AWAKENED

AWAKENED
Dua Puluh Enam : Kembali



[Kalau berkenan, jangan lupa follow author agar dapat notifikasi dan info seputar update-an, terima kasih]



Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua kejadian yang terjadi hanya karangan bebas penulis, tidak benar-benar terjadi di tempat dan lokasi yang disebutkan......



Sesuai arahan dari Si Mbah, Genta berjalan mengikuti gandengan tangan Diandra. Mereka menyusuri lorong-lorong aneh yang dipenuhi mereka. Malahan, disini semakin beragam bentuknya. Genta masih kaku menghadapi semua itu. Sesuai apa yang Si Mbah bilang, bahwa ia tidak boleh melepaskan gandengannya dengan Diandra agar energi mereka bersatu, sehingga, mereka tidak menyadari bahwa Genta adalah nyawa dari seseorang yang masih hidup.



Di tengah-tengah perjalanan, Genta seringkali melirik ke samping. Pada sang adik yang ia tahu setelah keluar dari dimensi ini, tak akan pernah bisa melihatnya lagi. Hatinya sungguh hancur seumpama pecahan kaca yang hancur menjadi bagian kecil-kecil. Tapi kali ini, demi memenuhi misinya sekaligus mengabulkan permintaan Diandra yang terakhir kali padanya, ia harus mampu tabah dan menguatkan diri.



"Jangan lihat mereka lama-lama, Mas," ujar Diandra mengingatkan. Ia tak mau kakaknya merasa terganggu dengan mereka semua meskipun itu tidak mungkin. "Aku juga takut, Mas. Mas mau kan, berani dan kuat demi aku? Demi Mbak Salfa juga?"



Genta menoleh, tatapannya dalam. Sangat dalam. "Pasti, Dek. Mas nggak akan takut sedikitpun."



Mereka berdua melanjutkan langkah menyusuri lorong yang paling gelap ketimbang sebelum-sebelumnya. Masih sama, dipenuhi makhluk-makhluk berbagai bentuk itu. Ada yang berdarah-darah, mukanya hancur, berjalan dengan terseok-seok, tangannya hilang, lehernya patah, dan banyak lagi. Disitu Genta merasakan Diandra makin kuat melingkarkan tangan di lengannya.



"Mas disini, jangan takut," ujar Genta dengan teramat tulus. Tiap kali berbicara dengan Diandra, luka itu datang lagi. Bahkan lebih menyakitkan. "Ayo, jalan terus."



Diandra hanya mengangguk. Kini berganti Genta yang memimpin jalan. Kata Si Mbah tadi, Salfa tersesat di tempat yang gelap dan tak tahu kemana jalan kembali. Itulah sebabnya, makin lama, mereka berdua makin berada di tempat gelap karena memang itu yang mereka cari dan tuju.



Langkah kaki Genta berhenti ketika telinganya menangkap suara samar-samar yang lirih. "Kamu dengar, Dek?"



"Iya, Mas. Ada yang nangis," balas Diandra.



Pelan-pelan, satu demi satu langkah membuat mereka makin dekat dengan sumber dari suara yang mereka ikuti. Tepat di persimpangan lorong, di tempat yang lebih gelap lagi, Genta melihat seseorang meringkuk memeluk lutut. Mulutnya setengah terbuka menyaksikan itu. Seorang gadis dengan rambut keritingnya. Membenamkan wajah, menangis.



"Salfa?" panggilnya bersamaan dengan setitik air mata yang kembali jatuh. Genta mendadak jadi seseorang yang cengeng kali ini. Kehilangan seorang adik, juga hampir kehilangan Salfa. Tangisan itu bentuk kelegaannya. Selain karena menemukan Salfa, ia juga berhasil menepati keinginan Diandra.



Salfa mengangkat kepalanya tepat setelah mendengarkan satu suara yang menyebutkan namanya. Suara yang sangat ia kenal, bahkan tak pernah bisa ia lupakan. Suara yang selama ia ada di dimensi ini, selalu ia dengar dengan lirih, memintanya pulang.



"Ta?" balasnya lalu segera beranjak dan berlari ke Genta. Melingkarkan dua tangannya ke badan tegap pemuda itu. "Makasih udah datang... Makasih udah jemput aku..." lirihnya dengan tangis yang menjadi.



Genta tak menjawab, ia malah memejam merasakan seluruh perasaannya. Pemuda itu memberi waktu untuk dirinya sendiri. Telah lama ia tak memeluk Salfa dengan penuh cinta seperti sekarang. Banyak hal telah terlewati, waktu bergulir, tahun berganti, tapi satu hal yang tak berubah. Perasaan mereka.



Salfa sendiri sudah tidak bisa lagi berkata apapun. Ia juga merasakan apa yang Genta rasakan saat ini. Yang ia ingin hanya memeluk pemuda itu lebih lama. Sudah tidak punya alasan lagi untuk menghindari perasaan yang teramat nyata tersebut. Salfa menyerah. Ia tak mengelak lagi.



"Makasih, Ta... Makasih..." lirihnya dalam dekapan Genta.



"Apapun akan aku lakuin buat kamu, Sal. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi untuk yang kedua kali."



Salfa mengangguk senang di bahu Genta. "Aku sayang kamu, Ta. Selalu."



Genta tersenyum. Merasakan kehangatan itu dalam benaknya. "Aku juga, Sal... Maaf untuk semuanya..."



Di sebelahnya, Diandra menatap bahagia dengan senyumnya yang tak berlebihan. Senyuman yang antara sedih dan bahagia. Apa yang ia inginkan akan terwujud. Oleh-oleh yang ia minta ke Genta saat kembali dari pulau ini akan benar-benar diberikan. Satu tangan Diandra kemudian mengusap pelan bahu kakaknya. Genta lantas menoleh, dan menatapnya dengan penuh rasa sayang yang membuatnya kian ikhlas untuk pergi.



Genta melepaskan pelukannya, berniat mengenalkan Diandra untuk yang pertama kali secara langsung. "Adik aku, Sal. Diandra."



Tercekat. Rasanya tekanan di dada semakin menjadi. Begitulah yang Salfa rasakan ketika baru saja menyadari bahwa Genta tidak sendiri. Apa katanya tadi? Adik? Ini bukan pertama kalinya ia melihat sosok gadis itu. Yang Salfa tahu, gadis berambut pendek tersebut bukan lah manusia. Jadi, apa artinya...? Rasanya ia masih tak percaya. Segera ia menoleh ke Genta. Tatapannya berubah tak terdefinisikan ke pemuda itu. Berharap dugaannya salah.



Genta yang paham arti tatapan Salfa yang demikian, kembali menangis, namun kali ini tanpa suara. Melihat itu demi apapun, dada Salfa rasanya sakit. Amat sakit.



Segera setelah itu Salfa mendekat menarik Diandra ke dalam pelukannya. Rasa bersalah itu naik sampai ke level teratas. Salfa makin terisak karenanya. Rupanya Diandra tak lain adalah hantu yang ia benci karena menguncinya di toilet kapal dan menghentikannya di tengah-tengah laut. Rupanya Diandra lah yang selama ini mencoba melindunginya namun tak pernah ia percaya.



"Maafin aku... Aku nggak tau k-kalau kamu Diandra adiknya Genta... A-aku kira..." Salfa tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia hanya merasakan usapan lembut tangan Diandra di punggungnya.



"Itu karena kita yang belum pernah ketemu, Mbak... Nggak ada yang salah disini..."



Salfa melepaskan pelukannya. Kedua tangannya menyentuh pipi Diandra. Isakannya masih terdengar, namun dilihatnya gadis itu hanya tersenyum padanya. "Maafin aku..." lirihnya lagi.



Diandra mengangguk dan kembali memeluk Salfa. Di saat itu lah, gadis itu berbisik di telinga Salfa. "Titip Mas Genta ya, Mbak? Dia sayaaang banget sama Mbak Salfa..."



Salfa makin menangis mendengar itu. Ia mendekap Diandra lebih erat lagi. Mengapa sama sekali tak terpikirkan dalam kepalanya bahwa sosok itu adalah Diandra-seorang gadis yang sering Genta ceritakan dulu. Salfa terus merutuki dirinya. Padahal, tidak jarang Genta menunjukkan foto sang adik padanya. Tapi kenapa dalam dua tahun ia lupa atas semuanya? Bodoh, Sal. Bodoh.



"Maafin aku, Ndra... Maaf sekali lagi..."



●●●●



Beberapa saat setelahnya, dengan saling bergandengan tangan satu sama lain, ketiganya mencari jalan kembali. Menyusuri lorong-lorong yang tadi dilewati ketika kemari. Salfa sendiri masih takut kalau-kalau sosok mirip kerbau itu kembali menemukannya. Sesekali ia berjalan dengan menengok ke belakang.



Sepertinya Diandra mengerti gerak-gerik Salfa. Ia kemudian buka suara, mencoba menenangkannya.



"Selama Mbak gandengan sama aku, energi kita nyatu dan dia nggak akan bisa ngenalin Mbak. Itu kata Si Mbah."



Salfa membalas dengan anggukan singkat, mengeratkan gandengan tangannya pada Diandra. Hingga mereka sampai di lorong terakhir yang di ujung sana terdapat dua portal bercahaya terang. Kata Si Mbah, yang satu untuk jalan Salfa dan Genta kembali, sementara yang satunya lagi adalah tempat dimana Diandra seharusnya berada.



Dengan langkah berat ketiganya berjalan menuju kesana, karena sadar akan lebih dekat dengan perpisahan. Salfa yang ada di sisi kiri Diandra dan Genta yang di sisi kanan, sama-sama menoleh ke Diandra yang tampak sengaja tak mau memandang mereka. Disitu, Diandra tengah berusaha sebisa mungkin menguatkan hatinya. Misi gadis itu telah selesai di dunia. Ia percaya Salfa dan Genta, juga teman-teman mereka bisa mengatasi semua setelah ini karena mereka sudah tahu siapa musuh yang sebenarnya. Setelah ini, Diandra akan pergi dengan tenang.



"Mas, aku pergi ya...?" ujar Diandra dengan suara yang sangat lembut ketika telah sampai di depan portal, diakhiri senyuman simpul di bibirnya. "Jangan nangis. Jangan bikin langkah aku berat."



Disitu, Salfa sangat tahu bahwa Diandra sendiri mati-matian menahan tangisnya, namun tak bisa. Bahkan untuk menanyakan bagaimana gadis itu bisa meninggal, ia tidak kuasa. Salfa kemudian menutupi mulutnya dengan tangan agar tangisnya tak terlepas.



"Kok malah Mbak Salfa yang nangis?"



Mendengar itu buru-buru Salfa menyeka air matanya yang tak bisa diajak berkompromi agar berhenti. Sesak itu memenuhi dadanya. Terlebih ketika menahan tangis seperti sekarang.



"Nggak, aku nggak nangis lagi. Janji," balas Salfa kemudian.




"Jangan lupa, sampaikan ke Ibuk sama Bapak, ya?" ujar Diandra mengingatkan. Meski air mata itu sudah ada di sudut kelopak, namun ia masih bisa memaksakan senyumnya.



"Iya," balas Genta yang sudah susah mengatakan sepatah kata pun.



"Bilang apa?" tanya Diandra dengan sengaja, mencoba mengetes daya ingat sang kakak bahkan ketika berada di ambang perpisahan seperti sekarang.



Terlihat Genta menarik napas panjang yang begitu berat. "Bilang kalau... kalau kamu... k-kamu-" tak kuasa ia melanjutkan meski sebenarnya sangat ingat.



"Bilang kalau aku sayaaang banget sama mereka. Bilangin makasih ya, Mas, atas semua pengorbanan mereka di hidup aku. Sampaikan maaf juga karena aku belum bisa jadi Diandra yang banggain mereka," ujar Diandra dengan suara yang kian lama kian bergetar, namun air matanya masih ditahan dalam-dalam. "Bilang ke mereka untuk ngikhlasin aku ya, Mas... supaya aku juga tenang di tempat baru aku. Di dunia ini nggak ada yang lebih berharga dari kalian, keluarga aku. Jadi selalu bikin Ibuk sama Bapak bahagia ya, Mas? Janji...?"



Kali ini tangisan Genta sudah tak dapat dibendung. Segera ia mendekap Diandra erat-erat sebelum melepaskannya pergi. Dibelai rambut lurus adiknya. Mengecupnya tepat di puncak kepala dengan penuh cinta. "Mas Genta janji, Dek..."



"Makasih..." balas Diandra yang makin erat memeluk Genta.



Salfa pun tak tahan untuk tidak ikut mendekap kakak beradik itu. Ia pun ikut menghambur ke pelukan mereka. Merengkuh keduanya dengan kasih sayang yang luar biasa. Rasanya bahkan untuk membayangkan bagaimana jadi Genta, ia tak bisa. Sekali lagi, semesta seolah-olah membuatnya kagum dan jatuh cinta lagi pada orang yang sama. Betapa kuat dan tabahnya pemuda itu. Betapa besar rasa cinta pada sang adik yang barangkali, cintanya ke Wira saja masih tak bisa dibandingkan.



Tepat ketika sedang berpelukan bertiga itu, posisi Diandra yang memang menghadap ke lorong, mendapati sosok mirip kerbau yang melihat ke arah mereka. Barangkali karena sempat melepaskan tangan Salfa, maka aroma dan energi gadis itu berhasil membuat sosok tersebut menemukannya.



"Dia disini!" seru Diandra.



Genta dan Salfa berhenti dari tangis saat itu juga, namun posisi mereka masih sama. Keduanya tak menjawab apa-apa karena sama-sama masih mencoba mencermati maksud Diandra, menunggunyabicara lagi.



Sosok tadi berlari cepat ke arah mereka dan saat itu juga, Diandra segera memutar tubuh seratus delapan puluh derajat dengan cepat lalu mendorong Salfa dan Genta ke portal. Tepat, ketika sosok itu hampir meraih tangan Salfa. Melihat hal yang 'nyaris' tersebut, Diandra langsung melega. Kini, dua orang yang semula bersamanya telah kembali ke dimensi dimana mereka seharusnya berada.



Diandra tersenyum melihat sosok itu memukul-mukul ujung lorong yang portalnya telah menghilang. Ia lantas menengok, melihat satu portal lagi dimana itu hanya untuknya dan tak ada sosok lain yang bisa melihat portal tersebut maupun mengikutinya. Gadis berambut pendek itu menghapus sisa air matanya. Berlari kecil masuk ke portal.



Tugasnya, selesai.



●●●●



Genta dan Salfa yang semula terpejam, kemudian membuka mata dengan mengejutkan. Sosok mirip kerbau itu telah berganti dengan jiwa Salfa lagi tepat ketika gadis itu memasuki portal. Suara napas terengah-engah bersahutan ketika mereka telah kembali. Rasanya seolah usai marathon berpuluh kilo, dan kata Si Mbah itu memang hal yang wajar karena mereka telah melalui banyak hal di dimensi tadi.



Genta segera menoleh ke kanan dan kiri. Benar saja, tak didapati Diandra lagi. Pemuda itu kemudian menunduk dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Tak ada suara, yang ada hanya pundak yang tampak terguncang. Segera Salfa memeluk Genta dari samping dengan sama menangis.



Vin, Kinara, dan Pak Beni yang beberapa saat tadi datang pun, dibuat bingung melihat pemandangan di hadapan mereka. Hanya Si Mbah yang tahu apa yang terjadi. Bahkan, beliau pun merasa amat sedih. Tapi ya itu, kematian bukan hal yang bisa disepakati dan ditukar dengan apapun yang ada di dunia ini. Kalau sudah waktunya, tak ada yang bisa menghalau, atau berkompromi. Semua itu adalah takdir Diandra.



"Ingat yang adikmu katakan, Le. Ikhlaskan dia. Biarkan dia pergi dengan tenang," ujar Si Mbah mencoba memberi ketabahan untuk Genta.



Vin langsung menyorot ke arah beliau. Memahami apa yang barusan Si Mbah katakan. Berharap praduganya salah. Sedetik kemudian, ketika merasakan tangannya disenggol Kinara, ia spontan menoleh, namun tak mengatakan apapun. Masih berpikir. Adik? Adiknya Genta maksudnya? Atau adik siapa?



"Ta? D-Diandra mak-maksudnya?" tanyanya terbata-bata.



"Diandra siapa?" bisik Kinara di sebelahnya.



Vin menoleh. "A-adiknya Genta."



Seketika Kinara menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya kemudian beralih ke Genta yang telah mengangkat lagi wajahnya, menumpukan dagu di lengan Salfa. Genta mengangguk dan seketika Vin langsung berlari ikut memeluknya sebagai bentuk dukungan. Sungguh, hal yang sangat mengejutkan.



Si Mbah, meski tidak tega, tetap memilih mengatakannya agar semuanya segera jelas. Bukan bermaksud menyakiti Kinara, namun beliau bisa membaca tatapan gadis itu yang seperti bertanya bagaimana bisa?



"Widji yang membunuhnya."



Tiga kata, satu kalimat. Berhasil membuat lutut Kinara melemas dan nyaris ambruk namun Pak Beni sigap memeganginya. Tujuan beliau datang kemari sebenarnya adalah untuk mengabari bahwa ada kapal yang bisa dipakai untuk kembali. Yang memiliki adalah warga lokal yang kebetulan bisa dimintai tolong oleh Pak Beni.



"Kapal sudah siap. Sekarang tinggal pergi ke rumah sakit menjemput dua teman kalian. Lalu segera kembali ke Jakarta."



"T-tapi, Mbah, orang itu?" balas Vin kemudian. Yang dimaksud tak lain adalah Widji.



"Dia mati."



DEG! Jawaban yang membuat semuanya tertohok bukan main. Apa mereka tidak salah dengar? Mati? Bagaimana bisa? Sekiranya demikianlah pertanyaan yang terlihat jelas dari ekspresi masing-masing. Si Mbah yang paham betul, menjawab pertanyaan tak terucap keempatnya.



"Iblis yang bersekutu dengan dia, balik menyerangnya karena misinya gagal. Dia tidak berhasil menepati kesepatan dimana dia akan memberikan tubuh Salfa sepenuhnya untuk dikuasai," ujar Si Mbah dengan tangan yang tertaut di belakang dan pembawaan yang tenang, seperti biasanya.



Si Mbah lalu beralih pandang ke Salfa. "Kalau jiwamu tidak terbangkit, mata batinmu tak akan terbuka. Jika mata batinmu tidak terbuka, maka bisa dipastikan rencana tersebut berhasil. Dia gagal karena kamu bisa meloloskan diri. Karena kamu punya kendali atas diri kamu. Orang biasa tak akan bisa melakukan itu. Itu sebabnya ayahmu sudah terlalu jauh."



Salfa yang memang tidak tahu-menahu soal ayahnya, menatap lebih terkejut lagi daripada kabar meninggalnya Widji. Ketika di dimensi lain, ia memang mengetahui soal siapa musuhnya yang sebenarnya karena iblis yang membawanya terus menyombongkan kesepakatan yang terjadi atas dirinya.



"Ayah saya? K-kenapa, apa maksudnya?"



"Segera kembali. Dan biarkan teman-temanmu menceritakan semuanya," jawab Si Mbah. "Tugas saya disini sudah selesai. Semoga Tuhan memberikan pertolongan untuk ayahmu."



●●●●



Drama abis nulis part ini, serius gak boong! Kayak gimana ya, ya kasihan aja gitu. Masalah di pulau udah beres, tapi yang di Jakarta belum. Apalagi soal Diandra, duuuhhh :"



Apapun itu, terus ikuti ceritanya ya, teman-teman. Kira-kira tiga atau empat part lagi lah. Jadi, jangan lupa masukkan ke reading list biar selalu dapat update-an nya^^



Jangan jadi sider. Spam komentar, vote, dan follow author dong. Kan karya author bukan ini aja hehe. Enjooyyy^^



Dah, makasih dan tunggu part selanjutnya!



neiskaindria