya berpikir bahwa hantu itu memilih mengatakan padanya karena dirinyalah satu-satunya yang menemukan petunjuk.
"Ya, gue akan temuin si W ini. Siapa dia sebenarnya?" gumamnya dengan memandang dirinya sendiri di cermin yang sudah kembali bersih seperti semula itu.
●●●●
Huhu, balik lagi sama AWAKENED. Nggak kerasa ya udah sampai part tujuh belas. Gimana, guys? Seru nggak part ini?
Jangan lupa votenya ya, spam komentar juga biar nggak sider. Kritik dan saran selalu paling ditunggu. Terima kasih sudah mengikuti cerita ini^^
Tunggu dan simak terus kelanjutannya ya, dijamin makin mencengangkan dan bikin deg deg hehe. See you!
neiskaindria