AWAKENED

AWAKENED
Sembilan : Goyahnya Logika



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Hari berganti, semuanya sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk berolah raga di sekitar pantai. Meski dari semuanya, diketahui bahwa Salfa yang paling tidak bisa lama-lama berada dekat dengan laut, tapi Genta mendapati raut yang lebih ogah-ogahan dibanding Salfa.



Sengaja ia berlari di paling belakang, membiarkan Vin, Gopal, Salfa, dan Kinara lebih dulu. Langkahnya sejajar dengan Novan. Genta dapat merasakan teman dekatnya itu seperti menghindarinya, dengan berlari lebih kencang. Genta tak menyerah. Ia segera menyusul Novan dan mensejajarkan langkahnya lagi.



"Lo kenapa sih? Muka lo suntuk banget gitu. Padahal pemandangannya seindah ini," ujar Genta dengan merentangkan tangan dalam posisinya berlari.



Novan melirik sinis. "Iya lah indah. Semalam udah jalan bareng Salfa."



Tampak Genta menunduk setelah mendengarkan itu. Novan yang menyadari tak ada sahutan lagi dari teman dekatnya tersebut, menoleh. "Lah, kok jadi lo sekarang yang mukanya suntuk? Apa gue salah?"



Memilih tak ingin menjawab pertanyaan Novan karena jika dibahas akan lebih mengingatkannya soal perbincangannya dengan Salfa malam tadi, Genta lantas berlari lebih cepat menyisakan Novan di belakang.



Rupanya, rasa penasaran Novan naik level. Giliran ia yang mengejar Genta dan tak butuh waktu lama, mereka sudah bersejajar lagi. Ketika itulah, Novan mendapati raut muka Genta berubah serius.



"Gue serius tanya, Van. Lo kenapa?" tanya Genta berusaha mengalihkan topik pembicaraan sebelum Novan sempat melemparinya pertanyaan.



Lagi-lagi, Novan hanya melirik. Merasa tak ingin mengatakannya. Tidak mungkin kalau ia bilang semalam dirinya mimpi buruk bahkan bukan hanya sekali. Melainkan berkali-kali. Tiap tertidur, ia memimpikan hal yang sama. Yang percaya tidak percaya sesuai dengan yang dikatakan Salfa sebelum keluar rumah. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya malam tadi hingga menyebabkannya tak bisa tidur, seperti:



Kalau benar-benar sosok yang dibilang Salfa itu ada, apa itu yang datang ke mimpinya semalam?



Jadi benar? Berarti Salfa serius menyuruh sosok itu membuatnya tak bisa tidur?



Ah, shit!



Sementara di depan, Salfa mengajak Kinara berbelok menjauhi pantai. Karena lelah, mereka memutuskan berhenti. Duduk-duduk menselonjorkan kaki seraya mengelap peluh yang menetes. Mereka sudah banyak berkeringat. Disitu, Kinara menyadari raut sahabatnya yang berubah.



"Jadi gimana, Sal? Apa suasana hati lo udah membaik?"



Terdengar helaan berat dari Salfa. "Lo tau es campur? Nah, kayak gitu perasaan gue sekarang."



"Campur-campur maksudnya?" Kinara mengernyit. "Tapi es campur kan enak, Sal. Lo nggak salah milih perumpamaan?"



"Mungkin emang enak. Tapi lo lupa gue nggak suka es campur?"



Kinara terdiam mendengar balasan Salfa. Ia sendiri baru mengingat hal tersebut. Jika kesukaannya adalah es teh, maka kesukaan Salfa es cokelat entah apa saja produk dan mereknya, yang penting cokelat.



Disitu, Salfa kembali bersuara. "Rasanya sedih banget tau nggak sih, Ra, tiap kali lihat Genta. Kayak luka lama soal Bokap gue ikutan balik," ujarnya dengan tak mengalihkan pandangan dari laut di depan sana. "Sama kayak gue bisa lihat kasih sayang Bokap gue, begitupun sama Genta."



Salfa kembali menghela berat sebagai jeda, lantas menoleh dengan tatapan penuh arti ke Kinara. "Gue bisa lihat penyesalan di mata Genta, Ra... Gue bisa ngerasain kalau dia sayang sama gue..." ujar gadis itu kemudian menunduk, "tapi gue nggak bisa..."



Kinara menggenggam kedua tangan Salfa penuh pengertian. "Tapi kenapa, Sal? Setelah dua tahun, lo punya kesempatan buat memperbaiki semuanya."



"Bahkan sebelas tahun gue nggak dapatin kesempatan itu untuk Bokap gue, Ra. Bukan karena gue nggak mau. Tapi karena gue nggak mampu. Gue nggak bisa berdamai sama rasa sakit di hati gue."



Kini giliran Kinara yang menunduk, berusaha lebih mengerti lagi. Terlebih, orang tuanya yang bercerai, juga sempat membuatnya berada di fase seperti Salfa meskipun sekarang ia sudah dapat mengikhlaskan masa lalu pahitnya itu. Saat ini, ia memilih untuk diam dulu, memberi kesempatan Salfa untuk mengeluarkan semua yang dirasakan sahabatnya itu.



"Lo ingat nggak, sebelum kejadiannya Pak Karni waktu itu, gue bilang kalau gue pernah sekali ngerasa benar-benar hidup?"



"Ya?" balas Kinara menunggu lanjutan.



"Itu ketika ada Genta, Ra. Setelah apa yang terjadi di keluarga gue, yang jadiin gue nggak pernah bisa bener-bener percaya sama siapapun, dunia gue yang hitam putih jadi berwarna lagi karena Genta. Setelah bertahun-tahun sakit hati yang gue rasa, hadirnya Genta bikin gue percaya..."



"Dia sembuhin luka masa lalu gue. Jadiin gue benar-benar hidup. Karena Genta gue nemuin kebahagiaan gue. Lo tau nggak ada yang lebih berharga buat gue dari rasa percaya kan, Ra?"



Kinara mengangguk mengerti. "Tapi lo juga bilang, bahwa setelah masanya selesai, lo kehilangan diri lo sendiri. Sekarang saatnya lo bangun itu lagi. Yakin sama diri lo kalau lo bisa percaya lagi."



Salfa segera menggeleng. "Setelah dia pergi, gue sadar, Ra. Kalau gue emang nggak seharusnya percaya sama siapapun."



"Sal-"



"PERTAMA BOKAP GUE!" sahut Salfa lantang, menatap Kinara dengan nanar sambil menurunkan lagi volume suaranya, "dia ngerenggut kepercayaan gue sebagai anak perempuan. Laki-laki nomor satu yang seharusnya gue percaya, ngecewain gue, Ra. Dan setelah gue bisa percaya lagi, sama Genta. Dia ngecewain gue juga."



Gadis berambut keriting itu kembali menatap ke depan dengan tangan yang menyeka air mata. Ia berusaha menghentikan tangisnya namun tak kuasa. Lalu, dengan tak merubah arah pandang, ia mengatakan satu kalimat sebagai penutup pembahasan ini. "Gue nggak bisa."



Dari jarak yang cukup dekat, di balik gubuk yang merupakan sebuah warung yang ketika itu belum buka, seseorang berdiri menyandarkan punggungnya di dinding yang berupa anyaman bambu. Dengan mata berkaca-kaca menahan seluruh gejolak di dada. Trauma masa kecil seorang gadis telah ia patenkan sekali lagi dua tahun lalu.



Genta, yang ternyata diam-diam menyusul dua gadis itu setelah bercakap-cakap dengan Novan, untuk pertama kalinya meneteskan air mata untuk seorang gadis yang ketulusannya telah ia sia-siakan. Penyesalan itu, terasa nyata. Dalam otaknya terus terputar kejadian tadi malam setelah Salfa melepaskan pelukannya dan ia mengulurkan tangan untuk bergandengan kembali ke rumah sewaan, namun ditolak.



"Waktu berlalu, tahun berganti. Tapi perasaan gue nggak pernah berubah sama sekali."



"Nggak peduli seberapa menyesalnya lo karena udah sia-siain gue, itu nggak akan ngerubah apapun, Ta."



"Hati lo sakit kan sekarang? ITU JUGA YANG GUE RASAIN. Tapi biarin semuanya tetap kayak gini."



Pandangan Salfa yang matanya basah malam tadi kemudian turun menatap tangannya yang terulur. "Gue pernah pegang tangan itu sekali. Gue nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama lagi."



●●●●



Sore itu gerimis. Langitnya memang tak begitu mendung, tapi anginnya cukup kencang. Angin yang Salfa rasakan lain, seperti tak enak. Ada yang mengganjal dibenaknya entah apa itu. Di ruang tamu, ia juga merasa Novan menatapnya dengan aneh dan itu membuatnya tak nyaman sehingga memilih untuk ke kamar saja. Melakukan hal kesukaannya yaitu menulis.



Novan menatap sekilas pada Salfa yang berlalu, kemudian menyadari Kinara yang asyik dengan ponsel miringnya. Ia mendekat, kini sudah duduk di sebelah gadis itu. "Ngegame?"



"I-iya," jawab Kinara singkat.




"Eh, lo kemarin malam masak apaan? Nggak bagi-bagi?"



Kinara yang terus fokus ke layar ponsel karena merasa grogi dengan adanya Novan yang tiba-tiba saja duduk di sebelahnya, mengernyit. Gadis itu lantas menoleh. "Ha? Masak? Maksud lo?"



"Lo yang di dapur semalam, kan? Lo bawa pisau, motong-motong sesuatu. Gue pikir sayur kali, nggak kelihatan, ketutup badan lo soalnya."



Gadis berkacamata itu memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Posisinya yang semula bersandar kemudian berubah, duduk lebih tegak. "Mana ada gue masak?"



"Gue aja nggak habis pikir lo masak jam segitu," balas Novan.



"Tunggu-tunggu," Kinara mengernyit lagi. "Jam berapa?"



"Sembilan."



Kali ini Kinara makin tak habis pikir darimana asalnya Novan mengatakan semua itu. "Apalagi jam segitu, Van, Van. Ya mana ada? Gue nggak pernah masak apa-apa ya selama disini selain rebus air buat bikin kopi. Kan kita makan di luar terus tiap kali jalan-jalan?"



Tertegun, Novan mencoba mengingat sekali lagi apa yang ia lihat di dapur ketika itu. Jelas-jelas ia melihat wanita rambut panjang berdiri disana. Rambutnya lurus. Siapa lagi kalau bukan Kinara? Tidak mungkin Salfa yang sudah jelas-jelas rambutnya keriting. Apalagi, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Salfa keluar yang tak lama kemudian disusul Genta.



"Kok malah bengong?" tanya Kinara setelah sempat melambaikan tangannya di depan Novan yang tak bergeming.



Novan bingung bukan main, karena sekali lagi ia ingat, siapapun itu yang ada di dapur, samar-samar terlihat dari pencahayaan lampu yang remang-remang, ia melihat di pisau itu ada bercak warna merah seperti darah. Pemuda yang kebetulan tengah menggunakan kemeja itu melonggarkan kerahnya. Dari pelipisnya bahkan mulai bercucuran keringat dingin.



Dilihatnya sekilas, Vin dan Gopal sedang duduk-duduk di teras. Sementara Genta sedang selonjoran di sofa lainnya dengan mata terpejam, berikut headphone yang terpasang di telinganya. Saat itu lah, Novan akhirnya memutuskan untuk mengatakan ke Kinara.



"Ada perempuan di dapur tadi malam. Sumpah gue nggak ngada-ngada. Malahan gue pikir itu lo," ujar Novan nyaris seperti berbisik. "Kalau lo bersikeras itu bukan lo, terus siapa?"



Terbelalak, Kinara seketika langsung menaruh ponselnya. Tatapannya mengerjap berusaha memahami apa yang Novan bilang. Dalam hatinya ia terus merasa tak tenang, terlebih sejak semalam ia melihat bayangan seseorang melintas di luar jendela kamar yang ia tempati. Bayangan itu seperti perempuan juga.



"Gue sebenarnya males banget ya bahas kayak gini sama lo, karena gue tau lo nggak akan percaya mau bagaimanapun itu. Tapi tadi malam, gue lihat ada perempuan bolak-balik di jendela kamar, Van."



Merasa panik, setelah mengatakan itu Kinara langsung berinisiatif untuk melaporkannya ke Salfa. Segera ia beranjak menuju kamar. Novan hanya mendongakkan kepala melihatnya pergi.



Tepat setelah membuka tirai yang merupakan pintu menuju ke ruangan lain yang berupa lorong, belum sempat juga dirinya menyadari apa yang ada di hadapannya, ia langsung tersentak.



Braaaakkk!! Suara itu membuat Novan seketika menoleh. Bahkan, Genta langsung membuka mata dan bangkit dari posisinya. Di ujung ruang tamu, tak lain adalah Kinara yang terpental jauh sampai sana. Vin dan Gopal yang buru-buru masuk langsung tercekat ketika melihat gadis itu tak sadarkan diri.



"KINARAAA?!!" teriak Gopal yang mendekat dengan cepat bersama Vin dan Genta.



Sementara Novan masih diam di tempat dengan mulut terbuka karena masih tercengang dengan apa yang barusan ia lihat. Apa yang barusan itu tidak salah? Ia melihat Kinara terseret dari belakang sampai ke depan, namun seperti terpental.



"SALFAAAAAAA?!!" panggil Vin setelah ia berusaha sebisa mungkin menyadarkan Kinara namun tidak bisa. "SAL, KESINI, SAAAAAALLLL!!"



Salfa sendiri yang tengah menghadap ke laptop cukup tersentak dengan suara nyaring dari temannya yang memanggilnya. Buru-buru ia keluar dari kamar, dan langsung dicegat oleh banyak sosok yang berkumpul di depan pintu kamar seperti sedang berdemo. Kaget, namun Salfa sebisa mungkin memberanikan dirinya untuk menyibak mereka dan mencari jalan untuk dilaluinya.



"Ada ap-" pertanyaan yang ia ajukan sesampainya di ruang tamu langsung terhenti ketika melihat teman-temannya memutari Kinara yang duduk bersandar di tangan Vin, dengan menunduk.



Hanya dengan melihatnya saja, Salfa tahu, ada yang lain. Ia melihat Kinara seperti layer yang bertumpuk dimana raga dan isinya berbeda. Salfa mendekat, melihat lebih jelas lagi seorang nenek-nenek dalam badan sahabatnya. Ya, Kinara kerasukan.



"Kinara...?" panggil Salfa pelan.



Tepat setelah suara Salfa terdengar, Kinara yang bukan lagi dirinya itu meronta usai matanya mendadak terbuka dan langsung memelotot ke Salfa. Vin dan Genta langsung mencekal, Gopal pun menarik tangan Salfa agar menjauh.



"Dasar bocah ndablek! Wis piro wae sing ngandani kowe supoyo ora mangkat mrene, ha?" (Dasar anak nggak bisa diatur! Sudah berapa banyak yang memberitahumu supaya tidak berangkat kesini, ha?)



Tidak seperti Salfa yang sudah terbiasa, Genta, Vin, Gopal, apalagi Novan, dibuat terkejut bukan main ketika suara Kinara berubah seperti suara ringkih dari nenek-nenek tua.



"Kene iki ora tau nerimo tamu, ngerti ora kowe?!" (Kami ini tidak pernah menerima tamu, ngerti tidak kamu?)



Semuanya saling pandang tak mengerti, kecuali Genta. Pemuda itu mengesampingkan percaya tak percayanya sekarang dan membalas siapapun itu yang ia yakini bukan lagi seorang Kinara. "Nyuwun sewu, panjenengan niki sinten?" (Permisi, Anda ini siapa?)



Tatapan tajam dari mata yang hitam sempurna itu beralih ke Genta. "Aku? AKU SING NGUASAI NANG OMAH IKI!! Kowe kabeh iki sopo kok wani-wanine nganggoni omah sing wis puluhan tahun kosong? Sadaro, kowe kabeh kebujuk barang ala sing mbok gowo mrene!" (Aku? AKU PENGUASA DI RUMAH INI!! Kalian semua ini siapa kok berani-beraninya menempati rumah yang sudah puluhan tahun kosong? Sadarlah, kalian semua ini terbujuk sesuatu yang buruk yang kalian bawa kesini!)



Setelah melihat Genta yang memindai satu per satu orang dalam ruang tamu tersebut, Salfa bisa melihat ada sesuatu yang aneh dari percakapan mereka. Ia kemudian mendekat ke Kinara. Memohon dalam hati agar nenek-nenek itu berkenan keluar dari tubuh Kinara dan berbicara langsung saja dengannya tanpa harus seperti ini. Tak lama, Kinara kemudian sadar dengan napas yang terengah-engah.



"Kinara...?" panggil Salfa yang langsung memeluknya dengan melega. "Ra, lo nggak apa-apa, kan? Mana yang sakit?"



Genta dan Vin pun melepas cekalan tangan mereka dan beranjak. Masing-masing mengusap wajah yang memerah karena ketegangan barusan. Gopal mengambilkan air dan memberikannya ke Kinara.



Tepat ketika adzan berkumandang, Novan yang sudah tidak sabar lagi menanyakan sesuatu ke Genta mendekat padanya. Ia bahkan tak bisa menunggu hingga adzan selesai. "Jadi pemikiran logis lo udah mulai berubah, Ta?"



"Menurut lo?!" balas Genta tak santai. "Apa lo mau bilang kalau gue kehasut Salfa? Lo pikir Kinara kayak tadi itu bercanda?"



Meski tak menjawab pertanyaan Genta, Novan mulai merasakan logikanya yang goyah. Seperti semuanya adalah nyata. Walaupun dirinya masih antara percaya tidak percaya dengan kejadian kerasukan yang ia lihat baru pertama kali ini, tapi, disaat yang sama ia juga menyadari. Bahwa mereka, ada.



●●●●



Merinding euyyyy nulis ini tuh kayak beban banget serius, tapi asal itu menghibur ya okey nggak masalah hehe^^



Semoga kalian suka dan terhibur ya, teman-teman. Terima kasih sudah mengikuti AWAKENED. Jangan lupa vote dan komentarnya^^



Terus ikuti kelanjutannya ya. Diusahakan update setiap hari kok. Kalau nggak update berarti lagi sibuk, atau lupa hehe. Namanya juga manusia^^



See you di part selanjutnya yang bakalan lebih horror!



neiskaindria