AWAKENED

AWAKENED
Dua : Tak Seimbang



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Pagi itu seperti biasa, Salfa bangun lebih awal ketika memiliki tugas kuliah yang belum selesai. Kebiasaannya memang demikian, mengerjakan apapun ketika sudah mendekati deadline. Kini Salfa tengah duduk manis di meja belajarnya, mengerjakan dengan segera karena kelasnya akan dimulai jam delapan nanti.



Ditengah-tengah kegiatannya, dari sudut mata, ia seperti menyadari seseorang berdiri di pojok kamarnya. Fokusnya sudah mulai terganggu, namun ia mencoba tak memikirkannya, dan melanjutkan tugas yang belum selesai itu. Baginya, menjadi anak Teknik Sipil membuatnya kalang kabut, terlebih, itu bukan jurusan yang ia mau. Tapi, demi membuat Ayahnya senang untuk sekali itu, ia menuruti saran tersebut.



Kreekk...



Suara itu terdengar ngeri di telinga Salfa. Ia menyadari lemari pakaiannya terbuka sendiri, padahal, ia tak lupa menguncinya tiap kali usai mengambil apapun. Tak beranjak dari kursi, Salfa memperhatikan terus lemari itu. Hingga, pelan-pelan, ia melihat jari-jari pucat keluar dari sana. Spontan, gadis itu berdiri dan berjalan mundur menjauhi lemari.



"Siapa?" tanyanya, setelah memahami bahwa itu bukan dari golongan manusia.



Tak ada jawaban. Tapi tangan itu masih disana. Merasa muak karena dirasa sudah cukup lama menunggu, Salfa mendekat. Bersamaan dengan langkah kakinya menuju lemari, tangan itu masuk. Dan tepat ketika ia sampai di depan lemari yang satu pintunya masih juga terbuka lebar itu, tangan tersebut, hilang. Tak ada apapun disana selain pakaian-pakaian yang digantung di hanger.



"Tolong saya..."



DEG! Napas Salfa terasa tercekat mendengar suara yang tepat berada di belakangnya. Hal itu, membuat bulu di leher bagian belakangnya berdiri semua, merindingnya terasa sampai ke telinga. Dekat sekali rasanya.



Suara laki-laki yang ringkih dan bergetar itu membuat Salfa tak berani menoleh. Ia hanya meringis menahan tangis dengan melantunkan doa-doa yang ia bisa. Tangannya, perlahan menutup pintu lemari, karena manyadari, ada kaca yang tak begitu besar pada bagian luar.



Setelah kaca terpampang, baru Salfa ketahui. Laki-laki itu, si pedangan asongan. Masih lengkap dengan kaos hijau lusuhnya. Dan bukan seperti pertama kali ia melihat bapak itu, kini wujud yang ditampakkannya adalah wujud dimana Salfa telah dibuat berteriak kencang di malam mengerikan itu.



"B-bapak?" lirih Salfa dengan menutup mulutnya dengan satu telapak tangan. "Bagaimana saya bisa m-menolong? S-saya harus memberitahukan apa ke keluarga Bapak?"



"Mereka tidak tau kalau saya meninggal... Saya minta tolong..."



"Kenapa Bapak nggak coba menemui mereka sendiri?" pertanyaan bodoh itu terlontar dari mulut Salfa.



"Mereka tidak seperti kamu... Mereka tidak bisa melihat dan mendengar saya... Tolong saya..."



Sepertinya, Salfa sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Rasa takut itu pelan-pelan hilang entah kemana ketika melihat bapak itu menangis. Rasanya, sesak. Sesak sekali. Seolah Salfa bisa merasakan kesedihan mendalam dari bapak-bapak itu. Setelah sempat menghapus setetes air mata yang jatuh di pipinya, Salfa kembali menatap ke cermin namun bapak itu sudah hilang. Lenyap.



"Halo, Ra? Gue jemput lo sekarang ya. Temenin gue ke jalan itu. Gue harus segera selesaiin ini," ujar Salfa melalui sambungan telepon yang sesaat tadi langsung ia ambil di atas meja belajar. Gadis itu pun segera memasukkan ponselnya ke dalam sling-bag kecil, mengambil jaket, dan mengikat rambutnya.



●●●●



Jam menunjukkan pukul tujuh pagi sesampainya Salfa dan Kinara di jalan itu. Belum banyak pedagang karena jalan tersebut memang ramai hanya ketika sore sampai malam. Meski begitu, Salfa masih berharap mendapatkan informasi yang ia cari dari warteg-warteg yang memang buka sejak pagi sebagai tempat tujuan orang-orang yang mencari sarapan.



"Permisi, Bu?" sapa Salfa pada pemilik warteg dimana ia dan Kinara pernah diberi air putih, beberapa hari yang lalu. Ibu-ibu yang sedang mengambilkan nasi untuk seorang pembeli menyambut Salfa layaknya orang yang menyambut pembeli. Sama sekali belum sadar bahwa dua gadis yang datang itu pernah berada di warungnya saat terjadi kecelakaan tempo hari.



Usai meladeni pembeli, ibu itu beralih ke Salfa dan Kinara yang menunggu. "Mau pesan apa, Neng?"



Setelah dengan seksama memperhatikan dua gadis di hadapannya, pemilik warteg itu seperti sedang mengingat sesuatu. "Oh, ini bukannya yang jatuh depan warung waktu itu ya?"



Keduanya mengangguk. Kinara menoleh ke Salfa, temannya itu hanya diam, pasti bingung hendak membuka percakapan darimana. Bagaimapun, tidak semua orang mempercayai yang namanya hantu jika tidak pernah mengalaminya sendiri. Kinara pun mengambil inisiatif untuk bertanya, mewakili Salfa.



"Bu, maaf mengganggu waktunya. Kami kesini, mau menanyakan beberapa hal."



Kaget, ibu itu tertegun sebentar. Barangkali tak biasa berhadapan dengan kalimat demikian. "Duduk, duduk, Neng," ujar ibu itu kemudian seraya menarik dua bangku plastik ke tengah-tengah warteg, tepat di balik etalase berisikan lauk-pauk dan beberapa macam sayur. "Ada apa ya?"



Salfa dan Kinara saling pandang. Yang satu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Satunya lagi sibuk memainkan kedua kaki di bawah bangku.



Hingga, ibu itu kembali membuka suara. "Ada apa, Neng? Jangan buat Ibu takut," ujarnya sambil memegang dada.



Kinara segera menjawab, setelah sempat menoleh dan mendapati Salfa masih diam. "Soal bapak-bapak yang meninggal itu. Apa Ibu kenal?" tanyanya pelan, ragu.



"Ha? Pedagang asongan itu?" kaget si pemilik warung, dibalas dengan anggukan dua gadis di depannya. "Ibu sih nggak kenal ya. Soalnya jualannya pindah-pindah, nggak selalu disini. Pernah beberapa kali kesini, cuman beli nasi putih aja. Ibu nggak pernah tanya apa-apa, orang Ibu mikirnya paling si bapak punya lauk sendiri, gitu."



"Kenapa memangnya, Neng?" sambung ibu itu lagi karena sudah cukup penasaran.



Salfa benar-benar gelagapan. Harus bagaimana ia menjelaskan? Apa iya dirinya harus mengatakan bahwa pedagang asongan itu menemui dirinya, meminta tolong? Orang waras mana yang akan percaya hal semacam itu? Terlebih, ia tinggal di ibukota yang notabene adalah pusat berkembangnya teknologi dan saksi perkembangan jaman, dimana orang-orangnya modern dengan pemikiran yang logis. Ya Tuhan, kepalanya serasa mau pecah.



"Gini, Bu. Saya butuh tau dimana keluarga bapak itu. Kira-kira dimana saya bisa nemuin orang yang tau?" tanya Salfa kemudian, memilih tak ingin makin lama berbasa-basi.



Ibu pemilik warteg itu lantas terdiam sejenak. Sampai, seseorang yang masuk warung membuat fokus tiga orang tersebut beralih. Ada pembeli, mengharuskan ibu itu segera meladeni makanan pesanannya. Salfa dan Kinara pun menunggu, lagi.



"Gini, Neng. Ibu baru ingat," ujar si ibu yang kembali duduk setelah pembeli tadi keluar warteg. "Bapak itu kayaknya bukan asli orang sini. Logatnya kayak orang Bandung asli, sundanya kental banget."



Bandung? Salfa dan Kinara kembali saling tatap. Sesulit ini ternyata. Bandung jaraknya cukup jauh, perlu ditempuh naik kereta jika tak memungkinkan menggunakan motor atau kendaraan pribadi. Mereka berdua memang berani menggunakan motor, namun pergi tanpa pamit membuat Salfa ragu dan takut kalau sesuatu terjadi di jalan. Mau naik mobil? Mereka sama-sama tidak bisa menyetir.



Kinara yang paham di luar kepala apa-apa saja yang dipikirkan Salfa, kemudian berbisik pelan, "Kalau emang rumahnya disana, gue temenin kok, Sal."



Beruntung Salfa punya sahabat yang selalu mengerti keadaannya. Tak pergi ketika susah, sama-sama bersyukur ketika senang. Setelah mengangguk pada Kinara, Salfa pun beralih lagi ke pemilik warteg. "Kita harus tanya ke siapa ya, Bu?"



"Setau Ibu sih, bapak itu kalau di sekitaran sini, biasanya duduk-duduk sama kakek-kakek di sebelah sana," tunjuk si ibu ke arah sebuah teras toko yang saat itu masih tutup.



"Kakek-kakek?" balas Kinara dengan mengernyit.



Ibu itu mengangguk, namun menunjukkan ekspresi aneh. "Tapi orangnya agak-agak, Neng. Si kakek juga belum kelihatan di sekitar sini lagi sejak sebelum kejadian sampai sekarang."



Dilihat dari cara bicaranya, baik Salfa maupun Kinara langsung mengerti apa yang dimaksud. Sampai sini, lebih sulit lagi. Tapi tak ada pilihan. Kakek-kakek itu mungkin bisa menjawab pertanyaan mereka.



"Gimana nih, Sal?" tanya Kinara ketika sampai di depan toko. Disana ada satu bangku beton. Tangannya menarik Salfa untuk ikut duduk.



"Ya gimana? Nungguin lah," jawab Salfa dengan pasrah.




"Nanti sore deh, kita kesini lagi. Masih ada hari besok, Sal."



"Klise banget? Orang-orang banyak yang ngomong gitu tapi nggak pernah mikir ya. Harinya emang ada, tapi kitanya yang belum tentu ada, Ra."



Kinara langsung memanyunkan bibirnya, merasa tersindir dengan kata 'nggak pernah mikir'. Meski begitu ia tahu, ucapan Salfa bukan bermaksud menyindirnya, melainkan hanya ungkapan uneg-uneg semata. "Ya deh, gue nggak pernah mikir...!" balasnya dengan sedikit dibuat-buat. "Udah ah ayo, lo kan ada kelas."



Beranjak hendak menuju motor yang diparkirkan di dekat warteg ibu-ibu yang mereka temui tadi, suara serak seseorang menyapa. "Nyari saya?"



Es teh manis yang dibeli Kinara di warteg tadi kini jatuh menciptakan genangan di tanah. Terkejutnya bukan main hingga tangannya hilang keseimbangan dalam memegang minumannya. Salfa pun sama kagetnya. Dipindai orang itu dari atas sampai bawah. Pakaiannya amat lusuh dan kotor. Laki-laki tua itu berdiri dengan tongkat kayunya. Bertelanjang kaki, dan mengenakan celana yang bolong-bolong di banyak sisinya.



Itu adalah, kakek-kakek yang mereka berdua tunggu.



Namun ada satu hal yang menurut Salfa ganjil. Dengan tampilan yang demikian, umumnya, bau kakek itu tentu menyengat. Tapi ini tidak. Malah aroma seperti daun pandan yang direbus yang kini menyapa indera penciumannya. Sangat harum.



"Yang membuat orang jadi buruk itu ambisi. Buruk di luar, kadang belum tentu buruk di dalam. Kalian-kalian ini, anak ingusan, jangan sok menilai orang lain hahaha," ujar kakek itu yang membuat Salfa dan Kinara tertohok.



Benar kata ibu pemilik warteg tadi.



Tak lama kemudian, sekelebat bayangan terlihat oleh Salfa. Sukar dijelaskan, tapi intinya, si kakek seolah seperti memiliki bayangan lain di dalam dirinya. Yang tampak bersinar terang. Perkulitannya bersih. Kakek itu kini tampak seperti layer yang bertumpuk, dan menyaksikan itu membuat kepala Salfa sangat pening.



Kinara yang menahan temannya yang hendak jatuh, sempat melirik ke si kakek. Ia melihat si kakek membulatkan matanya beberapa saat ketika melihat Salfa.



"Oh... Jadi kamu yang akan membantu Karni?" tanya kakek itu.



"Karni?" bingung Salfa dan Kinara.



"Karni rumahnya di Bandung daerah perbatasan. Istri dan anaknya disana. Sengaja tidak dibawa kesini, agar tidak tau apa pekerjaan Karni. Dia pernah kena tipu orang, menjanjikan kerja kantoran. Bangsat memang," ujar si kakek, tanpa memperhatikan yang diajak bicara. "Dua puluh tahun Karni di Jakarta. Belum tentu setahun sekali pulangnya. Si anaknya itu tidak tau diri, selalu menghabiskan uang, tanpa tau bagaimana bapaknya disini makan cuman nasi putih, demi bisa kirim uang kesana."



Setelah si kakek mengatakan semua itu, beliau langsung mengambil sebuah kertas dari dalam tas kreseknya. Memberikan itu pun tanpa melihat siapa-siapa. Kinara mengambilnya. Ketika dibuka, rupanya itu adalah alamat. Mata Kinara membulat, segera menunjukkan itu ke Salfa yang peningnya sudah lumayan bisa ia atasi. Seakan-akan, kakek itu tahu apa yang mereka cari dan sudah menyiapkannya.



Segera ketika itu Salfa berpikir. Barangkali, ini semua adalah salah satu tujuan Yang Kuasa memberikan kelebihan untuknya. Menjadi perantara, antara yang hidup dan yang mati. Ketika itu juga ia langsung bertekad.



"Terima kasih, Kek. Saya kesana sekarang."



Si kakek tersenyum, kemudian langsung berlalu. Meninggalkan begitu saja dua gadis yang masih terpaku itu. Lagi, Salfa dan Kinara saling tatap. Pandangannya lalu turun membaca sekali lagi alamat tersebut.



●●●●



Memang tidak sopan pergi tanpa pamit. Salfa sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa dirinya se-spontan ini. Berbeda dengan Salfa, Kinara tampak biasa saja melakukannya. Jelas itu mengundang tanya di kepala Salfa.



"Lo nggak ngerasa aneh, pergi nggak pamit sama Nyokap lo?" tanya Salfa.



Kinara yang sudah kembali memegang es teh manis setelah sempat membeli untuk kedua kalinya pagi ini di depan stasiun, hanya meringis singkat. "Biasa aja. Ntar kalau sampai rumah baru bilang."



"Iya kalau sampai, kalau nggak?" ketus Salfa.



Sontak, Kinara mengubah posisi duduknya lebih condong ke Salfa. "Sal, bisa nggak sih, dalam segala hal lo tuh positive thinking gitu walaupun sedikit? Perasaan, lo apa-apa kayak dibuat horror gitu, mentang-mentang sekarang bisa lihat begituan."



"Ra, minggirin kaki lo!" sergah Salfa cepat.



Seorang wanita menggendong sesuatu yang berdarah-darah tengah berjalan dengan menangis. Kaki Kinara posisinya tengah diluruskan ketika itu, sehingga Salfa pun memintanya memperbaiki duduk untuk memberi jalan.



"Ada apa, Sal? Ada yang lewat ya?"



Salfa tak langsung menjawab. Rasanya, ia kehilangan selera untuk memakan camilan yang ia beli bersamaan dengan Kinara membeli es teh tadi. Yang digendong wanita itu seperti bayi, tapi belum berwujud sempurna. Mungkin kah korban keguguran?



"Lupain lah, Ra."



Semakin lama di kereta, Salfa merasa makin banyak yang berlalu lalang, macam-macam bentuk. Ia pun memilih untuk tidur saja daripada makin stress. "Kalau sampai, bilang. Jangan turun sendiri," candanya pada Kinara sebelum memejamkan mata.



Baru saja nyaris tertidur, suara ponsel membuat Salfa tersentak bangun. Untuk mengumpat saja rasanya tak sempat. Diliriknya nama yang terpampang di layar ponsel. Andini, teman sekelas kuliahnya. Perasaannya sudah tidak enak.



Belum juga ia mengatakan halo, satu suara menyergahnya dari seberang telepon. "MAKSUD KAMU APA? Ini bukan tugas yang main-main lho, Salfa! Kamu menyepelekan saya?! Mau saya kasih nilai C kamu?"



Mati, Sal. Mati aja.



Itu suara Pak Rusli, dosennya pada mata kuliah pertama hari ini. Memang tugas makalah yang dibelikan itu sudah mundur sampai dua minggu lamanya, dan hari ini adalah batas maksimalnya. Tak ada maaf lagi untuk yang belum menyelesaikan tugas beliau. Salfa sebenarnya sudah terpikirkan akan hal itu, sehingga sempat ia bicara pada Andini untuk menemaninya ke rumah Pak Rusli malam nanti.



Tapi, malah jadi begini. Pak Rusli marah besar. Salfa pun hanya bisa menunduk diam setelah dosennya mematikan sambungan telepon. Meski sempat ada chat masuk dari Andini, bahwa yang kena marah bukan hanya Salfa, melainkan ada juga enam mahasiswa lainnya, namun tetap saja bentakan tadi membekas di pikirannya.



"Kenapa, Sal? Kok pucet gitu?" tanya Kinara yang mulai panik.



Salfa menghela berat. "Nggak tau lah, Ra. Gue sekarang buntu banget. Kayak nggak bisa seimbangin antara real-life sama semua ini."



Mereka yang berlalu-lalang tanpa dapat dilihat sembarang orang, makin membuat hati Salfa tak karuan rasanya. Matanya tajam menyorot mereka semua dengan penuh kejengkelan. Mengapa? Mengapa hidupnya harus sampai seperti ini? Melihat mereka saja kadangkala masih membuat Salfa tak berani berkutik karena takut, ditambah lagi semua hal di kehidupan nyatanya antara keluarga, masalah hati, dan pendidikan.



Tuhan, mengapa hidupku seperti ini? Mengapa berat sekali?



●●●●



Balik lagi sama AWAKENED. Gimana part ini? Semoga kalian suka dan makin tertarik ngikuti ceritanya ya, teman-teman^^



Jangan lupa tambahkan AWAKENED ke reading list kalian, selalu nantikan update-an nya. Bagikan juga ke teman dan keluarga biar nggak horror sendirian hehe^^



neiskaindria