
"kurasa kau benar Riko.. Entah mengapa layar elektronku tak menunjukan tanda tanda bertambahnya stats.." ujar ka Miki yang menyetujui pendapat Riko.
"bukankah levelnya masih jauh di bawahku? Seharusnya beberapa monster saja sudah bisa menaikan levelnya bukan?" tanya Riko pada Louis.
"hei hei.. Jangan sombong mentang mentang levelmu sudah jauh!" sambung Miki yang tidak terima perkataan Riko barusan.
"kenapa? Hehe.. aku mengatakan kenyataan bukan?"
"cih.."
"tapi kurasa ini bukanlah sebuah kebetulan" ujar Riko lagi kembali serius.
"mulai lagi bertingkah sok sok bijak!" batin Miki mengomentari Riko.
"hei Barley.. Apa kau punya penjelasan tentang ini?" balas Louis yang mulai kebingungan.
"Entahlah tuan , saya juga merasakan hal yang aneh, terutama sejak tadi kakak dari 3 tamu tuan muda, belum kembali ke istana"
"ah ka Nadin.. awalnya aku tidak berniat mencarinya.. Tapi melihat kecurigaan mereka sepertinya aku tidak boleh menyepelekannya.. Dia adalah bagian dari kami juga, jika ia terkena masalah maka kami pun akan terbawa bawa.. Cih menyusahkan sekali.." batin Riko mulai berubah pikiran untuk mencari ka Nadin.
"ah soal kakak Riko.. Aku baru sadar sejak tadi ia tidak ada.." batin Louis menyadari berkurangnya party Riko.
"Riko.. Apa kau tau kemana--"
"tidak.." jawab Riko ketus
"hei apa kalian sedang tidak akur?"
"tidak juga, aku hanya menghindari masalah saat ia mencari cari masalah denganku.."
"ahah kuanggap itu iya.."
"hei jangan mengambil kesimpulan sendiri!"
"haha Riko kau imut saat mengelak begitu.."
"saat ini aku tak butuh sebuah pujian"
"tapi jujur, aku tak tau apa kau berbeda denganku atau tidak, tapi kurasa pertengkaran itu wajar kan? Dan tidak ada salahnya jika kita yang mulai mengakhirinya lebih dulu. Seperti mencoba menyelesaikannya dengan cara damai mungkin, kadang aku pun bisa bertengkar dengan Rill saat pendapat kami bertolak belakang, namun tetap saja itu tak akan berlangsung lama jika salah satunya mau berdamai bukan?.."
"anak ini.. Sudah lebih dari cukup.." batin louis tersenyum
"sudah kuduga kau sudah paham, jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"apa aku harus duduk manis sambil menunggu keajaiban datang?.."
"tentu saja mencarinya pangeran tampan.. apa aku harus memujimu dulu agar kau bisa paham.."
"hh..?..jangan memujiku begitu woi! Demeknya ga ngotak!"
"ah kurasa aku berlebihan.."
"wuh wajahnya merah tu.." bisik ka Vino pada Miki
"hei Vin, apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?" balas Miki
"haha tentu saja.. Sepertinya ada buah buah asmara di sini.."
"sudahlah.. t..tapi kau mau mencarinya bagaimana? Apa kau bisa menghubunginya?" balas Louis mengalihkan topik.
"ah dia benar.. Andai di sini ada smartphone yang bisa kugunakan untuk melacaknya.." batin Riko berandai andai.
"h..hei jangan diam saja.. melamun tak akan menyelesaikan masalahmu kau tau?"
"sebenarnya aku sedang berpikir.. Tapi apa apaan dia ini? Di mana sifat manisnya yang biasa berkata kata sambil tersenyum itu?" batin Riko kebingungan melihat tingkah Louis
"tuan muda lucu sekali.." batin Barley melihat tingkah salting Louis.
"apa perlu aku bicara saat sedang berpikir?.. Kau ini ada ada saja.." balas Riko lagi tersenyum tipis.
"bodoh apa yang kupikirkan!" batin Louis menyesali perkataannya..
"atau begini saja.."
"??.."