AWAKENED

AWAKENED
Epilog



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Hari itu, rumah Salfa terlihat lebih ramai dari sebelumnya. Jika beberapa hari kemarin, dipadati oleh para santri pondok pesantren, maka sekarang lain. Tampak banyak laki-laki dengan seragam cokelat berlalu-lalang kesana kemari, melewati samping rumah itu sampai ke pekarangan belakang. Para polisi tersebut, tak lain tengah menyisir lokasi yang dilaporkan Genta dan Salfa setelah keduanya menghadap orang tua pemuda itu. Ya, meski sedang berduka, itu tak menghalangi Salfa untuk menepati janjinya ke Genta. Di rumah pemuda itu, keduanya menjelaskan semuanya.



Selama ke rumah Genta dan melanjutkan ke kantor polisi, Salfa menitipkan sang adik dan ibunya pada tiga temannya yang siaga di rumah. Kinara, Vin, dan Novan, yang menangani dan membantu segala keperluan untuk pemakaman Dody. Dan, sebagai permintaan maaf Nilam untuk keluarga Genta, ia akan mengurus pemakaman untuk Diandra juga, dan keluarga Genta rupanya menerima niat baik tersebut.



"Ya Allah, Paaaakk…!!" Terdengar suara seorang wanita histeris. "Anakku, Pak. Diandra ku…!!"



Terlihat sang suami si ibu alias ayah Genta, berusaha menenangkannya. Memberikan penguatan meskipun batinnya terkoyak luar biasa. Jika ada yang bilang air mata lelaki itu hanya keluar ketika sudah saking terlukanya, barangkali itu adalah hal yang benar. Seumur-umur, baru kali ini Genta melihat laki-laki yang ia panggil 'Bapak' itu menangis. Laki-laki yang ia lihat hanya sebagai seorang kepala keluarga yang tegas sekaligus penyanyang di waktu yang bersamaan, yang tak pernah terlihat lemah sedikit pun.



"Kita ikhlaskan dia ya, Buk… Seperti apa yang Genta bilang… Biar Diandra tenang disana…"



"Kenapa harus dengan cara seperti ini, Pak…?"



Ayah Genta menghela berat, masih dengan tangan yang memegangi pundak sang istri. "Ini suratan takdir…"



Genta yang sebenarnya tidak tega, tetap mendekat dan ikut menenangkan sang ibu. Hal yang membuatnya lega adalah, karena orang tuanya sedikitpun tak menyalahkan keluarga Salfa, terlebih keluarga Kinara. Satu-satunya yang mereka benci hanyalah pelaku. Widji Gayatri, yang saat ini tengah dicari oleh para polisi di Pulau K. Pukul sebelas tadi, autopsi telah selesai dan berhasil didapatkan sidik jari di wajah Diandra yang sama dengan sidik jari yang ditemukan oleh polisi di tembok bagian samping rumah. Laporan kemudian diteruskan ke Pulau K sesuai dengan keterangan para saksi yang tak lain adalah Salfa dan teman-temannya.



Sebuah mobil putih berhenti di antara banyak mobil polisi. Gopal, memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit dan datang ke rumah Salfa sebagai bentuk dari solidaritasnya. Dengan diantar sang pacar, ia menemui Salfa dan mengucapkan belasungkawanya. Jalannya sudah tidak pincang, sebab luka di kakinya sudah sembuh total yang ia dibuat terheran oleh hal tersebut.



"Sal, turut berduka cita, ya."



Salfa mengangguk sambil menerima pelukan Gopal sebagai bentuk dukungan. Gadis itu masih ingat akan luka di perut temannya sehingga membuatnya lebih hati-hati. Sesaat kemudian, Gopal berpindah ke Genta. Masih sama, mengucapkan belasungkawa karena temannya itu telah kehilangan adik perempuan yang sangat dicintai.



"Turut berduka ya, Ta. Semoga adek lo tenang disana," kata Gopal dengan menatap dalam.



Kinara dan Vin tak banyak bicara. Mereka bersama dengan Novan tengah menata bangku-bangku untuk orang-orang yang takziah. Kinara sempat pulang sebentar karena rumahnya memang dekat, untuk mengganti pakaian khas orang-orang yang berduka. Bukan berduka soal ayahnya yang lebih nyaman ia sebut 'mantan suami ibunya', namun untuk menghormati keluarga Salfa dan Genta. Vin pun sama, rumahnya yang dekat membuatnya juga bisa membersihkan diri sebentar. Berbeda dengan Novan yang dipinjami baju oleh Wira.



Gopal beserta sang pacar, bersama Genta dan Salfa juga menemui teman-temannya yang lain. Mereka menyambutnya dengan pelukan singkat. Ketika itu, ada rasa lega di hati Gopal. Bahwa rombongannya baik-baik saja. Bisa sampai kembali ke Jakarta tanpa kurang suatu apapun, bahkan malah ada kejelasan hubungan antara Salfa—Genta dan Vin—Kinara.



"Gue senang kita semua baik-baik aja. Yang gue sedihin cuma semua ini, sekarang ini," ujar Gopal yang berada di tengah-tengah teman-temannya, kemudian tatapannya dalam ke Salfa dan Genta. "Dan kalian, tetap tabahin hati, ya. Setelah ini apapun yang terjadi, gue nggak mau kita saling jauh. Tetap kayak gini ya, Guys. Sumpah gue sayang kalian semua!"



Ya, bagaimanapun, jarang sekali bagi Gopal untuk berbicara sepuitis itu. Kita semua mengenal Gopal yang selalu heboh dan paling suka bercanda. Tapi sekarang, kalimat tulus yang terlontar darinya, tidak dipungkiri berhasil mengundang haru biru dari teman-temannya. Semuanya berkumpul ke satu titik, yang diawali oleh Vin. Ia memeluk Gopal dengan tangan yang sempat menjitak kepalanya terlebih dahulu, baru disusul yang lain.



"Eh, eh, pacar gue dianggurin nih. Sini, sini!" seru Gopal kemudian, yang telah kembali ke sifatnya semula.



Lucu memang, bagi semuanya terkhusus Salfa dan Genta, juga Kinara, merasakan perasaan sedih dan bahagia yang berpadu jadi satu kesatuan yang justru kini membuat mereka tersenyum. Hal baik dari semua yang terjadi, adalah persahabatan mereka yang semakin erat. Kinara yang semula hanya kenal dekat dengan Vin dan Salfa saja, kini bisa membaur dengan Genta, Novan, dan Gopal juga. Kehilangan 'mantan suami ibunya', membuatnya mendapatkan ganti yang lebih baik berupa sahabat-sahabat baru.



●●●●



Suasana pemakaman berjalan dengan sangat khidmat. Orang tua Genta yang telah benar-benar ikhlas, menyaksikan pemakaman dengan doa yang melangit, bersamaan dengan disekanya air dari sudut mata. Sang ayah bahkan menguatkan hatinya dengan turun langsung ke liang lahat bersama Genta dan Novan, menerima jenazah Diandra dari orang-orang yang di atas. Bahkan, ayah Genta sendirilah yang melantunkan adzan di liang kubur. Bentuk ungkapan cinta sekaligus keikhlasannya untuk sang putri yang selalu jadi anak kecil di matanya. Diandra telah dikuburkan dengan layak. Bersebelahan dengan makam Dody.



"Tenang disana ya, Yah. Maafin Salfa selalu nyakitin Ayah dengan sikap Salfa…" lirih gadis yang rambut keritingnya ditutup oleh kerudung hitam itu.



"Kamu harus tau, Kak. Ayah banyak berubah karena rasa bersalahnya ke kamu. D-dia… dia sesayang itu sama kamu, Kak…" ujar Nilam yang di sebelahnya.



Salfa mengangguk menahan tangis, dan ketika wajahnya bersembunyi di bahu sang ibu, air matanya jatuh lagi. "Salfa yang bodoh nggak pernah bisa lihat semua itu, Buk… Salfa nyesel banget…"



Momen yang tepat, begitulah Gopal membatin ketika ponselnya berdering, menampakkan satu nomor yang ia simpan dengan nama Penyewa Rumah. Disebut tepat olehnya, karena ketika itu tepat setelah prosesi pemakaman selesai. "Pemilik rumah telepon gue."



Itu tentu mengundang perhatian dari Kinara dan Salfa yang berada tak jauh. Genta, Vin, dan Novan sepertinya juga menyadari bahwa ada sesuatu jika dilihat dari raut teman-teman mereka. Vin mengawali mendekat dan mereka berenam, ditambah pacar Gopal, menepi di dekat pohon kamboja. Gopal mengangkat telepon itu, raut mukanya berubah serius.



"Speaker, Nyet!" ujar Novan.



"Halo? Mas Naufal?" suara dari seberang telepon terdengar.



"Iya, halo, Pak?" balas Gopal.



"Ini saya baru pulang dari luar kota, Mas. Maaf, ini kenapa rumahnya kata para tetangga nggak didatangi siapa-siapa, ya? Mas Naufal tidak jadi kemari kah?"



Disitu, Salfa dan Novan, serta Gopal sendiri pun dibuat tercengang. Berarti benar, bahwa sedari awal Gopal tidaklah salah. Rumah itu memang rumah yang berbeda, dan foto rumah yang ia tunjukkan ke Vin memang tidak lah sama.



Lain halnya dengan tiga orang itu, Genta, Vin, dan Kinara justru saling lirik, tampak tak kaget sedikitpun. Karena posisi Gopal dan Novan yang di rumah sakit, serta Salfa yang kerasukan, wajar jika hanya mereka lah yang tahu sebenar-benarnya. Si Mbah sempat memberitahu mereka bahwa penunjuk arah (Maps) yang rombongan mereka ikuti telah disesatkan oleh Suri yang merupakan hantu suruhan Widji. Kunci rumah juga sebetulnya tidak cocok, namun lagi-lagi, Suri yang membuatnya seolah tepat.



Setelah telepon dimatikan usai Gopal berdalih bahwa tidak jadi berangkat kesana, dan akan mengirimkan kembali kunci rumah yang ia bawa, barulah tiga temannya yang tahu menceritakan semua. Hal yang membuat Salfa lagi-lagi merutuki dirinya sendiri.



"Harusnya gue nggak percaya Suri, ya? Sialan!" gerutunya.



"Lo nggak salah, Sal," sahut Genta.



Satu suara cukup mengagetkan tujuh muda-mudi tersebut. "Maaf, Mas-Mas, Mbak-Mbak?" ujar salah satu polisi yang rupanya menyusul ke pemakaman. "Saya membawa berita dari kepolisian Pulau K, mereka berhasil menemukan mayat yang diduga adalah Widji. Terdampar di pantai bagian selatan pulau itu."



DEG! Berita yang menohok bagi mereka semua, terutama Kinara. Meski ia merasa benci yang teramat, namun membayangkan mayat Widji saja, hatinya bergetar hebat. Belum juga mencerna apa yang dengarnya, si polisi kembali melanjutkan. "Pihak keluarga Widji, bisa ikut kami untuk memastikan mayat tersebut benar Saudara Widji atau bukan?"



Meski enggan Kinara akui bahwa Widji adalah keluarganya, namun ia mengangguk singkat hanya untuk teman-temannya. "Baik, Pak. Mari."




"Kita mulai ini sama-sama, kita akhiri juga sama-sama." Begitulah kata Vin yang mencoba menyemangati gadis berkacamata yang ia sayang itu.



●●●●



Para warga berbondong-bondong menonton pemandangan tak menyenangkan dari berita yang mereka dengar. Bahwa ada seorang pria yang terdampar di pantai dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya menggembung dan nyaris hancur karena terlalu lama berada di dalam air. Tak begitu jelas itu korban bunuh diri atau bagaimana, namun rumor yang beredar, mengatakan bahwa pria tersebut sempat melakukan ritual sesembahan ilmu hitam di pantai dari sisi lain pulau. Kabar bahwa ada perlengkapan santet dan kembang-kembang hanyut dari pantai lain yang seperti ditinggalkan begitu saja oleh si pelaku ritual, makin memperkuat asumsi tersebut.



"Ya Allah ambune! Busuk nemen ngene yo?" seru salah satu warga yang menutup hidung dengan kerah baju ketika mayat itu lewat di hadapannya. (Ya Allah baunya! Busuk sekali begini, ya?)



"Iyo, salahe dewe ngono iku. Nyembah kok nyembah iblis," komentar ibu-ibu yang lain. (Iya, salahnya sendiri itu. Nyembah kok nyembah iblis.)



Pihak kepolisian pulau K yang pagi tadi dikabari soal pencarian orang yang merupakan pelaku pembunuhan di Jakarta, segera mengirim gambar korban untuk kemudian menunggu konfirmasi dari pihak kepolisian Jakarta. Setelah dibenarkan bahwa mayat tersebut atas nama Widji Gayatri, pihak kepolisian pun menutup kasus itu secara resmi karena satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Diandra, telah meninggal dunia.



Sementara itu, di Jakarta, polisi yang duduk berhadapan dengan Kinara dan teman-temannya, kembali melanjutkan pembahasan. "Jenazah ayahmu akan segera dikirim kesini, untuk dimakamkan secara layak oleh pihak keluarga."



Langsung saja Kinara menggeleng. "Nggak, Pak. Makamkan disana aja. Lagipula dia sudah nggak ada keluarga disini. Sudah cerai dari Mama saya bertahun-tahun lalu. Anggaplah dia bukan ayah saya!" balas gadis itu ketus.



Tangan Salfa mengusap pelan bahunya. "Ra, lo yakin? Gimana pun dia Bokap lo—"



"Itu hukuman buat dia, Sal!" sergah Kinara cepat.



Salfa menggigit bibir bawahnya, lantas menghela pelan. "Gue cuma nggak mau lo nyesal kayak gue, Ra…"



Satu tetes air mata Kinara jatuh tanpa dapat ia tahan lagi. Sejak tadi matanya sudah panas menahan mati-matian untuk tidak menangis. Kini, yang ia lakukan untuk merealisasikan rasa kecewanya, hanya mengepalkan tangan. Sulit sekali menjelaskannya, seakan-akan tak akan cukup kata yang ada untuk mendefinisikan perasaan anomali di dadanya, dimana ia merasa kehilangan dan marah di saat yang bersamaan.



"Dia pantas dapatin itu. Biarin dia dapatin balasan atas yang dia lakuin, Sal…" jawab Kinara dengan suara yang bergetar, lalu sedetik kemudian kepalanya digapai oleh Vin. Gadis itu lantas melingkarkan tangannya ke pinggang pemuda itu. "Dia pantas dapatin itu, Vin."



Sampailah cerita ini pada akhir dari semua yang terjadi. Kejadian yang Salfa, Genta, Kinara, Vin, Gopal, dan Novan alami, akan selalu jadi cerita tak terlupakan sampai kapanpun juga. Banyak hal baru yang mereka pelajari. Tentang hidup, tentang yang jahat dan yang baik, tentang hati manusia yang tak tertebak, dan tentang persabatan yang semakin indah terjalin. Hidup yang membawa bahagia, luka, dan kecewa. Yang segala hiruk-pikuknya ada untuk mewarnai semesta dengan cerita-ceritanya.



Bagi Genta, menjalani hari-hari barunya sebagai seorang dengan mata batin terbuka, ia jalani dengan ikhlas hati sebab ia memiliki Salfa serta Wira yang bisa ia ajak bicara soal hal-hal tersebut.



Bagi Novan, yang menjadi satu-satunya penyandang status jomblo dalam geng nya, siap untuk pelan-pelan melupakan Kinara dan membuka hati untuk siapa saja yang memenuhi kriterianya.



Bagi Gopal, apa yang pernah terjadi padanya di Pulau K, memotivasinya untuk mengikuti bela diri agar ia bisa cekatan dalam mengatasi hal-hal tak terduga yang sewaktu-waktu membahayakannya.



Bagi Vin, semua yang terjadi membuatnya jadi orang yang lebih berani jujur pada dirinya sendiri, atas perasaan dan apa-apa saja yang dirasa lebih baik diungkapkan, sehingga tak terus kalah oleh rasa gengsi.



Bagi Kinara, semua ini serupa trauma yang mungkin akan membekas hingga nanti, namun menjadikannya pribadi yang lebih berhati-hati serta memahami orang lain dengan baik, sesuai jurusan yang ia tekuni: psikologi.



Bagi Salfa, jiwa yang 'terbangkit' yang semula ia anggap beban, kini berubah jadi apa yang ia syukuri. Bahwa itu semua memang diberikan oleh Yang Maha Kuasa untuknya sebagai pembelajaran, seperti pepatah yang mengatakan "pengalaman adalah guru terbaik setiap orang".



Dan satu hal lagi bagi Salfa, adalah dirinya yang dibuat lebih menghargai waktu yang ada dengan melakukan hal terbaik yang ia bisa, untuk memperbaiki segala hal yang berjalan tak sesuai seharusnya. Kehilangan ayahnya, adalah hal tersakit yang pernah ia rasa. Namun, gadis itu juga tahu bahwa tak ada guna menyesali apapun, jika dirinya pun tak berubah menjadi lebih baik. Janjinya pada diri sendiri, adalah tak akan mengulang kesalahan yang sama lagi. Semua sudah terlambat, namun kasih sayang untuk ayahnya tak akan berhenti.



Salfa melirik Genta yang berjalan di sebelahnya tanpa pemuda itu sadari. Hatinya kembali jatuh sejatuh-jatuhnya pada Genta Megantara—seorang yang berhasil membawakan kepercayaan pada laki-laki di hidupnya lagi. Apapun yang terjadi sebelum semua ini, yang membuatnya sedih berlarut-larut karena satu kesalahan Genta, sudah ia terima dengan lapang dada, dan siap memulai segalanya lagi dengan pemuda itu.



Terima kasih, Tuhan. Terima kasih atas pembelajaran yang Engkau berikan.



"Setelah ini, kita jalani sama-sama ya, Sayang?" ujar Genta yang menggandeng Salfa sepeninggal mereka dari kantor polisi.



Salfa menoleh sembari tersenyum. "Makasih untuk semuanya, Ta."



Terlihat Genta yang mengernyit, bahkan ketika mereka sudah menjadi sepasang kekasih, Salfa masih malu-malu memanggilnya dengan panggilan khusus. Hal yang Genta sukai dari Salfa yang sama sekali tak pernah berubah. Selalu menjunjung rasa sungkannya pada siapa saja. Tapi untuk kali ini, sebagai penghiburan tersendiri untuk semua kesedihannya, Genta mengharapkan Salfa membalasnya.



"Kok masih 'Ta' manggilnya?" goda Genta yang menghentikan langkahnya.



"Emang maunya dipanggil apa?" balas Salfa ikut berhenti.



Meski Salfa sebenarnya tahu, ia masih enggan untuk menanggapi permintaan Genta. Ia tak mengatakan apapun lagi, namun tindakannya yang spontan berhasil menciptakan getar-getar istimewa di hatinya sendiri.



Cup.



Genta membulatkan mata ketika Salfa tiba-tiba mencium pipinya. Sebuah senyuman menyusul, menghiasi wajah rupawannya. Ia mengambil tangan Salfa lagi, menggenggamnya erat namun terasa tulus. Hangatnya merebak sampai ke dada. Kembali keduanya berjalan menyusul teman-teman mereka yang sudah berada cukup jauh di depan.



"I love you, Ta/I love you, Sal."



Salfa dan Genta sontak menoleh karena dengan tak sengaja mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan. Lagi, senyum pun tersungging dari keduanya. Kini, dua orang yang sama-sama kehilangan, siap untuk saling membahagiakan.



●●●●



YEEAAYYYYYYYY FINISH!!



Aku akan kasih tambahan part-part bonus di luar alur ya, karena memang ceritanya selesai sampai disini. Cuap-cuap lengkap ada di part selanjutnya. Jadi simak teruuuuss, terima kasih!



neiskaindria