AWAKENED

AWAKENED
Sembilan Belas : Dibawa Pergi Jauh



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Jakarta, 14:22



Derum motor yang terdengar tak lama kemudian berhenti. Seorang cowok dengan seragam putih abu-abunya baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah. Ia langsung disambut pemandangan yang membuat keningnya mengenyit heran. Buru-buru ia mempercepat langkah sampai ke teras. Wira masih mendapati ayahnya diam, tak menatapnya. Seolah-olah dirinya ini tidak terlihat.



"Yah?" sapanya pada lelaki yang menatap kosong, tak menghiraukan dirinya sama sekali. Wira mengernyit lagi, ia membungkuk mendekatkan diri ke wajah ayahnya. Tangannya melambai tepat di hadapan Dody namun tak ada balasan. Berkedip pun tidak. "Ayah tumben jam segini udah pulang? Nggak ngantor?"



Merasa aneh, Wira pun masuk ke rumah, langsung menuju ke sang ibu. "Buk?" Panggilannya menggema ke tiap sudut rumah. Matanya kemudian menemukan Nilam yang baru keluar dari kamar mandi.



"Buk, Ayah kenapa?"



"Ha? Kenapa gimana?" bingung Nilam.



"Ayah ngelamun. Wira ajakin ngomong diem aja."



Segera Nilam berjalan ke depan, sambil memegangi dada. Ia masih ingat jelas sang suami yang mimpi buruk malam tadi. Ditambah, pagi-pagi sekali tadi, suaminya akhirnya menceritakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Bahkan, yang membuat Nilam makin takut lagi, adalah omongan suaminya yang ngelantur kemana-mana. Lebih seperti orang pamit. Ah, apasih. Pamit, pamit, emangnya kenapa? Nggak usah mikir macam-macam, Nil!



"Yah?" panggil Nilam sesampainya ia di teras. Dody kali ini menoleh, namun tatapannya sungguh tak bisa diartikan baik oleh Nilam maupun Wira.



Disitu, Dody beranjak dari tempatnya duduk. Masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar dan membanting pintu dengan kasar. Nilam dan Wira yang sejak tadi mengekori hanya saling pandang tak percaya sekaligus bingung. Ada apa dengan Dody sebenarnya?



Wira, yang menyadari sang ibu malah melamun, segera mengguncang pelan bahu Nilam. "Buk? Kenapa sih? Ayah kenapa?" tanyanya masih tak menyerah. Dari raut ibunya, ia meyakini ada sesuatu yang Nilam ketahui.



"Ibuk juga nggak paham, Le..."



Kini, giliran Nilam yang pergi. Wira hanya menatap punggung ibunya yang menjauh, kembali ke belakang. Pikirnya mungkin ke dapur. Maka ia pun memilih untuk berlalu juga ke kamarnya untuk mengganti baju. Pikirannya masih tidak karuan. Rasanya seperti ada yang mengganjal di hati. Sikap ayahnya sangat berbeda sekali. Tatapan kosong itu mengingatkannya akan sesuatu yang dulu pernah terjadi ke temannya.



Wira membanting tubuhnya ke tempat tidur dengan posisi telentang. Kepalanya masih menyeracau kemana-mana. Entah kenapa juga, ia langsung teringat kakaknya yang masih berlibur. Hanya untuk sekadar menanyakan kabar. Ia hampir saja meraih ponsel dalam saku jaket hitamnya, namun sebuah panggilan dari depan membuatnya menoleh ke arah pintu. Setelah sempat membuang napas kasar, Wira pun bangkit.



Benar kan, dugaannya? Willy sudah duduk saja di teras depan. Itu adalah teman sejak kecilnya. Willy menoleh ketika Wira menyusul duduk. Dilihatnya, temannya itu melirik tajam padanya.



"Apa saya datang disaat yang kurang tepat, Wir?" tanya Willy seperti mengerti arti tatapan itu.



"Jangan langsung tersinggung. Gue cuma lagi bingung," balas Wira.



Willy yang sesaat tadi sudah siap pergi dan memberi waktu pada Wira untuk sendiri, kembali duduk. "Ada apa?"



"Bokap."



Wira mengubah posisi duduknya. Lebih condong ke kiri dimana Willy berada. Wajah gelisahnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Selama ini, Wira tak pernah banyak cerita ke siapapun mengenai apa saja, terkhusus, apa yang terjadi di dalam rumah. Bagi Wira, setiap hal dalam rumah itu tidak boleh sampai keluar. Ia menjaga betul keseluruhannya. Tapi, terkecuali untuk Willy. Ia sudah sangat percaya pada temannya yang satu itu.



Willy menyadari Wira yang tengah mengatur napas. Karena tak sabar, ia segera membuka suara lagi. "Kenapa, Wir? Mau cerita tidak ke saya?"



Wira menoleh, mengagguk pada akhirnya. "Gini, Wil. Bokap gue aneh, dia ngelamun tadi. Tatapannya tuh kosong. Gue ngerasa..." ujar Wira menggantungkan kalimatnya. "...kayak bukan Bokap gue lagi."



Suara mesin tertangkap telinga. Wira langsung menoleh ke arah mobil sedan hitam klasik yang berhenti di depan rumahnya. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari sana. Orang yang ia belum begitu kenal karena hanya pernah bertemu beberapa kali ketika mengantarkan Salfa ke rumahnya untuk dibimbing.



Pak Aji keluar dari dalam mobil dan mendapati hal yang sudah ia duga sejak awal. Beliau memindai Wira dan Willy secara bergantian dengan tatapan yang mungkin, Wira mengerti. Tapi cowok itu tak terlalu menggubris, kini ia sudah beranjak dari tempat duduknya dan menyalami Pak Aji.



"Ibumu menelepon saya. Jadi saya kesini," ujar Pak Aji sebelum Wira bertanya. Laki-laki itu seperti bisa membaca pikiran Wira.



Belum sampai Wira menanggapi, Nilam keluar dengan tergesa-gesa menemui Pak Aji. "Di kamar, Pakdhe. Suami saya di kamar, dan pintunya dikunci."



Pak Aji makin dibuat kaget. Segera beliau meminta Nilam untuk menunjukkan jalan menuju ke kamar. Dibelakang, Wira menyusul. Cowok itu sempat menyapa pada Willy terlebih dahulu, karena tahu Willy tidak dapat masuk ke rumahnya. Buru-buru ia mengekori Pak Aji. Laki-laki itu mengetuk-ngetuk pintu memanggil Dody, namun tak ada sahutan.



"Dody? Dod? Buka pintunya, Dod?!"



"Buk, ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Wira yang masih tak mengerti ketika membaca ekspresi takut di wajah Nilam. Sang ibu tak menjawab, hanya menatap penuh arti kemudian beralih pandang lagi. Makin memperkuat dugaannya bahwa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.



"Kak Salfa?" lirihnya yang entah mengapa langsung teringat kakaknya.



Wira segera berlari ke kamar, mengambil ponsel. Mengetikkan nama Salfa disana, dan menekan tombol hijau tanpa menunggu lama-lama. Sambungan putus-putus itu terdengar. Tapi tak kunjung ada sahutan. Hingga menyisakap kesenyapan ketika suara itu mati. Wira masih mencoba lagi, bahkan ia memegangi dadanya. Rasanya sungguh sukar dijelaskan. Ada serangan panik luar biasa yang menghinggapi. Bahkan, ia tak tahu alasannya.



"Lo kemana, Kak?" gumamnya geram.



Ia segera beralih, menelepon Kinara karena menurutnya, Kinara selalu bersama Salfa. Namun sama, masih tak ada jawaban. Jangankan suara sahutan dari seberang telepon mengatakan 'halo', yang ada malah suara operator wanita yang mengatakan bahwa nomornya sedang tidak bisa dihubungi. Wira mengumpat. Makin tak mengerti dengan deru perasaan yang membuncah di dadanya.



Pikirannya terfokus pada satu hal. Jika Pak Aji datang berdasarkan panggilan ibunya, tentu ada sesuatu lain yang berkaitan dengan hal di luar nalar dan logika manusia. Wira tentu tahu siapa Pak Aji itu. Kelewat paham malah. Kini, cowok itu kembali menatap layar ponselnya. Menelepon Vin, karena hanya tinggal itu orang tersisa yang bisa ia hubungi. Teman kakaknya yang lain, ia tak mengenal.



"Halo, Wir?" Sambungan putus-putus langsung terganti dengan sapaan dengan suara berat dari seberang. Wira langsung melega dengan memejam sebentar.



"Halo, Bang Vin? Lo sama Kakak gue nggak?"



"Si Salfa?" balas Vin yang terdengar sangat konyol bagi Wira.



"Ya iya, siapa lagi?" balasnya masih mencoba setenang mungkin. "Dia sama lo kan?"



Untuk beberapa saat, tak terdengar jawaban. Wira berpikir Vin entah sedang dimana karena terdengar sahut-menyahut derum kendaraan dengan samar-samar.



"Halo, Bang?" sapa Wira lagi, dan ketika itu Vin langsung menyahut.



"Iya, iya, halo? Gue nggak sama anak-anak, Wir. Mereka jalan sendiri, gue di rumah sewaan nih."




"E-enggak. Gue sendiri."



"Oke, oke. Ntar kasih tau dia ya buat telepon gue? Thanks, Bang."



Wira lantas memutuskan sepihak setelah mendengar deheman singkat dari Vin sebagai persetujuan atas amanat yang ia beri. Cowok itu lantas menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, rasanya masih aneh. Perasaan apa ini? Kenapa mendadak ia jadi tidak tenang? Pertanyaan-pertanyaan itu masih berputar di kepalanya. Wira pun berdecak kesal.



Hingga, belum juga ia bisa menetralisir semua itu, suara bantingan dibarengi teriakan membuat fokus Wira beralih. Arahnya dari kamar sang ayah. Segera ia membanting ponselnya di tempat tidur sebelum sesaat kemudian melesat keluar dari kamar.



Rupanya bantingan tadi adalah pintu yang didobrak paksa oleh Pak Aji. Wira dapat langsung melihat ayahnya, namun itu sungguh nyaris tak bisa ia percaya. Mulutnya sampai menganga melihat itu. Benar rupanya, ayahnya tak lagi ayahnya. Dody sekarang merangkak di dinding yang bahkan ilmu sains pun tak bisa menjelaskan kondisi tersebut. Wira melirik ibunya, rupanya wanita nomor satu dalam hidupnya itulah yang barusan berteriak.



Sementara itu, Wira melihat Pak Aji merapalkan doa-doa sambil terus menatap ke Dody di atas sana. Mendadak jendela di rumah itu tertutup, menyisakan pencahayaan yang minim karena tak mengizinkan sinar matahari menembus masuk. Keadaan jadi mencekam, dan ini adalah kedua kalinya Wira melihat tragedi kerasukan. Sebelumnya di sekolah, ia pernah melihat itu terjadi pada temannya. Meski temannya tak sampai seperti ayahnya saat ini, tapi tatapan kosongnya sebelum kerasukan terjadi adalah sama persis.



"KAMU MAU MENGUSIR AKU, HA? COBA SAJA KALAU BISAAAA!!" ujar Dody yang suaranya berubah seperti ganda. Dody turun dan merangkak, bersiap menyerang Pak Aji namun orang itu segera memegangi kedua tangannya.



Darah. Itu yang Wira lihat selain mata sang ayah yang berubah hitam secara keseluruhan. Mulutnya mengeluarkan darah yang aromanya sangat amis. Tangan Nilam menarik lengannya, membuat Wira langsung menoleh. Ia mengikuti telunjuk Nilam yang menunjukkan sesuatu dengan kaget.



Bangkai tikus yang banyak sekali. Entah kapan berada di pojok kamar, Nilam sama sekali tidak tahu. Sejak pagi ia memang belum memasuki kamar lagi karena sibuk membuat kue kering pesanan Bu RT. Sekarang, ia pun hanya bisa menangis. Terlebih, ketika melihat Pak Aji kewalahan dengan suaminya.



"WIRA!!" panggil Pak Aji sambil menoleh, namun tangannya masih tetap memegangi Dody. "AMBILKAN TALI, CEPAT!! CEPAT, WIR!!"



Mendengar itu secara otomatis Wira mengangguk dan segera berlarian ke belakang menuju gudang. Mengobrak-abrik apapun yang ada di dalam sana, hingga matanya menangkap gulungan tali di rak bagian atas. Wira mendekatkan sebuah meja kayu yang berdebu dan mengangkat satu bangku ke atasnya. Ketika memanjat, ia dikejutkan dengan pandangan yang ia dapat. Seperti kaset yang diputar, ia melihat wajah ayahnya, tersenyum namun merupakan senyuman yang sedih. Karena kaget tiba-tiba demikian, Wira sampai tak bisa menjaga keseimbangannya dan jatuh.



Cowok itu mengaduh karena pelipisnya terbentur ujung meja. Ia segera merangkak mengambil tali yang juga ikut terjatuh, dan buru-buru berdiri lagi. Tertatih-tatih berlari kembali menuju kamar sang ayah.



"Maaf, Pak, lama. Saya jatuh," ujar Wira dengan masih merintih kesakitan.



Fokus Pak Aji yang sesaat lalu hanya tertuju pada Dody yang masih meraung, kini terbagi tepat ketika melihat Wira berdarah. Seperti mendapat bisikan dari perewangan-nya, Pak Aji tahu apa yang dialami Wira.



"Ayo bantu saya mengikat Dody!" seru Pak Aji kemudian dan Wira segera mendekat meski rautnya sangat jelas menampakkan rasa iba. "Jangan lihat matanya!" seru Pak Aji, dan lagi-lagi Wira hanya menuruti.



Dody melihat Wira dengan tak biasa, sambil mulutnya komat-kamit menjilati darah tikus itu. Jin yang masuk ke dalam tubuhnya tersebut tertawa melihat Wira yang menahan tangis. "UNTUK APA KAMU MENANGISI AYAHMU, HA? TAK ADA GUNANYA! AYAHMU TAK AKAN KEMBALI, HAHAHAHAHA!!"



"DIAM!!" balas Pak Aji dengan menggeram. Kesabarannya telah dikuras oleh jin itu. "Jangan dengarkan dia, Wir! Jangan terpengaruh!"



Meski dengan susah payah dua orang itu mengikat Dody, tapi akhirnya mereka berhasil juga. Wira kemudian berbalik pada Nilam yang meringkuk di dekat pintu, memeluk lutut sambil menangis. Sempat tertegun, namun Wira kemudian mendekat, merengkuh sang ibu dengan penuh pengertian. "Tenang, Buk. Ayah nggak akan kenapa-napa, yakini itu."



Nilam menangis makin kencang dalam pelukan putranya. Isakannya tak terkendali lagi karena takut setengah mati. Disitu, Pak Aji mencoba mengerti namun situasinya sudah tidak baik. "Ayo, kita semua keluar. Kita kunci Dody disini. Saya akan menelepon guru saya. Saya butuh bantuan murid-murid guru saya yang lain."



●●●●



Satu mobil van hitam tiba, berhenti di belakang mobil sedan milik Pak Aji. Beberapa tetangga terlihat berkumpul saling berbisik karena teriakan-teriakan dari dalam satu rumah yang kini dipadati banyak orang tersebut. Rumah Dody. Pak Aji lah yang menyambut orang-orang itu di depan, sedangkan Nilam dan Wira memilih untuk tetap ada di ruang tamu, menghindari tetangga.



Satu orang yang terlihat memimpin yang lain langsung berseru lantang. "Dimana dia?"



Paham bahwa yang dimaksud adalah Dody, Pak Aji menuntun Kyai Sa'id, sang guru. Murid-murid Kyai Sa'id yang tak lain adalah para anak pondok pesantren itu kemudian ikut masuk. Baru sampai di depan pintu kamar, Kyai Sa'id langsung beristighfar. Meskipun belum melihat secara langsung, pandangan beliau yang bisa menembus ruangan itu membuatnya geleng-geleng. Aura dendam itu terpancar jelas, dan begitu pintu terbuka, Dody langsung berteriak menantangnya.



"KALIAN PIKIR, DELAPAN ORANG SAJA BISA MENGELUARKAN AKU DARI TUBUH INI, HA? COBA SAJA!! COBA SAJA!!"



Kyai Sa'id masih diam dengan tangan yang terus menggulir satu demi satu tasbih di tangannya. Masih dengan pandangan yang lurus ke Dody. Satu tangannya kemudian mengodekan pada murid-muridnya dan serempak, semuanya melantunkan ayat-ayat untuk mengusir jin itu dari tubuh Dody.



Laki-laki yang masih dalam keadaan terikat itu meraung tak karuan. "PAAAANAAAASSS!! AAARRGGHHH, KURANG AJAR KALIAN!! LIHAT SAJA, KALIAN TIDAK BISA MENGELUARKAN AKUUU!! AAARRGGGHH!!"



Meninggalkan enam muridnya yang masih tetap melantunkan ayat-ayat suci, Kyai Sa'id mengodekan pada Pak Aji untuk ikut dengannya. Mereka berdua mendekat ke Wira dan Nilam yang berada di luar kamar. Dengan pandangan yang teduh, lengkap dengan raut muka yang sangat santai, lelaki tua tersebut membuka percakapan.



"Dody ini, disembunyikan di tempat yang jauh, sangat jauh," ujar Kyai Sa'id yang tak dimengerti Wira dan Nilam, namun berhasil mengundang tatapan dari Pak Aji yang bisa dibilang sudah menduga hal itu. Kyai Sa'id kembali melanjutkan. "Dia tidak bisa pulang dan susah untuk dituntun pulang. Saya mau tanya, apa di antara istri dan anak beliau ini, pernah diberitahu sesuatu oleh Dody, misalnya soal mimpi?"



Disitu, Nilam langsung tertegun. Namun kemudian ia mengangguk. "Saya, Pak."



"Dody bilang bagaimana?"



"Semalam, suami saya kebangun. Dia bilang mimpi buruk. Dia ketemu sama seorang laki-laki yang wajahnya ditutupi tudung. Laki-laki itu memberikan suami saya peringatan. Katanya menyangkut putri kami, Salfa."



DEG! Wira langsung tercekat seketika itu. Rupanya inilah alasan ia kena serangan panik dan mencemaskan kakaknya tadi? Ternyata, ada kaitannya dengan semua ini? "Terus Ayah bilang gimana lagi, Buk?" tanyanya kemudian pada ibunya.



Nilam menoleh ke Wira. Ia yang mulai bisa mengontrol dirinya, kini kembali menangis. "Ayahmu nggak cerita banyak, Wir. Nggak begitu jelas. Tapi, katanya, dia harus pergi, d-dan itu demi Salfa."



Tangis Nilam sudah tak terbendung. Ibu dua anak itu kembali menghambur ke pelukan putranya. Wira yang masih tak mengerti, hanya berusaha memberikan penguatan ke ibunya.



"Ibuk nggak mau mikir macam-macam dan bilang ke ayahmu bahwa itu cuma mimpi... Ibuk berusaha untuk nggak negative thinking soal apa yang ayahmu bilang... S-sekarang kenapa malah seperti ini, Wir? Ibuk sama sekali nggak ngerti..."



Dari penuturan Nilam, baik Pak Aji maupun Kyai Sa'id bisa menyimpulkan. Bahwa Dody, sebenarnya tahu apa yang terjadi, itu sebabnya sebagai ayah ia menyerahkan diri dan menerima jin itu, untuk menggantikan Salfa agar tak diambil. Mereka bertukar pandang dengan pikiran yang sama. Semua ini, sudah jelas kiriman orang yang benci pada keluarga ini.



●●●●



Yeaayyy update lagiiii. Gilasih pas nulis part ini drama bangettt. Semoga feel-nya sampai ke kalian semua yang baca ya, teman-teman^^



Gimana, suka nggak? Seru nggak? Makin banyak sih tokohnya, karena author memang perlu mengambil sudut pandang keluarga Salfa yang ada di Jakarta^^



Jangan lupa vote komen nya yaa, bagikan juga ke teman dan keluarga kalian biar nggak deg-degan sendirian wkwkwk^^



See you di part berikutnya, dua hari lagi karena seperti biasa, AWAKENED update dua hari sekali, hehe. Bye-bye!



neiskaindria