
[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]
Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......
"HALO, MAS GENTA?"
Suara nyaring itu membuat Genta menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia memeriksa daun telinganya baik-baik saja atau tidak. Khawatir pendengarannya akan terganggu setelah yang dilakukan adiknya tersebut. Ia menghela pelan kemudian.
"Selalu gitu. Nggak kasihan sama telinganya Mas Genta?" balasnya masih berusaha sabar.
"Hehehe," adiknya nyengir di seberang telepon. "Eh, Mas, jadi ke Pulau K? Jadi berangkat besok?"
"Jadi."
"Berarti, ketemu Mbak Salfa, dong?"
"Iya."
"Wahhhh, keren nih. Ketemu lagi cie, cie."
"Apasih, Dek!"
Suara di seberang telepon kemudian berubah jadi menyeramkan karena adiknya terkekeh makin kencang. Barangkali karena telah berhasil membuat dirinya kesal. Seorang Genta memang paling tidak suka jika diajak membahas soal seseorang yang bisa dibilang spesial di hidupnya kalau bukan dia sendiri yang mengawali.
Tapi tunggu, mengapa ada suara-suara riuh ketika didengarkan lebih seksama?
"Dek, kamu lagi dimana?" tanyanya heran.
"Di angkot, ini mau balik ke kost."
"Oke, ati-ati."
"Mas Genta yang ati-ati. Pulau itu kan jauh, Mas. Mbak Salfa dijagain, ya?" ujar sang adik masih berusaha menggoda.
"Udah lah, jangan julid," balas Genta malas.
"Mas?" Entah kenapa mendengar panggilan itu, nadanya terasa lain untuk Genta.
"Kamu nggak kenapa-napa, kan?" tanya Genta kemudian, rasa cemas itu mendadak menghinggapinya. "Kamu sakit?"
"Enggak, kok. Nggak apa-apa tuh."
"Kok manggilnya gitu banget?"
"Gitu gimana?"
Genta lantas menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, karena merasa konyol. "Nggak jadi."
"Aku manggil tadi tuh, mau minta oleh-oleh," jawab sang adik kemudian.
"Mau apa?"
Terdengar adiknya nyengir lagi. "Nggak banyak, kok. Satu aja."
"Iya apa?"
"Balik sama Mbak Salfa, Mas. Cuma itu."
Harusnya, Genta bisa biasa saja, ya. Tapi ini rasanya kenapa lain? Seperti ada yang berbeda entah apa itu. Genta sendiri juga baru kali ini merasakan seperti sekarang. Ia tahu, memang sejak lama adiknya penasaran dengan Salfa-gadis yang memang selama ini sangat sering ia ceritakan. Barangkali, perasaan aneh yang menyeruak ke dalam benaknya tersebut tak lain adalah terharu. Baru kali ini adiknya se-care itu dengan gadis dalam hidup Genta.
"Mas?" panggil adiknya kemudian karena tak kunjung mendapat jawaban. "Bisa, kan?"
Genta menghela pelan, merasakan seluruh perasaannya untuk Salfa kian jelas yang kian jelas. "Semoga ya, Dek."
●●●●
Gadis berambut pendek itu melega setelah mendengarkan jawaban kakaknya di telepon. Ia memang sedang naik angkot, seperti apa yang ia katakan tadi. Namun bukan untuk kembali ke kost, melainkan ke stasiun.
Sore hari di kota Bandung kali ini tak seperti sore biasanya. Rasanya, kedamaian itu nyata. Seolah melarangnya untuk meninggalkan Bandung. Namun, ia perlu ke Jakarta. Menjalankan misinya. Apa lagi kalau tidak untuk bertemu Salfa? Ia ingin ke rumah Salfa, kenalan dengan gadis yang sering Genta ceritakan.
Gadis itu bernama Diandra. Ia mahasiswi di salah satu universitas di Bandung. Baru semester satu. Karena rumahnya di Jakarta, ia jadi anak kost di Bandung, sekaligus melatih dirinya menjadi gadis yang mandiri. Sekarang, sengaja ia pulang ke Jakarta tanpa mengabari orang rumah. Itu memang sudah kebiasaannya. Pulang tiba-tiba, mengejutkan ayah, ibu, dan kakaknya. Yang tahu bahwa dirinya pulang hanya teman satu kost-nya. Gadis itu bilang kalau mau ke Jakarta beberapa hari.
"Nggak sabar deh ketemu Mbak Salfa," gumamnya penuh semangat. Kini ia sudah duduk di bangku kereta. Menikmati es krim yang sempat dibelinya di depan stasiun tadi.
Diandra mendengar bahwa Salfa tidak tahu kalau Genta ikut. Menurutnya itu pasti akan sangat canggung bagi Salfa. Itu sebabnya ia hendak menemuinya sekarang, memberitahu Salfa, sekaligus memintakan kesempatan untuk kakaknya. Dari apa yang Genta ceritakan, Diandra meyakini bahwa Salfa adalah gadis yang sangat baik. Pasti setelah ia menceritakan semua tentang perasaan kakaknya, Salfa akan luluh dan membuka diri untuk menerima kakaknya lagi.
"Semoga balik-balik mereka beneran dekat lagi, aamiin!" doa Diandra di sela-sela menikmati es krim vanilla itu.
Gadis itu juga asyik menikmati camilan yang dibawanya, sambil memandangi luaran yang dengan cepat tertinggal karena laju kereta api memang sangat cepat. Hal itu membuat Diandra tak merasa bahwa telah sampai. Ketika dirasa laju melambat, baru lah ia celingak-celinguk ke sekitar mendapati orang-orang yang mulai bangkit dari bangku masing-masing, bersiap turun.
Ya, Diandra memang gadis yang selalu heboh dimanapun dia berada, manja, dan seperti anak kecil. Tapi meski begitu, ia adalah gadis yang cenderung tak suka mengabadikan momen. Seperti contoh: ia tidak suka foto. Kamera ponselnya bahkan lebih banyak diisi pemandangan, jarang sekali ada wajahnya.
"Pak, Pak. Ini udah di Jakarta?" tanyanya asal pada orang yang bahkan tidak ia kenal.
"Sudah, Neng. Baru pertama kali naik kereta, ya?"
Gadis berambut pendek itu pun segera turun dan langsung mencari angkot untuk membawanya ke rumah Salfa. Hari sudah berubah petang. Sinar surya sudah menghilang. Berganti malam yang entah mengapa terasa berbeda bagi Diandra. Barangkali itu karena ia grogi akan menemui Salfa untuk pertama kalinya.
"Ah, pede aja, Ndra!" gumamnya pada diri sendiri. Memang sudah jadi kebiasaannya selain pulang diam-diam, bahwa ia suka bicara sendirian. Ya, pada dirinya sendiri.
Jakarta yang sudah dikenal kemacetannya sampai ke penjuru dunia, kali ini membuat Diandra jengah. Rasanya sudah setahun saja ia duduk di angkot namun tak juga sampai. Mentang-mentang malam minggu, orang-orang pada keluar memenuhi jalan. Gadis itu sampai bisa menebak bahwa yang mendominasi adalah para jomblo yang tersakiti. Sengaja keluar cari suasana agar tidak banjir air mata di atas bantal.
Sebetulnya, jarak stasiun dengan rumah yang hendak ia tuju tak terlalu jauh. Tapi ya, karena kemacetan yang menyebalkan itu, ia jadi harus menempuh waktu hampir satu jam lamanya di jalan yang polusinya sedang tidak begitu terlihat karena hari sudah malam.
"Akhirnya sampai juga," ucap Diandra melega kemudian menyapa sopir angkot. "Makasih ya, Pak."
Kini ia sedang berdiri di halaman depan rumah Salfa. Dulu, sekitar hampir setahun, Genta pernah mengajaknya lewat sini karena ia ngotot ingin diberitahu rumah Salfa. Ketika itu, Salfa tengah menyapu halaman dan detik itu juga Diandra langsung merasa klik pada gadis tersebut.
"Cantik. Cocok banget sama Mas Genta. Daripada Liana," begitulah komentarnya waktu itu.
Langkah kaki Diandra terhenti ketika tak sengaja melihat seseorang berjaket hitam mengendap-endap masuk lewat pagar samping. Mengetahui itu, Diandra langsung beringsut mundur dan mengintip dari balik pohon mangga. Gadis itu mengernyit, memperhatikan orang itu baik-baik. Siapa dia? Pasti niatnya buruk. Jika itu tamu, sama sepertinya, mana ada tamu yang masuknya mengendap-endap seperti pencuri begitu?
Tunggu, Diandra langsung terbelalak ketika menyadari kata 'pencuri' yang ia sebut dalam batinnya barusan. Matanya langsung mengerjap tak tenang. Sepertinya memang benar dugaannya. Entah dapat keberanian darimana, tapi dengan cepat Diandra mengikutinya. Mengurungkan niat untuk mengetuk pintu yang jaraknya hanya tinggal beberapa meter saja dari posisinya berdiri saat ini.
"Woi, mau maling ya lo?!" sentak Diandra ketika tiba di belakang orang itu.
Refleks, orang berjaket hitam tersebut langsung berbalik dan membekap mulut Diandra. Nyaris punya kesempatan untuk berteriak lagi karena gadis itu menggigit tangan orang tersebut. Namun, entah darimana asalnya. Mungkin karena kalut, bercampur takut bahwa telah dipergoki, orang itu segera melayangkan belati yang diselipkan di jaket bagian dalam dan langsung menusuk gadis malang itu.
"Arrgghh," erang Diandra ketika belati itu menancap di perutnya. Tak cukup sampai disitu, karena tikamannya terlalu dalam, gadis itu sampai mengeluarkan darah dari mulutnya juga.
Dalam kondisi sadar yang tinggal sepersekian persen, Diandra dihempaskan ke tanah. Gadis itu terkapar tak berdaya dengan mata yang mengerjap memandangi sosok orang yang menikamnya. Sebelum akhirnya, kedua matanya, terpejam.
Adalah Widji, yang datang ke rumah Salfa berniat mengambil jimat yang Pak Aji masukkan diam-diam ke saku jaket gadis itu. Widji mengetahui akan hal itu sehingga merasa punya penghalang atas semua rencananya. Jika Salfa punya jimat, maka ia tak akan bisa mencelakai gadis itu ketika sedang berada di Pulau yang jauh dari rumah.
Widji tahu sejak sudah hampir satu bulan ketika Kinara meminta izin padanya untuk ke Pulau K. Merasa mendapatkan kesempatan emas, Widji langsung mengawali berangkat kesana menyiapkan semuanya. Mulai dari rumah dan hantu-hantu yang akan ia kirim untuk menyesatkan rombongan Salfa. Baru tadi siang ia sampai disini lagi, dan sekarang akan mengendap-endap masuk karena tahu Salfa tak ada di kamar. Gadis itu sedang keluar berbelanja dengan putrinya, Kinara.
Namun, datangnya gadis yang ia tidak kenal telah menggagalkannya. Widji diserang kepanikan ketika melihat gadis itu memergokinya. Ia mengusap wajahnya frustasi karena harus menikam seseorang yang tak bersalah sama sekali. Ia berjongkok, mengecek hidung gadis itu yang tak lagi mengeluarkan hembusan napas. Terbelalak, Widji kemudian memeriksa detak jantungnya. Tak ada sama sekali.
Terduduk lemas di sebelah Diandra, Widji menatap nanar penuh rasa bersalah. Tentu saja gadis itu akan mati. Belati yang ia bawa adalah belati besar yang satu kali tusuk masuk akal saja bahwa bisa membunuh. Diserang kepanikan luar biasa, ia tidak bisa memikirkan apa-apa selain mengamankan mayat gadis itu.
Diseretnya lah tubuh Diandra yang berlumuran darah, menuju ke belakang rumah yang pekarangannya luas. Di sebelahnya, terdapat kebun milik orang. Widji melihat sebuah sekop tersandar di satu pohon. Buru-buru ia mengambilnya, dan segera menggali tanah untuk menguburkan Diandra.
Malam yang sunyi itu menjadi saksi kepergian seorang gadis lugu yang periang dan murah senyum. Rintik gerimis kemudian mengguyur, makin lama makin deras menjadi hujan. Seolah semesta ikut bersedih atas insiden yang terjadi begitu cepat tersebut. Diiringi hujan, darah Diandra mengalir menciptakan genangan yang kemudian Widji bersihkan dengan menimpakan pasir dan tanah di atasnya.
●●●●
Titik air yang bening meluncur deras dari mata Genta. Dengan tatapan memindai Diandra dari atas sampai bawah, ia menangis dengan separuh dari dirinya tak ingin percaya. Tidak, itu tidak mungkin. Diandra, adik satu-satunya tak mungkin telah tiada.
"Nggak, semua itu bohong, kan?"
"Kalau itu nggak bener, aku nggak akan disini, Mas."
"Dek..." Genta kehabisan suaranya seketika. Bahunya terguncang setelahnya. Menangis dengan isakan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya selama hidup. Suara tangisnya terasa menyakitkan untuk Diandra. "Nggak mungkin, Dek..."
"Nggak ada yang tau, Mas. Aku emang nggak bilang kalau mau pulang. Teman kost pun taunya aku ke Jakarta beberapa hari. Aku selalu ngikutin Mas. Tapi ketika ada hantu jahat itu aku nggak bisa mendekat lagi ke kalian."
Genta masih tak bicara lagi. Ia hanya menangis, merasakan dadanya yang teramat nyeri. Berharap bahwa semua ini adalah mimpi, bukan kenyataan. Dengan sisa kekuatannya, ia memeluk sang adik. Merasakan dengan seksama pelukan tersebut untuk memastikan itu benar Diandra atau bukan. Ia yakin bisa mengenali adiknya ketika melakukan itu.
"Aku benar-benar Diandra, Mas..." lirih sang adik yang tahu apa yang ada di pikiran kakaknya. "Setelah ini selesai, aku siap untuk pergi. Ikhlasin aku ya, Mas?"
Mendengar itu tangisan Genta makin menjadi. Entah bagaimana cara kerja takdir. Disaat ia akan menjemput gadis yang ia sayang, dia juga harus melepaskan Diandra yang selalu jadi gadis kecil di matanya. Selama ini Genta tak pernah tahu bagaimana cara mengatakan betapa ia sangat menyayangi Diandra. Sikapnya yang cuek dan seadanya, membuatnya tak bisa mengekspresikan rasa sayang itu.
"Mas sayang sama kamu, Dek. Tuhan saksinya. Kamu adalah anugerah yang paling indah yang Mas punya," ujar Genta di sela-sela tangisnya. "Widji akan membayar ini semua."
Segera Diandra melepaskan pelukan Genta. Menatap nanar kepada dua mata cokelat yang merah basah itu. "Jangan, Mas. Hak untuk membalas, bukan hak Mas Genta. Itu hak Tuhan. Cukup ikhlasin aku. Bilang sama Ibuk dan Bapak... aku sayaaang banget sama mereka. Selalu doain aku, ya. Cuma itu cara bikin aku bahagia, Mas..."
Genta paling tidak bisa melihat perempuan menangis, terlebih adalah Diandra. "Tapi... yang dia lakuin ke kamu..."
"Aku tau. Aku tau, Mas... Tapi aku juga nggak mau Mas Genta balas dendam. Lihat semua ini. Lihat yang terjadi sekarang. Ini adalah karena balas dendam seseorang. Apa bedanya Mas sama dia kalau Mas mau balas dendam, ha?" balas Diandra dengan nada yang lirih, masih menangis.
Diandra menelungkupkan kedua tangannya di pipi Genta. Berusaha meredam emosi dari pemuda paling hebat untuknya tersebut. Ibu jarinya bergerak, menyeka air mata yang masih mengalir itu. Tapi tetap saja, Genta menangis dengan suara paraunya. Tangannya menggenggam tangan Diandra yang masih berada di pipinya. Mengarahkan salah satunya ke bibir dan dikecup. Air matanya masih tak mau berhenti.
"Ikhlasin aku ya, Mas...?"
●●●●
Sumpah sih nulis ini sampai nangis. Gatau emang akunya aja kali baper dan terlalu mendalami. Kata-kata dan dialog yang aku buat mungkin nggak kayak apa yang aku resapi, jadi maafin kalau nggak menyentuh😭
Nulis ini rasanya kayak pengen segera selesai karena beban bangeeettttt nggak tau gimana jelasinnya hehe. Tapi, semoga tetap terhibur ya^^
Terima kasih masih setia baca AWAKENED. Dukung cerita ini dengan vote dan komentar yang banyaaakk biar bantu rank nya untuk naik. Sehingga, bisa lebih banyak yang tau dan baca^^
Luvvvv kalian semua. Selalu jaga kesehatan ya. Semangat menjalani hari-hari dan sisa 2020-tahun yang berat banget ini. Terima kasih sekali lagiiii sudah jadi orang kuat di tahun ini^^
Part ini nggak terlalu panjang. Jadi cuap-cuapnya aku tambahin wkwk. Udah lah aku rasa cukup. See you di part selanjutnya!
neiskaindria