
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
Tepat ketika fajar tiba, seluruh barang-barang dan koper yang semula ada di mobil sewaan yang rusak semua itu, telah dipindahkan ke mobil yang lain. Vin memberikan uang kompensasi sebagai pertanggung-jawaban atas mobil Pak Beni tersebut, namun beliau menolak dengan dalih, "Wong saya tidak melakukan apa-apa untuk kalian kok, jadi biar sekarang saya membantu sebisa saya. Yang terjadi biarlah terjadi, toh itu juga bukan kesalahan kalian semua."
Beruntungnya, teman mereka—Gopal, mendapatkan Pak Beni sebagai pemilik kendaraan yang mereka gunakan. Orang baik yang selalu berusaha membantu ketika mereka sedang kesusahan. Pak Beni juga memberikan KTP Gopal pada Vin, karena rombongan tersebut akan segera pulang kembali ke Jakarta.
"Terima kasih banyak, Pak. Kami nggak akan pernah melupakan bantuan Bapak, juga Si Mbah," ujar Vin yang kemudian menoleh ke laki-laki renta yang berdiri di dekatnya. "Saya harap, silaturahmi kita akan terus berlanjut."
Si Mbah mengangguk. "Insya Allah. Sekarang, segeralah berangkat."
Salfa, Genta, Kinara, dan Vin, diantarkan oleh Pak Beni menuju ke rumah sakit dimana dua teman mereka yaitu Novan dan Gopal berada. Untungnya, sudah tak ada gangguan sinyal sehingga mereka bisa menghubungi Novan. Teman mereka tersebut rupanya sudah menunggu di depan UGD. Salfa langsung melompat keluar tepat setelah mobil berhenti, menghampiri Novan dengan buru-buru.
"Gimana Gopal? Gopal nggak apa-apa, kan?" tanya Salfa panik pada Novan. Pertanyaannya menyambar bagai kilat seakan tak memberikan Novan waktu untuk menjawab. "Gopal baik-baik aja, kan, Van? Jawab!"
Novan mengangguk dengan sedikit senyum tipis yang ia sunggingkan. "Dia baru sadar subuh tadi. Sekarang masih di UGD."
"Ya udah, ayo kesana," ujar Salfa dengan menarik lengan Novan untuk segera menunjukkan jalan. Sementara yang ditarik, secara tak sengaja melihat tangan Kinara yang tertaut dengan tangan Vin. Erat sekali. Sedikit terhenyak, karena desiran aneh itu merebak memenuhi dadanya dengan cepat. "Ayo, Van, buruan!" ujar Salfa lagi, mengalihkan fokusnya.
Novan menunjukkan jalan dengan menahan gejolak di dadanya. Dari apa yang ia lihat, Kinara dan Vin sepertinya telah ada perubahan. Cemburu? Ya, sepertinya begitu. Novan tak mengelak bahwa ia merasakan itu. Namun, tentu saja, sekarang bukan waktunya memikirkan itu dulu. Gopal bahkan baru saja selamat dari maut, apalagi hal mencengangkan yang terjadi padanya sampai berhasil mencapai rumah sakit ini masih terputar jelas di kepalanya.
Rupanya, di dalam ruang yang Gopal tempati, pemuda itu tengah bercengkrama dengan seorang anak laki-laki. Tangan mereka saling adu membentuk simbol gunting, batu, dan kertas. Permainan sederhana yang sudah familiar di hampir seluruh penjuru dunia. Melihat itu, tentu saja teman-temannya melega luar biasa. Gopal sendiri yang masih dalam posisi bersandar agak terbaring, menatap senang menyambut mereka.
"PAAAALL!!" sahut Salfa tak dapat membendung perasaan meleganya. Langsung saja ia menghambur ke Gopal, memeluknya, membuat Gopal langsung merintih karena luka di perutnya tertekan.
"Ups, sorry… saking senangnya, Pal," ujar Salfa merasa bersalah.
"Lo baik-baik aja, kan, Sal? Kata Novan lo habis… kerasukan?" balas Gopal dengan ragu karena membayangkannya saja ngeri.
Salfa yang telah kembali ke posisi berdiri yang normal, tersungging kecil, "Ya, syukurlah ada yang bantuin kami. Genta yang jemput gue."
Gopal segera menoleh ke Genta yang baru ia sadari bahwa sedari tadi lebih banyak menunduk lemah. Menyadari ada yang tak beres, ia memperbaiki posisinya untuk lebih enak ketika mengutarakan pertanyaan ke Genta. "Ta, lo kenapa?"
Vin dan Kinara yang sejak tadi pun hanya diam, kini ikut menunduk kasihan. Seakan-akan apa yang Widji lakukan pada mereka berenam belum cukup, nyawa gadis tak berdosa pun dibuat melayang. Diandra yang sangat Vin ingat dengan pembawaan yang ceria, harus berakhir dengan cara sadis seperti itu. Rasanya, pertahanannya runtuh. Kepalanya menoleh dan bersembunyi di balik leher Kinara. Pemuda itu menyeka sesuatu yang tak lain adalah air mata.
Kinara pun ikut menangis ketika melihat Vin yang demikian. Tangannya lantas merengkuh tubuh pemuda itu, mencoba menenangkannya meski hatinya sendiri juga teras hancur. Gopal langsung menyorot ke mereka berdua. Kaget tentunya, mengapa tiba-tiba mereka begitu.
Genta yang menyadari ke arah mana Gopal menatap, secara otomatis mengikutinya. "Gue sendiri aja udah janji sama Diandra kalau gue nggak akan nangis. Kenapa kalian nangis?" ujarnya dengan nada tak enak yang sebetulnya terdengar bergetar.
"D-Diandra?" sahut Gopal. "Diandra… adek lo, Ta?"
Salfa hanya bisa mengatur napasnya berkali-kali agar tangisnya tak terlepas. Gadis itu sampai menatap ke langit-langit ruangan untuk menahan air matanya agar tak jatuh. Seperti halnya Genta, ia sudah janji bahwa dirinya tak akan menangis, yang itu bisa memberatkan langkah Diandra.
Akhirnya, Genta memilih keluar dari ruangan tersebut karena merasa tak bisa lama-lama disitu. Gopal dan Novan hanya saling pandang tak mengerti ketika menyaksikannya. Salfa pun menyusul keluar, dan ketika itulah Vin serta Kinara menceritakan semuanya. Hal yang membuat Gopal yang masih dalam kondisi lemah, makin lemah lagi.
Si adek yang ternyata bermana Lintang itu pun, yang tak lain adalah anak seorang dokter wanita yang menengok ke kamar mayat bersama Novan pada malam ia datang, meraih tangan Gopal. "Kakak itu sudah tenang, Mas. Diikhlaskan saja, ya," katanya dengan cara bicara yang lucu namun terkesan dewasa lebih dari usianya.
Gopal tak bisa berkata apapun, hanya mengangguk singkat. Setelahnya, giliran Novan lah yang bercerita tentang bagaimana cara ia dan Gopal sampai di rumah sakit tersebut, yang membuat Pak Beni sampai geleng-geleng nyaris tak percaya. Rasa cemburu Novan, rupanya bisa ia atasi karena memang ia pandai memisahkan antara masalah pribadi dengan kelompok. Sebenarnya, ia juga ingin memberikan dukungan dan penguatan untuk Genta, tapi biarlah teman dekatnya itu bersama Salfa dulu, ia tak mau menganggu.
Beberapa saat kemudian, Kinara yang baru mengingat akan bungkusan yang diberikan Si Mbah padanya sebelum mereka semua menuju ke rumah sakit, segera menyenggol lengan Vin. "Bungkusannya, yang buat Gopal."
"Oh iya," balas Vin yang juga baru mengingat itu. Segera tangannya merogoh saku jaket, kemudian membukanya perlahan.
"Apa tuh?" tanya Gopal yang keningnya mengernyit.
Vin belum menjawab karena ia masih fokus mengamati isi bungkusan tersebut. Sebuah daun dengan satu akar yang tipis namun tampak kuat. Kinara tadi memang menitipkan itu padanya, tanpa mengatakan apapun. Itu sebabnya ia sama sekali tak mengerti itu harus dibagaimanakan. "Diapain?"
"Si Mbah sih bilangnya kasih ke Gopal, gitu aja," balas Kinara yang juga bingung.
Lintang lantas mendekat, mengambil alih bungkusan itu dengan raut lucunya yang tak terlihat bingung layaknya orang-orang dewasa di dekatnya. Vin membiarkan saja, mengamati mau diapakan daun dan akar itu oleh Lintang. Kinara, Novan, dan Pak Beni pun saling pandang, penasaran.
Lintang tanpa mengatakan apapun langsung menelungkupkan daun itu ke kaki Gopal yang sakit. Akarnya, kemudian diikatkan agar daun tersebut menempel dengan sempurna. Di sela-sela kegiatannya, seorang dokter wanita datang. Sang ibu, yang juga dibuat heran dengan apa yang Lintang lakukan, namun beliau hanya diam memperhatikan.
"Daun dan akar ini sudah didoakan, khusus untuk mengobati luka Mas Gopal," ujar Lintang kemudian, membuat semuanya terhenyak.
"Kamu tau dari mana?" tanya si ibu, yang kehadirannya baru disadari semuanya detik itu juga.
Lintang telah selesai, baru lah ia menoleh ke si ibu. "Itu, perempuan di belakang Mama yang bilang ke aku."
Kaget, si ibu langsung membeku di tempat. Kinara langsung berpegangan pada Vin yang juga terkejut. Sementara Novan, yang memang sudah tahu bahwa Lintang bisa melihat hantu, hanya berdiri tenang dengan kedua tangan masuk ke saku.
"Siapa dia, Dek?" tanya Novan.
"Hantu suster," jawab Lintang dengan senyum lucunya.
●●●●
"Ta?" panggil Salfa lirih ketika menemukan Genta tengah duduk menunduk di satu bangku di taman depan rumah sakit. Gadis itu menyusul duduk. Menghapus satu air mata yang dengan beraninya menembus pertahanan yang ia buat. Berkali-kali ia mengatur dadanya yang kembang-kempis menahan sakit.
Mendengar kalimat maaf tersebut, Genta langsung kembali mengangkat wajah. "Maaf buat apa, Sal? Kamu nggak salah."
Salfa masih diam. Tidak bisa ia menangis di depan pemuda yang bahkan menahan mati-matian air matanya. "Karena masa lalu ayah aku yang sebabin semua ini. Adik kamu jadi korban," ujarnya lemah. Suaranya nyaris habis.
Genta langsung memeluk Salfa detik itu juga. Matanya memejam, merasakan betapa ia sangat menyayangi gadis itu. Seberat apapun yang ia alami, semua terasa lebih tenang ketika ia bersama Salfa. "Aku nggak akan pernah lepasin kamu lagi, Sal. Diandra pun minta kayak gitu, dan aku nggak mau ngecewain dia."
Salfa membalas pelukan Genta. Mengusap lagi punggung pemuda itu. "Kita ikhlasin ya, Ta. Biarin Diandra bahagia. Hidup kita masih berlanjut, Ta. Aku nggak akan sanggup nanggung rasa bersalah atas meninggalnya dia, kalau kamu terus kayak gini…"
"Iya, Sal. Kamu benar," balas Genta dengan parau, makin mengeratkan pelukannya. "Tapi gimana aku akan bilang ke orang tua aku soal dia?"
Salfa menghela pelan, sesak di dadanya sudah sampai level maksimal. "Kita hadapin orang tua kamu sama-sama, ya?"
Dan ketika itu lah, momen yang pernah terlewati antara mereka berdua kembali terputar. Masa-masa putih abu-abu yang menyenangkan, indah, dan penuh warna, dimana keduanya saling melengkapi. Yang dengan bodohnya, semua itu dihancurkan begitu saja oleh keras kepala Genta yang tetap ingin mempertahankan Liana—cinta pertamanya, di hatinya. Penyesalan itu nyata, namun sekarang seperti muncul dalam bentuk kelegaan karena Salfa bersedia menerimanya kembali.
"I love you, Sal."
Kalimat itu, diucapkan dengan segenap hati oleh Genta. Rasanya, untuk pertama kali, ia baru menyadari makna kalimat tersebut dengan sangat jelas ketika mengucapkannya pada gadis berambut keriting yang kini ia dekap erat. Salfania Adhista.
●●●●
Jakarta, 09:11
Pihak pondok pesantren mengirimkan lebih banyak santri lagi ke rumah yang membutuhkan pertolongan itu. Hari sudah berganti, dan Kyai Sa'id pun tahu bahwa musuh yang sesungguhnya telah mati. Hanyut terbawa ombak pasang di laut ketika proses semedinya bahkan belum selesai. Jadi kini, hanya tinggal membawa Dody kembali meski nyaris tidak mungkin sebab telah dibawa begitu jauh. Apalagi Dody sendiri lah yang sukarela menyerahkan diri, demi putrinya.
Cara yang digunakan sekarang adalah, menidurkan Dody di tengah-tengah dan dilingkari oleh para santri yang mendoakan. Itu dilakukan sampai matahari menyingsing. Tetap tak ada perubahan. Dody masih tetap meraung dengan gerakan meronta luar biasa.
"Gimana ini, Kyai? Harus dengan cara apa lagi?" tanya Pak Aji mulai resah, sementara sang guru tetap berdiri dengan raut tenang.
"Jangan menyepelekan Gusti Allah, Ji. Yang penting kita tidak berhenti mengusahakan yang terbaik."
Pak Aji mengangguk. Dilihat dari gelagat sang guru, sepertinya beliau sudah punya cara cadangan untuk dicoba jika ini masih tak berhasil juga. Pak Aji pun memiliki dugaan, kemudian menyusul Kyai Sa'id yang berjalan mendekat ke para santri.
"Kyai, apa Anda akan mengirim orang untuk menjemput Dody? Bukankah terlalu beresiko?"
Kyai Sa'id menoleh, lantas menghela pelan. "Iya, tapi tetap harus dalam batasan tertentu, tidak bisa terlalu jauh. Setidaknya, jika orang paling berharga untuk Dody memanggilnya langsung ketika di alam sana, jalan keluar akan ditemukan."
"Orang paling berharga di hidupnya?" sahut Nilam yang berada tak jauh dari dua laki-laki tersebut. "Salfa maksudnya?" tanyanya lagi dengan cemas. Jelas-jelas Nilam dengar tadi, Pak Aji sedikit ragu dan membawa-bawa kata 'beresiko'.
Baik Pak Aji maupun Kyai Sa'id sebenarnya paham betul akan kekhawatiran Nilam. Namun, itu cara yang bisa dibilang efektif meski tak ada lima puluh persen. Setidaknya, mereka berikhtiar untuk menyelamatkan Dody. Kyai Sa'id lantas mendekat beberapa langkah, menatap Nilam dan Wira secara bergantian.
"Tapi bukankah katanya Salfa ada di alam lain juga?" balas Nilam tak mengerti.
Pak Aji menjawab. "Ada yang menolong anak-anak itu di sana, Nil. Salfa sudah kembali."
"Dan setelah kembali, kalian mau mengirim dia kesana lagi?!" Kali ini nada pertanyaan Nilam sedikit meninggi. Ia kemudian menggeleng. "Maaf, saya tau bahwa itu cara untuk menyelamatkan suami saya, tapi saya nggak akan bisa mengambil resiko atas keselamatan Salfa."
Terdengar helaan napas dari Kyai Sa'id yang kedengarannya lebih berat dari sebelumnya, namun rautnya masih tenang. "Tenang saja, mereka berdua akan tetap pada batasan. Saya sendiri dan Aji yang akan menjaga batasan itu agar mereka tidak jauh-jauh."
Nilam langsung mengernyit, begitupun Wira yang berada tepat di sebelahnya. Mereka lalu bertukar pandang, namun tampak sekali bahwa Wira yang paling kaget karena bisa dibilang ia seperti bisa menduga maksud dari apa yang barusan Kyai Sa'id katakan.
"M-mereka berdua? M-maksudnya?" tanya Nilam.
Kyai Sa'id kemudian menoleh ke satu-satunya orang yang sejak tadi diam. Wira, dia tahu apa maksud dari tatapan beliau. Tubuhnya sontak langsung menegang karena sudah merasa bahwa rahasia yang dipendamnya diam-diam tanpa dibagikan pada satu orang pun, akan terkuak sekarang.
"Jemput ayahmu, Nak. Tapi kamu perlu menunggu kakakmu," ujar Kyai Sa'id, dan seketika itu, Nilam langsung menyorot kaget pada putranya. Ibu dua anak tersebut menyadari Wira tak berani menatap padanya, lantas beralih pandang ke Kyai Sa'id lagi, yang langsung diangguki seolah pertanyaan tak terucap tersebut dipahami dengan baik oleh beliau. "Iya, anak Anda, punya mata batin terbuka sejak dulu."
Pak Aji merasa tenang karena beliau tak perlu menjelaskan apapun meski sejak pertama bertemu Wira, beliau sudah tahu akan kemampuan anak itu, yang saat itu juga diketahui bahwa Wira merahasiakannya dari semua orang. Pak Aji sendiri juga makin yakin terhadap dugaannya ketika datang ke rumah ini kemarin, saat Wira tengah duduk bersama dengan temannya yang bukan manusia. Ya, Willy bukan manusia.
"Wir, k-kamu?" ujar Nilam dengan terbata, apalagi napasnya belum teratur karena banyak menangis.
"Iya, Buk. Itu benar," jawab Wira pasrah. Merasa bersalah karena ibunya mungkin akan mengira bahwa Wira tak ingin jujur selama ini. Padahal, satu-satunya alasan mengapa dia memendam kemampuan indera keenamnya diam-diam adalah karena tak ingin dianggap aneh, bahkan oleh keluarganya. "Maafin Wira udah ngerahasiain ini."
Nilam segera mengambil Wira kedalam pelukannya. Mencium puncak kepala putranya tersebut. Jika Wira saja merasa bersalah karena merahasiakan hal itu, apalagi Nilam. Sebagai ibu yang seharusnya mengerti apa-apa saja yang menganggu anak-anaknya, ia mendapati dirinya gagal. "Ibuk yang minta maaf, nggak pernah ngerti kalau kamu menjalani hal seberat itu, Wir…"
Di depan pintu, terdapat Willy yang menatap ke arah ibu dan anak tersebut. Wira dengan tak sengaja melirik kesana, melihat Willy yang tersenyum lega. Memang temannya itu telah berkali-kali menyarankan agar Wira tak memendam semua itu sendiri, jadi ketika sekarang semua terungkap, ia merasa senang juga. Wira membalas dengan tersenyum singkat. Kini, pada akhirnya kemampuan yang lebih ia anggap sebagai kutukan tersebut mencapai titik paling penting dimana barangkali, itulah alasan Tuhan memberikannya kelebihan tersebut.
●●●●
Siapa yang nggak nyangka disini angkat tangaaann!! Eh nggak bisa dong ya, angkat tangannya ganti komen aja kalau gitu^^
Gimana part ini? Semoga suka, ya. Seperti biasa, aku nggak bosen ngingetin untuk vote dan komentar sebanyak-banyaknya untuk bantu naikin rank AWAKENED.
Terima kasih sudah mampir, dan tunggu part selanjutnya yang akan lebih seruuuuuuu!
neiskaindria