
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Kicau burung yang terdengar bersamaan dengan deburan ombak terasa sangat damai menyapa telinga. Dari lain tempat yang tak jauh, tampak para nelayan baru saja kembali dari lautan, usai mempertaruhkan hidup di tempat yang bisa saja tak mengizinkan mereka pulang. Ikan hasil tangkapan dibawa turun untuk kemudian diantar ke pasar. Banyak juga anak kecil berlarian menyambut ayah mereka dengan riang.
Salfa menatap ke mereka dari tempatnya duduk. Tersenyum simpul, yang hanya ia saja yang mengerti artinya. Keharmonisan ayah dan anak disana seperti tak dapat ia rasakan. Pikirannya mulai berimajinasi jauh, membayangkan jika saja ia yang tinggal disini. Andai anak itu dirinya dan laki-laki yang tertatih turun dari kapal itu ayahnya. Barangkali, hidupnya tak akan sehampa ini. Juga mungkin, laut akan menjadi tempat pelarian paling menyenangkan setelah semua rasa sakit yang dirasakan, bukan tempat yang ia takuti.
"Hufftt," gadis berambut keriting itu menghembuskan napas berat. Kepalanya lantas menoleh, melihat Gopal dan Genta masih menunggu Pak Beni di warung tak jauh dari pantai, duduk di kursi panjang sembari menikmati kelapa muda yang tampak segar.
"Kinara kemana, Vin?" tanya Salfa sambil beranjak dari bangku mobil yang pintunya ia biarkan terbuka. Sementara Vin yang sedang main bareng game online dengan Novan hanya menatap sekilas dengan bingung. "Kinara kemana?" tanya Salfa lagi mengulangi pertayaannya.
Barulah ketika itu, Vin ber-oh ria dan menjawab. "Jalan-jalan bentar katanya."
Salfa yang kaget buru-buru memindai sekitaran. Dadanya yang sedikit tertekan langsung melega ketika mendapati sahabatnya itu tengah duduk-duduk di bawah pohon kelapa. Baru hendak menyusul, suara Novan membuat langkahnya terhenti.
"Biarin dia sendiri dulu, Sal. Dia butuh tenang."
Salfa menoleh ke Novan, dalam hati membenarkan itu. Ia menatap ke Kinara lagi, merasa iba. Harusnya mereka kesini senang-senang, tapi semuanya malah jadi seperti ini. Kinara pasti sangat pening merasakan semuanya secara bersamaan, dan ia sangat mengerti akan hal itu. Setelah menghela pelan, Salfa menyusul duduk di sebelah Vin, mengintip layar ponsel pemuda itu yang posisinya miring. Salah satu hal yang Salfa inginkan selain punya kuda, adalah bisa main game online. Tampaknya sangat seru dan menyenangkan. Orang-orang yang ia kenal, banyak yang bilang jika ada masalah, maka game adalah pelarian yang paling instan. Jelas itu tampak menggiurkan untuknya.
"Vin, ajarin gue main game dong," celetuk Salfa tiba-tiba yang tak hanya membuat Vin menoleh kaget, namun juga Novan. "Pengen bisa. Susah nggak sih?"
Vin dan Novan pun saling lirik. "Yakin lo?" sahut Novan dengan heran.
"Yakin lah, kenapa emang?"
Lagi, dua pemuda itu saling lirik namun kali ini dengan durasi yang sedikit lebih lama. Setelah sama-sama menyipitkan mata, keduanya kembali menoleh ke Salfa dan berujar secara bersamaan. Sangat kompak. "LO NGGAK ADA SKILL!!"
Anjir, umpat Salfa dalam batinnya. Ia tak membalas dan hanya bersidekap menatap ke pantai yang deburan ombaknya terdengar sampai ke tempatnya duduk saat ini. Sedetik kemudian, ia dengan tak sengaja menoleh warung. Rupanya, Pak Beni baru saja datang, tengah bersalaman dengan Gopal dan Genta.
"Pak Beni udah datang!" serunya.
Secara otomatis, Novan dan Vin pun ikut menoleh, mendapati hal yang sama. Orang yang mereka tunggu akhirnya datang. Memang setelah terjadi kesepakatan usai berembuk tadi pagi, mereka berencana untuk ke pelabuhan, menanyakan kesiapan kapal untuk kembali. Adanya Pak Beni yang juga merupakan orang lokal akan sangat membantu mereka saat menemui pihak kapal.
"Yuk, kesana," ajak Novan yang tak lagi mempedulikan game nya, berbeda seperti Vin yang menggerutu karena tadi sedang asyik-asyiknya. Salfa hanya geleng-geleng kepala melihat temannya yang satu itu. memang dasar tak tahu situasi. Bahkan ketika tengah berjalan menuju ke warung pun, pemuda itu masih tetap menunduk menatap layar ponselnya. "Anjir lah! Lo sih Van, AFK! Jadi nggak ada yang bantuin gue!"
Entah sudah untuk keberapa kali Salfa dibuat tak habis pikir oleh Vin. Kali ini dengan tega ia mengambil alih begitu saja ponsel temannya itu, tanpa rasa takut sedikitpun. Ia sudah paham betul, mau bagaimanapun ia atau Kinara membuat pemuda itu kesal, Vin tak akan pernah bisa marah pada mereka. Itu sudah rumus paten sejak dulu. Dan itulah alasan mengapa mereka bisa sangat nyaman berteman dengan Vin.
●●●●
Sendirian, adalah momen yang memang Kinara tunggu. Ia telah mencari-cari saat-saat ini sejak tadi pagi. Tak peduli apa, dengan keberanian yang melebihi batas, bahkan logika yang sudah tak terpakai. Sebelum pergi dari rumah tua itu, ia sempat kembali ke dapur untuk mengambil kertas dalam sesajen itu. Kini, ia tengah mengumpulkan niat untuk membukanya. Kening Kinara berkerut. Menyadari keanehan yang ia dapati. "Bahasa apa nih?"
Gadis itu sama sekali tak mengerti. Tulisan-tulisan itu tampak sangat asing untuknya, entah menggunakan bahasa apa. Huruf-hurufnya pun berbeda, semuanya ditulis menggunakan tinta merah. Tapi tunggu, aromanya. Anyir. Pelan-pelan Kinara mendekatkan kertas itu ke hidungnya, lantas menjauhkannya dengan terbatuk-batuk mual.
"Apaan nih baunya gini amat?!" serunya heran, masih dengan meringis mengingat aroma barusan. "Hweekk."
Ketika itu juga, Kinara menyadari. Tulisan-tulisan itu, ditulis dengan darah. Entah darah apa. Tak lama kemudian, matanya menemukan tulisan kecil-kecil di bagian samping. Ia mendekatkan kertas itu lagi dengan menahan napas. Mencoba melihat lebih jelas, lantas mengejanya pelan.
"S…a…l…f…" matanya berubah membulat ketika akhirnya menemukan nama Salfa disana. Tertulis SALFANIA ADHISTA. Belum cukup sampai disana, ada nama lain lagi. Sama seperti sebelumnya, ia mengeja hati-hati. "Dody Hartanto?"
DEG! Bukankah itu nama ayah Salfa? Bagaimana bisa ada dikertas ini? Mata Kinara mengerjap, tetap dengan tangan yang setia memegang kertas kusam itu. Ia mengingat-ingat apa yang Vin bilang tadi pagi. Soal santet. Apakah ini semua… Santet?
Gadis berkacamata itu mengusap rambutnya dengan helaan berat. Bahkan sekarang kacamatanya ia lepas karena jemarinya memijat pangkal hidung yang berada di antara alis, merasakan kepalanya mendadak terasa berat. Sementara itu, tangannya yang lain meletakkan asal kertas itu di pangkuannya. Ketika angin membuat kertas tersebut terbalik, Kinara dikagetkan lagi dengan adanya tulisan kecil di bagian bawah yang luput dari pengamatannya. Segera ia mengenakan kacamata lagi dan membaca tulisan itu.
"Widji Gayatri."
Bagaimana menjelaskannya, Kinara tak tahu. Yang ia tahu hanya oksigen di sekitarnya menipis karena terkejut luar biasa. Maksudnya apa? Nama itu tertulis dengan bolpoin hitam, berbeda dari tulisan yang memenuhi kertas bagian depan. Namun ia melihat ada bekas jempol berwarna merah, seperti darah. Mungkinkah, ini pengirimnya?
Kinara tak tahu harus apa. Sekujur tubuhnya yang lemas usai mendapati nama Salfa dan Dody, kini makin tak punya tenaga setelah membaca nama Widji Gayatri itu. Sungguh, gadis itu hanya ingin menangis. Hanya menangis.
Dengan sisa kekuatan yang ia punya, tangannya bergerak mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Gelang itu. Gelang yang memiliki inisial W. Makin memperkuat dugaannya bahwa W itu adalah Widji.
"Ya Tuhan…" lirihnya. Air matanya sudah tak terbendung. Gadis itu tak punya cukup pertahanan untuk menelan kesedihannya bulat-bulat. "Ya Tuhan, kenapa begini…? Kenapa?"
Deburan ombak di depannya menjadi saksi isakan yang lepas dari mulutnya. Bahkan untuk menyeka air mata, rasanya ia tidak bisa. Seakan hal demikian akan percuma karena mau bagaimanapun, cairan bening itu akan tetap turun bersama dengan rasa bersalah yang luar biasa. Kinara menyentuh dadanya, pusat rasa sakit dan sesak yang ia rasa. "Sal… Maafin gue…" lirihnya sambil terus menangis.
Kinara menatap nanar ke titik mana saja yang ia lihat. Disaat bersamaan, satu orang membuat matanya tertahan untuk melihat kesana. Seseorang yang berdiri dari jauh. Dipindainya orang itu dari atas sampai bawah. Serba hitam. Mengenakan masker hitam, lengkap dengan kacamata hitamnya. Disitulah tangisan Kinara mereda, bahkan bisa dibilang langsung berhenti. Berganti dengan kebencian tiada tanding. Rasanya, selama dua puluh satu tahun ia hidup, tak pernah ia membenci seseorang sampai seperti sekarang.
Tak tahu dapat kekuatan darimana, gadis itu berdiri dan menghadapkan badan lurus ke arah orang yang juga menatap padanya itu. Matanya menyorot penuh amarah. Langkah cepat membawanya ke orang itu, lengkap dengan kedua tangan terkepal yang salah satunya berisikan kertas kusam tadi. Untuk beberapa saat, mereka berpadangan dengan jarak yang dekat. Sampai, orang itu tiba-tiba menarik Kinara lebih dekat dan membekapnya.
Gadis yang belum bisa mencerna hal barusan langsung meronta sekuat tenaga, namun orang itu tak memberinya kesempatan untuk bersuara karena sapu tangan di tangannya telah diberi obat bius. Setelah Kinara sepenuhnya tak sadarkan diri, orang misterius itu segera membopongnya menuju mobilnya yang tak jauh dari posisi saat ini.
Tak ada orang yang tahu karena memang mereka berada di tempat yang sepi.
●●●●
"Gini, Mas-Mas, dan Mbak nya. Saya sendiri tidak menyangka bahwa akan kejadian seperti ini. Kalau boleh saya sarankan, jauhi rumah itu. Dan siapa tadi namanya—Suri? Jangan terlalu dipercayai," ujar Pak Beni.
Beliau rupanya menyadari raut satu-satunya gadis dalam rombongan yang berubah tak enak. "Maaf lho, Mbak. Bukan bermaksud apa-apa, tapi apa sampeyan yakin Suri itu dikirim sama guru spiritualnya sampeyan?"
Otak Salfa otomatis langsung menerawang mencari jawaban atas pertanyaan Pak Beni barusan. Setelah mengingat semuanya, rasanya wajar saja jika laki-laki itu berpikir demikian. Bisa dibilang, Salfa memang tak mengenal Suri sebegitu dalamnya. Apalagi, Pak Aji sama sekali tak memberitahu dirinya bahwa mengirimkan penjaga.
"Sampeyan, apa nggak pernah tanya langsung ke Pak Aji itu?" tanya Pak Beni lagi, yang membuat Salfa spontan menoleh.
"Nggak, Pak. Selama disini saya nggak pernah ngasih tau apa-apa karena takut bikin ibu saya kepikiran. Saya aja nggak pernah telepon, hanya sekadar chat dan memberitahu kalau baik-baik saja, biar yang dirumah pun lega. Soalnya, kita semua disini juga belum bisa pulang karena kendala kapal," jawab Salfa panjang lebar, agar langsung jelas dan tak bertele-tele lagi. Pak Beni hanya manggut-manggut.
Setelah menyeruput kopi dalam cangkir kecil itu sampai hanya tersisa bubuk kopinya saja, Pak Beni mengamati lima anak muda itu. "Lho, bukannya ceweknya ada dua tho, Mas Naufal?" tanyanya heran.
Gopal pun yang ditanyai begitu langsung sadar, tentu saja kaget. Genta pun sama. Mereka langsung mengamati sekeliling dengan raut yang mulai panik.
"Yang satu lagi pengen sendiri, Pak," sahut Novan kemudian. "Mungkin karena semuanya, dia jadi frustasi."
"Oh… Tapi harusnya kalau frustasi jangan dibiarin sendirian, Mas. Belajar dari pengalaman ya, jangan menyepelekan segala sesuatu selama kalian masih belum tau apa yang kalian hadapi," balas Pak Beni mengingatkan. "Sudah, dicari dulu Mbak yang satunya. Habis itu kita ke pelabuhan sekarang."
Semuanya pun mengangguk. Tapi tentu, mendengar peringatan Pak Beni barusan seperti menampar mereka dan mengingatkan akan semua yang terjadi. Segera mereka keluar dari warung. Novan dan Salfa berjalan lebih dulu karena mereka yang tahu dimana Kinara. Yang lain, mengekori di belakang.
Tempat dimana Kinara menyendiri tadi rupanya tak nampak karena pandangan mata mereka yang terbatas. Mobil sewaan itu yang menutupinya. Awalnya, santai saja Salfa berjalan dengan percaya diri dan hendak memanggil Kinara, namun, setelah melewati mobil ia menyadari tak ada siapa-siapa di bawah pohon kelapa yang mau ia tuju.
"Lah, Kinara kemana?" tanyanya pada siapa saja.
Novan dan Vin, yang sama kagetnya pun membulatkan mata. Benar-benar tak ada Kinara disana. "Kemana dia, Van?"
"Mana gue tau? Tadi disini, persis!" balas Novan yang menujuk ke tempat dimana ia terakhir melihat Kinara duduk. Perasaannya langsung berubah tak enak saat itu juga. Sepertinya satu drama lagi telah ia dan teman-temannya alami. "KINARAAAA??!!"
Tak ada sahutan.
"RA, LO DIMANA, RA?!!" sahut Vin.
Sementara Salfa masih diam terkejut bercampur takut. Pikirannya sudah mengarah ke yang tidak-tidak meski berkali-kali ia coba lawan. Gadis itu hanya memegangi dadanya yang bergejolak. "Kinara kemana?" lirihnya pelan, namun dapat di dengar oleh Genta.
Pemuda tinggi yang menyadari Salfa nyaris ambruk, dengan sigap menangkapnya. "Eh, Sal?!"
Semuanya sontak menoleh ke Salfa. Masih dalam keadaan berdiri dibantu Genta, Salfa mendapati sosok Suri yang meringis seram ke arahnya dari balik pepohonan rimbun di sisi lain pesisir itu. Seolah keterkejutannya mengenai Kinara yang hilang belum cukup, ia dihadirkan pemandangan tak menyenangkan dimana sosok Suri itu tiba-tiba berubah jadi sangat menakutkan. Jari kurusnya pelan-pelan terlihat makin panjang karena kuku yang tiba-tiba tumbuh. Ditambah wajah cantiknya yang berubah menjadi sangat menyeramkan dan buruk rupa. Lengkap dengan warna kulit yang semula putih pucat berganti menjadi hitam dengan berdarah-darah.
"SURI!!" serunya sambil mengarahkan telunjuk ke arah hantu penipu itu. mata teman-temannya mengikuti kesana namun jelas mereka tak melihat apa-apa selain pepohonan rimbun yang sinar matahari saja tampak enggan menembus masuk. "DIA YANG BIKIN GUE HAMPIR MATI TENGGELAM!! DIA PENIPU!!"
Genta dibuat kuwalahan memegangi Salfa yang histeris. Gadis itu berujar lantang dengan menangis. Ia hanya bisa mencoba menenangkan Salfa, mengusap rambut gadis itu. Tangisnya makin menjadi dan Genta segera merengkuhnya. Salfa pasrah menurut dan menangis di bahu Genta. Merasakan seluruh rasa sakit atas semua hal yang terjadi disini.
Bagaimana bisa ia percaya Suri? Bagaimana bisa ia sebegitu bodohnya? Mengapa ia tak mengikuti saja semua yang dikatakan hantu-hantu sejak sebelum berangkat ke pulau ini? Lihat sekarang, Kinara hilang entah kemana karena keras kepalanya yang terus menerus meyakinkan diri untuk berangkat dan memenuhi rasa penasaran semata. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada sahabatnya? Apa yang akan ia katakan nanti? Mengapa Tuhan, mengapa begini?
"Sal, tenang, Sal…" ujar Genta penuh pengertian. Demi apapun ia tidak tega melihat Salfa seperti itu.
"Lo bener, Ta… Ini semua karena gue terlalu percaya sama Suri…" balas Salfa masih dalam posisi yang sama, sambil tetap menangis.
Melihat itu kepala Novan rasanya hampir pecah. Ia mengepalkan tangan frustasi, dengan menggeram. Ia sedikit menjauh dari yang lain. Matanya masih memindai sekitaran, berharap dari arah yang tak diduga Kinara tiba-tiba muncul lengkap dengan alasannya. Novan bahkan bisa memastikan kalau ia menemukan gadis itu, ia akan langsung berlari dan memeluknya. "Lo kemana, Ra?"
Rupanya, Pak Beni menyadari ada yang tidak beres karena lima anak muda tadi tak kunjung kembali. Dengan berlari beliau menyusul ke tempat dimana Vin, Gopal, Genta, Novan, dan Salfa berada. Langsung disambut dengan raut gelisah, ditambah Salfa yang menangis, Pak Beni segera menduga.
"KINARAAAA…!!" teriak Vin yang kemudian menjauh guna mencari sahabat perempuannya. Novan pun ikut bersamanya, melakukan hal yang sama yaitu meneriakkan nama Kinara.
Hanya Gopal yang tertahan karena merasa tidak sanggup pergi jauh-jauh, atau nanti akan makin merepotkan. Ia hanya diam di posisinya bersama Salfa yang masih berusaha ditenangkan oleh Genta.
"Mbaknya kemana, Mas Naufal?" tanya Pak Beni dengan raut yang ikut-ikutan cemas setengah mati.
Gopal menggeleng lemah. "Hilang, Pak. Nggak tau kemana. Tadi katanya disini, tapi waktu disusul kesini nggak ada siapa-siapa."
"Duh Gusti…" balas Pak Beni yang sedetik kemudian melesat, ikut mencari dengan modal ingatan yang samar-samar karena bertemu gadis bernama Kinara itu hanya sekali, itupun sudah tiga hari lalu.
Salfa melepaskan diri dari pelukan Genta, dengan masih menangis dan kalut ia terduduk di bawah pohon kelapa yang semula diduduki oleh Kinara. "Lo kemana, Ra…?" gumamnya lantas memejam, merasakan kekhawatiran yang menghujam.
●●●●
Kira-kira Kinara dibawa kemana ya, teman-teman? Ada yang bisa nebak kira-kira apa yang akan orang misterius itu lakuin ke dia?
Gimana part ini? Makin seru apa makin bikin pusing? Semoga tetap penasaran dan terus ngikutin kelanjutannya ya. Semoga kalian selalu suka :)
Jangan lupa komentar biar nggak sider. Aku berharap banget ceritaku rame dengan kehebohan kalian wkwkwk. Jangan lupa votenya yaaaa luv u all^^
neiskaindria