
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Malam yang dingin, dilengkapi dengan rintik hujan yang tak begitu deras. Seakan-akan langit paham, apa yang tengah dirasakan lima orang dalam ruang tamu. Harusnya mereka beristirahat, agar ketika hari berganti, bisa mendapatkan kebugaran yang lumayan untuk mencari jejak Kinara. Namun, mana bisa mata mereka terpejam jika isi kepala masih kemana-mana?
Salfa baru saja meletakkan teh hangat yang ia buat untuk membantu meringankan rasa dingin yang mulai menusuk ke tulang. Gadis itu tak banyak bicara. Lebih sering diam dengan raut gelisah yang kentara di wajahnya. Ia menyeruput teh tersebut tentu saja dengan mengingat sahabatnya. Kinara sangat menyukai teh. Senyum simpul yang terbentuk di bibirnya, sangat miris ia rasakan.
"Jadi rencananya gimana? Kita besok cari kemana lagi?" tanya gadis itu kemudian pada siapa saja. Ia mendapati tak ada jawaban. "Kita harus tau langkah kita. Kalau kita bergerak tanpa tujuan, sia-sia aja."
"Salfa benar," sahut Novan. "Petunjuk sekecil apapun itu, kita harus temuin. Lebih baik besok kita balik ke tempat Kinara terakhir kali. Siapa tau ada yang bisa kita temuin disana?"
Genta segera mengangguk setuju. "Iya, semoga ada sesuatu disana."
Dari semuanya, hanya Gopal lah yang menyadari kesenyapan di sebelahnya. Ia melirik, Vin termenung menatap kosong dengan tangan yang masih memegang secangkir teh. Disenggol lah pemuda itu dengan siku. "Kenapa lo diem aja?"
Tersadar dari lamunannya, Vin terlihat seperti orang cengo ketika Gopal menanyainya. "Ha? K-kenapa?" balasnya yang malah bertanya balik.
Tiga orang lainnya berganti fokus ke Vin, menoleh spontan padanya. Sama-sama dapat membaca kebingungan di wajah pemuda itu. Tapi mereka masih sama-sama menunggu sampai Vin menjawab.
"Lo kenapa diem aja? Ngelamun lagi. Awas, ati-ati jangan sampai kecolongan," ujar Gopal lagi, memperingati. Masih jelas ia ingat yang terjadi pada Kinara, Salfa, maupun dirinya. Kerasukan itu. Mengingatnya, sekilas Gopal sempat membodohkan tindakannya bersama teman-temannya ini yang tetap memaksa tinggal disini, bahkan sampai menolak tawaran Pak Beni. Tapi tunggu, ada sesuatu yang terbesit sedetik setelahnya. Pemuda itu kemudian menatap teman-temannya secara bergantian. "Guys, mungkin nggak sih, yang terjadi sama gue tuh…"
Semua dibuat bingung oleh Gopal yang menggantungkan kalimatnya sendiri. Salfa yang paling tak sabar, segera menyahut. "Kenapa, Pal?"
Gopal sendiri yang sempat menunduk menatap kakinya yang dibalut perban tersebut, mengangkat lagi wajahnya membalas Salfa. "Apa gue kayak gini karena gue yang ngajak kita semua untuk ke hotel dan ninggalin rumah ini?"
Genta mengernyit, masih mencoba meresapi perkataan Gopal namun belum juga berhasil. "Maksud lo? Kenapa emangnya kalau lo ngajak kita pergi dari rum—"
Tepat ketika Genta memberikan pertanyaan itu, otaknya sedang bekerja dengan baik. Ia sepertinya memiliki dugaan atas yang Gopal katakan. Meskipun ya, sedikit lemot untuk kali ini, namun akhirnya ia mengerti. Matanya kini berubah membulat.
Bahkan, bukan hanya Genta. Vin pun tertohok. "Kalau ini emang santet, dan orang misterius itu pelakunya, jelas dia nggak mau kita pergi dari sini agar dia tetap bisa ngintai kita dan nunggu kita lengah," ujarnya kemudian dengan merasa amat mantap. Tak mungkin salah.
"Dan dia tau kalau Gopal yang ngajak kita pergi dari sini, makanya Gopal yang kena!" sahut Novan yang sesaat setelahnya berdiri. Ia mengusap mukanya dengan tak percaya, tapi perbincangan yang ia capai dengan teman-temannya saat ini terdengar masuk akal.
Disitu, Salfa mencoba menyatukan keping-keping memorinya mengenai yang terjadi di hotel. Ah, tentu saja. Itu pasti juga ulah orang misterius tersebut. "Guys?" panggilnya pada teman-temannya yang mengundang tatapan.
"Berarti, apa yang terjadi di hotel, itu dia yang bikin dong? Hantu muka rata yang gangguin Kinara, Novan, sama Gopal itu suruhannya?" tanya Salfa penuh dengan praduga.
Empat pemuda dalam ruang tamu itu saling pandang satu sama lain. Apa yang dikatakan Salfa tepat sasaran. Jika semuanya digabungkan seperti sekarang, saling berkaitan.
"Dia ngelakuin itu supaya kita balik ke rumah ini," balas Genta dengan keyakinan yang naik sampai ke prosentasi maksimal.
Sementara itu, dari balik jendela, seseorang mendengarkan pembicaraan lima orang tersebut. Tangannya mengepal karena kesal. Rupanya lima anak muda di dalam otaknya pada encer semua. Mereka dengan cepat bisa membaca strategi yang ia siapkan dengan hati-hati. Tidak, rencananya tidak boleh gagal. Sudah tak ada waktu, ia tak bisa menunggu lebih lama lagi, kalau tidak, mereka akan segera pergi dari sini dan ia tak akan bisa mencelakai Salfa. Gadis itu mumpung sedang sangat jauh dari rumah, ini kesempatan emas untuk merenggut kebahagiaan Dody dengan rasa sakit kehilangan seorang putri.
Dengan hati-hati ia melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu, untuk menyiapkan semuanya. Malam ini mungkin akan panjang karena prosesi sakral yang akan ia lakukan. Ia akan bersemedi memanggil roh-roh jahat untuk diajak bekerja sama guna membantunya. "Besok akan jadi hari terakhir kamu, Salfa. Aku pastikan itu."
●●●●
Matahari memang masih malu-malu menampakkan diri. Sorot cahayanya masih samar-samar menerangi pulau ini. Meski begitu, lima orang yang memutuskan untuk tidur beberapa jam lalu pun bangun dengan semangat yang baru karena berhasil membaca strategi orang misterius itu. Waktu tidur yang tak seberapa tak jadi masalah. Yang paling penting adalah menemukan Kinara, terlebih, ada yang mereka tuju yaitu pesisir pantai yang kemarin mereka datangi.
Genta yang kini mengemudikan mobil. Dengan bantuan Maps, ia menyusuri jalan yang kemarin juga mereka lewati. Di sampingnya, ada Vin yang hanya diam. Memang sejak percakapan semalam ia seperti mendapatkan lampu menyala di kepalanya. Pemuda itu berdehem membersihkan tenggorokannya sebelum melemparkan pertanyaan.
"Ngomong-ngomong soal hotel, kamar kita waktu itu nomor berapa ya, Pal?" tanyanya pada Gopal yang berada di bangku tengah bersama Salfa.
Heran, Gopal pun menatap skeptis pada Vin. Bisa dibilang bukan hanya dirinya, Salfa, Novan, dan Genta pun saling mengisyaratkan kebingungan ketika dirinya memindai mereka satu per satu. "Pertanyaan lo random banget deh?"
Vin meringis dengan menggaruk hidungnya, telinganya, dan belakang kepala karena kikuk. Bagaimana menjelaskannya, ia tidak bisa bicara secepat itu sebelum semuanya jelas. Tiga digit angka yang ia dapat dari hantu rambut pendek itu tak mungkin saja kalau nomor rumah menurutnya. Selama hampir dua puluh dua tahun usianya, ia tak pernah tahu ada nomor rumah yang diawali dengan angka nol. Itu sebabnya ia mulai menduga bahwa itu nomor kamar hotel. Dan satu-satunya hotel yang ia dan teman-temannya kunjungi selama di pulau ini hanya hotel yang waktu itu.
"Ya… Basa-basi dikit nggak apa kali, Pal. Masa mau serius mulu?" alibinya.
Gopal, meskipun masih merasa aneh, memilih bodoamat saja dan menjawab pertanyaan yang ia sebut random barusan. "Emm, berapa ya? 057 kalau nggak salah?" balasnya dengan ragu.
Vin sebenarnya ingat berapa nomor kamarnya. Itu hanya sebagai pancingan agar ia bisa bertanya ke yang lain. "Lo kamar nomor berapa, Ta?"
Genta yang tengah menyetir melirik sekilas ke Vin, masih tak habis pikir. "Lupa gue. Tanya Novan sana," jawabnya cuek, karena jujur, ia cukup malas menanggapi pertanyaan yang tak ada penting-pentingnya sama sekali.
"029. Nggak akan lupa gue. First time lihat setan disitu, Njing," balas Novan. "Emang kenapa sih lo tanya kayak gitu?"
Hufftt, bukan juga, batin Vin. Ia kemudian menanggapi pertanyaan Novan dengan santai. "Ya, nggak apa. Untuk diingat-ingat aja. Semoga yang nempatin kamar itu selanjutnya nasibnya nggak se-apes kita-kita."
Pandangan Vin kemudian menoleh ke Salfa. "Lo, Sal? Kamar berapa?"
Salfa memutar bola matanya, mengingat-ingat. "036," jawabnya ragu. Tapi, dengan kemampuannya, ia mencoba mendalami ingatannya. Terpampang angka yang beda. "Eh, 037 deh."
Karena larut dalam lamunannya, Vin sampai tak sadar bahwa mereka sudah sampai. Ia memilih ikut turun saja dan mengikuti teman-temannya. Siapa tahu memang ada jejak lain yang tertinggal, yang bisa ia satukan dengan apa yang ia sudah temukan.
"Disini kan, ya?" tanya Gopal ketika telah sampai di bawah pohon kelapa dimana terakhir kali Kinara terlihat disana.
Melihat tempat yang persis diduduki Kinara, hati Salfa rasanya sangat sedih. Tapi ia mencoba menahannya. Mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa jika sedang berpikir jernih, jalan keluar pasti ditemukan. Seperti tadi malam contohnya. Sekarang, ia harus mengesampingkan perasaannya dan mengedepankan logika.
"Dia bakal ketemu kan, Ta?" tanyanya entah sadar atau tidak pada pemuda yang berdiri di sebelahnya. Meskipun itu orang yang ia ingin jauhi, tapi ia merasa butuh penguatan darinya. Lucu memang kalau dipikir-pikir. Seperti benci dan sayang itu bercampur jadi satu.
Genta yang cukup tercekat, butuh waktu untuk mencerna apa yang ia dapati. "Iya, Sal. Pasti."
●●●●
Di satu tempat, berada di perbatasan. Seorang gadis tengah meringkuk dengan wajah sayu yang ia sembunyikan di balik dekapan lututnya. Matanya sembab karena banyak menangis, menumpahkan semua emosi, sakit hati, dan rasa menyesal karena semua ini berkaitan dengannya. Dadanya terasa sesak, ia masih terisak di posisinya. Ruang bawah tanah ini lebih mirip seperti penjara. Satu kakinya bahkan di tali dengan rantai sehingga ia tak bisa kemana-mana. Jeruji besi di hadapannya serasa tak tergapai.
Derap langkah kaki menggema di ruangan yang kanan kirinya adalah tanah asli. Ia mengangkat wajahnya, memperlihatkan kesedihan luar biasa disana, pada pencahayaan yang samar-samar karena hanya diterangi satu lampu minyak. Matanya menyorot penuh benci pada seseorang yang datang dengan nampan di tangannya.
Pintu besi dibuka, orang itu mendekat menaruh nampan dengan makanan dan air putih di atasnya. Si gadis menatap dengan tak berkedip. Air matanya masih mengalir meskipun isakannya tak terdengar lagi karena ia tahan. Orang dengan baju serba hitam tersebut seperti tak tega menatapnya, ia tahu itu. Dengan segera orang itu pergi, dan ketika tepat usai mengunci pintu besi, suara si gadis menahannya.
"Kenapa, Pa? Kenapa?" lirih Kinara dengan isakan yang kembali terdengar. Berkali-kali ia menanyakan itu tapi sang ayah tak kunjung menjawabnya. "Kenapa Papa lakuin ini? Kenapa Papa jadiin aku musuh dari sahabat aku sendiri? JAWAB AKU, PA!!"
Rasanya, Kinara malu pada diri sendiri ketika ia memanggil laki-laki itu Papa. Sejak melihat nama Widji Gayatri di kertas yang ia temukan, ia tak berhenti menyesali semuanya. Gelang perak yang entah ia jatuhkan dimana itu pun, sejak awal memang terlihat tak asing karena memang itu milih ayahnya sendiri.
"JAWAB AKU!! JANGAN DIEM AJA!!" teriak Kinara frustasi. Bahkan suara deburan ombak yang riuh dari tempatnya saat ini masih kalah dengan suaranya. Meskipun tak tahu kemana ayahnya membawanya karena matanya ditutup, ia bisa menduga bahwa tempatnya sangat dekat dengan pantai. Namun melihat tempat ini, jelas bukan pesisir.
Widji masih diam, namun kemudian tubuhnya berbalik menatap pada sang putri. "Karena kamu tanya, oke, Papa akan jawab."
Kinara yang masih menangis merasa sangat benci ketika laki-laki itu menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Papa padanya. "Bahkan gue malu manggil lo Papa…" lirihnya, membuang segala kesopanan yang semula ia junjung tinggi-tinggi pada laki-laki tersebut. Tak peduli bahwa itu orang tuanya, ia menggunakan kata 'lo-gue' di kalimatnya.
Dada Widji seperti dihantam badai saat itu juga. Putrinya sendiri membencinya. Setelah sempat menunduk menelan sakit hatinya bulat-bulat, ia kembali mengangkat kepalanya. Menatap lurus ke Kinara.
"Kamu tau, apa alasan Papa bercerai dengan Mama kamu?" tanyanya dengan penuh penekanan. Menurutnya akan lebih sesuai ia beberkan semuanya disini sekarang. Sesuatu yang sudah sebelas tahun ia pendam tanpa ada yang tahu. Biar sekalian ia bisa membalaskan sakit hatinya atas ucapan sang putri barusan dengan penjelasan detail ini.
Kinara masih diam tak mengerti. Namun, ia mengumpulkan sisa kekuatannya dengan beranjak berdiri. Melangkah lebih dekat, bahkan kakinya sempat ia gunakan untuk menendang seisi nampan tadi. "Arrgghh," gadis itu merintih ketika ia sudah mencapai batas panjang rantai yang mengikat kakinya. Menahan tangis, ia menatap ke Widji menunggu lanjutan.
"Alasan Papa bercerai sama Mama kamu, karena Papa nggak cintai lagi sama dia! Papa jatuh cinta sama seorang wanita lugu dan lembut hatinya. Namanya Mayang." Bahkan ketika kembali mengingat Mayang, Widji tersenyum merasakan seluruh perasaannya pada wanita itu. "Dan ternyata, wanita yang Papa cintai itu, menjalin hubungan dengan orang lain. Bisa kamu tebak siapa?"
Entah mengapa, mendengar itu Kinara hanya teringat satu nama. Nama yang tertulis di kertas kusam yang ia temukan selain Salfa. "Om Dody…?" lirihnya pelan, namun sang ayah bisa mendengarkannya.
Widji mengangguk dengan senyum smirk. "Pintar. Ternyata bukan cuma teman-teman kamu aja yang otaknya encer."
Mendengar teman-temannya disebut, amarah Kinara makin memuncak. Ia sampai lupa bahwa kakinya terikat dan nekat mendekat untuk menyerang sang ayah, meski ia tahu itu tak bisa. Ia berada di dalam jeruji besi, sedangkan ayahnya berada di luar.
Widji tetap dengan ekspresinya, lantas melanjutkan lagi. Laki-laki itu memasukkan kedua tangan di saku celana hitamnya. Berjalan pelan kesana-kemari.
"Kamu tau, si brengsek Dody itu ninggalin Mayang dan lebih memilih keluarganya! Dia ninggalin Mayang dalam keadaan hamil! Kamu tau, siapa yang maju untuk menjaga kehormatan Mayang? SAYA! Papamu ini, rela menceraikan Mamamu untuk menikah sama dia! Papa bahkan dengan ikhlas menganggap anak dalam kandungan itu sebagai anak Papa sendiri. KARENA APA?!! KARENA PAPA SAYANG SAMA MAYANG!! PAPA RELA MELAKUKAN APAPUN!!"
Kinara terduduk lemas, kembali meringkuk dengan kedua tangan menutupi telinga. Ia yang sesaat tadi meminta penjelasan, namun sekarang malah menyesalinya. Bagaimana bisa ayahnya berkata demikian padanya? Bagaimana bisa setega itu? Ayah yang bagaimana Widji ini, sampai bisa bercerita seperti itu tanpa rasa sungkan dan malu sedikitpun. Apa setitik pun tak ada ingatan bahwa laki-laki itu memiliki dua anak perempuan dan satu anak laki-laki yang bisa saja membenci seluruh dunia karena keluarga yang berantakan?
Melihat Kinara yang seperti itu, Widji bahkan mendekat dan mengeraskan volume suaranya. "KAMU TAU, RA, HA? Waktu kami akan menikah, Mayang pergi entah kemana. Papa nunggu sendirian di depan penghulu. Dia kabur. DIA KABUR, RA!! DIA KABUR!! BAGINYA LEBIH BAIK MERAWAT ANAK ITU SENDIRIAN DARIPADA MENIKAH SAMA ORANG YANG NGGAK DIA CINTAI!!"
"STOP!! STOPPP!!!!" balas Kinara berteriak, dengan posisi masih menutupi telinga. Gadis itu sudah tidak kuat lagi mendengarkan alasan atas semua yang dilakukan oleh ayahnya ini. "STOP, GUE NGGAK MAU DENGARRRRR…!!!"
Tapi entah Widji manusia atau apa. Ia malah tak menghiraukan Kinara yang demikian. Ia terus melanjutkan penjelasannya. Menerangkan secara detail sebuah alasan yang melandasi perbuatannya.
"Papa sudah mencoba mengikhlaskan dia tapi nggak bisa, Ra, Papa nggak bisa! Papa terlalu cinta sama Mayang! Kamu dengar? CINTA!! Bertahun-tahun lamanya, Papa mencari dia kemana-mana. Dan dua tahun lalu, Papa nemuin dia, Ra. Papa nemuin Mayang…" suara Widji berubah bergetar. Kinara yang menyadari itu pelan-pelan mengangkat wajahnya, dan mendapati ayahnya menangis. "Sayangnya, yang Papa temuin… makamnya Mayang, Ra… Mayang ternyata bunuh diri ketika nggak datang ke pernikahan…"
Kini Widji terduduk, benar-benar menangis. Ia tak kuasa menahan rasa sakit yang ia simpan bertahun-tahun, yang membuatnya bertekad untuk mempelajari ilmu hitam dengan begitu dalam. Baginya, bukan hanya kehilangan Mayang, namun juga anak dalam kandungan wanita itu yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Itulah sebabnya, ketika merasa ilmunya sudah cukup, ditambah Salfa yang pergi sangat jauh dari rumah, membuatnya tak ingin menunggu lebih lama lagi.
Ia akan melakukannya malam ini.
●●●●
Well, akhirnya teka-tekinya terkuak yaaa. Udah sampai di klimaks ceritanya nih hehe, gimana part ini? Seru nggak?
Semoga kalian selalu suka ya. Bagikan cerita ini ke teman dan keluarga dong, biar nggak deg-degan sendirian. Part selanjutnya lebih menegangkan lhooo^^
Jangan lupa juga vote dan komentarnya. Sampai jumpa di part berikutnya!
neiskaindria